PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
RAHASIA


__ADS_3

Vernon menatap ke arah kami namun dengan segera aku menarik tanganku dari tangan Alec. Saat yang bersamaan pintu ruangan terbuka kembali dan muncul Renata bersama Arthur dan kedua orang tuaku yang tampak cemas dengan keadaan diriku.


"Viv, kau baik-baik saja?" Tanya ibuku yang langsung berlari ke arahku untuk melihat keadaan diriku.


Rasa marahku pada kedua orang tuaku membuat aku malas menjawab pertanyaan itu. Bagaimana tidak, sudah hampir satu tahun kami tidak bertemu, bahkan mereka tidak ada di acara pernikahanku kemarin, ditambah ketika mereka pulang ke negara ini, mereka tidak langsung menemuiku dengan pergi langsung ke Venesia.


Vernon beranjak berdiri dari duduknya ketika mereka semua datang. Sedangkan Alec dan Sesya langsung mundur agar memberi ruang pada kedua orang tuaku yang menghampiriku langsung.


"Kenapa kau diam saja, Viv?" Ibuku tampak sangat khawatir dengan wajah yang terlihat sembab.


Ini sangat lucu sekarang. Mereka khawatir padaku tetapi selama ini mereka selalu tidak ada bersama denganku, hanya Arthur yang selalu bersama-sama denganku dengan menjagaku selalu.


"Kau marah pada kami karena tidak datang ke pernikahanmu?" Tanya ayahku yang berdiri di sisi kananku tempat Sesya tadi.


"Aku marah bukan karena kalian tidak datang tapi karena kalian tidak menghentikan pernikahan itu terjadi!!" Seruku dengan kesal. "Pergilah kalian semua. Aku ingin beristirahat sekarang."


Perkataanku membuat seisi ruangan senyap. Bagaimana tidak, aku mengatakan hal tersebut dengan sangat jelas sedangkan semua orang berada di ruangan ini, termasuk orang yang memaksaku menikah dengannya dan kakakku yang membuat aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Bahkan orang yang aku cintai juga berada di dalam ruangan ini.


"Viv, jangan seperti itu." Ujar Renata yang berdiri di jarak dua meter dari ranjang yang aku tiduri.


"Sebaiknya kalian semua keluar, biarkan dia istirahat." Ujar Vernon membuat semua orang menatap padanya, termasuk aku.


Tak ada yang berkata apapun. Satu persatu mereka keluar dari ruangan aku dirawat. Namun tidak dengan Vernon, pria itu masih berada bersamaku dan tidak ikut keluar. Padahal aku juga ingin dirinya keluar dan membiarkan aku sendirian saja disini.


Vernon menyunggingkan senyum skeptisnya padaku. Tampaknya dia merasa tidak menyukai perkataanku tadi atau karena merasa tersinggung dengan perkataan aku yang secara terang-terangan mengatakan agar kedua orang tuaku menghentikan pernikahanku waktu itu.


Tatapanku aku alihkan dari Vernon yang berdiri di arah kiriku di dekat sofa, jaraknya berdiri sekitar tiga meter dariku yang berbaring di atas ranjang. Aku tidak ingin mendengar perkataannya yang pasti akan membuat aku kesal nantinya.


"Kau memang wanita yang bodoh. Kau tanya kenapa mereka tidak menghentikan pernikahan itu?" Vernon mendengus dengan kedua tangan di pinggang. "Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan pernikahan itu. Sudah aku katakan kau adalah milikku. Kedua orang tuamu dan kakakmu sudah menyerahkanmu padaku untuk menebus dosa kakakmu. Sejak dulu kau adalah tawananku walau aku tidak ada di sekitarmu."

__ADS_1


"Diamlah, Vern, aku tidak ingin mendengarkan semua ocehanmu itu terus menerus. Lebih baik kau keluar dan biarkan aku sendirian sekarang." Ujarku dengan nada dingin tanpa menatap Vernon dan melihat ke arah pintu masuk dengan tatapan menajam. "Mau apapun yang kau katakan itu tidak akan membuat diriku merasa ketakutan sejak awal. Walau kau berkata kalau semua itu terjadi karena perbuatanku, aku sama sekali tidak merasa bersalah karena tidak ada yang aku ingat mengenai kematian wanita yang kau cintai itu. Aku rasa itu malah membuat semuanya menjadi lebih baik untukku."


Mendengar perkataanku Vernon bereaksi marah namun dirinya menahan amarahnya itu dengan mendengus kesal dengan tatapan marah padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia harus menahan rasa marahnya dan kenapa tidak melepaskannya saja padaku.


"Kau tahu? Bahkan jika kau mengingatnya aku sangat yakin kau pun tidak akan merasa bersalah sedikitpun!!" Suara Vernon terdengar sangat dingin.


Aku menoleh menatap ke arahnya. Vernon tampak menahan emosinya padaku saat ini hingga matanya terlihat memerah dengan gurat wajah yang menegang. Kami saling tatap sesaat sebelum Vernon melangkah keluar dari ruangan.


Kalimat yang diucapkan Vernon membuat diriku menjadi merasa buruk. Itu terdengar seperti diriku ini adalah manusia kejam dulu. Sekarang aku menjadi merasa sedikit bersalah mengeluarkan kata-kata itu hingga Vernon membalasnya dengan kalimat menyakitkan tersebut.


Sebenarnya apa yang aku lakukan dan bagaimana diriku dulu? Tak ada satupun yang aku ingat. Seharusnya aku juga tidak mengusir kedua orang tuaku dan bertanya mengenai hal yang terjadi pada mereka.


Renata bilang kalau aku yang sekarang dengan aku yang dulu seperti dua orang yang berbeda. Apa yang aku perbuat? Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis yang baru berusia empat belas tahun waktu itu?


Pikiranku buyar saat pintu ruangan terbuka dan muncul Vegard. Pria itu menyunggingkan senyuman padaku sambil berjalan masuk mendekati ranjang dimana aku berada. Melihat kehadirannya membuat aku kesal. Aku tidak berharap dia datang menjengukku.


"Singkirkan tanganmu!!" Seruku sangat kesal sambil menepis tangan kanan Vegard diperutku.


Vegard tertawa saat aku menyingkirkan tangannya dari tubuhku. Hal itu membuat aku kesal. Aku tidak ingin melihatnya dan berharap dia segera pergi.


"Pergilah, Veg. Aku tidak ingin mendengarkan ocehanmu juga."


"Apa kau tahu? Dulu kau pernah memintaku untuk melakukan sesuatu hal?" Tanya Vegard tidak mengindahkan perkataanku yang mengusir dirinya.


Akan tetapi perkataan Vegard membuat aku tertarik hingga menunggu dia melanjutkan ucapannya.


"Kau memintaku untuk membunuh seseorang." Vegard mengatakannya dengan sebuah senyuman.


Walau yang dikatakannya terlihat seperti tidak serius, tapi Renata juga mengatakan kalau aku pernah meminta Arthur untuk membunuh tunangannya dulu. Wanita yang bernama Wynetta De Angelis.

__ADS_1


"Siapa? Siapa yang ingin aku bunuh?" Tanyaku dengan sedikit takut kalau dugaanku benar, kalau aku juga meminta Vegard untuk membunuh Wynetta.


"Jangan bilang kau percaya dengan ucapanku." Ujar Vegard di iringi sebuah tawa. "Kau percaya begitu saja? Padahal kau tidak percaya kalau dulu kita akan bertunangan. Kenapa tiba-tiba kau jadi percaya ucapanku mengenai hal buruk dirimu?" Vegard masih tertawa padaku.


Sekarang aku mengerti bagaimana sifat Vegard. Aku tahu kali ini pun dia berkata hal yang sebenarnya walau dirinya ingin memberi kesan kalau semua perkataannya hanyalah sebuah gurauan.


"Jawab aku, Veg. Siapa yang ingin aku bunuh dan apa alasanku memintanya padamu?" Tatapku dengan serius. "Apa dia wanita bernama Wynetta De Angelis?"


Vegard menghentikan tawanya dan melihatku dengan serius juga saat ini. Namun tiba-tiba Vegard mencondongkan tubuhnya ke arahku yang berbaring untuk menyambar bibirku.


Dia menciumku dengan paksa walau aku mencoba mendorongnya namun rasa sakit diperutku tidak mampu mengeluarkan tenagaku sepenuhnya.


"Kau tahu, apa yang kau katakan jika aku melakukannya untukmu?" Wajah Vegard sangat dekat menatapku. "Kau akan bercinta denganku."


"Tidak mungkin." Ucapku.


"Sekarang kita bisa melakukannya." Ujar Vegard setelah itu menyambar bibirku lagi.


"Apa yang kau lakukan padanya?!" Terdengar suara Alec bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.


Kehadiran Alec membuat Vegard berhenti menciumku, itu membuat diriku merasa lega karena sepertinya Vegard serius dengan perkataannya yang ingin bercinta denganku disaat aku tidak berdaya seperti ini.


"Apa yang kau lakukan, Veg?!" Geram Alec mencengkram Vegard. "Kenapa kau menciumnya? Viv itu istri Vernon, kakakmu!!"


"Lalu kenapa kau bercinta dengannya?" Vegard menatap Alec dengan sebuah seringai.


Aku terkejut mendengarnya. Vegard tahu tentang rahasia hubunganku dengan Alec. Bahkan dia tahu kalau kami pernah bercinta. Ini sangat buruk.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2