
"Bagaimana, Alec?" Tanyaku saat Alec meneleponku.
Sudah dua hari berlalu setelah apa yang terjadi di kapal pesiar. Alec juga sudah mengajukan gugatan perceraianku untuk diriku berpisah dari Vernon. Namun saat ini aku dan Vernon belum bertemu lagi setelah kejadian yang menimpa diri kami dan membuat kami kehilangan anak kami yang aku kandung.
"Aku sudah mengajukan gugatanmu." Jawab Alec. "Vern juga sudah aku beritahu namun tampaknya ini tidak akan mudah karena dia bersikeras tidak akan berpisah darimu."
Aku cukup terkejut kenapa Vernon seperti itu. Ah, tidak. Seharusnya aku tahu kenapa dia tidak ingin berpisah dariku. Seperti apa yang selalu dia katakan padaku sebagai tujuan awal kenapa dia menikah denganku.
Ya, aku adalah penebus dosa Arthur, dan dia berniat untuk membuat hidupku menderita dengan menjadikan aku tawanannya, namun aku berpikir kalau itu sudah tidak seharusnya dia lakukan.
Bukan Arthur yang melakukan dosa, namun aku sendirilah yang menyebabkan kematian wanita yang dicintainya. Jika dia ingin menyiksaku, seharusnya dia tahu kalau itu sudah terjadi. Aku sudah merasa tersiksa dengan rasa bersalah dan penyesalan diriku atas apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.
Apakah semua itu masih kurang untuknya?
Sesya datang menjengukku setelah dirinya pulang dari Barcelona, sehabis berlibur dengan salah satu kekasihnya. Melihat kehadirannya membuat aku sedikit senang karena untuk beberapa hari ini aku terus menerus menahan rasa sedihku setelah kehilangan bayiku dan mengenai keputusanku berpisah dengan Vernon.
"Kenapa seperti itu Viv? Apa kau benar-benar mau berpisah darinya?" Tanya Sesya setelah aku mengatakan padanya mengenai gugatan cerai yang sudah aku ajukan dua hari yang lalu.
"Sejak awalpun aku memang tidak ingin menikah dengannya, dan aku rasa sekarang adalah kesempatan diriku untuk terbebas darinya." Jawabku penuh keyakinan walau pada dasarnya sulit untuk mengatakan itu semua karena saat ini aku mulai merasakan cinta pada Vernon. "Sudah tidak ada alasan apapun untuk aku bersama dengannya. Mengenai apa yang terjadi sepuluh tahun lalu, itu semua adalah salahku karena itu aku tidak ingin bersama dengan Vernon apapun alasannya."
"Bukannya kau bilang sebelum Pablo mati, dia mengatakan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu itu bukan salahmu?" Ujar Sesya yang sudah mendengar semuanya dariku, mengenai apa yang terjadi padaku dan mengenai mimpi-mimpi yang merupakan potongan-potongan ingatan yang aku lupakan.
"Entah kenapa aku lebih mempercayai mimpi-mimpi itu dari pada perkataan Pablo. Aku yang membunuh wanita itu, aku yang menyebabkan Olivia menjadi lumpuh. Bahkan di dalam mimpi itu aku hendak menembaki seseorang yang bersembunyi di balik tempat tidur." Ujarku kembali mengingat mimpi yang tempo hari aku alami.
__ADS_1
"Kira-kira siapa orang yang ingin kau tembak itu, Viv?" Tanya Sesya.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku karena aku tidak tahu siapa yang bersembunyi itu. Namun aku bisa mengira kalau orang itu adalah Wynetta karena kemungkinan diriku yang dulu sangat ingin wanita itu mati. Bahkan aku sampai meminta Arthur dan Vegard untuk membunuhnya.
Kepalaku menjadi sakit saat ini. Mencoba mengingat semua hal itu selalu membuat kepalaku merasa kesakitan karena aku memaksa otakku bekerja lebih keras.
"Kau baik-baik saja, Viv?" Tatap Sesya dengan wajah kekhawatiran sambil memegang pundakku. "Aku akan memanggil dokter dulu."
Secepatnya aku menggapai lengan Sesya untuk menghentikannya pergi, karena ada sesuatu yang ingin aku minta dari sahabatku itu.
"Ses, bisa antarkan aku menemui Vernon? Aku ingin melihat keadaannya dan mengatakan mengenai keputusanku berpisah dengannya." Ucapku.
Sesya mendorong kursi roda di mana aku duduk untuk membawaku ke ruangan Vernon. Ketika aku masuk ke ruangan itu, Vernon yang sedang duduk bersandar menatap kehadiranku tanpa ekspresi.
Sesya meninggalkan aku bersama dengan Vernon setelah mendorong kursi rodaku mendekati ranjang di mana Vernon berada. Aku bisa melihat kaki kanan di atas lututnya masih terbalut perban karena luka tembaknya.
"Bagaimana keadaanmu, Viv? Tampaknya kau sudah semakin membaik. Maaf aku tidak bisa datang melihat keadaanmu karena saat ini aku tidak bisa berjalan. Jika saja aku bisa berjalan sudah sejak kemarin aku membawamu pulang meninggalkan tempat ini. Kau tahu kan kalau aku tidak suka bau rumah sakit?" Ujar Vernon yang tiba-tiba saja berbicara seperti biasanya setelah keheningan beberapa saat menyelimuti ruangan di mana kami berdua berada.
Mulutku masih aku bungkam dengan terus menatapnya. Aku bisa melihat bagaimana Vernon berusaha terlihat bersikap santai walau sesungguhnya dia tahu maksud dari kehadiranku menemuinya saat ini.
Sejenak aku menatap Vernon, yang juga terdiam menatapku. Melihat matanya yang berwarna hazel membuatku kembali seperti melihat anak laki-laki yang ada di mimpiku kemarin. Anak laki-laki yang aku lupakan walau ternyata aku sudah pernah bertemu dengannya, bahkan aku sudah jatuh cinta padanya sejak waktu itu.
Aku kembali teringat mengenai perkataan anak laki-laki itu yang ingin menikahiku ketika aku besar, dan benar, dia melakukannya, namun bukan karena dirinya mencintaiku melainkan karena dendamnya padaku yang membunuh wanita yang cintainya.
__ADS_1
Kenyataan itu membuat diriku sekuat tenaga untuk tidak menangis saat ini. Anak laki-laki yang ingin menikahiku agar aku tidak menangis lagi, pada kenyataannya menikahiku untuk membuat aku menderita.
"Vern, aku tidak bisa menjaga anakmu sampai anak itu lahir." Akhirnya aku mulai bersuara untuk menyelesaikan semuanya dengan lebih cepat. Semakin lama aku melihatnya membuat aku semakin ingin menangis.
Vernon hanya diam dan tidak menjawab apapun. Aku pun berharap dia tidak mengatakan sesuatu mengenai kesedihan dirinya yang kehilangan anak yang aku kandung.
"Seperti kataku sebelumnya, aku ingin berpisah setelah melahirkan anakmu, tapi yang terjadi... Aku tidak bisa membuatnya lahir." Ucapku dengan sekuat tenaga menahan kesedihan diriku yang kehilangan bayi yang aku kandung. "Jadi aku rasa tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan semuanya sekarang. Mengenai sepuluh tahun yang lalu, aku tahu itu semua adalah salahku, karena itu kau ingin membuat aku menderita dengan menikahiku dan aku rasa kau sudah berhasil melakukannya..."
Perkataanku terhenti untuk mengatur emosi kesedihan di dalam diriku sebelum mengatakan bagian tersulit dari semua yang ingin aku katakan padanya. Aku meremas kedua tangan yang aku kepalkan agar dapat mengontrol diriku untuk tidak menangis.
"Aku pernah memintamu untuk meninggalkan aku ketika aku mencintaimu. Ya... kau bisa melakukannya sekarang karena kau benar... Aku mencintaimu. Aku kembali mencintaimu lagi setelah melupakan rasa cinta itu sekian lama." Ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari mata Vernon yang menatap dengan lekat. "Aku mohon bebaskan aku, Vern."
Vernon tidak langsung menjawab semua perkataanku. Dia terus terdiam dengan menatap lekat diriku. Hingga untuk beberapa saat keheningan menyelimuti ruangan dan membuat diriku merasa hawa dingin menusuk kulitku.
"Ya, baiklah." Jawab Vernon.
Sesya membawaku keluar dari ruangan Vernon setelah aku mendapatkan jawaban yang aku inginkan.
Satu-satunya kalimat yang dikatakan Vernon untuk menjawab semua permintaanku membuat aku merasa lega saat ini, namun bukan kelegaan yang membuat diriku menjadi senang melainkan kelegaan itu membuat aku menjadi tidak bisa menahan kesedihanku lagi saat ini hingga membiarkan air mataku mengalir dalam perjalanan aku kembali ke ruangan.
Semua selalu berjalan sesuai seperti yang aku inginkan. Dan untuk kali ini pun aku mendapatkan apa yang aku mau.
"Kau benar, tidak ada yang bisa aku selesaikan hanya dengan menangis." Lirihku.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...