
Melihat figura Wynetta yang terpasang di dinding belakang meja kerja Vernon membuat aku tertawa kecil ketika masuk ke dalam. Dugaanku benar, tidak mungkin Vernon menyingkirkan figura itu dari hidupnya.
Aku merasa di bodohi selama beberapa hari ini karena berpikir kalau ia menyingkirkan benda itu dalam hidupnya selamanya. Itu semua membuat aku tertawa, tentunya menertawakan diriku sendiri. Aku benar-benar merasa sangat bodoh sekarang.
Pintu ruangan aku kunci dan aku hanya duduk di kursi meja kerja Vernon. Mengambil satu botol wine dan membukanya. Menuangkan ke gelas yang ada di ruangan tersebut lalu menikmatinya sambil melihat figura itu. Pistol yang aku ambil dari penjaga di depan pintu ku letakkan di atas meja.
Aku menghela napas dan memutar kursi menjadi menghadap pintu masuk, lalu meneguk wine yang ada di gelas hingga habis.
Kepalaku agak berat saat ini, kemungkinan efek dari sebotol vodka bersamaan dengan wine yang aku minum saat ini. Ditambah dengan kenyataan yang aku hadapi.
Vernon tidak membuang figura wanita yang dicintainya, itu membuktikan tidak adanya diriku dihatinya. Semuanya semakin buruk ketika pelayan itu muncul. Pelayan yang sangat mirip dengan wanita yang dicintai Vernon.
Bagaimana jika Vernon meninggalkan diriku demi pelayan itu? Bahkan aku yakin kalau kemarin mereka menghabiskan waktu bersama karena itu Vernon datang telat ke acara ulang tahunnya tadi.
Dadaku semakin berat untuk bernapas, pikiranku mulai melayang memikirkan semua hal yang terus berputar di benakku. Sebisa mungkin aku menahan rasa sedih yang menyerang diriku saat ini. Aku tidak mau menangis, itu adalah janjiku.
Mataku ku pejam sesaat seraya mengingat sebuah mimpi yang datang padaku ketika diriku masih berada di Venesia. Mimpi yang merupakan lanjutan ingatan diriku yang berbicara dengan pria yang aku cintai.
"Kau sangat tampan, aku mencintaimu. Kenapa bukan kau yang akan menjadi tunanganku?" Aku berkata pada seseorang yang berdiri dihadapanku saat ini. "Aku tahu kau dan gadis itu saling mencintai tapi dia dan kakakku sudah bertunangan."
Lawan bicaraku saat ini tidak menjawab apapun dan hanya berdiri dihadapanku. Bahkan aku tidak bisa melihat wajahnya saat ini karena cahaya matahari menyilaukan mataku ketika aku mengangkat kepala untuk melihat padanya.
"Aku tahu kau yang menembaknya kemarin." Suara Vernon terdengar. Ia adalah pria yang berdiri di hadapanku saat ini. "Kenapa kau menembaknya? Kau selalu melakukan semua hal yang kau inginkan sesuka hatimu. Kau wanita, tapi kau menyakiti wanita lainnya. Entah apa yang kau pikirkan. Itu kenapa tidak ada wanita lainnya yang mau berteman denganmu."
"Dia mengkhianatimu." Aku berkata dengan mata berkaca-kaca saat mendengar ucapan Vernon. "Aku melihatnya beberapa kali bercinta—"
"Diamlah! Kau tidak punya hak untuk menuduhnya. Siapapun tidak akan mempercayai perkataan wanita sepertimu." Potong Vernon. "Dia jauh lebih baik darimu, semua orang tahu itu. Pergilah, aku tidak ingin melihat wanita sepertimu di hadapanku. Kau sangat memuakkan!!"
Diriku menahan rasa sedih yang teramat sangat setelah mendengar perkataan kasar seseorang yang aku cintai sepuluh tahun lalu. Tidak ada yang bisa aku katakan lagi setelahnya. Semua yang keluar dari mulut Vernon membuat hatiku terasa sakit dengan dada yang sesak. Napasku menjadi berat menahan rasa sedih.
__ADS_1
Vernon tidak mempercayai perkataanku. Itu sangat buruk, bahkan ia tidak membiarkan aku menyelesaikan kalimat yang hendak aku katakan padanya. Sesuatu mengenai pengkhianatan wanita yang sangat dirinya cintai itu.
Wynetta bercinta dengan Vegard. Hal itu yang membuat aku menghujani mereka berdua dengan tembakan di kamar itu seminggu sebelum acara ulang tahunku sepuluh tahun lalu.
Suara gedoran pintu membuat aku membuka mata. Terdengar suara Vernon dan Esteban di balik pintu. Mereka memanggilku agar membuka pintu segera. Tampaknya mereka berdua sangat mengkhawatirkan diriku.
Sepertinya pesta telah usai. Dapat aku kira tidak ada lagi tamu undangan di rumah ini setelah kabar diriku yang berada di ruang kerja Vernon diketahui oleh dirinya.
"Viv, buka pintunya!! Cepat buka pintunya!!" Seru Vernon dari luar.
"Nyonya bukalah pintunya." Suara Esteban tidak kalah panik.
Sekali lagi aku kembali tertawa. Mendengar kepanikan mereka berdua membuat aku merasa lucu. Ah, tidak, aku hanya kembali menertawakan diriku saat ini.
Kembali aku menuang wine ke gelas dan meminumnya hingga habis. Pengaruh alkohol sepertinya membuat aku jadi seperti melayang saat ini. Pandanganku juga sudah tidak terlalu jelas sekarang.
Aku mengambil pistol yang ada di atas meja dan di waktu yang bersamaan terdengar suara tembakan ke arah pintu. Setelahnya mereka yang di luar menendang pintu hingga terbuka.
Vernon dan Esteban berdiri di ambang pintu ketika aku mengarahkan pistol yang ada di genggamanku ke arah mereka. Mereka berdua terdiam melihat padaku, seperti takut aku akan meletuskan senjata api tersebut.
Namun aku menarik pistol yang mengarah pada mereka dan mengubahnya menjadi ke arah kepalaku.
"Viv, letakkan pistol itu." Pinta Vernon yang tidak berani melangkah maju sedikitpun. "Jangan bertindak bodoh."
Mendengarnya aku tertawa kecil dengan tetap mengarahkan pistol ke kepalaku.
"Aku mohon, Viv." Vernon menatapku dengan tatapan kecemasan.
"Nyonya, letakkan pistol itu. Semua tidak akan berjalan dengan baik kalau kau melakukannya." Seru Esteban yang mencoba melangkah maju mendekat.
__ADS_1
Aku menoleh padanya, melihat pemuda yang berusaha melangkah mendekatiku.
"Tetap di sana, Est!!" Seruku.
"Tidak nyonya." Jawab Esteban masih tetap melangkah dengan perlahan. "Letakkan pistol itu. Jangan menghukum dirimu dengan hal yang tidak pantas kau terima."
Ucapan Esteban membuatku tersenyum dan perlahan aku menurunkan pistol yang mengarah ke kepalaku dan meletakkannya ke atas meja dengan kasar.
Melihatnya Esteban terlihat lega, sedangkan Vernon masih terlihat tegang walau dirinya sudah tidak sepanik sebelumnya.
"Ya, kau benar." Ucapku dengan tawa kecil setelahnya bangkit berdiri dan menatap Esteban. "Kau selalu benar dalam semua perkataanmu."
Aku berjalan dengan langkah yang agak goyah karena sedikit merasa mabuk mengarah ke pintu mendekati Vernon yang masih berdiri di depannya, namun pandanganku sama sekali tidak melihat padanya. Aku terus berjalan melewatinya dan keluar dari ruangan di mana gambar diri wanita yang dicintai pria yang aku cintai terpajang dengan sangat indahnya.
"Viv, ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Olivia ketika aku berjalan melewatinya, wajahnya memancarkan sebuah kepanikan padaku.
Aku mendekatinya dan agak mencondongkan tubuhku untuk mengatakan sesuatu pada wanita malang yang selama sisa hidupnya harus berada di kursi roda.
"Oliv, aku harus mengatakan sesuatu padamu. Semua mengenai diriku yang bercinta dengan Alec sebanyak dua kali disaat kalian sudah memutuskan untuk menikah." Ujarku.
Aku tidak menunggu reaksinya dan memilih untuk berjalan menaiki tangga.
"Hati-hati nyonya." Seru Esteban memegangi lenganku ketika tubuhku yang berjalan dengan sempoyongan goyah dan hendak jatuh.
Namun aku menepisnya dan tidak ingin bantuan dari siapapun.
"Kau benar Est, aku tidak akan menghukum diriku untuk hal yang tidak pantas aku terima." Ucapku dengan suara perlahan saat melanjutkan langkahku.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1