PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
ALBUM FOTO


__ADS_3

"Apa katamu Alec? Mereka bersahabat?" Tanyaku.


Alec beranjak duduk menghindari pertanyaanku. Lagi-lagi sepertinya dia tanpa sengaja mengatakannya.


"Jika mereka sahabat lalu kenapa mereka menjadi bermusuhan? Apa yang terjadi diantar mereka?" Aku juga beranjak duduk dan menatap Alec untuk membuatnya menjawab pertanyaanku.


Namun tiba-tiba handphone Alec yang diletakannya di samping tempat tidur bergetar. Alec langsung mengambilnya untuk menjawabnya. Dia berbicara di telepon sambil memakai pakaiannya sedangkan aku masih duduk di atas tempat tidur ketika Alec mengecup bibirku dan berjalan keluar, meninggalkan aku.


Sekali lagi aku tidak mendapatkan jawaban apapun. Itu membuat aku semakin kesal.


Kedatangan Sesya membuatku merasa sedikit senang. Kami mengobrol di kamar karena saat ini Vernon sudah pergi entah kemana.


"Vernon mengurungmu sekarang?" Tanya Sesya setelah aku mengatakan kalau Vernon tidak mengijinkan aku meninggalkan rumah mulai sekarang. "Itu keterlaluan sekali, Viv."


"Kau tenang saja, satu waktu aku akan kabur. Tidak ada yang bisa melarangku selama aku hidup. Kau pun tahu itu." Jawabku yang berada di atas tempat tidur dengan album foto yang sudah diberikan Sesya padaku. "Ses, aku punya satu rahasia dan aku yakin kau tidak akan menyangka kalau itu akan terjadi."


"Rahasia? Apa itu?" Tanya Sesya seraya duduk di sisi tempat tidur menghadap padaku.


"Aku dan Alec sudah dua kali bercinta." Jawabku.


Terlihat perubahan ekspresi pada Sesya, wajahnya sangat terkejut hingga mulutnya terbuka dan tangannya menutupinya.


"Kau serius, Viv?" Tatap Sesya tidak percaya.


"Sudah aku bilang dia juga mencintaiku. Kami berdua saling mencintai."


"Sekarang menjadi semakin buruk. Apa kau tahu itu? Alec akan menikah, kalian tidak akan bisa bersama." Seru Sesya.


"Aku tahu itu. Tapi asalkan aku dan Alec bisa terus bertemu bahkan bercinta, aku tidak masalah akan hal itu." Jawabku dengan penuh keyakinan. "Yang terpenting apa yang kami rasakan adalah sama, kami saling mencintai."


"Itu aneh sekali." Gumam Sesya. "Jadi akhirnya semua harapanmu terjadi, akhirnya kau bercinta dan untuk pertama kalinya kau bercinta dengan Alec, sesuai dengan keinginanmu?"


Lidahku tertahan tidak langsung menjawab perkataan Sesya. Karena kenyataannya harapanku itu tidak terjadi.


"Ada apa? Apa perkataanku salah?" Sesya menatap heran padaku.

__ADS_1


"Sebelumnya aku melakukannya dengan Vernon. Kami bercinta juga lebih dari sekali."


"Kau benar-benar gadis nakal, Viv." Ucap Sesya. "Bagaimana bisa kau bercinta dengan Vernon sedangkan sebelumnya kau bilang itu tidak akan pernah terjadi? Bahkan itu yang pertama untukmu. Apa yang terjadi?"


"Sudahlah aku malas membahasnya." Jawabku. "Sekarang biarkan aku melihat foto-foto ini dulu."


Mataku teralihkan ke album foto yang berada di pangkuanku. Album foto tersebut adalah kumpulan foto-foto di saat perayaan ulang tahunku yang ke empat belas tahun.


Sebelumnya aku pernah melihat album foto tersebut namun aku merasa tidak ada keanehan walau saat melihatnya dulu aku merasa tidak mengingat apapun. Namun kedua orang tuaku dan Arthur bilang kalau aku hanya lelah waktu melihat album foto itu karena itu membuat aku tidak mengingat apapun yang terjadi di acara tersebut.


"Kau tahu? Saat aku mengambil benda itu di rumahmu aku mencarinya di kamarmu tapi tidak menemukannya." Ujar Sesya. "Aku mendapatkannya dari Renata."


"Ren?" Tanyaku mengernyitkan dahi.


Dengan segera aku membuka album foto tersebut dan dugaanku benar. Beberapa foto yang ada di dalamnya sudah tidak ada di tempatnya. Terlihat dari tempatnya yang kosong.


"Kenapa Ren mengambil beberapa foto ini?" Tanyaku bingung menatap Sesya.


"Ini sangat aneh. Kenapa sepertinya kejadian sepuluh tahun lalu dirahasiakan darimu?" Ujar Sesya. "Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau tidak boleh tahu?"


"Aku jadi semakin penasaran, Ses. Apa yang aku perbuat hingga Vernon menyalahkan kejadian itu adalah salahku? Apa yang dilakukan Art?" Ucapku. "Art dan Vernon ternyata dulu juga bersahabat."


"Apa dia temanmu? Ternyata kau bisa juga mempunyai teman ya." Ujar Vegard dengan senyum skeptis.


"Apa maksudmu? Yang kau katakan seolah-olah tidak mungkin aku memiliki teman." Jawabku. Ya walaupun sebenarnya Sesya adalah satu-satunya temanku, namun tetap saja perkataan Vegard terasa aneh.


"Kau memang sudah sangat berubah." Tersungging sebuah senyum sarkastis di wajah Vegard.


"Veg, apa benar kalau sebenarnya kita akan bertunangan dulu? Jika benar, lalu kenapa hal itu tidak terjadi?" Aku berharap Vegard menjawabnya dan tidak menghindari pertanyaanku tersebut. "Atau semua itu hanya bualanmu?"


"Sayangnya, aku tidak membual." Jawab Vegard melangkah mendekatiku dan mencondongkan kepalanya ke samping kepalaku hendak membisikan sesuatu. "Aku akan menjawabnya jika kau mau bercinta denganku."


Aku menoleh, melihat Vegard dengan sangat kesal. Tidak akan mungkin aku mau bercinta dengannya.


"Ternyata kau memang hanya membual, dasar sialan!!" Seruku dengan tajam lalu mendorong Vegard agar menjauh dariku.

__ADS_1


Vegard malah tertawa ketika aku mendorongnya, itu membuat aku semakin kesal. Aku lebih memilih melangkahkan kakiku hendak menaiki tangga dari pada harus mendengar semua bualan pria seperti Vegard.


"Kau tahu Viv?"


Langkahku terhenti di tengah tangga dan menoleh pada Vegard yang menatapku.


"Walau kau yang sekarang terlihat sangat menggoda tapi aku lebih menyukai dirimu yang dulu." Seru Vegard dengan sebuah senyum dan kedipan satu matanya padaku.


Diriku yang dulu? Apa maksudnya? Apa ada perbedaan aku yang sekarang dengan diriku yang dulu? Yang diucapkan Vegard membuat aku berpikir mengenai diriku yang dulu. Apa sebelum aku merasa kehilangan ingatanku, ada perubahan didiriku? Apa aku berbeda dengan diriku saat itu?


Tiba-tiba terdengar suara tembakan sebanyak tiga kali. Aku sangat terkejut. Dengan segera aku melangkahkan kakiku dengan lebar ke ruangan dari sumber suara tersebut. Ruangan yang berada di lantai satu yang merupakan ruangan kerja Vernon. Vegard mengikutiku dari belakang.


Tanpa berpikir aku membuka pintu ruangan tersebut sebelum satu tembakan lagi terdengar. Jantungku serasa ingin lepas dari tempatnya ketika melihat Vernon sedang mengacungkan pistol ke seseorang yang sudah bersimbah darah di lantai. Beberapa anak buahnya berada di sana bersama dengan Vernon.


Kehadiranku membuat Vernon menatapku, lalu mengarahkan pistolnya padaku. Aku menatapnya dengan sebuah kebingungan dan rasa takut karena dari tatapan Vernon dia seperti hendak ingin menembakku.


Namun tidak berapa lama Vernon menurunkan senjatanya dan memberikannya pada salah seorang anak buahnya.


"Bakar mayatnya. Aku tidak ingin para pengkhianatan berada lama di rumahku ini." Seru Vernon dan langsung didengarkan oleh anak buahnya yang langsung mengangkat pria yang ditembak Vernon tadi.


Vernon melangkah mendekatiku yang berada di ambang pintu lalu menarik tangan kananku dengan kasar dan berjalan seperti menyeretku keluar dari ruangan itu. Aku diam saja dengan perlakuan kasarnya itu padaku.


"Sudah aku katakan jangan membunuh siapapun di rumah ini." Seru Vegard membuat langkah Vernon terhenti.


Vernon melepaskan tanganku dan berjalan pada Vegard yang berdiri tidak jauh di belakang kami dan langsung mencengkram Vegard, menatapnya dengan tajam.


"Kenapa aku harus mendengarkanm saat berada di sini?" Tanya Vernon dengan menggeram. "Disini aku yang berkuasa bukan kau."


"Kau harus ingat Vern, kau hanya anak yang dipungut—"


"Lalu kenapa? Karena itu aku katakan padamu, kau mungkin saja berkuasa saat disana (Norwegia), tapi di Italia, jangan coba-coba memerintahku!! Mungkin saja aku bisa lupa kalau kau adikku dan menghabisimu!!"


Vegard tersenyum skeptis pada Vernon setelah Vernon melepaskan cengkramannya. Vernon berjalan ke arahku namun berhenti kembali dan kembali menatap Vegard.


"Dan satu lagi. Dia memang calon tunanganmu dulu tapi sekarang dia adalah istriku. Jangan coba-coba untuk mendekatinya atau tanpa mengingat siapa dirimu, aku akan langsung menghabisimu!!"

__ADS_1


Aku terkejut mendengar ucapan Vernon. Jadi benar kalau aku dulu akan bertunangan dengan Vegard?


...–NATZSIMO–...


__ADS_2