
Vernon yang menoleh dan menatapku dengan lekat hanya diam saja setelah mendengar jawaban dariku. Sepertinya dia sangat kecewa mendengar jawabanku dan rasanya aku ingin tertawa saat ini.
"Baiklah, kalau begitu." Jawab Vernon menarik tatapannya dariku.
"Kapan kau akan pindah?" Tanyaku.
"Lusa." Jawab Vernon setelah itu mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
"Kalau begitu besok aku akan kembali ke rumahku." Jawabku.
Vernon menghela napasnya dalam-dalam dan merubah posisi duduknya hingga kembali mendekat dan berhadapan denganku. Dia menatapku terus. Jelas sekali kalau dia sangat ingin agar aku ikut dengannya tapi aku tidak ingin mengikuti kemauannya.
"Viv, kau sedang hamil anakku. Sebaiknya ikutlah bersamaku. Jika kau tetap disini, itu sama saja kalau kau ingin kita perpisahan." Ujar Vernon.
"Sejak awal aku memang ingin berpisah denganmu, Vern. Hanya karena kehamilanku saat ini sepertinya membuat aku jadi ingin selalu bersamamu, karena ini adalah anakmu. Tapi tidak mungkin aku meninggalkan negaraku demi hidup bersama denganmu. Bagaimanapun aku tidak mencintaimu." Ucapku.
Sejujurnya aku pun tidak mengerti dengan apa yang aku rasa saat ini. Sangat jelas aku tidak mencintai Vernon sebelum kehamilanku, namun semua berubah, kehamilanku membuat diriku seolah-olah merasakan cinta padanya, namun aku yakin itu tidak mungkin. Semua yang terjadi karena faktor hormon kehamilanku jadi tidak mungkin aku lebih memilih ikut bersama dengannya.
"Kau harus menjaganya hingga lahir. Aku akan datang sesering mungkin mengunjungimu." Ucap Vernon.
Mendengar perkataannya membuat aku tidak bisa menahan senyum. Sejujurnya aku ingin tertawa saat ini ketika melihat raut wajah Vernon yang terlihat sangat mengkhawatirkan diriku. Kehamilanku benar-benar sudah merubah sikapnya padaku. Tidak ada lagi Vernon yang bersikap arogan padaku.
"Jangan tersenyum di saat seperti ini." Ujar Vernon mengernyitkan dahinya. Tampaknya dia tidak suka melihat rasa senangku. "Jika tahu seperti ini, aku tidak akan menyerahkan Genoa pada kakakmu—"
__ADS_1
Aku menarik Vernon dan mencium bibirnya. Sejak tadi aku menahan diriku untuk tidak melakukannya, namun sudah sangat tidak tahan lagi aku menahannya. Ditambah melihat raut wajah kesalnya karena tidak mampu berbuat apapun sekarang. Tidak mungkin aku tidak menciumnya.
"Sepertinya kau memang ingin berpisah denganku." Ucap Vernon, wajah kami sangat dekat hingga aku bisa merasakan deruan napasnya. "Seharusnya kemarin aku tidak menjemputmu."
Aku kembali tersenyum mendengar perkataannya, menunjukkan rasa senang diriku padanya. Vernon mendengus melihat senyumku dengan kesal namun dia langsung menyambar bibirku, menciumku dengan penuh semangat. Cukup lama kami saling beradu mulut, dan tampaknya Vernon tidak ingin melepaskan bibirku karena tangannya terus saja memegangi kedua pipiku. Dan aku senang akan hal itu.
Waktu menjelang malam dan sejak siang aku terus saja merasa mual hingga harus muntah berkali-kali. Tetapi Vernon yang terus saja bersamaku hari ini memintaku agar selalu memakan sesuatu. Walau enggan aku tetap mengikuti permintaannya. Asalkan hari ini dia tidak pergi meninggalkan aku, aku akan menuruti perkataannya.
"Bagaimana nanti saat kita berpisah?" Tanya Vernon yang berdiri di belakangku. Saat ini kami berada di kamar mandi dan aku berdiri di depan wastafel karena merasa mual dan muntah. "Apa kau bisa menjaga dirimu sendiri?"
"Akan ada Renata, aku akan memintanya mengurusku." Jawabku membersihkan mulutku setelah itu hendak berjalan keluar kamar mandi namun tanpa aku duga Vernon mengangkatku.
"Renata tidak akan bisa menggendongmu seperti ini." Seru Vernon yang mengangkatku dengan kedua tangannya lalu membaringkan aku ke tempat tidur.
Sekali lagi senyumku tertahan saat mendengar rasa khawatirnya. Namun Vernon pasti tahu kalau aku tersenyum.
Sama sekali tidak ada niatan diriku menjawab perkataan Vernon. Aku tidak ingin memikirkan mengenai diriku yang hilang ingatan, bagiku itu bukan sesuatu hal yang penting. Sekarang, aku hanya ingin menikmati detik-detik kemenanganku atas Vernon.
Dengan cepat aku langsung memeluk tubuh Vernon ketika pria itu naik ke tempat tidur dan berbaring di samping kiriku. Sejak hamil, mencium aroma tubuhnya membuat diriku menjadi sangat nyaman. Sepertinya semua itu pengaruh dari anak kami yang aku kandung.
"Kau terus bersikap seperti ini padahal kita akan segera berpisah. Kau memang wanita aneh." Ujar Vernon yang mendekapku.
"Kau tahu kan, ini bukan keinginanku tapi keinginan anakmu, dan aku memanfaatkannya." Jawabku menggelung ke dekapan Vernon. "Bisa saja ini benar-benar malam terakhir kita sebelum aku terbebas darimu."
__ADS_1
...****************...
Renata membawaku ke rumahku keesokan harinya karena kedua orang tuaku akan menemuiku untuk melihat kondisiku yang sedang hamil hari ini.
"Viv, apa kau serius tidak ingin ikut denga Vernon ke Norwegia?" Renata yang berdiri di samping tempat tidur aku berbaring menatapku.
"Ya, aku tidak ingin ikut dengannya. Aku tidak ingin meninggalkan negara ini." Jawabku dengan santai.
"Itu berarti kalian akan berpisah?"
Aku tidak menjawab. Aku rasa tidak ada yang harus aku jawab mengenai hal tersebut saat ini.
"Viv, kau sangat egois. Apa kau tahu itu?" Nada suara Renata terdengar sangat kesal padaku. "Kau akan menyesalinya saat kau sadar Viv. Apa tidak bisa kau tidak bersikap sesukamu terus? Vernon rela menyerahkan Genoa pada Arthur agar dirinya bisa bersama denganmu yang sedang mengandung anaknya. Tapi karena keputusannya yang diambil dengan terburu-buru karena mengkhawatirkan dirimu yang hendak menggugurkan anaknya, sehingga dia membuat pamannya marah. Karena itu dia harus kembali ke negaranya karena semuanya menjadi kacau. Tapi kau yang membuat semua itu terjadi padanya malah tidak ingin pergi dan tidak ingin tinggal bersama dengannya, bahkan kau juga ingin berpisah. Apa kau tidak merasa semua hal buruk yang terjadi pada Vernon karena keegoisanmu?"
Aku masih bungkam dan berbaring dengan santai. Walau aku mengerti dengan semua yang dikatakan Renata namun aku merasa itu semua bukan salahku. Aku juga tidak egois. Renata hanya salah menilai sikapku.
"Vivian Zeta La Nostra, apa kau mendengarku?" Geram Renata tampak kesal. Tidak biasanya dia memanggil namaku dengan sangat lengkap. Itu menunjukan rasa marahnya padaku saat ini. "Semua yang dilakukan Vernon untukmu dan anakmu menjadi sia-sia kalau kau tidak ingin pergi bersamanya."
"Ren, sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganmu. Kenapa kau sangat marah padaku?" Tatapku pada wanita yang dicintai Arthur.
"Ya kau benar. Tapi setelah aku pikir-pikir kalau sekarang kau ingin berpisah dengannya, bukan kah lebih bagus jika kau menggugurkan kandunganmu? Ya, kau pasti tidak akan mau melahirkan anak dari seseorang yang tidak kau hargai itu. Karena itu gugurkan saja kandunganmu."
"Itu benar, Viv. Sebaiknya gugurkan kandunganmu, sayang. Jangan biarkan benih dari pria sepertinya kau lahirkan karena kalian akan berpisah segera." Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul ayah dan ibuku.
__ADS_1
Aku tertegun mendengar seruan dari ibuku.
...–NATZSIMO–...