
Vernon menciumku di atas tempat tidur ketika kami ke hotel setelah dari rumah pamannya. Waktu sudah terlalu malam karena sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Di atas tempat tidur aku membiarkan Vernon mencumbu dengan bercinta denganku seperti biasanya. Walaupun begitu saat ini pikiranku masih di penuhi dengan perkataan Licciardi yang menceritakan apa yang terjadi pada kedua orang tua Vernon.
Yang sebenarnya adalah ayah Vernon—Antonio Sanzio merupakan pengikut La Nostra. Ia menjadi mata-mata La Nostra ke dalam Camorra namun pada akhirnya ayah Vernon berkhianat sehingga ayahku membunuhnya beserta istrinya.
Semua terjadi ketika Vernon berusia 5 tahun dan itu berarti sebelum diriku lahir. Keluarga Skjoldbjærg yang sekarang menjadi keluarga Vernon merawatnya dan menjadikan dirinya anak tertua. Namun begitu, yang terjadi sebenarnya adalah Felipe Camorra lah yang membesarkan dirinya dan membuatnya menjadi penerus Camorra.
Sekarang aku mengerti. Karena itu kenapa kedua orang tuaku tidak menyukai Vernon dan bahkan waktu itu Vernon mengatakan ingin balas dendam pada La Nostra. Semua semakin rumit, seharusnya dirinya tidak menikahiku jika memang ingin membalas dendam.
Aku kembali teringat mengenai pertemuan pertamaku dengan Vernon di dalam mimpi. Anak laki-laki 10 tahun itu adalah Vernon. Saat itu aku diculik dan aku sangat yakin kalau penculiknya adalah Camorra karena pada saat itu mereka membawaku ke Napoli dan aku ingat sekali kalau diriku berada di rumah Felipe Camorra.
Apa tujuan Vernon menikah denganku hanya untuk membalaskan dendam orang tuanya? Apa sewaktu-waktu dirinya akan menggunakan aku untuk tujuannya?
"Ada apa denganmu? Kenapa kau hanya diam saja?" Vernon yang sedang berada di atasku menghentikan dirinya yang sedang menikmati kegiatan bercinta kami. "Kau menangis?" Vernon menatap mataku sangat dekat.
Sepertinya tanpa sadar aku mengeluarkan air mata karena memikirkan jika semua yang aku kira akan benar terjadi. Vernon hanya ingin membalas dendam pada orang tuaku yang membunuh orang tuanya.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutku dan hanya mencoba menghapus air mata yang tanpa sadar keluar. Sedangkan Vernon menghentikan dirinya dengan mencabut miliknya dari dalam tubuhku dan berbaring di sampingku.
"Apa yang dikatakan Licciardi padamu?" Tanya Vernon setelahnya menghela napas.
Aku masih bungkam karena tidak ingin mengatakan apapun. Ketakutanku akan pikiran yang ada dibenakku membuat diriku merasa tidak ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Aku takut jika Vernon mengatakan jika semua itu benar. Ia akan menggunakan aku sebagai pembalasan dendamnya pada kedua orang tuaku.
"Katakan padaku?" Tanya Vernon menoleh padaku.
Tetap tak ada yang keluar dari mulutku, aku hanya memilih tetap bungkam dengan mengubah posisiku menjadi memunggungi dirinya.
Setelahnya Vernon tidak berkata apapun lagi padaku. Aku hanya merasakan dirinya mencium tengkukku sebelum diriku tertidur karena lelah dengan semua yang aku pikirkan.
Di tengah tidurku aku terkejut hingga membuka mataku ketika mendengar Vernon mengigau. Hatiku terasa sangat sakit ketika dirinya menyebut nama wanita itu di dalam tidurnya. Nama wanita yang masih dicintainya, Wynetta.
"Wynetta..." Sekali lagi Vernon menyebutnya dan kali ini matanya terbuka.
Tampaknya ia sadar kalau baru saja dirinya menyebut nama itu ketika melihat diriku yang menatapnya dibalik kegelapan saat ia membuka mata. Vernon sempat terdiam dengan menatapku yang tidak bereaksi apapun.
__ADS_1
Hatiku sangat sakit saat ini. Aku mencintai Vernon namun ia masih mencintai wanita itu. Aku adalah istrinya dan selalu bersama dengannya, bahkan kami bercinta hampir setiap hari tapi itu semua semakin membuat diriku merasa sangat bersedih karena pada kenyataan hanya wanita itu yang ada di hati dan bahkan di dalam mimpinya.
Aku mengubah posisi tidurku menjadi terlentang mencoba untuk memejamkan mataku lagi tanpa berkata apapun pada Vernon. Sepertinya keputusanku ikut bersama dengannya adalah salah.
"Viv..." Tanpa aku duga Vernon merengkuhku ke dalam pelukannya. "Tidurlah, siang nanti kita akan berjalan-jalan, kita akan menghabiskan waktu bersama hari ini." Bisik Vernon setelahnya mengecupku.
Di restoran hotel, aku dan Vernon sarapan berdua. Hampir tidak ada yang aku katakan padanya. Mendengar dirinya menyebut nama Wynetta saat tidur membuat diriku menjadi agak marah dengannya.
"Setelah makan siang nanti aku akan kembali. Kita akan berjalan-jalan dan makan malam bersama sebelum besok pagi kita akan kembali ke Sisilia. Ada hal yang harus aku kerjakan habis ini. Nikmatilah waktumu selagi aku pergi, Viv. Tapi jangan keluar hotel tanpaku." Seru Vernon.
"Baiklah." Hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Vernon mengecup bibirku setelah menyelesaikan sarapannya dan langsung beranjak pergi.
Aku memilih menghabiskan pagi ini di cafe bar hotel dengan meminum cocktail dengan ditemani Esteban.
"Sepertinya nyonya memikirkan sesuatu?" Seru Esteban yang aku suruh duduk di kursi bar di samping kananku.
"Apa terlihat seperti itu?" Setelah berkata demikian aku meminum cocktail di gelas kristal dengan sekali tegukan. "Tidak kau salah, aku tidak sedang memikirkan sesuatu tetapi banyak hal." Aku menyunggingkan senyum pasa Esteban.
"Ya, sepertinya aku harus mengikuti perkataan seorang motivator sepertimu." Jawabku dengan tersenyum. "Est, kau berasal dari mana?"
"Salah satu di desa kecil di Umbria." Ucap Esteban setelah meminum lemon tea di gelasnya.
"Umbria?" Aku menoleh pada Esteban. "Apa nama Desanya?"
"Castelluccio." Jawab Esteban sambil menempelkan bibirnya ke gelas lemon tea yang masih berisi setengah gelas.
"Castelluccio?" Tanyaku memastikan.
"Ya, itu desa kecil yang hanya dihuni sekitar 150 orang, berada di dataran tinggi yang berselimut salju. Tapi pemandangan di sana sangat indah ketika musim semi. Ada dataran hijau yang dihiasi bunga poppy, violet, dan rapeseed." Terang Esteban.
"Benarkah?"
Esteban merogoh saku celana dan mengambil handphone-nya, lalu membuka sesuatu foto yang langsung dirinya tunjukan padaku.
__ADS_1
Sebuah foto dirinya dengan latar pemandangan bunga warna-warni terlihat begitu indah.
"Sisilia dan Napoli hanya ada laut, nyonya juga pernah bercerita kalau pernah ke Genoa kan? Itu hanya ada pelabuhan dan laut juga. Aku rasa Venesia juga tidak seindah tempatku yang ada di dataran tinggi." Ujar Esteban meletakkan handphone-nya ke meja.
"Kau tinggal di tempat seindah itu kenapa malah pergi dari sana?"
"Mau tidak mau karena tidak ada apa-apa di sana selain pemandangan yang indah. Bahkan tidak ada wanita secantik nyonya." Jawab Esteban.
Mendengarnya aku hanya tertawa kecil sambil menghabiskan sisa cocktail di gelasku.
"Suatu saat kau harus pergi kesana dan melihatnya, nyonya. Katakan saja kalau kau ingin ke sana, aku akan menjadi pemandumu saat berada di sana." Senyum Esteban.
"Tentunya, aku tidak akan ke sana jika tidak bersamamu kan." Jawabku.
Handphone Esteban yang ada di atas meja bar bergetar. Pemuda itu melihat layar handphone-nya dan melihat nama Vernon yang meneleponnya.
"Tuan Vernon?" Esteban menoleh padaku.
"Pasti dia meneleponku. Aku meninggalkan handphone-ku di kamar." Seruku.
Esteban langsung menerima telepon dari Vernon. Tampaknya Vernon memintanya untuk membawaku ke suatu tempat.
"Nyonya, tuan memintaku membawamu untuk makan siang bersama." Ujar Esteban.
Tanpa sadar aku tertawa kecil karena sepertinya hubungan Vernon dan Esteban menjadi lebih baik sekarang.
"Ada apa, nyonya? Kenapa tertawa?" Tanya Esteban.
Aku tidak ingin menjawabnya dan lebih memilih turun dari kursi lalu berjalan hendak keluar sambil memikirkan perkataan Esteban padaku.
Yang dikatakan pemuda itu benar. Aku tidak perlu memikirkan semuanya secara bersamaan. Ah, aku tidak perlu memikirkan apapun mengenai kematian orang tua Vernon ataupun mengenai rasa cintanya pada Wynetta. Yang harus aku pikirkan hanyalah membuat Vernon mencintaiku.
Aku harus membuatnya sepenuhnya menjadi milikku.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1