
Suara tembakan terdengar. Aku mencoba merasakan sakit ditubuhku namun aku baik-baik saja sehingga aku membuka mata segera dan melihat pria berkulit hitam yang mengacungkan pistolnya padaku sudah terjatuh ke tanah dan keluar darah dari dadanya, walau dia belum mati.
"Dalam situasi seperti ini tidak seharusnya kau menangis, Viv." Terdengar suara Renata dari arah belakang mobil yang aku tumpangi.
Aku menoleh ke arah Renata bersamaan dengan terdengarnya banyak sekali suara tembakan yang berasal dari para penjaga La Nostra yang datang bersama dengan Renata. Senyum ciri khas Renata memancar di wajah Renata dengan sebuah senjata laras panjang yang dibawanya.
Renata berjalan mendekatiku. Pria yang sudah terbaring di dekatku mencoba mengangkat pistolnya ke arah Renata namun dengan mudahnya Renata meletuskan beberapa kali tembakan ke arahnya hingga darah pria itu menyiprat mengenaiku yang terkejut hingga menutup mata lagi.
"Art pasti akan sangat bersedih kalau kau mati." Ucap Renata membuatku membuka mata dan melihat padanya yang tersenyum padaku.
Sejenak aku terkejut pada kehadirannya yang datang membawa senjata laras panjang, ditambah bagaimana dirinya menembak seseorang dengan brutal tanpa rasa takut. Sedangkan aku, melihat darah yang terciprat ke tubuhku saja sangat membuatku merasa ngeri.
"Seorang dokter pasti sudah terbiasa dengan melihat darah." Renata berjalan ke arah depan mobil sambil menembaki beberapa orang yang sudah terkapar karena terkena dari para penjaga La Nostra.
Sekarang aku mengerti, ternyata Renata memang tunangan kakakku. Dia sangat cocok dengan kakakku Arthur yang terkenal dengan sebutan berdarah dingin. Bahkan aku yang adiknya saja tidak pernah sekalipun memegang sebuah pistol, apalagi senjata laras panjang. Itu mustahil bagiku bisa menembakannya karena aku sangat takut ketika melihat darah.
"Viv, kau baik-baik saja?" Terdengar suara Vernon dari dekat mobil Alec. Dia sudah bangkit berdiri walau pundak atasnya tertembak.
Pertanyaannya menyadarkan aku dari rasa ngeri dalam situasi ini. Aku langsung turun dari mobil dan mencari Alec tanpa memedulikan Vernon yang hendak berjalan ke arahku. Alec tidak ada di dalam mobilnya lagi.
"Alec." Panggilku dengan rasa ketakutan.
"Aku di sini, Viv." Terdengar suara Alec dari arah samping mobil sana.
Dengan segera aku mencarinya dan melihat Alec sedang terduduk di tanah dengan kaki kanannya yang terluka karena benturan mobilnya yang ditabrak hingga membentur pohon.
Rasa lega aku rasakan saat melihat dia masih hidup hingga tanpa sadar aku memeluknya dengan tidak memedulikan keberadaan Vernon yang tidak berapa lama melihat kami berdua.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Ujar Alec padaku yang memeluknya.
__ADS_1
"Menyingkirkan Viv, biar aku lihat lukanya." Seru Renata membuat aku melepaskan Alec dan menoleh pada Vernon.
Renata membuka kaki kanan Alec yang berdarah. Melihatnya membuat kakiku sendiri terasa lemas. Hingga Vernon yang melihatku dengan luka tembak yang ditutupi oleh tangannya membuatnya terjatuh ke tanah lagi. Renata segera menghampiri Vernon setelah menyuruh anak buah La Nostra membawa Alec kerumah sakit.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Renata pada Vernon yang melihat padaku. "Viv, bantu aku membawa Vernon ke mobil."
Aku mendengarkan perkataan Renata dengan berjalan mendekati mereka. Vernon masih menatapku lekat hingga aku membantunya berdiri.
"Aku masih bisa bangun, aku tidak butuh bantuanmu." Seru Vernon padaku menepis tanganku yang hendak memegang tangannya.
Vernon bangkit berdiri dan berjalan masuk ke mobilnya dengan Renata yang sudah berada di kursi setir. Aku mengikuti dari belakang Vernon dan duduk di kursi depan sedangkan Vernon berada di kursi belakang.
Setelah mendapatkan penanganan, aku masuk ke ruangan di mana Alec berada. Aku sangat mencemaskan dirinya hingga rasanya ingin menangis. Namun melihat Alec tersenyum padaku membuat aku sangat lega.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Luka ini pasti akan segera sembuh. Hanya luka ringan." Ucap Alec padaku yang menghampirinya di dalam ruangan.
"Aku bersyukur kau baik-baik saja, Alec." Jawabku menggenggam telapak tangan Alec.
Pertanyaannya membuat aku sadar kalau seharusnya saat ini aku berada di ruangan Vernon dan bukan di sini bersama Alec. Namun aku lebih mencemaskan Alec walau yang terluka lebih parah adalah suamiku sendiri, Vernon.
"Kau harus melihatnya sekarang, Viv. Dia akan curiga nanti."
Aku mendengarkan perkataan Alec dan langsung masuk ke dalam ruangan di mana Vernon berada. Vernon melihat kehadiranku dengan membuang mukanya. Dia berada di atas ranjang rumah sakit tidak memakai baju dengan perban yang melingkar menutupi luka tembaknya. Baru saja dokter mengeluarkan peluru dari tubuhnya. Sepertinya peluru tersebut tidak mengenai organ vital sehingga Vernon terlihat baik-baik saja.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyaku. "Sepertinya kau baik-baik saja."
"Ini hanya luka kecil, aku tidak akan mati karenanya." Jawab Vernon dingin. "Kau tidak terluka, kan?"
Apa yang ditanyakan Vernon membuat aku tersadar pada diriku. Aku memang tidak terluka sama sekali namun rasanya pertanyaannya aku mencoba merasakan semua tubuhku kalau-kalau aku terluka tanpa aku ketahui.
__ADS_1
"Ya sepertinya tak ada luka ditubuhku. Aku baik-baik saja." Jawabku setelah memastikan tak ada luka pada tubuhku.
"Mulai sekarang kau tidak boleh kemanapun, kalaupun ingin keluar, aku akan menyuruh beberapa orang mengawalmu. Apa kau mengerti?" Tatap Vernon padaku yang berdiri di samping ranjangnya, di dekatnya. "Sekarang kau bukan saja La Nostra tapi juga berhubungan dengan Camorra."
Walau aku ingin menolak namun tak ada perkataan yang aku ucapkan. Untuk saat ini aku rasa aku akan diam saja walau nantinya aku pasti akan mencari cara agar bisa keluar seorang diri tanpa pengawalan. Apa lagi disaat aku ingin menemui Alec, tidak mungkin kan aku pergi dengan para pengawal Vernon.
"Bagaimana keadaan Alec?" Tanya Vernon. "Dia baik-baik saja? Kau pasti melihatnya sebelum ke sini kan? Bagaimanapun kau dan Alec sangat dekat karena sudah sangat lama kalian mengenal."
"Ya, kakinya hanya luka ringan dan akan segera sembuh katanya." Jawabku. Entah apa yang aku rasakan saat ini.
Vernon terlihat tidak mencurigai hubungan aku dengan Alec. Itu bagus, walau ada rasa sedikit bersalah di hatiku.
"Kita akan segera pulang, aku tidak suka bau rumah sakit." Ucap Vernon sambil menuruni ranjang.
"Sebaiknya kau dirawat beberapa hari di sini. Agar luka tembaknya bisa sembuh dengan cepat." Seruku menghampiri Vernon yang berjalan mengambil kemejanya.
Vernon tidak menghiraukan perkataanku dengan memakai kemeja putihnya dan jam tangan yang terletak di meja samping ranjang.
"Vern, saat di rumah tak ada yang bisa merawat lukamu. Sebaiknya untuk sementara hingga lukanya terawat dengan benar, tinggalah di rumah sakit." Aku berjalan menghampiri Vernon agar dia mau mendengarkan perkataanku. Karena merawat luka tembak itu pasti akan menyulitkan.
Namun Vernon tetap tidak menggubris perkataanku. Dia menghubungi anak buahnya untuk mempersiapkan mobil karena dirinya hendak pulang saat ini juga.
"Vern!!" Aku memegang lengan Vernon agar setidaknya dia melihat padaku dan menjawab perkataanku.
"Ini bukan pertama kali aku terluka, luka ini tidak seberapa hingga aku harus berada lama di tempat ini." Akhirnya Vernon menjawabku. "Jangan berkata seakan-akan kau peduli padaku. Aku tahu kau sama sekali tidak mengkhawatirkan aku."
Mendengarnya berkata seperti itu, aku jadi tersadar. Perkataannya membuat aku bertanya sendiri pada diriku, apakah aku memedulikannya, dan apakah aku juga mengkhawatirkannya?
Tiba-tiba Vernon menarikku ke dekapan tubuhnya. Aku menjadi bingung pada apa yang dilakukannya. Kenapa Vernon memelukku?
__ADS_1
"Syukurlah kau baik-baik saja dan tidak terluka, Viv." Ucap Vernon mendekapku dengan erat.
...–NATZSIMO–...