
Wynetta De Angelis, aku pernah bertemu dengannya sepuluh tahun lalu. Wanita itu datang ke perayaan ulang tahunku bersama seorang gadis berkulit pucat seusiaku. Aku baru ingat kalau gadis tersebut adalah Olivia. Tapi aku tidak mengerti apa yang terjadi setelahnya, yang aku tahu setelah hari ulang tahunku, Arthur masuk rumah sakit, itu pun aku tahu dari cerita orang tuaku.
Arthur yang baru berusia sembilan belas tahun saat itu mengalami luka tidak terlalu parah dan pulang keesokan harinya. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wanita bernama Wynetta itu meninggal? Olivia? Ya, sepertinya aku bisa mencari tahu dengan bertanya pada gadis itu.
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar terbuka, aku segera keluar dari kamar dan melihat Vernon sudah masuk ke dalam kamar sedang membuka kemeja yang digunakannya.
"Sedang apa kau di sana?" Tanya Vernon melirik kemunculanku dari ruangan pakaian miliknya.
"Aku harus menaruh pakaianku di ruangan itu juga." Jawabku masih berdiri di ambang pintu antara kamar dan ruang pakaian.
"Minta pelayan merapikannya. Kau tidak perlu melakukannya." Ujar Vernon berjalan masuk ke kamar mandi.
Aku langsung berjalan keluar kamar karena tidak ingin berada di ruangan itu bersama Vernon. Sebisa mungkin aku akan terus menghindar, tapi entah samapai kapan aku bisa menghindarinya.
Langkahku terhenti saat memasuki beranda dan melihat pemandangan yang ada di luar sana. Saat ini aku berada di lantai lima, lantai teratas di rumah ini.
Sore hari terasa begitu menyejukan sekarang. Sudah sangat lama aku tidak menikmati waktu kesendirianku. Biasanya saat waktu luang seperti ini Sesya akan datang ke rumahku dan mengganggu hari mingguku. Dia akan pulang setelah salah satu kekasihnya menjemputnya.
"Sedang apa kau sekarang?" Tanyaku yang akhirnya menelepon Sesya kembali.
Sesya tidak langsung menjawab, terdengar desahannya saat ini dan membuat aku tahu hal apa yang sedang dia lakukan saat ini.
"Maaf sayang, biarkan aku menjawab sahabatku dulu." Terdengar Sesya berbicara dengan seseorang yang aku yakini adalah salah satu kekasihnya. "Kau menggangguku saja, Viv."
"Kau tidak perlu menjawabnya jika mengganggumu. Kau hanya ingin pamer karena sedang bercinta kan? Hah, kau ini, apa hebatnya bercinta dengan banyak pria. Dasar gadis nakal." Seruku kesal pada sahabatku yang terkenal sering berganti-ganti kekasih itu.
"Aku tidak akan kesal pada gadis perawan sepertimu." Jawab Sesya. "Tunggu dulu, Viv. Bagaimana malam pertamamu dengan suamimu? Apa kalian sudah melakukannya?"
"Ayolah, Ses, aku tidak mungkin melakukannya dengannya, aku tidak menyukainya."
__ADS_1
"Sudahlah, Viv, kau itu sudah menikah dengan Vernon, tidak apa-apa kau lakukan dengannya walau kau tidak menyukainya. Setelah melakukan dengannya bisa saja kau jadi menyukainya. Itu yang sering aku rasakan pada pacar-pacarku." Ujar Sesya terdengar sangat renyah.
"Kau benar-benar menjijikkan, Ses. Aku hanya akan melakukannya dengan Alec." Ucapku. "Setidaknya yang pertama dengan Alec."
"Kau masih saja berharap padanya. Dia tidak menyukaimu jika dia menyukaimu sejak dulu dia mengatakannya padamu. Bahkan dia terlihat biasa saja saat kau menikah. Kau hanya terlalu percaya diri dengan mengatakan dia juga menyukaimu." Ucap Sesya terdengar menyakitkan walau dia sudah sering mengatakannya padaku. "Vernon tidak buruk juga, dia sangat tampan dan terlihat sangat maskulin, aku jadi ingin tahu bagaimana rasanya bercinta dengan pria sepertinya. Apa dia akan lebih baik dari Arthur?"
Aku membuang napasku karena tahu kalau kakakku Arthur adalah pria pertama yang bercinta dengan Sesya. Saat itu satu hari sebelum acara pertunangan Arthur dengan Renata. Sesya yang mengagumi Arthur ingin bercinta dengannya sebagai pengalaman yang pertama untuknya. Itu terjadi sekitar tujuh tahun lalu. Aku tidak tahu menahu mengenai rencananya tersebut hingga keesokan harinya ketika acara pertunangan berlangsung Sesya yang adalah sahabatku sejak di sekolah menengah menceritakannya padaku.
"Aku jadi ingin merasakan sekali lagi dengan Arthur." Bisik Sesya karena kekasihnya baru saja keluar dari kamar mandi.
Mendengarnya aku hanya bisa membuang napas panjang. Itu terdengar sangat menjijikan untukku sehingga tidak ingin membayangkan saat Arthur bercinta dengan Sesya.
"Baiklah, Viv, aku ingin melanjutkan yang sempat tertunda tadi. Sebaiknya kau pikirkan lagi untuk melakukannya dengan Vernon. Aku rasa kau akan ketagihan."
"Dasar gadis menjijikan." Gumamku sambil menutup teleponnya.
"Kau sudah kembali?" Tanyaku dengan perasaan sedikit takut jika Alec mendengar perkataanku tadi dengan Sesya. "Sejak kapan kau kembali?"
"Kami kembali bersama dengan Vernon." Jawab Alec dengan tersenyum. "Oh iya, ini hadiah ulang tahun untukmu."
Alec memberikan sebuah kotak merah padaku dan aku langsung membukanya. Sebuah kalung berlian dengan liontin inisial namaku V.
"Ini sangat indah, Alec. Terimakasih." Ucapku langsung mencium pipi Alec. "Aku akan memakainya."
"Tidak, jangan dipakai sekarang." Alec tersenyum sambil memegang telapak tangan kiriku, itu membuat aku terkejut.
"Sedang apa kalian berdua di sini?" Tanya Vernon yang berada di dalam melihat kami berdua di beranda.
Alec menarik tangannya dari yang memegang tanganku dengan cepat.
__ADS_1
"Cepat masuk, sebentar lagi makan malam." Seru Vernon berjalan.
Sebelum berbalik Alec tersenyum lagi padaku. Melihatnya membuatku semakin yakin kalau diapun mencintaiku. Aku segera mengikuti mereka berdua menuju meja makan sambil meletakan kotak kalung pemberian Alec ke saku celana yang aku pakai.
Olivia tersenyum padaku membuatku teringat dengan gadis sepuluh tahun lalu yang hadir ke acara ulang tahunku. Namun pikiranku teralihkan ketika melihat kalung yang digunakan Olivia. Walau tidak sama, namun kalung itu terlihat sangat mirip dengan kalung pemberian Alec padaku. Ditambah dengan liontin inisial namun bukan inisial nama gadis tersebut melainkan huruf A.
Aku menatap Alec yang duduk di samping Olivia dan terlihat sedang berbicara dengannya. Dia terlihat sangat ramah pada gadis itu. Apa maksudnya ini? Kenapa Olivia memakai kalung dengan inisial A? Apa itu inisial dari nama Alec?
Ingin rasanya aku menanyakannya langsung pada Alec akan tetapi aku tidak memiliki kesempatan hingga Alec meninggalkan rumah ini. Dengan terus memikirkan apa yang mengganggu pikiranku, aku berjalan menuju kamar.
Vernon datang ketika aku hendak membuka pintu kamar, dia langsung mendorongku masuk dan mengunci kamarnya. Aku terkejut karena tidak mengira kalau dia akan secepat ini masuk ke kamar malam ini.
"Kenapa kau terlihat memikirkan sesuatu? Apa yang kau pikirkan?" Tanya Vernon.
"Aku rasa kita tidak sedekat itu hingga menceritakan apa yang aku pikirkan padamu." Jawabku sambil berpikir bagaimana caraku menghindarinya malam ini.
Vernon tertawa mendengar jawabanku lalu tanpa aku duga dia menarikku dan mencium bibirku. Dia memegangi kepalaku agar aku tidak bisa melepaskan ciumannya. Aku berusaha mendorongnya dengan sekuat tenaga karena ciuman Vernon semakin bersemangat.
"Jangan menciumku dengan paksa!!" Seruku kesal setelah berhasil lepas dari bibirnya.
Vernon hanya menatapku dengan menyeringai. Aku bisa mengira apa yang akan terjadi setelah ini. Aku melirik ke kanan dan ke kiri sesaat lalu setelah itu berlari memasuki ruang pakaian sebelum Vernon berhasil menangkapku. Aku menguncinya dari dalam.
Aku bernapas lega dengan sedikit tertawa karena berhasil mencari cara menghindari Vernon malam ini. Ya, aku akan tidur di ruangan ini saja malam ini.
"Keluarlah bodoh, kau tidak harus tidur disana." Seru Vernon namun aku tidak menggubrisnya. "Ya baiklah, kalau kau ingin tidur di sana."
"Mulai besok aku akan tidur di sini saja." Ucapku pada diriku sendiri.
Aku mengeluarkan kotak kalung pemberian Alec dan membukanya. Kalung pemberian Alec aku ambil dari kotaknya dan aku tersadar kalau liontin ini pun bukan huruf V melainkan A. Aku berpikir sesaat, jadi karena itu dia tidak ingin aku memakainya langsung tadi? Apa itu artinya kalau Alec juga benar-benar mencintaiku? Tapi bagaimana dengan kalung milik Olivia? Apa maksudnya ini?
__ADS_1