
Kehadiran Vernon dengan helikopter membuat aku merasa senang hingga tanpa sadar sebuah senyum tersungging dibibirku. Vernon melihat ke arahku sejenak dan setelah itu kembali menatap pada Arthur yang berdiri disampingku.
"Maaf ya, karena terlalu terburu-buru makanya aku datang dengan helikopter." Ujar Vernon pada Arthur.
"Kenapa kau terburu-buru? Apa kau sangat tidak sabar agar aku menyerahkan 80 persen dari Genoa?" Tanya Arthur dengan tatapan menajam pada Vernon.
Vernon tertawa mendengar perkataan Arthur, membuat Arthur tampak semakin memancarkan amarahnya.
"Kau salah Art, aku terburu-buru datang ke sini karena ingin mengambil milikku." Jawab Vernon dengan tatapan dingin padaku.
"Apa maksudmu?" Tanya Arthur dan langsung menoleh padaku membuatnya mengerti maksud dari perkataan Vernon. "Aku akan menyerahkan 80 persen Genoa saat ini juga. Pergilah ke Genoa sekarang aku akan menyusul."
Vernon menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman. Tampaknya dia tidak setuju dengan perkataan Arthur yang terdengar seperti mengusirnya.
"Seharusnya kau pun tahu, Art, aku masih bisa mengancammu atas perbuatanmu sepuluh tahun lalu, jadi kembalikan penebusanmu padaku." Ujar Vernon.
Dalam hati aku merasakan sebuah rasa senang. Ini memang aneh, seharusnya aku merasa tidak senang dan malah seharusnya aku merasa kesal dengan ucapan dan keberadaan Vernon di sini namun seperti ada sesuatu merubah perasaanku pada Vernon saat ini. Bahkan rasanya aku menjadi ingin berlari dan memeluknya segera.
"Ah, dan mengenai Genoa, silakan kau bisa ambil semuanya untuk La Nostra, anggap itu sebagai hadiah dari adik iparmu."
Vernon hendak melangkah mendekat membuat para penjaga bersiap menarik pelatuk senjatanya namun Arthur memberi aba-aba dengan mengangkat tangannya agar mereka semua menahan tembakan.
Arthur menoleh padaku yang juga menatapnya, namun tanpa berpikir apapun aku berlari ke arah Vernon dan meraih tubuhnya yang langsung menggapaiku dengan merengkuhku ke dekapannya. Seketika aku merasakan sesuatu terasa begitu hangat dihatiku saat ini.
"Terimakasih Art, kau sudah menjaga istriku dengan sangat baik." Senyum mengejek Vernon terpancar di wajahnya.
Setelah itu Vernon dan aku menaiki helikopter. Ketika baling-baling helikopter berputar kembali Renata melambaikan tangannya pada kami dengan sebuah senyum. Hal itu membuat aku tahu kalau dirinya yang memberitahu Vernon dan membuatnya datang dengan terburu-buru menggunakan helikopter.
__ADS_1
Di dalam helikopter, aku duduk di samping Vernon dan masih bersandar memeluk tubuhnya. Sesaat aku lupa mengenai kebencianku padanya.
"Bukankah seharusnya kau kesal karena akhirnya kau akan menjadi tawananku lagi?" Vernon menatapku yang mendekapnya.
Perkataannya menyadarkan diriku hingga melepas tanganku dan duduk dengan tegak. Aku sama sekali tidak mengerti dengan yang terjadi pada diriku, berada dalam dekapan Vernon membuatku merasa nyaman sehingga aku melupakan bagaimana seharusnya aku bersikap pada musuhku.
"Kita akan ke rumah sakit." Ujar Vernon.
Sepertinya Renata memang sudah memberitahukan segalanya pada Vernon mengenai keadaan diriku saat ini. Aku menahan senyuman dibibirku karena tidak mau Vernon tahu kalau aku senang mendengar ucapannya.
Dokter langsung memeriksaku. Aku melihat bagaimana sesuatu berada di perutku ketika dokter mengoleskan sesuatu cairan di perut bagian bawah dan alat USG menekan perutku.
"Selamat tuan Skjoldbjærg, nyonya tengah hamil saat ini. Usia kandungannya enam minggu." Ujar seorang dokter pria berusia sekitar empat puluh tahun.
Wajah Vernon terlihat datar ketika mendengar kabar tersebut. Itu sedikit membuatku kecewa. Aku berharap dia akan senang ketika mendengar kabar tersebut tetapi dugaanku salah.
"Tapi sebaiknya nyonya bed rest tuan karena luka tembaknya belum sembuh total, itu bisa sangat berbahaya untuknya dan untuk bayi yang dikandungnya." Tambah si dokter.
Kami menaiki mobil ketika dalam perjalanan pulang ke rumah Vernon. Aku masih merasakan kekecewaan yang membuat diriku bersedih saat ini. Aku terus menatap ke luar jendela mobil dan menahan air mataku agar tidak menangis saat ini.
Vernon tidak senang dengan kehamilanku, itu terasa sangat menyakitkan. Seharusnya aku mengikuti perkataan Arthur untuk menggugurkan kandunganku saja kalau begini.
"Maafkan aku, seharusnya waktu itu aku tidak melakukannya. Kau jadi hamil sekarang." Ucap Vernon yang duduk di samping kananku di dalam mobil. "Lukamu masih belum sembuh benar, itu akan mempengaruhi kondisi tubuhmu. Kau tidak boleh turun dari tempat tidur agar kau dan bayinya baik-baik saja. Kau mengerti?"
Ternyata dugaanku salah. Apa yang dikatakan Vernon barusan membuatku menoleh menatapnya. Bukannya Vernon tidak senang dengan kehamilanku melainkan dirinya menjadi merasa bersalah karena membuatku hamil dalam kondisi luka tembakku yang belum sembuh benar saat ini.
"Apa kau mengerti, Viv? Jangan turun dari tempat tidur, aku akan meminta pelayan untuk mengurusmu 24 jam." Ujar Vernon.
__ADS_1
"Aku ingin kau yang mengurusku." Jawabku dengan nada suara pelan karena merasa malu saat mengatakannya tapi setelahnya aku menoleh pada Vernon. "Ini semua salahmu, seharusnya kau tidak melakukannya padaku waktu itu. Jadi harus kau yang 24 jam mengurusku."
Vernon mendengus mendengar seruanku. Namun tanpa aku duga tangan kirinya merangkulku dan menarik tubuhku bersandar padanya. Sepertinya anak kami juga mempengaruhi diriku untuk memeluk Vernon saat ini. Tanganku langsung aku lingkaran ke tubuh Vernon, memeluknya. Aku juga tersenyum di dalam pelukan.
Rasanya kehamilanku membuatku merasakan sesuatu yang aneh. Setiap saat aku menjadi ingin berada di sisi Vernon dan memeluknya. Itu membuat perasaanku menjadi nyaman dan tenang. Aku tahu itu semua karena bayi yang aku kandung bukan karena keinginanku sendiri.
Ketika kami sampai di rumah, Vernon menggendongku untuk membawaku ke kamar. Aku merasa sangat senang saat ini. Aku menggelung dalam dadanya mencium aroma tubuhnya yang membuat diriku menjadi merasa lebih nyaman.
"Aku pikir kalian berdua akan segera berpisah." Suara Vegard terdengar ketika Vernon masuk ke dalam pintu.
Vernon dan aku tidak menghiraukan perkataannya.
"Vivian baik-baik saja, Vern?" Kali ini Olivia yang bertanya saat Vernon menaiki tangga.
"Tidak, dia sedang hamil, jadi dia tidak sedang baik-baik saja." Jawab Vernon ketika sampai di lantai dua dan menoleh sesaat pada Olivia yang berada di bawah tangga. "Kau ingin makan apa? Aku akan meminta pelayan menyiapkan semua makanan yang kau inginkan." Tanya Vernon melihatku yang ada digendongannya.
Aku sangat bahagia melihat perhatiannya saat ini. Kehamilanku membuat sikapnya menjadi berubah padaku. Itu sesuatu hal yang sangat baik.
"Aku hanya ingin dirimu." Tanpa sadar aku mengatakan hal tersebut dan itu membuat Vernon menjadi tertawa kecil.
"Tampaknya anakku mempengaruhi dirimu saat ini. Bukankah sebelum ini kau ingin kita bercerai?" Ujar Vernon sambil masuk ke dalam kamar kami dan langsung menidurkan aku ke atas tempat tidur. "Apa kau masih ingin kita berpisah?" Tatap Vernon setelah menaruhku di atas tempat tidur tapi aku masih melingkarkan tanganku ke lehernya.
"Aku hanya ingin sebuah ciuman darimu." Jawabku.
Vernon langsung menyambar bibirku untuk memenuhi permintaanku. Entah bagaimana semua ini terjadi, kehamilanku membuat aku melupakan rasa benciku pada Vernon, bahkan sepertinya Vernon juga menjadi bersikap baik padaku. Ini adalah hal yang bagus.
"Aku senang atas kehamilanmu, Viv." Ucap Vernon tersenyum.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...