
"Ternyata benar kata mereka..."
Aku mengangkat kepalaku ketika mendengar suara anak laki-laki dari arah balkon di mana saat ini aku berada di sebuah kamar besar yang tampak asing. Entah bagaimana dia bisa berada di balkon kamar ini, karena yang aku tahu, kamar ini ada di lantai tiga.
Mata hazel itu menatapku dengan sebuah senyum terlukis di paras tampannya. Melihat kehadirannya membuat aku yang terus menerus menangis di lantai dengan kedua tangan yang memeluk kakiku merasa menjadi sedikit lega.
Anak laki-laki itu membuka pintu yang mengarah masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekatiku. Aku terus menatap kehadirannya dengan menyeka air mata yang masih keluar di pelupuk mataku.
"Siapa namamu? Kau pasti tahu kan siapa aku? Karena seluruh kota napoli tidak mungkin tidak mengenalku." Ujarnya yang masih berdiri dihadapanku.
Aku tidak menanggapi perkataannya dan kembali memeluk kakiku, meringkuk di tubuh kecilku yang terasa kedinginan. Beberapa jam yang lalu aku dibawa ke rumah ini setelah kemarin malam seseorang menculikku. Aku masih terbayang kejadian tersebut. Dan saat ini aku merindukan kedua orang tua dan kakakku Arthur, hal itu membuat aku kembali menangis.
"Jangan menangis terus." Anak laki-laki itu berjongkok di depanku. "Kau tidak akan menyelesaikan apapun hanya dengan menangis. Berhentilah menangis, saat sudah besar nanti aku akan menikah denganmu agar kau tidak akan pernah menangis lagi."
Untuk diriku yang masih sangat kecil, apa yang dikatakan anak laki-laki dihadapanku membuatku merasakan kesenangan. Aku menghentikan tangisku dan menatap padanya.
Dia langsung bangkit berdiri dan mengulurkan tangan kanannya padaku.
"Bangunlah... aku akan menemanimu sekarang. Berapa usiamu? Saat ini usiaku sepuluh tahun, saat besar nanti, aku akan menjadi seorang dokter hebat. Oh iya, kau belum menyebutkan namamu. Namaku adalah Vernon."
Tiba-tiba penglihatanku berubah seketika.
Aku berdiri menatap ke arah sebuah ruangan yang tampak kacau. Saa ini diriku berada di depan pintu masuk dari salah satu kamar di rumahku. Mataku mengelilingi seisi kamar tampak mencari sesuatu. Namun dalam kamar tersebut hanya kondisi kacau yang aku lihat. Betapa berantakannya kamar tersebut. Semua perabotan di dalam rusak dan pecah.
Fokusku teralih dan turun ke bawah menatap sesuatu yang berada di tanganku. Sebuah senjata laras panjang.
Pandanganku kembali melihat ke balik tempat tidur di mana aku merasa ada seseorang di sana. Saat ini aku bisa merasakan perasaanku yang bersedih dengan mata yang tergenang air mata membuat penglihatanku tidak jelas.
__ADS_1
Seketika aku merasakan seseorang memegang pundakku, dengan cepat aku menoleh ke belakang dan melihat Pablo berdiri menatapku.
"Nona, berikan senjata itu padaku." Pinta Pablo dan seketika air mataku keluar begitu saja. "Nona tidak perlu menggunakan senjata untuk hal apapun."
"Aku tidak akan bisa menyelesaikan apapun dengan menangis." Ucapku lirih.
Semua yang terjadi sepuluh tahun lalu, itu semua bukan salahmu.
Kalimat yang diucapkan Pablo padaku membangunkan aku. Aku langsung melihat Arthur berada di dekatku, menatapku dengan mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku dengar dengan jelas karena saat ini kesadaranku masih belum sepenuhnya terkumpul sehingga pendengaranku terasa berdengung.
"Viv, apa kau mendengarku?" Kali ini suara Renata terdengar dari sisi ranjang satunya. Aku menoleh padanya. "Kau baik-baik saja?"
Kesadaranku mulai terkumpul. Aku melihat ke sekeliling ruangan di mana saat ini aku berada di dalam ruangan di rumah sakit.
Bayang-bayang kejadian terakhir yang aku lihat di atas kapal mulai terlintas dalam benakku. Arthur dan Renata yang datang dengan helikopter menembaki orang-orang yang menembak Vernon.
Vernon? Aku mulai teringat mengenai suamiku itu. Namun melihat darah keluar dari tubuhnya yang sudah tergeletak membuat aku merasakan ketakutan untuk menanyakan mengenai kondisinya.
Seketika air mataku mengalir ketika mendengar kata pemakaman. Apakah itu pemakaman Vernon?
"Viv, ada apa? Kenapa kau diam saja?" Renata menatapku dengan menghapus air mataku.
Aku tidak sanggup mengeluarkan suaraku untuk menjawabnya ataupun menanyakan semua hal yang ingin aku tanyakan mengenai apa yang terjadi saat ini. Rasa sakit di perutku juga masih sangat terasa, membuat diriku menjadi sulit bangun untuk duduk.
"Viv, tenanglah kau jangan menangis. Semua baik-baik saja, tapi..." Perkataan Arthur terhenti dengan menoleh pada Renata seperti ingin agar Renata yang mengatakan sesuatu padaku.
"Semua baik-baik saja?" Akhirnya aku mengeluarkan suara karena tidak tahan ingin tahu mengenai semua hal yang terjadi. "A—apa kau akan pergi ke pemakaman... Siapa yang akan dimakamkan, Art?" Tanyaku ingin tahu walau sesungguhnya aku tidak ingin jika Arthur menjawabnya. "Apakah Vernon?" Tatapku dengan penuh air mata.
__ADS_1
"Viv, tenanglah... Kau jangan menangis dulu." Ujar Renata mengusap kepalaku untuk menenangkan diriku. "Kau tidak perlu berpikiran yang tidak-tidak. Kau baru saja bangun."
"Jawab saja, apakah Vernon sudah tidak ada? Apa dia mati dan akan dimakamkan?" Tanyaku menjadi tidak sabar mendapatkan jawaban dari rasa khawatirku pada Vernon.
"Aku akan pergi ke pemakaman Pablo." Seru Arthur.
"Kau tenang saja, Vernon baik-baik saja. Hanya kakinya yang tertembak karena ternyata dia memakai rompi anti peluru sehingga peluru tidak menembus organ tubuhnya yang bisa menyebabkan kematian." Ujar Renata membuat sebuah kelegaan dalam diriku. "Kondisinya tidak ada yang serius. Dia juga dirawat di rumah sakit ini."
"Benarkah?" Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega sekarang. "Ya dia pasti baik-baik saja."
"Beristirahat lah dulu... Kau juga harus mende—"
"Aku ingin melihat keadaannya sekarang." Aku bangkit duduk dengan susah payah karena rasa sakit dari pinggang ke bawah begitu sangat terasa. "Antarkan aku ke ruangan dia, Art."
"Viv, kau tidak bisa turun dari tempat tidur dulu. Kau baru saja kehilangan bayimu." Seru Renata membuat aku berhenti ketika hendak turun dari ranjang. "Kau mengalami keguguran."
Air mataku kembali mengalir ketika menoleh pada Renata. Aku kehilangan anakku? Aku kehilangan anak Vernon yang aku kandung?
Dengan sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak menangis. Aku meminta Arthur dan Renata keluar dari ruangan tempatku dirawat. Saat ini aku hanya ingin sendirian untuk memikirkan sesuatu.
Vernon baik-baik saja. Untukku itu adalah hal yang bagus. Ketika aku melihatnya tertembak dan darah keluar dari tubuhnya, aku baru menyadari kalau aku tidak ingin kehilangan dirinya. Sepertinya dia benar, apa yang dikatakannya mengenai diriku yang mencintainya, itu adalah benar. Pada akhirnya aku kembali mencintai dirinya.
Namun baru saja aku kehilangan bayi yang aku kandung, yang merupakan anak dari Vernon. Aku sudah memintanya untuk berpisah setelah melahirkan anaknya, dan sekarang karena aku kehilangan anaknya, maka aku rasa tidak ada lagi alasan untuk Vernon bersama denganku.
Keputusanku sudah bulat ketika aku menggapai handphone di meja samping ranjang untuk menghubungi Alec.
"Viv, kau sudah bangun?" Suara Alec terdengar di ujung telepon. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau sudah baik-baik saja? Aku baru akan datang ke rumah sakit untuk menjengukmu."
__ADS_1
"Alec, dengarkan perkataanku." Seruku. "Aku ingin berpisah dari Vernon. Aku ingin menggugat cerai dirinya hari ini juga."
...–NATZSIMO–...