PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
INGATAN YANG TERLUPAKAN


__ADS_3

Seluruh tubuhku terasa begitu sakit ketika aku membuka mata, terutama kepala. Saat ini posisiku sedang berada di dalam mobil yang terbalik. Sabuk pengaman yang aku kenakan menahan tubuhku hingga tetap berada diposisiku duduk di kursi. Terdengar rintihan seorang anak perempuan di kursi belakang.


"Viv, kau tidak apa-apa?" Suara Arthur terdengar samar karena telingaku mendengung sekarang.


Aku menoleh ke kursi sampingku dan melihat seorang wanita berambut cokelat yang aku kenal. Dia adalah Wynetta. Saat ini dirinya tidak sadarkan diri.


Arthur melepaskan sabuk pengaman dan segera menarikku keluar dari dalam mobil yang terbalik. Aku menoleh ke belakang dan melihat Alec membawa keluar seorang anak perempuan berambut pirang yang terus saja merintih kesakitan. Dia adalah Olivia.


Saat ada di luar aku bisa melihat kalau saat ini kami berada di sebuah bukit di mana posisi mobil yang terbalik berada di ujung jurang.


Arthur memasukan aku ke dalam mobil bersama dengan Olivia yang terlihat ketakutan ketika melihat padaku. Aku baru sadar kalau mobil ini adalah mobil yang mengejar mobil yang aku kendarai. Sepertinya mobil yang mengejarku adalah mobil yang dikendarai Alec, sedangkan mobil yang menabrak mobilku adalah Arthur yang mengendarainya. Karena tidak lama setelahnya, Arthur langsung mengeluarkan aku dari mobil yang terbalik. Dia menabrak mobilku juga pasti karena mobilku hendak melaju ke dalam jurang ketika fokusku teralihkan karena Wynetta berusaha menghentikan mobilnya.


Arthur dan Alec hendak kembali ke mobil yang berada di ujung jurang, namun posisi mobil tersebut tidaklah bagus karena sebagian besar sisi mobil menggantung di atas jurang. Sisi di mana Wynetta duduk.


"WYNETTA!!"


Aku menoleh ke arah belakang mendengar teriakan seseorang yang baru saja datang dengan mobilnya. Dia adalah Vernon yang langsung keluar dari mobil dan hendak berlari menuju mobil di mana Wynetta masih berada.


Terdengar suara keras yang mengalihkan pandanganku yang sudah sangat berat. Mobil yang tergantung di atas jurang terperosok ke dalam jurang dan langsung masuk ke dalam laut yang ada di bawah sana.


Melihat apa yang terjadi pada Wynetta, sesuatu di hatiku terasa bersedih juga. Hingga aku bisa merasakan air mata keluar dari mataku, membuat pandanganku semakin buram karena kepalaku terasa sangat sakit.


Tiba-tiba pintu mobil di mana aku berada terbuka, aku menoleh dengan mata yang sudah gelap.

__ADS_1


"Semua ini salahmu!!"


Kalimat itu yang terakhir kalinya aku dengar sebelum kesadaranku hilang. Suara Vernon yang terdengar penuh dengan kesedihan.


Dengan perlahan aku membuka mata. Melihat Vernon yang tertidur di sampingku dari dalam kegelapan ruangan yang tanpa lampu yang menyala.


Yang ada di dalam mimpi, itu bukanlah sekedar sebuah mimpi biasa, melainkan sebuah ingatan yang aku lupakan mengenai kejadian sepuluh tahun lalu. Kejadian di mana yang di rahasiakan siapapun dariku. Rahasia dimana sebuah fakta yang seharusnya merupakan kesalahanku.


Entah bagaimana kenapa semua itu menjadi perbuatan Arthur, kakakku. Hingga dirinya membuat perjanjian penebusan dosa itu pada Vernon. Aku mengerti sekarang, alasan kenapa Vernon memintaku sebagai penebusan dosa itu, karena fakta sebenarnya itu semua adalah salahku. Akulah yang membuat Wynetta mati. Apa pun alasan yang membuat aku melakukannya, aku tetap bersalah. Akulah yang berbuat dosa itu.


Vernon membuka matanya dan langsung melihat padaku yang terus saja menatapnya yang sedang tertidur sejak tadi. Aku tak berkata apapun ataupun mengalihkan tatapanku darinya.


"Ada apa? Kenapa kau terbangun? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman? Apa kau merasa ingin muntah?" Tanya Vernon.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Vernon. Mungkin dirinya saat ini merasa aneh pada sikapku yang hanya diam dan malah menghindar dari tatapannya. "Viv, apa ada yang sakit?"


"Ternyata yang terjadi memang salahku." Ucapku masih dalam posisi terlentang menatap langit-langit kamar. "Arthur menabrak mobilnya untuk menghentikan mobil itu yang hampir melaju ke jurang. Tapi dia tidak bisa di selamatkan dan terjatuh ke laut."


Vernon tak bersuara menanggapi perkataanku. Tanpa sadar air mata keluar dari mataku, apa yang aku rasakan ketika melihat mobil itu masuk ke jurang saat di mimpi, aku rasakan kembali saat ini. Itulah kenapa aku mengeluarkan air mata sekarang.


"Aku mengerti kenapa kau memintaku sebagai penebus dosa Art, seperti yang kau bilang, kau ingin menyiksaku. Ternyata memang pantas aku mendapatkan siksaan itu." Ujarku. "Siksaan untuk menebus apa yang aku lakukan pada wanita yang kau cinta itu. Karena itu juga kenapa sehari setelah kita menikah kau membawaku ke makam Wynetta, pasti kau mengatakan padanya kalau kau akan membalaskan semua perbuatanku padanya kan?"


Vernon menghidupkan lampu yang ada di arah belakang tempat tidur dan membangunkan aku agar duduk.

__ADS_1


"Apa yang kau ingat? Bagian mana yang kau ingat?" Tatap Vernon.


"Ingatan yang aku lupakan itu datang ke mimpiku barusan. Mengenai kecelakaan hingga mobil di mana Wynetta berada terperosok ke jurang dan masuk ke laut. Dan itu semua karena aku, aku lah yang mengendarai mobil itu. Bahkan kau pun mengatakannya juga kalau yang terjadi adalah salahku pada waktu itu."


"Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa saat ini kau jadi merasa bersalah atau sebaliknya?"


Aku mengangkat pandanganku pada Vernon. Jelas saja kalau saat ini aku merasa bersalah, aku sudah membunuh seorang wanita yang tidak melakukan hal buruk apapun. Alasan aku melakukannya pasti karena aku sangat iri pada wanita itu, karena saat itu aku mencintai Vernon sedangkan Vernon mencintai Wynetta, begitupun sebaliknya.


Sekali lagi aku menundukkan kepala. Setelah mengetahui kebenarannya kenapa membuat aku menjadi seperti ini? Padahal sebelumnya aku sangat ingin tahu mengenai hal tersebut, tapi sekarang aku menyesal mengetahuinya.


Tanpa aku duga, Vernon menarikku ke pelukannya. Dia mendekapku bahkan mengecup kepalaku yang dipegangnya.


"Tidur saja, kau sedang mengandung. Perasaan sedih tidak bagus untuk pertumbuhan janinnya." Ujar Vernon sambil menidurkan aku kembali. "Sampai kau melahirkan aku tidak mau kau membahas masalah yang terjadi sepuluh tahun lalu. Jangan berusaha mengingat apapun. Kau mengerti, Viv?"


Aku hanya diam tidak mau menjawab. Kalau bisa aku pun tidak ingin mengingat apapun yang terjadi sepuluh tahun lalu sekarang. Tidak mengetahui apapun memanglah yang terbaik. Aku tidak akan menjadi merasa bersalah dan bersedih di saat yang bersamaan seperti saat ini.


"Ini baru jam tiga pagi, tidurlah lagi." Seru Vernon sambil menarikku masuk ke dalam pelukannya. "Aku ingin anakku baik-baik saja. Kau pun juga harus menjaga suasana hatimu. Kau mendengar ku kan?" Bisik Vernon.


Aku tidak menjawab dan hanya diam saja. Sepertinya kehamilanku juga membuat perasaanku menjadi sensitif sekarang.


"Aku tidak tahu, entah kenapa kau sedikit berbeda sekarang. Kau tidak seperti dirimu yang dulu. Semoga saja bukan karena kehamilanmu saat ini." Bisik Vernon.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2