
Pandanganku mengarah pada sebuah lorong, lorong itu berada di dalam rumahku, aku sedang berjalan menyusuri dengan sesuatu yang ada di tanganku. Sebuah senjata laras panjang yang terasa sangat berat di tanganku yang membawanya.
Langkahku terhenti hingga di suatu pintu. Ketika aku membuka pintu tersebut dengan mendorongnya kasar tiba-tiba cahaya yang muncul dari dalam ruangan tersebut menyerang diriku hingga aku terbangun dari tidur.
Napasku terengah-engah dengan jantung yang berdegup kencang. Ternyata aku baru saja bermimpi.
"Ada apa?" Tanya Vernon yang baru saja keluar dari ruang pakaian setelah mendengar suaraku yang sedikit mengerang saat terbangun.
Vernon mengidupkan lampu dan berjalan naik tempat tidur menatapku. Tatapannya terlihat cemas, namun melihatnya yang barusan keluar dari ruang pakaian membuat diriku menjadi sedikit marah.
Entah mengapa aku tidak bisa menerima jika Vernon baru saja memandangi foto wanita bernama Wynetta yang dia simpan di ruang pakaian itu. Aku merasakan sebuah rasa cemburu saat ini. Aku tahu kalau Vernon sangat mencintai wanita itu dan belum bisa melupakannya, tapi saat ini aku sedang hamil, dan aku hanya ingin Vernon memperhatikan diriku.
"Kenapa diam saja? Apa kau bermimpi?" Tanya Vernon memegang wajahku dengan tangan kirinya. "Viv—"
"Kenapa kau berada di dalam sana? Seharusnya kau tidur bersamaku disini!!" Kesalku.
Sepertinya kehamilanku membuat diriku menjadi berubah saat ini. Aku menjadi merasa sensitif dan lebih ingin mendapatkan perhatian Vernon, aku tidak tahu apakah ini normal atau tidak. Tapi yang pasti aku merasa cemburu saat melihat Vernon keluar dari ruang pakaian sedangkan saat ini baru pukul satu malam.
"Aku hanya menerima telepon barusan." Jawab Vernon. "Viv, aku akan pergi sekarang, kau tidur saja."
Aku langsung memegang lengan Vernon. Yang benar saja, sekarang dia berniat pergi meninggalkan aku sendirian sedangkan sebelumnya aku sudah bilang kalau dia yang harus mengurusku 24 jam ketika aku hamil anaknya.
"Tidak, kau tidak boleh kemanapun!! Kau sudah janji akan mengurusku kan? Lalu mau kemana kau tengah malam begini? Aku tidak mau tahu, aku ingin kau di sini!!" Seruku bercampur kesal.
Sebentar Vernon hanya menatapku dan tidak menjawab seruanku. Sepertinya dirinya sedang memikirkan sesuatu saat ini.
__ADS_1
"Baiklah, tidurlah sekarang." Ujar Vernon membaringkan tubuhnya di sampingku. "Segeralah tidur, Viv."
Tanpa berpikir lagi, aku yang masih duduk langsung mendekati Vernon dan masuk ke dalam dekapannya. Karena merasa sangat nyaman, tidak butuh waktu lama untukku masuk ke dalam tidur.
Suara pintu yang terbuka membuatku membuka mata. Seorang pelayan masuk ke kamarku dengan membawa makanan untuk aku sarapan. Aku mencari keberadaan Vernon, namun dia tidak ada. Sepertinya dia tetap pergi setelah aku tertidur. Itu membuat aku menjadi kesal.
"Di mana Vernon?" Tanyaku pada pelayan wanita yang usianya kira-kira akhir 40 tahun. Dia adalah Gloriana kepala pelayan di rumah ini, dan kemarin aku juga baru tahu jika itu adalah namanya.
"Sejak jam empat pagi tuan pergi, nyonya." Jawab Gloriana meletakan makanan di bupet lalu berjalan hendak membuka tirai yang masih tertutup.
"Tidak, jangan dibuka!! Aku tidak tahan melihat cahaya matahari." Seruku menghentikan pelayan itu menarik tirai sehingga dia kembali menutupnya.
"Padahal cahaya matahari itu bagus, nyonya."Jawab Gloriana. "Nyonya ingin sarapan sekarang atau nanti? Ini sudah hampir pukul delapan."
"Tuan memintaku untuk memastikanmu sarapan nyonya. Saat ini nyonya sedang hamil, sebaiknya nyonya tidak terlambat makan." Jawab Gloriana. "Ini juga sudah melebihi jam sarapan."
"Itu benar Viv, kau harus sarapan." Renata datang dan langsung masuk ke dalam menghampiriku. "Saat ini ada kehidupan lain di kandunganmu, jadi kau tidak boleh egois."
"Kenapa kau di sini?" Tanyaku heran pada kehadiran Renata.
"Art memintaku melihat keadaanmu. Dia sangat mengkhawatirkan dirimu." Jawab Renata membawa sarapanku dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. "Sebaiknya kau sarapan sekarang. Vern juga pasti ingin kau sarapan karena mengkhawatirkan dirimu dan anak kalian." Renata duduk di sisi tempat tidur dengan semangkuk sup asparagus menu sarapanku.
"Baiklah nyonya, aku keluar dulu." Ucap Gloriana dengan gestur tubuh yang sopan dan setelah itu keluar dari kamar.
Renata menyuapiku dengan sebuah senyuman. Seperti halnya Arthur, Renata memang menyayangiku juga. Aku juga sangat senang karena kemarin dia menghubungi Vernon hingga pria itu datang dan membawaku kembali.
__ADS_1
"Ren, terimakasih." Aku menatap Renata namun tersadar kalau seharusnya aku tidak mengatakan ucapan terimakasih itu padanya.
"Jadi benar kalau kau sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Vernon?" Tanya Renata.
Pertanyaannya membuat aku memutar bola mata sambil berpikir mengenai jawabannya. Awalnya memang aku sangat ingin berpisah dari Vernon namun sepertinya karena kehamilanku membuat aku tidak ingin itu terjadi dan malah sebaliknya, aku ingin terus bersama dengan suamiku.
"Melihatmu aku jadi ingin hamil juga, tapi sayang, Art tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat, bahkan kami juga belum menikah." Keluh Renata dan membuat aku tertawa kecil. "Semoga saja kau seperti ini bukan karena kehamilanmu ya Viv, aku berharap kau dan Vernon saling mencintai."
Apakah mungkin aku dan Vernon saling mencintai? Bagaimanapun aku tahu kalau Vernon tidak mencintaiku, begitu juga dengan diriku. Keadaanku saat ini pasti hanya karena kehamilanku sehingga membuat diriku seperti merasa mencintainya. Begitupun dengan Vernon, dia bersikap baik padaku pasti karena aku sedang mengandung anaknya. Jika saja aku tidak hamil dia pasti akan bersikap padaku seperti biasanya.
Mana mungkin dirinya merubah sikapnya padaku sedangkan Vernon bilang kalau akulah yang menyebabkan kematian wanita yang dicintainya. Satu-satunya alasan sikap baiknya padaku hanya karena aku sedang hamil anaknya, dan aku akan memanfaatkan itu.
"Kau tahu, Vern menyerahkan Genoa pada Arthur sedangkan kemarin dia mati-matian merebutnya dari Sacra Unita. Itu bukan sesuatu hal yang mudah dilakukannya karena pastinya pamannya akan marah saat tahu hal tersebut." Ujar Renata.
"Apa maksudmu Ren?" Tanyaku mencoba mengerti perkataan Renata.
"Sudahlah, sepertinya itu juga tidak penting. Yang terpenting kau menjaga bayimu. Walau kalian tidak saling mencintai tetapi tetap saja anak itu anak kalian. Vernon juga pasti akan menjagamu karena dia menginginkan anak itu. Itu alasan kenapa dia datang kemarin dan membawamu bersamanya."
"Ren, semalam aku bermimpi mengenai sesuatu. Entah kenapa mimpi itu terasa sangat nyata." Aku teringat mengenai mimpi semalam yang membuatku terbangun dengan jantung berdegup kencang. "Aku berjalan di lorong rumahku dengan membawa senjata laras panjang. Kenapa sangat nyata, karena aku bukan melihat diriku yang membawa senjata itu tetapi dalam mimpi itu sudut pandangnya adalah diriku sendiri. Namun saat aku membuka suatu ruangan sebuah cahaya sangat terang keluar dan membuat aku terbangun."
"Benarkah?" Tatap Renata.
"Sepertinya itu bukan mimpi." Ujarku. "Apa itu diriku sebelum kehilangan ingatanku?"
...–NATZSIMO–...
__ADS_1