
Vernon melangkahkan kakinya mendekati meja makan dan duduk di kursi tunggal yang biasa ia duduki setiap kali di meja makan. Siapapun akan tahu kalau wajahnya terlihat marah walau dirinya mencoba untuk menyembunyikannya.
Makan malam pun dimulai dengan para pelayan menuangkan makanan ke piring kami masing-masing.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu, Oliv?" Tanyaku pada Olivia yang sedang menikmati makanannya. "Apa ada yang bisa aku bantu?"
"Semua sudah siap, Alec mempersiapkannya dengan sangat baik." Jawab Olivia terlihat senang.
"Itu bagus. Katakan padaku jika membutuhkan bantuan." Ujarku. "Lalu setelah kalian menikah di mana kalian akan tinggal? Apa tetap di sini atau kembali ke Oslo?"
"Itu sudah jelas Viv, Alec bekerja di sini tidak mungkin kami tinggal di Oslo." Ujar Olivia. "Memang ada apa?"
"Itu bagus, kau bisa menemaniku di rumah ini." Ucapku.
"Bagaimana keadaanmu setelah kehilangan bayimu, Viv? Aku sangat bersedih ketika tahu kau keguguran." Dari wajahnya Olivia memang menunjukan rasa sedihnya pada apa yang terjadi padaku. "Aku berharap kalian akan segera kembali memiliki anak."
"Ya, aku juga berharap seperti itu, bukan begitu, sayang?" Aku menoleh pada Vernon yang sejak tadi tidak membuka mulutnya. "Apa kau tidak mau?"
"Tidak mungkin aku tidak mau." Jawab Vernon walau dengan wajah tidak menyenangkan. "Kita harus melakukannya sesering mungkin."
"Kita berada di meja makan, jangan berkata hal seperti itu." Seru Alec terlihat tidak suka dengan meletakan sendok dan garpu ke piringnya.
"Ya, kau benar Alec." Jawabku.
"Vern, minggu depan kau ulang tahun, apa kau tidak akan merayakannya?" Tanya Olivia.
Jujur saja aku baru tahu akan hal itu. Sebelumnya aku tidak mengetahui kapan ulang tahun suamiku sendiri, karena aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya.
"Tidak, tidak ada yang spesial, aku tidak akan merayakannya." Jawab Vernon.
__ADS_1
"Tidak mungkin kau tidak merayakannya, Vern." Seruku. "Aku akan mempersiapkan pesta yang sangat meriah untuk ulang tahunmu." Aku memulas senyum dengan memegang telapak tangan Vernon yang berada di atas meja makan.
Vernon melihat tanganku yang memegang tangannya setelah itu melihat padaku, tentunya dengan tatapan heran.
"Karena itu adalah hari spesialmu, aku akan membuat segalanya dengan baik." Lanjutku.
Tentu saja aku harus melakukannya. Aku akan membuat pesta ulang tahun untuk Vernon dengan sangat meriah. Tujuanku adalah membuatnya mencintaiku dan aku akan melakukannya dengan caraku.
Sehabis makan malam, aku memilih menikmati malam di atas balkon di lantai tiga seorang diri dengan meminum wine. Duduk di sebuah kursi merasakan angin yang terasa semakin dingin.
Esteban hanya berdiri di dalam, di samping pintu menuju balkon. Aku belum kembali ke kamar karena aku tidak ingin bersama dengan Vernon saat ini. Aku sedang ingin seorang diri seperti hari kemarin ketika di Venesia.
Setelah berada di Venesia selama enam bulan dan lebih sering menyendiri, sekarang aku lebih menikmati kesendirianku. Hati dan pikiranku menjadi lebih tenang ketika menyendiri.
"Viv, aku ingin bicara denganmu." Terdengar suara Alec dari dalam.
Aku tidak menjawabnya langsung karena aku sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun apalagi berbicara dengan Alec. Aku merasa sudah tidak memiliki urusan dengannya lagi setelah aku menyadari rasa cintaku pada Vernon.
"Nyonya tidak ingin diganggu, sebaiknya anda pergi." Ujar Esteban.
"Viv, aku akan membatalkan pernikahan itu." Seru Alec.
Perkataan Alec membuatku terkejut. Aku tidak ingin ia melakukannya, itu sama saja jika dirinya ingin menunjukan pada siapapun mengenai hubungan kami sebelumnya, dan aku rasa Alec masih menganggap kami memiliki hubungan yang kami rahasiakan pada siapapun.
"Biarkan dia masuk, Est." Seruku langsung bangkit berdiri dari tempatku duduk.
Alec melangkah masuk dengan tatapannya yang sangat lekat padaku. Wajahnya terlihat sebuah senyum yang aku tahu maksudnya. Ternyata benar, ia masih merasa kalau aku masih mencintainya.
"Est, tolong tinggalkan kami berdua." Pintaku pada Esteban.
__ADS_1
Pemuda itu mendengar perkataanku dengan langsung melangkah pergi untuk menjauh dari balkon.
Tanpa menunggu apapun, Alec langsung mendekatiku dan menciumku. Aku sudah bisa mengiranya tapi aku hanya diam saja tidak membalas ataupun menghentikannya.
"Aku sangat merindukanmu, Viv." Ujar Alec dengan berbisik memelukku. "Kau semakin terlihat mempesona sekarang. Aku semakin mencintaimu."
Alec menatapku dengan lekat. Tidak ada yang aku ucapkan, aku sedang mencari kata-kata yang cocok untuk menghentikan hubungan diantara kami berdua namun aku tidak ingin melepaskan Alec begitu saja. Aku masih akan memanfaatkannya jika sewaktu-waktu aku membutuhkan dirinya untuk melakukan apa yang aku mau.
"Aku tidak akan mencabut gugatan cerai itu, Viv. Berpisahlah dari Vernon, aku juga akan membatalkan pernikahanku dengan Olivia sekarang." Ucap Alec masih menatapku dengan tangannya melingkar dipinggangku. "Maafkan aku karena waktu itu aku tidak mendengarkan perkataanmu untuk membatalkan pernikahan itu, tapi sekarang demi untuk bisa bersama denganmu aku akan membatalkannya segera."
"Itu akan terlihat aneh, Alec. Vernon akan tahu kenapa kau membatalkan pernikahan itu dan dia pasti akan membunuhmu langsung." Jawabku. "Kita tidak akan melanjutkan semua ini lagi."
"Apa maksudmu?" Tanya Alec menatapku heran.
"Katakan padaku dulu mengenai apa yang terjadi sepuluh tahun lalu ketika aku menembaki sebuah kamar di rumahku. Kau dan Pablo datang menghentikanku menembaki orang yang bersembunyi di balik tempat tidur. Saat itu Pablo membawaku keluar dari ruangan itu tapi aku bisa mendengar kau berbicara dengan orang yang ada di dalam ruangan itu. Siapa dia? Ah tidak, maksudku siapa mereka karena mereka berdua. Sepasang pria dan wanita." Aku mengatakan apa yang selama beberapa bulan ini membuat aku penasaran.
Ketika aku berada di Venesia, ingatan-ingatanku beberapa kali kembali datang ke dalam mimpiku. Saat memutuskan berpisah dengan Vernon aku tidak ingin mencari tahu mengenai semua itu lagi dan membiarkannya begitu saja. Tetapi sekarang aku kembali karena itu aku ingin tahu mengenai semuanya lagi.
Ingatan yang aku lupakan, semua hal yang menjadi misteri di dalam hidupku. Aku ingin mengetahui semuanya saat ini.
"Apa yang kau katakan? Di ruangan apa? Apa maksudmu?" Alec berusaha terlihat tidak mengerti dengan pertanyaanku. Tapi aku tahu kalau ia hanya tidak ingin menjawab pertanyaanku.
"Jangan sembunyikan apapun padaku jika kau masih ingin bersama denganku, Alec. Atau aku akan mengatakan pada Vernon mengenai hubungan kita. Aku tahu apa yang akan dilakukan suamiku padamu jika dia tahu kita pernah bercinta dan salah satunya kita melakukannya di dalam rumahnya ini. Hanya kau yang akan dibunuh olehnya sedangkan Vernon tidak akan melakukan apapun padaku karena dia tidak bisa melakukannya." Ucapku dengan nada mengancam, semua itu karena aku sangat ingin mengumpulkan puing-puing ingatanku yang berceceran.
Mendengar ancamanku membuat Alec melepaskan rengkuhan tangannya padaku dan tertawa.
Sejujurnya aku juga tidak mau jika Vernon sampai membunuhnya, bagaimanapun perasaanku pada Alec masih tersisa karena ia adalah pria yang baik. Sama sekali ia tidak pernah melakukan hal buruk padaku, entah aku ingat atau tidak.
"Sekarang kau kembali seperti dulu, Viv." Seru Alec dengan mendengus padaku.
__ADS_1
"Katakan saja, siapa mereka? Tidak, maksudku katakan siapa wanita yang bersama dengan Vegard di kamar itu? Apa karena itu Vegard menutup mulutnya meski ia tahu kita pernah bercinta?" Tanyaku dengan tatapan dingin pada Alec.
...–NATZSIMO–...