
Apa yang aku rasakan mengenai yang terjadi sepuluh tahun lalu, walau semua itu masih terasa samar-samar namun tetap saja, semua itu adalah salahku sehingga tidak mungkin jika aku tidak merasakan suatu penyesalan atas kesalahanku.
Selama ini keluargaku menyembunyikan mengenai kejadian itu karena pasti mereka tidak ingin membuat diriku merasa seperti sekarang ini. Namun apa alasan Vernon yang sebenarnya, kenapa dirinya juga menyembunyikan hal tersebut dariku? Padahal jika dia memang membenciku maka bukankah lebih baik kebenaran tersebut aku ketahui sehingga membuatku menjadi merasa bersalah seperti sekarang ini?
Entahlah, aku tidak ingin memikirkan semua hal itu lagi. Aku sudah lelah dengan rasa penyesalan ini. Berpisah dengan Vernon adalah pilihan terbaik untukku.
"Kenapa aku harus mendengarkan perkataanmu?" Kali ini Vernon bertanya seperti apa yang aku tanyakan padanya tadi.
Dia menatapku dari ambang pintu toilet. Menatap padaku yang berdiri di dalam toilet di depan wastafel dan cermin. Baru saja aku meminta sesuatu hal yang aku inginkan saat ini, yaitu berpisah dengannya setelah diriku melahirkan anaknya.
"Karena kita tidak saling mencintai." Jawabku.
Vernon berjalan mendekatiku dengan tatapan tajam. Tatapan yang sama ketika pertama kali aku melihatnya, ah maksudku tidak benar-benar pertama kali karena sebelum dia datang waktu itu, kami sudah sering bertemu dan sepertinya itu sudah sering terjadi.
"Kau dengar Viv, tampaknya kau lupa. Bukankah sejak awal memang seperti itu? Aku menikahimu hanya ingin membalaskan perbuatan Art. Kau adalah penebus dosanya, sejak awal hanya itu alasan kita menikah. Jadi mana mungkin aku akan melepaskanmu begitu saja."
"Tentu saja aku tahu itu. Tapi kau pun bilang padaku disaat aku mencintaimu kau akan meninggalkan aku kan? Dan sekarang sepertinya kau harus melakukannya. Aku mengingat kejadian sepuluh tahun lalu, semua itu adalah salahku... Aku rasa dengan mengingat hal tersebut membuat diriku merasakan juga bagaimana perasaanku dulu padamu." Ujarku tanpa menoleh pada Vernon, dan menatap pantulan diriku di dalam cermin. "Karena itu kau harus melepasku. Setelah melahirkan... Tidak, kalau perlu aku ingin secepatnya, karena setiap kali melihatmu aku menyesali semua perbuatanku pada Wynetta, wanita yang tidak bisa kau lupakan itu."
"Baiklah." Akhirnya Vernon menyetujui perkataanku. Aku senang namun juga bersedih di waktu yang bersamaan. "Tapi aku akan melepaskanmu setelah anak itu lahir. Kau bilang hingga kau melahirkan, kau akan menuruti semua perkataanku kan? Kalau begitu sekarang habiskan makanannya dan minumlah vitamin."
Perkataan Vernon membuat diriku menjadi terdiam dengan menahan air mata.
"Keluarlah, dan jangan membahas hal tersebut lagi hingga kau melahirkan." Seru Vernon.
Saat yang bersamaan bel kamar berbunyi, Vernon langsung berjalan ke pintu untuk menemui orang yang berdiri di depan pintu. Orang itu pastinya adalah anak buah Vernon yang dia suruh membeli obat sakit kepala untukku.
Aku berjalan kembali menuju tempat tidur dan langsung mencoba untuk kembali makan. Aku akan mendengarkan semua perkataan Vernon sekarang hingga aku melahirkan nanti.
"Setelah ini minumlah obat sakit kepala ini juga, dan beristirahat sejenak. Sehabis itu kita akan berjalan-jalan mencari udara segar dan makan siang di luar." Vernon meletakkan obat yang dimaksud ke meja samping tempat tidur dekat dengan vitamin milikku juga. "Aku akan menemui seseorang dulu sekarang. Apa tidak masalah kau aku tinggal?"
"Pergilah." Jawabku.
Aku benar-benar menuruti perkataan Vernon dengan menghabiskan sarapan dan meminum vitamin maupun obat yang diberikannya padaku. Setelah itu aku kembali membaringkan diriku untuk beristirahat sejenak agar obatnya juga bisa bekerja dengan baik.
__ADS_1
"Jangan mengatakan semua kebohongan itu!!"
Aku menoleh ke seseorang yang ada di belakangku. Dia adalah Vernon di sepuluh tahun lalu. Wajahnya menunjukan rasa kesalnya padaku saat ini. Kemungkinan baru saja aku mengatakan sesuatu yang membuatnya marah.
"Tidak akan pernah ada yang mempercayai gadis pembohong sepertimu, Viv!!"
Mendengar perkataannya membuat aku bisa merasakan air mata mengalir deras dari pelupuk mataku. Menyadarkan diriku betapa aku mencintai pria yang ada di hadapanku saat ini.
"Aku tidak akan pernah ingin melihatmu lagi!!"
Mataku terbuka kembali. Sekali lagi ingatanku muncul sebagai mimpiku dan saat ini aku bisa merasakan air mata pun membasahi wajahku. Bahkan sejenak aku masih terisak hingga aku tersadar dan menghentikan tangisku yang terbawa hingga aku bangun dari tidur.
Apa yang aku katakan pada Vernon? Kenapa dirinya sampai berkata menyakitkan seperti itu padaku dulu?
Vernon membuka pintu kamar mandi dan membuatku menghapus air mata diwajahku segera. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku menangis.
"Kau menangis, Viv?" Tanya Vernon berjalan dengan memakai bathrobe putih. "Aku mendengar suara tangisan." Vernon agak mencondongkan tubuhnya menatapku yang sudah duduk di atas tempat tidur.
Tiba-tiba Vernon menahan langkahku dengan memegang lenganku, dan langsung memelukku dari belakang.
"Sudah aku bilang kau harus menjaga suasana hatimu." Ucapnya sedikit berbisik ke telingaku.
Sebelum melepaskan tangannya yang melingkar ke tubuhku, Vernon mengecup belakang cuping telingaku. Tak ada yang aku katakan, dan langsung segera masuk ke kamar mandi.
"Hati-hatilah saat mandi." Seru Vernon.
Dengan memakai dress hitam, aku dan Vernon berjalan meninggalkan kamar kami. Dia memposisikan tanganku agar memegang lengannya dengan sedikit memeluk lengan kirinya.
"Kau ingin aku menggendongmu sampai ke mobil saja?" Tanya Vernon tanpa menoleh padaku.
"Diamlah, Vern. Ini tidak seberapa jauh hingga kau harus menggendongku terus." Jawabku sedikit kesal karena mendengar nada pertanyaan Vernon lebih terdengar seperti sebuah godaan.
Seluruh anak buah Vernon yang berada di setiap sudut hotel ini menyambut kami dengan berdiri tegak dan menundukan kepala mereka setiap kali kami melewati mereka.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan. Semua sudah dipersiapkan." Seru penjaga yang kemarin mengantarku ke ruangan pertemuan. Penjaga yang sudah terlihat berusia hampir setengah abad.
"Oh iya Pietro, beritahu Costa Crociere S.p.A. Malam ini kami akan datang ke pesta yang mereka adakan." Seru Vernon tanpa menghentikan langkahnya pada anak buahnya yang sudah berumur tersebut.
"Baik, tuan." Jawab penjaga yang namanya baru aku ketahui itu, yaitu Pietro.
"Pablo." Panggilku dengan menghentikan langkahku ketika melihat sosok tinggi besar yang berkulit hitam berdiri di dekat pintu masuk lobby hotel.
Pablo tersenyum melihatku walau sedikit menundukan kepalanya.
"Kau masih di sini? Aku pikir kau sudah kembali ke Sisilia?" Tanyaku cukup terkejut karena sejak ke kamar hotel kemarin aku tidak memikirkan keberadaan Pablo.
"Tuan Art memintaku berada di sini hingga nona meninggalkan Genoa." Jawab Pablo.
"Ya, dia satu-satunya orang La Nostra yang aku ijinkan berada di Genoa." Seru Vernon setelah ini mengajakku berjalan kembali dan keluar dari hotel.
"Silakan tuan." Seorang anak buah Vernon membukakan pintu mobil.
"Masuklah, Viv." Vernon memegang pintu mobil dan memintaku masuk ke kursi yang berada di samping kursi setir.
Aku menurutinya dan segera masuk ke dalam. Setelahnya Vernon pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi setir.
"Kita akan makan siang terlebih dahulu karena sudah jam segini, setelah itu kita akan berkeliling sebentar. Karena nanti malam kita juga harus datang ke pesta kapal pesiar." Ucap Vernon menatapku yang duduk disampingnya. "Bilang padaku kalau kau merasa lelah. Kita akan kembali ke hotel segera. Kau mengerti?"
"Baiklah." Jawabku tanpa melihat Vernon.
Vernon langsung menginjak gas mobil. Untuk pertama kalinya aku melihat Vernon mengendari mobil seorang diri. Biasanya dia akan duduk manis di kursi belakang dan menikmati perjalanan karena anak buahnya yang akan menyetir. Tetapi tidak kali ini. Walaupun begitu tetap saja, di belakang ada sekitar empat mobil mengiringi perjalanan kami untuk menjaga perjalanan tetap aman.
"Kenapa kau menyetir sendiri? Tumben sekali." Ujarku menatap Vernon yang menyetir.
"Sesekali aku ingin berdua saja denganmu di mobil." Jawab Vernon menoleh.
...–NATZSIMO–...
__ADS_1