PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
AKU YANG DULU


__ADS_3

"Apa maksudmu, Vern?" Tatapku bingung.


Vernon menoleh padaku dan langsung menarik tanganku lagi hingga masuk ke dalam kamar. Dia melepaskan aku dengan kasar hingga lenganku terasa sangat sakit sekarang. Luka tembaknya sepertinya bukanlah apa-apa untuknya karena tenaganya masih saja tidak berkurang sedikitpun.


"Jadi benar kalau dulu aku akan bertunangan dengan Vegard?" Tanyaku pada Vernon yang masih berdiri di hadapanku. "Katakan padaku, kenapa itu tidak terjadi?'


"Karena kau adalah milikku." Jawab Vernon dengan tatapan dingin. "Setelah kakakmu melakukan dosa itu, kau adalah milikku."


Dari tatapan Vernon aku bisa melihat pancaran rasa bencinya padaku. Namun jawabannya itu tidak membuat aku merasa puas.


"Kenapa aku bisa jadi milikmu?"


"Sudah aku bilang karena kau yang menyebabkan semua itu terjadi." Ucap Vernon.


"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku penyebabnya?"


Vernon tertawa mendengar pertanyaanku. Semuanya sama saja dengan sebelumnya. Dia tidak menjawab dan langsung keluar dari kamar tanpa berkata apapun lagi padaku.


Aku yang menyebabkan semua itu terjadi? Apa yang aku lakukan? Ini sangat membuat aku penasaran. Aku ingin tahu apa yang terjadi sepuluh tahun lalu.


Menjelang malam aku bersama Vernon mendatangi sebuah acara. Seperti yang diucapkannya sebelumnya, dia meminta agar aku tidak melepaskan tangannya dan aku menurutinya.


Acara tersebut adalah sebuah acara pesta yang diadakan oleh seorang pengusaha yang termasuk dalam tiga besar orang terkaya di Italia. Yang membuatku terkejut adalah ternyata itu sebuah perayaan ulang tahun dari pria paruh baya bernama Simon De Angelis. Aku langsung tahu siapa dia. Dia adalah ayah dari Wynetta De Angelis, wanita yang dicintai Vernon.


Banyak yang hadir disana, bahkan Arthur dan Renata juga datang. Begitupun dengan Vegard yang datang seorang diri tanpa pasangan. Anehnya, kenapa Vernon tidak ingin aku melepas tangannya?


"Kalian berdua juga datang?" Renata menghampiriku.


Melihatnya membuat aku teringat mengenai beberapa foto yang tidak ada di album foto yang dibawa Sesya. Ingin rasanya aku menanyakannya kenapa dia mengambilnya namun keberadaan Vernon mengurungkan niatku.


"Di mana Art?" Tanyaku karena Renata seorang diri menghampiri kami.


"Dia sedang mengobrol di sana." Jawab Renata menunjuk ke arah keberadaan Arthur. "Sebaiknya kalian jangan mabuk ya. Di sini banyak musuh kalian."

__ADS_1


"Sepertinya kau yang sudah mabuk, Ren." Aku mendengus melihat tingkah Renata yang masih sesekali meneguk tequila martini. Dia sudah hampir mabuk saat ini. "Berhentilah minum, Ren."


"Benar, Ren. Jangan minum lagi." Seru Vernon.


"Aku sangat kuat minum tidak mungkin hanya karena beberapa gelas, aku mabuk." Senyum Renata dengan wajah yang sudah terlihat memerah karena mabuk.


"Sudah berhenti, Ren." Aku mencoba mengambil gelas yang dibawa Renata namun dengan cepat Renata menariknya.


Saat yang bersamaan keseimbangan Renata goyah. Aku melepas lengan Vernon dari gandengan untuk menopang Renata sehingga gelas yang masih terisi setengah tumpah mengenai gaun merah yang aku kenakan.


"Maafkan aku, Viv." Ujar Renata terlihat panik.


Aku menoleh pada Vernon yang terlihat kesal pada apa yang terjadi. Namun tidak ada yang dikatakannya dan hanya sedikit menghela napasnya.


"Aku akan segera kembali. Aku harus membersihkannya ke toilet." Ucapku yang langsung pergi menjauh dari Vernon.


Aku sempat menoleh ke arah Vernon sebelum keluar dari tempat acara, Pria bernama Simon De Angelis menghampiri Vernon dengan dua gelas minuman yang dibawanya dan salah satunya disodorkannya pada Vernon.


Aku berjalan keluar dari aula pesta dan masuk ke sebuah toilet yang berada tepat di sebelah aula dimana acara berlangsung. Satu orang anak buah Vernon mengikutiku sejak aku berjalan keluar dari aula dan berjaga di depan pintu toilet.


"Viv, maafkan aku." Tiba-tiba Renata masuk ke dalam toilet dan langsung menghampiriku. "Aku memang sangat ceroboh."


Tatapanku sangat kesal pada Renata saat dia membasahi sapu tangannya untuk menyeka gaunku yang terkena tequila martini yang dibawanya tadi.


"Kau tenang saja, penampilanmu masih terlihat sempurna walau seperti ini." Ujar Renata.


Aku tahu dia berkata seperti itu agar aku tidak marah padanya. Itu membuat aku semakin kesal. Namun fokusku berubah dan kembali teringat mengenai foto-foto yang hilang itu.


"Ren, tadi kau bertemu Sesya kan?" Tanyaku mengawali pertanyaan yang akan aku ajukan beberapa pada Renata.


"Ya, dia datang ke rumahmu... maksudku rumah Art karena itu bukan lagi rumahmu. Dan kebetulan aku baru saja bercinta dengan Art dan keluar kamar, lalu aku melihat Sesya berada di kamarmu." Jawab Renata masih membersihkan gaunku. "Saat aku tanya dia bilang kau menyuruhnya untuk membawakan album foto perayaan ulang tahunmu yang ke empat belas tahun."


"Lalu bagaimana bisa album foto itu ada padamu?" Tatapku dengan penuh selidik.

__ADS_1


"Kebetulan ketika kedua orang tuamu datang kemarin mereka ingin melihat-lihat beberapa foto dan mereka membawa album foto itu salah satunya, setelahnya memintaku untuk mengembalikannya ke tempatmu namun karena aku lupa, album-album foto itu aku letakan dikamar Art." Ucap Renata menghentikan kegiatannya yang membersihkan gaunku.


"Orang tuaku sudah pulang?" Aku sangat terkejut mendengarnya. "Kenapa mereka tidak menghubungiku? Seharusnya mereka berdua menemuiku setelah pulang, bahkan mereka tidak ada saat aku menikah."


"Mereka sudah pergi ke Venesia." Jawab Renata. "Memangnya ada apa Viv? Kenapa kau menanyakan mengenai Sesya dan album foto itu?"


"Pasti kau kan yang mengambil beberapa foto di album itu? Sebaiknya kau mengatakan semuanya padaku! Ren, apa yang terjadi saat ulang tahunku yang ke empat belas tahun? Kau pasti mengetahuinya kan?"


"Apa yang kau katakan?" Renata balik bertanya dengan sedikit marah. "Foto-foto apa yang aku ambil dan kenapa aku mengambilnya, Viv?


Sesaat aku menatap ekspresi wajah Renata dan dia tahu kalau Renata sedang menatapku dengan mata terlihat bingung.


"Ada beberapa foto yang hilang dari album foto tersebut. Itu sangat aneh."


"Lalu kau menuduhku yang mengambilnya?" Tatap Renata tersirat sebuah rasa kesal di wajahnya padaku. "Aku tidak mengerti kenapa kau menuduhku, tapi aku tidak melakukan apapun."


"Benarkah?"


"Kau juga bertanya padaku apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?" Tanya Renata kesal. "Viv, aku dan kakakmu baru bertunangan selama 7 tahun, aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sepuluh tahun pada kalian semua."


"Tapi kenapa kau menanyakan hal seperti kemarin padaku?" Ujarku lagi sangat ingin mengetahui jawabannya.


"Karena Art pernah mengatakan padaku kalau kau hilang ingatan. Aku ingin tahu bagaimana dirimu sebelum hilang ingatan."


"Apa maksudmu? Diriku sebelum hilang ingatan? Memangnya diriku yang sebelumnya bagaimana?" Tanyaku dengan penasaran dan bingung.


"Aku tidak tahu apa aku boleh mengatakan ini atau tidak padamu. Tapi yang aku dengar kau yang sekarang dan kau yang dulu sangatlah berbeda. Kau seperti dua orang yang berbeda." Jawab Renata setelah itu agak mencondongkan kepalanya padaku hendak membisikan sesuatu. "Kalau aku tidak salah dengar, kau pernah meminta Art untuk membunuh tunangannya dulu."


"Tu—tunangannya Art dulu? Siapa tunangannya? Kenapa aku meminta Art untuk membunuhnya?" Lidahku terasa sangat kelu ketika mengatakan pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Wynetta De Angelis."


Tiba-tiba terdengar suara beberapa tembakan yang membuat aku semakin terkejut setelah mendengar jawaban Renata.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2