
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka ketika aku dan Alec sedang menikmati pergulatan kami. Aku maupun Alec yang saat ini ada di atasku menoleh ke pintu dan melihat sosok yang membuka pintu.
Dengan sangat terkejut kami berdua terhentak ketika melihat Renata yang membuka pintu. Kenapa dia masih ada di sini? Bukannya dia bilang dia akan pergi? Alec langsung menyingkir dari tubuhku dengan langsung turun memakai celananya. Sedangkan aku masih tertegun melihat Renata yang tersenyum melihat kami berdua.
"Maaf aku mengganggu. Aku hanya ingin bilang, mobil Vernon baru saja masuk ke pekarangan rumah. Jadi sebaiknya kalian cepat menyudahi semuanya." Ujar Renata dengan sebuah senyum yang merupakan ciri khasnya, setelah itu menutup pintu kamar.
Mendengar perkataannya membuat aku sangat terkejut. Aku menoleh pada Alec yang sedang mengencingi kemejanya dan langsung beranjak turun dari tempat tidur dengan menutupi tubuhku dengan selimut. Aku memeluk Alec, merasa kebahagian yang sudah lama aku nantikan akhirnya aku rasakan.
"Berpakaianlah, Vernon datang. Aku akan segera keluar." Ucap Alec setelah itu mengecup bibirku dan berjalan keluar segera.
Aku masih memikirkan apa yang baru saja kami perbuat. Aku dan Alec bercinta dan itu membuat aku sangat senang. Tidak apa-apa jika aku sudah menikah, tidak apa-apa jika Alec akan menikah, yang terpenting adalah aku dan Alec saling mencintai. Kami bisa menyembunyikan semuanya dari siapapun, kecuali Renata yang memergoki kami tadi.
"Kenapa kau ke sini tanpa bilang aku?" Tiba-tiba Vernon menerobos masuk kamarku saat aku baru memakai kemeja, bahkan belum sempat mengancinginya.
Aku terhentak kaget dan dengan sangat cepat aku mengancinginya lalu memakai rok pendek yang aku kenakan tadi saat Vernon berjalan mendekatiku.
Dengan kasar Vernon mengangkat tangan kananku saat aku selesai memakai pakaianku. Dia menatapku tajam. Pelipisnya yang berdarah semalam sudah diplester.
"Apa yang baru kau lakukan? Kenapa kau baru memakai pakaianmu?" Tatap Vernon dengan sangat lekat.
Tak ada yang keluar dari mulutmu, aku tidak berniat menjawabnya dan mencoba menarik tanganku dari Vernon namun pria itu malah mendekatkan wajahnya padaku, untuk mencium aroma ditubuhku.
Vernon menatapku lekat untuk membaca ekspresiku saat ini. Aku hanya melihat padanya tanpa memperlihatkan raut wajah yang berarti.
__ADS_1
"Jangan pernah pergi kemanapun tanpa memberitahu aku!!" Seru Vernon dengan dingin.
Aku merasa lega mendengar perkataan Vernon. Tampaknya dia tidak tahu kalau baru saja istrinya ini bercinta dengan pria lain. Untung saja sebelumnya aku membasuh tubuhku dengan cepat dan memakai parfumku lagi, karena itu belum sempat aku berpakaian, Vernon sudah masuk ke kamar.
"Kemanapun? Bahkan rumahku sendiri?" Tatapku.
Vernon menarik tanganku dan berjalan keluar. Di depan pintu aku melihat Renata tersenyum padaku. Aku yakin pasti dia yang memberitahu dimana aku berada pada Vernon.
Entah kenapa saat ini Renata terlihat tampak berbeda di mataku. Dia terlihat seperti Renata yang berbeda. Tidak, bukan dia yang berbeda, dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Bagaimanapun aku sudah menikah dengan Vernon, dan Renata berbuat yang seharusnya.
"Vern." Alec muncul menghentikan langkah kami saat Vernon masih menarik tanganku. "Aku tidak tahu kau di sini."
"Aku hanya menjemputnya. Art sedang tidak ada, kenapa kau ada di sini?" Tanya Vernon tanpa mengendurkan pegangan tangannya dari lengan kananku.
"Aku hanya mengambil berkas yang aku butuhkan untuk proses pengadilan Gianluca Bourbon. Sore nanti pengadilan akan mengambil keputusannya." Jawab Alec sambil memperlihatkan sebuah amplop cokelat. "Aku juga akan pulang sekarang."
Vernon membawaku masuk ke dalam mobil dengan kasar. Aku tidak berkata apapun dan memperhatikan mobil Alec yang berjalan lebih dulu keluar dari pintu gerbang rumahku dimana dijaga oleh para bawahan Arthur.
"Dengarkan perkataanku, mulai sekarang aku tidak mengijinkanmu keluar rumah. Kau mengerti?" Ujar Vernon.
"Brengsek." Hanya itu tanggapanku.
Aku tidak mungkin tinggal diam. Aku pasti akan meyelinap keluar dari rumahnya. Ya, aku akan menemui Alec lagi dan bercinta dengannya kapanpun aku mau.
__ADS_1
Tiba-tiba ketika belum berapa jauh mobil kami keluar dari rumahku, sebuah mobil menabrak mobil Alec hingga membentur ke sebuah pohon. Lalu keluar dua orang bersenjata dari mobil yang menabrak Alec.
Anak buah Vernon yang berada di kursi depan langsung menghentikan mobilnya dan mengambil pistol mereka untuk menembaki kedua orang bersenjata yang hendak berjalan ke mobil Alec. Kedua orang tersebut langsung berlindung ke dalam mobilnya dari tembakan-tembakan anak buah Vernon.
Aku menoleh pada mobil Alec sambil mencoba berlindung karena mobil kami jadi di brondong peluru oleh orang yang menabrak Alec. Aku berusaha mencari tahu keadaan dirinya dengan rasa kekhawatiran. Alec masih tersadar dan mengeluarkan pistol yang dibawanya.
"Jangan keluar dari mobil!!" Seru Vernon padaku sambil mengambil pistolnya dari bawah jok mobil dan keluar dari mobil untuk ikut baku tembak dengan berlindung dibalik pintu mobil.
Tak ada yang bisa aku lakukan dalam kekacauan ini. Aku hanya menundukan kepala mencoba berlindung agar tidak terkena peluru nyasar, sambil berharap Alec baik-baik saja. Untungnya mobil Vernon dilengkapi dengan kaca anti peluru sehingga aku sedikit merasa aman. Orang-orang itu mengincar Alec untuk membunuhnya, pasti ada kaitannya dengan orang yang disebut Alec tadi karena hari ini adalah persidangan orang itu.
Tiba-tiba muncul dua mobil lainnya dan keluar beberapa orang bersenjata membantu teman mereka menyerang mobil yang aku tumpangi dan membrondong peluru ke arah Alec juga.
Vernon mencoba berlari ke arah Alec untuk membantu Alec karena sepertinya keadaan Alec tidak cukup baik. Namun kehadiran beberapa orang yang terus menghujani peluru pada kami membuat keadaan kami terpojok.
Aku mencoba mencari tahu dimana posisi Vernon yang sedang mendekati Alec, namun seorang dari musuh kami lebih dulu ke arah Alec dan siap mengacungkan pistol ke arah Alec yang kaca mobilnya sudah pecah. Dengan cepat Vernon sedikit mendekatinya dan menembak orang tersebut tepat di kepalanya. Aku berteriak kaget dengan apa yang aku lihat, akan tetapi sebuah peluru mengenai Vernon di bagian pundak kirinya. Vernon mencoba menembak namun dia kehabisan peluru. Itu semakin membuat aku ketakutan. Kedua orang anak buah Vernon pun tidak bisa berbuat apapun dan hanya berlindung di balik pintu mobil.
Entah apa yang ada dipikiranku, aku membuka pintu mobil untuk mencoba keluar karena rasa khawatirku pada Vernon yang terkena peluru. Vernon menoleh padaku dengan tatapan kesalnya membuat aku tahu kalau dirinya tidak ingin aku keluar dari mobil.
Benar saja, orang yang menembak Vernon menoleh padaku dan menghujaniku dengan peluru sebelum sempat aku keluar dari mobil. Kedua anak buah Vernon menembaki orang tersebut hingga peluru mereka juga habis dan mereka tertembak, langsung mati di tempat. Aku menjadi sangat takut. Hal ini lah yang paling aku takutkan menjadi anggota keluarga Mafia.
Air mataku menjadi keluar begitu saja karena yakin kalau mereka akan membunuh kami semua.
Vernon yang bersembunyi di belakang mobil Alec menatapku. Tatapan Vernon penuh kekhawatiran padaku, saat pria yang menembaknya berjalan mendekatiku dengan mengacungkan pistolnya.
__ADS_1
Aku hanya menahan tangisku sambil menutup mata, siap menerima sebuah peluru di kepalaku.
...–NATZSIMO–...