PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
SEMUA KARENA KESALAHANMU


__ADS_3

Keadaan sangat kacau ketika aku berada di dalam sebuah mobil. Mobil yang sedang aku kendarai melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi dan di belakang ada mobil yang mengejar mobil yang aku kendarai.


Aku tampak tegang dengan terus melajukan mobil tersebut, tidak memedulikan suara tangis seorang gadis yang duduk di belakangku, dan seorang gadis satunya duduk di kursi sampingku terus berkata apapun untuk membuat diriku menghentikan laju mobilnya.


"Hentikan, Viv!! Hentikan!! Apa yang akan kau lakukan?" Seru gadis yang ada di kursi sampingku sambil berusaha menggangguku yang menyetir dengan memegang kemudi.


Aku menoleh ke arah gadis tersebut, namun sesuatu menabrak mobil kami dari arah pintu gadis itu hingga membuatku hanya bisa melihat rambut cokelatnya yang menutupi wajahnya.


Seketika aku mengerang sangat keras, membuka mataku hingga terbangun dari posisi tidurku dan segera duduk. Mataku terus berputar karena mimpi yang terjadi benar-benar terasa sangat nyata. Lagi-lagi sudut pandang diriku adalah apa yang aku lihat di dalam mimpi.


"Ada apa?" Vernon yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya memakai handuk kimono menatapku. "Kau bermimpi lagi?"


Aku mencoba mengatur napas agar aku bisa bernapas tanpa terengah-engah lagi dan mengusap wajahku dengan kedua tangan untuk menyadarkan diriku kalau semua yang ada di mimpi hanyalah sebuah mimpi. Aku melirik ke arah jam dinding dan melihat saat ini baru pukul lima pagi.


Setelah memakai kemeja hitam dan celana dengan warna yang senada, Vernon berjalan mendekatiku yang masih berada di atas tempat tidur. Melihat Vernon saat ini membuat aku kembali teringat pada gadis berambut cokelat yang ada di dalam mimpiku. Apakah gadis itu Wynetta?


"Aku akan menemui Art dan langsung ke Genoa. Aku akan berada di sana untuk beberapa hari. Pelayan akan mengurusmu, aku akan meminta Gloriana menemanimu 24 jam." Ujar Vernon menatapku.


"Pergilah, kau tidak pernah mendengarkan perkataanku. Aku memintamu menjaga dan mengurusku 24 jam karena mengandung anakmu." Jawabku kesal. "Bahkan sepertinya kau juga tidak ingin memenuhi keinginanku yang berencana untuk membuka rumah sakit di Genoa."


"Gloriana akan mengurusmu dengan sangat baik. Dan mengenai rencanamu itu, itu mustahil. Aku tidak akan melakukannya dan kau juga tidak bisa melakukannya dalam keadaanmu sekarang ini." Ujar Vernon yang duduk di dekatku. "Kau harus menjaga anakku, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kau mengerti?"


"Ya, pergilah. Kau bisa pergi selama mungkin yang kau mau. Bagaimanapun ini juga anakku, tidak mungkin aku menginginkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kalau aku ingin sudah sejak kemarin aku akan menggugurkannya." Ucapku dengan tatapan kesal.


"Jangan berkata seperti itu. Kau tidak boleh mengatakan sesuatu yang buruk mengenai kehamilanmu. Anak itu akan mendengarnya dan bisa membuat kondisinya tidak baik. Berpikirlah yang positif dan jangan mengatakan sesuatu yang dapat mempengaruhi kondisi anak kita." Seru Vernon.

__ADS_1


"Kau yang membuatku mengatakannya. Jika terjadi sesuatu pada bayiku itu semua karena salahmu. Kau mengerti Vern?" Tatapku.


Vernon hanya terdiam mendengar perkataanku dan setelah itu beranjak berjalan keluar kamar. Aku mendesis menahan rasa kesalku melihat kepergiannya.


"Bahkan dia tidak menciumku sebelum pergi." Gumamku sangat kesal.


Bagaimanapun aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kehamilanku dan membuat kondisi anakku menjadi buruk, namun ada hal yang harus aku lakukan. Aku tidak akan diam saja berada di atas tempat tidur. Sudah terlalu lama aku berada di atas tempat tidur.


Dengan segera aku mengambil handphone-ku dan menelepon Arthur. Ada sesuatu yang ingin aku minta darinya.


"Ada apa Viv adikku tersayang? Apa kau berubah pikiran?" Suara Arthur terdengar di ujung telepon dengan diiringi des*ahan. "Tapi ini masih terlalu pagi. Kau bisa mengatakannya nanti. Aku akan memerintahkan Pablo untuk menjemputmu."


"Kau ada di mana? Apa kau sedang mabuk? Kau sedang bercinta?" Tanyaku tidak habis pikir dengan Arthur. "Di mana Renata? Kau bercinta dengan wanita lain?"


Terdengar tawa Arthur di ujung telepon. Aku sangat tahu kalau pasti saat ini dia sedang sangat mabuk.


Aku hanya bisa menghela napas mendengar kesibukan mereka di sana. Ingin rasanya aku mematikan telepon ini namun ada hal penting yang harus aku katakan.


"Ren, Vernon sedang menuju rumah, dia akan menemui Arthur." Ujarku.


"Sepagi ini?" Dari suara Renata sepertinya dia tidak percaya kalau Vernon datang sepagi ini ke sana. "Dia berbeda sekali dengan kakakmu. Art malah masih mabuk setelah pergi ke pesta semalam. Art, hentikan, Vernon akan datang menemuimu."


"Siapa yang peduli dengannya." Jawab Arthur diiringi tawa karena mabuknya. "Ren, aku sangat mencintaimu. Rasanya aku semakin melayang berada di dalammu."


"Ren, kirim orang untuk menjemputku." Pintaku mulai tidak sabar untuk menutup teleponnya. "Aku harus sege—"

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Kau ingin pergi? Apa kau berubah pikiran dan ingin berpisah lagi dari Vern— Art, jangan menciumku!! Aku sedang berbicara dengan adikmu!!"


"Dengarkan saja perkataanku, Ren. Kirimkan beberapa orang ke sini, dan siapkan juga jet pribadi untukku." Seruku.


"Kau mau kemana?"


Secepat mungkin aku langsung menutup teleponnya dan langsung kembali berbaring dengan menghela napas. Mendengar Arthur dan Renata yang sedang bercinta barusan membuat aku menjadi muak. Mereka berdua memang pasangan yang sangat cocok, pantas saja mereka bersama.


Terdengar ketukan pintu dan tidak berapa lama pintu terbuka. Muncul Gloriana dari luar. Pelayan itu berjalan menghampiriku dengan sangat sopan.


"Nyonya, tuan memintaku agar selalu bersamamu hingga dia kembali nanti." Ucap Gloriana dengan menundukan kepala berdiri di dekat tempat tidur. "Bagaimana keadaan nyonya saat ini? Apakah nyonya ingin sarapan atau nanti saja?'


" Ya, berikan aku sarapan sekarang. Aku juga harus bersiap-siap." Jawabku.


"Bersiap-siap? Anda mau ke mana? Tuan memintaku untuk menjaga nyonya dan memastikan nyonya tidak kemanapun." Ujar Gloriana menatap padaku dengan tatapan heran.


"Ambilkan sarapan untukku dan setelah itu persiapkan beberapa pakaianku, masukan ke dalam koper beserta keperluan lainnya." Seruku tanpa menjawab pertanyaan Gloriana.


"Dengarkan saja perintahku, aku tidak suka mengulangi perkataan yang sama." Ucapku dengan dingin. "Dan jangan beritahu Vernon mengenai kepergianku. Apa kau mengerti?"


Gloriana hanya terdiam mendengar semua perintah yang aku berikan padanya.


Hari ini aku akan melakukan sesuatu. Sesuatu yang sangat ingin aku lakukan sejak kemarin. Aku tidak peduli mengenai Vernon yang mungkin akan marah ketika mengetahui kepergianku dari rumah. Jika dia tidak menurutiku maka akupun juga tidak akan menuruti dirinya.


"Semua karena kesalahanmu, Vern." Aku menggerutu sangat kesal.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2