
Perkataan Olivia membuat aku terdiam. Aku mencintai Vernon? Sejak kapan aku mencintainya? Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Aku bahkan baru melihatnya tiga hari sebelum kami menikah, bagaimana aku bisa mencintainya?
"Apa maksudmu, Oliv?" Aku menatap Olivia dengan heran.
"Ah, aku lupa." Olivia mengalihkan pandangannya dari tatapanku. "Maksudku, kau tidak mungkin mau menikah dengannya kalau tidak mencintainya kan?"
Dari tatapan Olivia aku bisa menebak kalau saat ini dia menyembunyikan sesuatu dariku. Dan sekarang aku menjadi ingin tahu hal apa yang dia sembunyikan dariku.
Aku agak mencondongkan tubuhku untuk menatap wajah Olivia yang duduk di kursi rodanya.
"Jangan sembunyikan apapun dariku, apa maksudmu berkata aku mencintai Vernon sejak dulu?" Aku mencoba menatapnya dengan lekat agar gadis yang ada dihadapanku sekarang mengatakan semuanya padaku. "Apa kau juga bisa menceritakan apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?"
Olivia tidak langsung menjawab, dia menatapku dengan sedikit rasa takut hingga pelupuk matanya terlihat berkaca-kaca.
"Viv, kau ada disini juga?" Tiba-tiba terdengar suara Alec dari arah pintu kamar.
Dengan segera aku menegakkan tubuhku dan menoleh pada Alec yang sudah berjalan ke arah kami berdua. Melihatnya ingin sekali aku langsung memeluk dan menciumnya, namun Alec malah berjalan mengarah ke Olivia dan memberikan kecupannya pada gadis itu.
"Apa aku mengganggu perbincangan para wanita?" Tanya Alec menoleh padaku yang masih tidak bisa menerima dirinya mencium Olivia di depan kedua mataku.
Ingin sekali rasanya aku menarik kepala Alec dan langsung menyambar bibirnya. Namun itu hal yang tidak mungkin aku lakukan. Aku akan menunggu hingga kami berdua nanti, dan aku tidak akan memaafkannya karena berani mencium wanita lain dihadapanku.
"Tidak, aku juga hanya mengantar Olivia ke sini. Aku juga akan segera kembali ke kamarku." Jawabku setelah itu menoleh ke arah Olivia yang terus menatapku. "Baiklah, aku akan keluar."
__ADS_1
Pikiranku masih memikirkan perkataan Olivia ketika berjalan untuk kembali ke kamar. Olivia terlihat menyembunyikan sesuatu dariku dan tadi tatapannya terlihat seperti takut pada diriku. Sebenarnya apa yang terjadi sepuluh tahun lalu?"
Di dalam kamar aku menghubungi Sesya untuk berbicara dengannya. Aku berencana menanyakan sesuatu mengenai hal yang terjadi sepuluh tahun lalu walaupun Sesya pasti tidak mengetahuinya karena kami baru saja bertemu delapan tahun lalu.
"Bagaimana bisa kau tidak mengingat semua yang terjadi sepuluh tahun lalu Viv?" Tanya Sesya dengan nada heran. "Bagaimana juga aku bisa tahu karena kita baru bertemu ketika ulang tahunmu yang ke enam belas."
"Iya aku juga tahu akan hal itu." Jawabku merasa sia-sia menanyakan pada Sesya. "Sebenarnya jika dipikirkan tak ada yang aku ingat sebelum usiaku empat belas tahun." Aku bangkit duduk di atas tempat tidur.
"Itu sangat aneh. Apa mungkin kau mengalami amnesia? Apa kau juga terlibat di kejadian sepuluh tahun lalu itu dan mengalami hilang ingatan?" Suara Sesya terdengar sangat meyakinkan saat ini. "Apa ada hal yang kau ingat ketika usiamu empat belas tahun?"
Aku terdiam sesaat sambil mengingat sesuatu. Muncul sebuah ingatan ketika aku terbangun di kamarku dengan keadaan bingung. Tampak tak ada yang berbeda namun aku merasa ada sesuatu yang aneh karena tak ada yang aku ingat kecuali namaku dan siapa diriku, serta beberapa kejadian ketika aku masih kecil.
Arthur bilang aku terpeleset dan terjatuh di tangga dan mengalami kebingungan saat itu karena kepalaku terkena benturan yang cukup keras. Aku percaya dan tidak ingin memikirkan apapun karena kepalaku terasa sangat sakit saat itu jika aku mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Viv, kau dengar aku?" Suara Sesya menyadarkan aku dari pikiranku.
"Kepalaku menjadi sakit sekarang, Ses." Jawabku sambil memegang kepala. "Bisakah kau datang menemuiku hari ini?"
"Ya, aku memang ingin menemuimu hari ini." Jawab Sesya.
"Bisa kau kerumahku dulu untuk mengambil album foto ulang tahunku yang ke empat belas?" Tanyaku kembali membaringkan kepalaku yang sakit.
"Baiklah." Jawab Sesya.
__ADS_1
Aku masih memikirkan semuanya. Apapun menjadi terasa aneh sekarang. Aku yang tidak mengingat apapun di kejadian sepuluh tahun lalu, dan semua orang yang tampaknya menyembunyikan sesuatu padaku.
Renata tahu sesuatu karena itu dia bertanya seperti kemarin padaku. Itu terlihat jika dia tidak berniat mengatakan dengan jelas semuanya. Begitu juga dengan Olivia tadi. Dia menyembunyikan sesuatu dan tanpa sengaja salah bicara dengan mengatakan kalau sejak dulu aku mencintai Vernon. Aku teringat perkataan Vernon yang mengatakan aku tidak akan mendapatkan jawaban mengenai kejadian itu dari siapapun. Apa mereka semua sudah sepakat untuk menyembunyikan semua itu dari diriku?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan muncul Vernon dengan pakaian yang bersimbah darah. Hampir semua kemeja putih yang dikenakannya terdapat noda darah, bahkan kedua tangannya masih terlihat ada bekas warna merah yang aku yakini adalah noda darah.
Tanpa melihat lama padaku Vernon berjalan masuk ke kamar mandi. Aku lebih memilih diam saja di atas tempat tidur mencoba tidak peduli padanya. Suara keran air terdengar dan sepertinya Vernon sedang mencuci tangannya yang masih berwarna merah.
Tidak berapa lama dia keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada karena kemejanya sudah dilepas. Lalu dia masuk ke ruang pakaian dan cukup lama berada di dalam sana.
Hampir setengah jam Vernon berada di ruang pakaian, hal itu membuat rasa penasaranku muncul. Dengan segera aku berjalan mendekati pintu ruang pakaian dan dengan perlahan membuka pintunya. Namun tetap saja suara pintu terdengar hingga membuat Vernon yang semula hanya duduk di sofa yang berada di tengah-tengah ruangan memunggungi pintu masuk, bangkit berdiri. Dia langsung menutup pintu dimana figura wanita yang bernama Wynetta tergantung, lalu menoleh padaku dengan tatapan dingin.
"Aku rasa kau melewati batas dengan menggangguku saat ini." Ucap Vernon masih berdiri di tengah-tengah ruang pakaian.
"Maafkan aku, kau terlalu lama berada disini sehingga membuatku penasaran apa yang kau lakukan di sini." Jawabku sedikit merasa bersalah karena mengganggu privasinya. "Tapi kita sudah menikah seharusnya tidak ada privasi diantara kita."
Perkataanku membuat Vernon mendengus dengan menyeringai. Ya, apa yang aku katakan adalah sesuatu hal yang bodoh, bahkan semalam aku menertawakan dirinya saat menyinggung tentang pernikahan kami.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi." Ujarku hendak menutup kembali pintu ruang pakaian.
"Tunggu dulu!!" Seru Vernon. "Malam ini kau harus ikut denganku ke sebuah acara, tapi kau harus mendengarkan perkataanku, kau tidak boleh melepas tanganku."
...–NATZSIMO–...
__ADS_1