PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
MEMINTA SEGALANYA


__ADS_3

Perkataan Ibuku membuatku menjadi merasa malas pada kehadiran kedua orang tuaku saat ini. Padahal kemarin Renata bilang kalau mereka berdua senang saat mendengar kabar kehamilanku tapi kenyataannya mereka datang dan langsung memintaku untuk menggugurkan kandunganku. Kedua orang tuaku sangat keterlaluan.


"Kau mendengar kami, Viv?" Tanya ibuku yang sudah duduk di sisi tempat tidur.


Aku segera beranjak duduk dengan tatapan malas pada mereka berdua. Sama sekali aku tidak ingin menjawab apapun pertanyaan mereka ataupun menuruti seruan mereka.


"Dimana Art?" Tanyaku menatap Renata.


"Masih di Genoa." Jawab Renata.


"Aku tidak mau tahu, cepat panggil dia ke sini." Ucapku.


"Ada apa? Kenapa kau mencari kakakmu?" Tanya ayahku.


"Cepat panggil dia kesini sekarang juga!! Kau mendengarku kan, Ren?!!" Aku sedikit berteriak pada Renata agar dia mau mendengarkan perkataanku.


"Baiklah." Jawab Renata. "Aku akan memintanya datang dengan helikopter agar cepat sampai." Renata langsung berjalan keluar.


"Ada apa sebenarnya Viv? Kenapa kau tidak mau bicara pada kami?" Ibuku memegang lenganku dengan tatapan heran.


"Katakan sesuatu sayang, kenapa kau menjadi sangat dingin pada kami?" Kali ini ayahku berkata sambil memegang kepalaku.


Aku menepis tangannya dan menatap dingin pada ayahku lalu pada ibuku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku bersikap baik pada mereka karena sudah sangat lama kami tidak bertemu, jauh sebelum pernikahanku dengan Vernon yang tidak mereka hadiri.


"Katakan padaku, apa yang terjadi padaku sepuluh tahun lalu?" Tanyaku.


Mereka berdua terdiam sejenak. Aku bisa melihat kebingungan yang ada dalam diri mereka saat ini ketika aku menanyakan hal yang tersembunyi tersebut. Bahkan mereka berdua sempat saling tatap.


"Memangnya apa yang terjadi padamu, sayang?" Ujar Ayahku mencoba mengalihkan pertanyaanku.

__ADS_1


Mendengarnya aku mendengus kesal. Merekapun tidak akan mengatakan apapun padaku. Mereka tetap akan merahasiakan semua yang terjadi.


"Aku tahu, aku kehilangan ingatanku. Tapi selama ini kalian menyembunyikannya dariku, kan? Apa yang terjadi padaku ada kaitannya dengan dosa Arthur pada Vernon? Apa karena itu juga kalian berdua tidak hadir di pernikahan itu? Apa itu juga yang membuat kalian membencinya bahkan hingga tidak ingin anaknya aku lahirkan?" Tanyaku bertubi-tubi. "Apa sebenarnya dosa yang dilakukan Arthur adalah dosaku?"


"Tidak sayang, kau tidak berbuat apapun." Jawab ibuku memegang wajahku dengan tangan kanannya namun aku menepisnya lagi.


Tiba-tiba Renata masuk ke dalam kamar. "Ternyata Arthur sudah dalam perjalanan kembali. Sebentar lagi dia akan sampai."


"Sebaiknya kalian semua keluar, aku hanya akan bicara saat Arthur datang." Ucapku dengan sangat dingin.


Aku kembali berbaring setelah mereka semua keluar kamar. Kepalaku menjadi terasa sakit saat ini. Seharusnya aku tidak terlalu menunjukan kemarahanku pada mereka tadi. Tapi tetap saja sikap mereka yang masih menyembunyikan tentang hal yang tidak aku ingat masih membuatku merasa ingin marah saat ini.


"Ada apa, Viv?" Tanya Arthur yang langsung masuk selang dua puluh menit. "Kenapa kau mencariku? Aku senang kau kembali."


Di belakang Arthur, Renata dan kedua orang tuaku juga ikut memasuki kamarku. Aku langsung beranjak duduk untuk mengatakan sesuatu pada kakakku.


"Aku sedang hamil anak Vernon. Aku benar-benar sedang hamil." Ucapku memulai perkataanku menatap Arthur yang berdiri di jarak dua meter dari tempat tidur.


"Aku punya permintaan padamu." Jawabku.


"Katakan saja, kau bisa meminta segalanya padaku." Seru Arthur.


"Tepati janjimu pada Vernon dengan memberikan 80 persen Genoa pada Vernon. Ah, tidak, aku juga meminta 20 persen sisanya untukku." Aku berkata dengan penuh keyakinan kalau aku akan mendapatkan semua yang aku katakan.


"Apa maksudmu?" Arthur tampak bingung, begitupun dengan ketiga orang dibelakangnya. Mereka menatapku dengan wajah penuh tanya.


"Kau bilang aku bisa meminta segalanya padamu, kan?" Tatapku. " Aku ingin semua itu."


"Baiklah, aku akan memberikan 80 persen Genoa pada Vernon, tapi apa yang akan kau lakukan dengan 20 persen sisanya?" Tanya Arthur lagi. "Apa itu berarti kau akan menggugurkan kandunganmu?"

__ADS_1


"Tidak akan. Aku tidak akan menggugurkan kandunganku."


"Tapi kau harus melakukannya!! Kalian akan berpisah!!" Seru Arthur dan dapat dukungan dari kedua orang tuaku.


"Aku tidak akan berpisah dari Vernon." Ujarku serius. "Aku akan bersama dengannya walau kau memberikan Genoa padanya."


"Yang benar saja, Viv. Kenapa sekarang kau jadi ingin bersama dengannya? Ini kesempatanmu agar bisa berpisah darinya?!" Protes Arthur dan lagi-lagi kedua orang tua kami mendukungnya. "Kalau begitu aku tidak akan memberikan Genoa padanya. Jika kau tetap bersama dengannya, lalu untuk apa aku memberikannya?"


"Agar aku tetap di sini bersama kalian semua. Maksudku, agar aku masih berada di Italia."


"Apa maksudnya, sayang?" Tanya Ayahku yang maju dua langkah.


"Vernon akan kembali ke Norwegia, dan tentu saja aku harus ikut bersamanya karena dia adalah suamiku dan lagi aku sedang mengandung anaknya."


"Seharusnya kau berpisah dengannya, Viv!! Kau tidak perlu ikut dengannya!! Bukankah kau sangat membenci dia?!" Arthur berjalan mendekatiku hingga aku sedikit menengadah melihat dirinya yang berdiri di hadapanku. "Berpisah dengannya, dan gugurkan kandunganmu, lalu biarkan Genoa tetap berada dalam kendaliku!! Dengarkan kata-kataku!!"


"Kau yang dengarkan kata-kataku, Art!! Berikan Genoa pada Vernon!! Dan aku akan bersama dengannya, aku akan melahirkan anaknya juga." Seruku dengan suara lantang.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa sekarang kau ingin bersama dengannya? Apa dia mengancammu?"


"Kau harus mendengarkan aku!! Bagaimanapun aku menikah dengannya juga karena dirimu, Art!! Jadi kali ini kau harus memberikan semua yang aku mau!! Aku harap kau mengerti!!" Ucapku dengan tatapan kesal.


"Tidak, Art!! Jangan dengarkan permintaannya, Vivian tidak mengerti apapun. Biarkan saja semua terjadi seperti sekarang ini. Pria itu pasti yang mempengaruhi atau mengancamnya." Ujar Ibuku memegang lengan Arthur. "Dia sudah ada di sini, jadi dia tidak akan bisa kembali pada pria itu. Biarkan pria itu pergi ke negara asalnya, kita hanya perlu mengurung adikmu di sini."


"Mom, aku akan menelepon Vernon jika permintaanku tidak aku dapatkan. Dia akan menjemputku di sini seperti kemarin dan besok kami akan pergi ke Norwegia. Aku akan pastikan kalau kalian tidak akan melihat aku lagi setelahnya." Tatapku dengan tajam pada Arthur yang juga menatapku. Handphone milikku berada di tanganku dengan menunjukan nomer Vernon di layar.


"Apa Vernon menghasutmu? Atau kau diancam olehnya?" Tanya Arthur dengan tatapan tidak habis pikir padaku. "Kalau aku mendengarkan perkataanmu dan memberikan semua itu maka tidak ada yang aku dapatkan, Genoa dan juga kau, Viv. Kedua hal itu akan menjadi miliknya."


"Sejak awal kedua hal itu memang sudah miliknya." Jawabku.

__ADS_1


...–NATZSIMO–...


__ADS_2