
Vernon merubah sikapnya padaku setelah diriku hamil anaknya. Dia bersikap perhatian padaku saat ini. Sekarang aku berpikir apakah itu sesuatu yang baik atau malah sebaliknya, karena setelah mengetahui perbuatanku pada wanita yang dicintainya sepuluh tahun lalu, membuat diriku merasakan penyesalan.
Setelah menempuh waktu lima belas menit dengan kecepatan yang perlahan, Vernon menghentikan mobilnya ke sebuah restoran. Ristorante Da Cupido tertulis di depan bangunan yang tampak sederhana itu. Jika dilihat restoran tersebut hanya restoran biasa dan bukan restoran mewah yang biasa aku kunjungi ketika ingin makan di luar.
"Pasta di restoran ini adalah nomer satu di Italia, tidak, maksudku di dunia. Walau restorannya sederhana makanan mereka yang terbaik." Ucap Vernon.
Jika seperti itu, berarti Vernon sudah sering ke restoran tersebut dan pastinya tempat itu merupakan favoritnya.
"Masakan seafood di tempat ini juga sangat lezat. Tapi karena kau sedang hamil, kau tidak boleh memakan makanan laut. Setelah kau melahirkan, aku akan mengajakmu ke restoran ini lagi untuk mencicipi seafoodnya." Ujar Vernon.
Tampaknya Vernon melupakan perjanjian kami tadi. Setelah melahirkan dia sudah berjanji kalau akan melepasku, bagaimana bisa dia mengatakan hal tersebut padaku? Ini akan jadi yang pertama dan terakhir kalinya aku ke restoran tersebut.
Tanpa mengatakan apapun atau pun menunggu pintu mobil dibukakan siapapun, aku langsung membukanya sendiri dan bergegas turun. Aku tidak ingin menanggapi perkataan Vernon tadi.
Aku bisa melihat bagaimana Vernon menatapku menjadi kesal karena aku seperti tidak memedulikan ucapannya dengan langsung turun dari mobil begitu saja. Bahkan dia sempat menatapku yang berjalan sendiri masuk ke dalam restoran dengan disambut pelayan restoran.
Ketika masuk ke dalam restoran aku sempat berhenti di depan pintu melihat seisi restoran. Tidak ada pengunjung lain di tempat ini. Bahkan hanya ada satu meja yang pastinya di khususkan untuk kami. Aku yakin kalau Vernon sudah menyewa semuanya untuk kami berdua saja, sehingga oleh mereka, meja lainnya disingkirkan dari sana untuk sementara.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Vernon yang sudah berada di sampingku dengan merangkul pinggangku dengan tangan kirinya.
"Aku belum bisa menilai sebelum merasakan makanannya." Jawabku sehingga Vernon tertawa kecil mendengar perkataanku.
"Silakan tuan dan nyonya." Seorang pelayan pria yang sejak tadi menyambut kehadiran kami mempersilakan kami menuju meja satu-satunya yang berada di tengah-tengah ruangan ini.
Vernon mengajakku berjalan ke meja tersebut dan mempersilakan diriku untuk duduk di kursi dengan memegangi kursinya saat aku duduk. Lalu dia sendiri duduk di kursi satunya, di hadapanku.
"Aku sudah memesankan makanan spesial untukmu. Semoga kau suka dan menikmatinya. Makanlah yang banyak, kita akan berjalan-jalan sebentar setelah ini. Jangan sampai perutmu kosong." Ujar Vernon dengan sebuah senyum hangat.
__ADS_1
Namun tiba-tiba handphone-nya berdering, dengan segera Vernon berjalan keluar untuk menerima panggilan telepon tersebut dan meninggalkan aku seorang diri di dalam restoran.
Mataku berputar mengelilingi setiap sudut restoran yang tampak sangat otentik ini. Restoran yang terkesan sederhana ini terasa nyaman karena nuansanya benar-benar menjadi ciri khas kota Genoa dengan pemandangan laut.
"Silakan nyonya." Si pelayan meletakan dua buah gelas kristal di meja dan menuangkan wine ke gelas aku dan Vernon tersebut.
"Maaf, aku sedang hamil, aku tidak meminum minuman beralkohol." Jawabku.
"Maafkan aku, nyonya." Ucap si pelayan setelah itu memanggil rekannya untuk memberikan gelasku agar disingkirkan dari meja.
"Suamiku bilang kalau pasta di restoran ini adalah yang terbaik di dunia. Sepertinya dia sering datang ke tempat ini. Apa itu benar?" Tanyaku menatap si pelayan yang sedang menuangkan wine ke gelas Vernon.
"Benar sekali nyonya, tuan Skjoldbjærg dulu sering datang ke sini. Tapi sudah sangat lama tuan tidak datang lagi hingga sekitar satu atau dua bulan lalu, tuan Skjoldbjærg datang kembali ke restoran ini." Jawab si pelayan setelah menuangkan wine-nya. "Mungkin sekitar sepuluh tahun lalu tuan sering datang ke sini bersama dengan nona De Angelis."
Mendengar nama yang disebutkan pelayan itu mengenai dengan siapa Vernon sering datang ke restoran ini, aku menjadi merasakan sesuatu yang tidak nyaman sekarang.
Pikiranku masih memikirkan mengenai Vernon yang sering ke tempat ini bersama Wynetta sehingga aku tidak menjawab ucapan pelayan itu.
Vernon dan Wynetta sering datang ke tempat ini, itu menggangguku sekarang. Seharusnya dia tidak mengajakku ke sini.
"Maafkan aku terlalu lama meninggalkanmu sendirian." Ucap Vernon yang kembali masuk setelah menelepon dan duduk di tempatnya.
Aku tidak menjawab dan hanya menatapnya saja. Namun aku berusaha untuk biasa saja. Seharusnya tidak masalah jika Vernon membawaku ke restoran ini. Tidak masalah jika dulu Vernon dan Wynetta sering ke sini. Aku terus berusaha memahami hal tersebut agar kenyataan tersebut tidak menggangguku sekarang.
"Ada apa? Kenapa wajahmu jadi tegang?" Tatap Vernon yang menyadari kalau saat ini aku menahan emosiku, entah emosi marah atau sedih. "Kau baik-baik saja, Viv?"
Tidak ada yang aku katakan, sejujurnya aku tidak bisa mengatakan apapun untuk menjawab perkataan Vernon karena jika saja aku membuka mulut kemungkinan amarah atau tangisku terlepas begitu saja. Hal itu yang mungkin membuat diriku menjadi tampak tegang.
__ADS_1
Rasanya kehamilanku membuat diriku benar-benar menjadi wanita yang sensitif sekarang.
Vernon beranjak dari duduknya dan mendekatiku. Dia berdiri di belakangku sambil memegang kedua lengan atasku dan mencondongkan badannya menatapku.
"Jangan seperti ini, Viv. Sudah aku bilang kau harus menjaga suasana hatimu." Ucap Vernon lebih terdengar seperti sebuah bisikan karena dia berbicara tepat ke telingaku. "Apa sebaiknya kita kembali ke hotel sekarang?"
Dengan segera aku menarik napas yang dalam dan melepaskannya secara perlahan untuk menghilangkan perasaan yang aku tahan.
"Tidak perlu." Jawabku. "Aku ingin mencicipi pasta di restoran ini."
Vernon mengusap-usap lenganku dan bisa aku rasakan dia mengecup kepalaku sebelum dirinya kembali duduk ke kursinya, dan meminum wine di gelasnya.
Tidak berapa lama tiga orang pelayan secara bergantian meletakan makanan ke meja hingga meja persegi yang ukurannya standar menjadi penuh dengan piring-piring yang berisi makanan.
Semua makanan yang tersedia terlihat sangat lezat, apalagi seafood-nya. Namun sayangnya aku tidak bisa mencicipinya.
"Makanlah, Viv. Nikmati semua pastanya. Kau pasti akan ketagihan. Ketika datang ke kota ini, restoran ini tempat yang pertama kali aku tuju." Ucap Vernon.
Dengan perlahan aku mulai menyuap Tortellini yang ada dihadapanku. Vernon menatapku seperti menunggu reaksi diriku setelah memakannya.
"Aku mengerti kenapa kau mengatakan pasta di sini adalah yang terbaik di dunia." Ujarku. "Aku jadi ingin mencicipi seafoodnya."
Vernon tersenyum mendengar perkataanku.
"Ya, kalau kau mau aku akan mengajakmu ke tempat ini sesering mungkin setelah kau melahirkan nanti." Jawab Vernon.
"Tidak, mungkin ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya aku ke restoran ini. Kita akan berpisah setelah aku melahirkan... dan aku tidak ingin ke tempat di mana kenanganmu bersama Wynetta berada." Ucapku dengan serius menatap Vernon.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...