PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
KEMBALI SEPERTI SEBELUMNYA


__ADS_3

Suara napas Vernon terdengar sangat tersengal-sengal saat memelukku dari belakang. Setelah lebih dari satu jam aku memberikan hal yang diinginkannya hingga beberapa kali ia merasa puas dengan semua yang aku lakukan.


Aku langsung turun dari tempat tidur hendak menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Namun Vernon tidak membiarkan aku pergi begitu saja. Ia menahanku dan bahkan membuatku berbalik kearahnya.


"Katakan padaku, kenapa kau tidak ingin memiliki anak dariku?" Tanya Vernon karena aku tidak membiarkan dirinya menanamkan benihnya padaku.


"Sudah aku katakan, aku tidak ingin terikat denganmu. Walaupun aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku setelah kau memintaku kembali, tapi aku akan membuatmu tidak akan pernah meninggalkan aku karena diriku dan bukan karena ikatan itu." Jawabku setelah itu menyingkirkan lengannya yang mengekang tubuhku agar tidak pergi.


Setelah membersihkan tubuhku, aku keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe, Vernon yang belum berpakaian sedang menuangkan wine ke gelas dan hendak meminumnya menatapku.


"Besok aku akan menemui Arthur dan Renata." Ujarku sambil hendak berjalan ke ruang pakaian. "Kita juga masih harus membatalkan sidang perceraian, bukan?"


Tiba-tiba Vernon menarikku lagi dan langsung melancarkan ciumannya padaku hingga ia kembali mencumbuku. Tampaknya pelayananku sudah membuatnya kecanduan.


Namun aku tidak akan mengikuti permainannya, akulah yang akan menguasai permainan sekarang. Dengan segera aku mendorong Vernon untuk menghentikan dirinya menyentuhku lagi.


Tapi seperti yang sudah aku kira Vernon tidak akan melepaskan aku begitu saja. Ketika aku hendak kembali masuk ke ruang pakaian, Vernon memelukku dan menciumku dari belakang.


"Apa kita harus berbulan madu setelah membatalkan perpisahan kita?" Bisiknya sambil memasukan salah satu tangannya ke dalam bathrobe yang aku kenakan.


Belum sempat aku menjawab, terdengar ketukan pintu. Vernon mendengus kesal karena merasa terganggu.


"Ada apa?" Tanyanya bertanya pada si pengetuk pintu.


"Nyonya, aku lupa memberikan handphone milikmu." Terdengar suara Esteban dari luar.


Vernon semakin kesal mengetahui siapa yang mengganggu dirinya. Tampaknya ia tidak membiarkan aku yang membuka pintu karena ia segera berjalan ke arah pintu tanpa memakai pakaian apapun, sedangkan aku memilih untuk segera masuk ke dalam ruang pakaian.


Namun fokusku teralih ketika mengingat sesuatu. Hal yang masih disimpan Vernon di balik lemari, sebuah figura besar dengan foto dari wanita yang masih membayang-bayanginya. Aku membuka pintu lemari yang menutupinya dan melihat beda itu masih tergantung rapi di sana.

__ADS_1


Melihat wanita di foto sedikit membuatku memikirkan perasaan bersalah padanya namun aku sudah memutuskan hal yang sebaliknya sekarang. Aku akan membuat Wynetta menghilang dari hati suamiku. Aku akan menyingkirkannya segera dengan pertama-tama aku harus menyingkirkan foto tersebut.


"Dia benar-benar mengganggu, dia menatapku seperti aku melakukan kesalahan dengan berduaan bersama istriku di kamarku sendiri." Seru Vernon mengejutkan aku.


Aku yang belum sempat menurunkan foto Wynetta menoleh padanya yang membawa handphone milikku berdiri di ambang pintu dan masih belum memakai pakaian.


Ia pasti sengaja menemui Esteban dengan tidak berpakaian seperti itu untuk memperlihatkan siapa dirinya di depan pemuda itu. Ya, ia pasti ingin menunjukkan kalau baru saja kami bercinta.


"Jangan bilang kalau kau pernah bercinta dengan bocah itu ketika di Venesia." Ujar Vernon dengan tatapan kesal.


"Mungkin suatu hari aku akan memintanya, dan aku yakin dia tidak akan menolakku." Jawabku dengan tidak bersungguh-sungguh.


Vernon tampak semakin kesal sambil berjalan mendekatiku. Ia langsung menarik tanganku ke atas dengan kasar seperti biasanya ketika dia sedang marah padaku.


"Jangan berkata seperti itu padaku kalau tidak ingin saat ini juga aku membunuh bocah itu!" Vernon menatapku dengan sangat kesal.


"Aku tidak peduli jika kau membunuhnya sekalipun." Jawabku menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya tidak ingin hal itu terjadi. "Sama halnya kau tidak peduli padaku saat melihat suamiku masih menggantung foto wanita lain dan masih terus menatapnya setiap saat."


"Aku tidak masalah selama ini, tapi sekarang aku mempermasalahkannya. Jangan melarangku berhubungan dengan siapapun yang aku inginkan jika kau masih menjadikan foto itu sesuatu hal yang berharga." Seruku dengan dingin. "Semuanya akan kembali seperti sebelumnya, aku akan melakukan semua yang aku suka jika aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan."


Aku segera mengambil pakaianku dan memakainya sedangkan Vernon masih tampak menahan emosinya karena tidak percaya dengan perkataanku. Ya, terlihat sekali kalau dirinya sedang bingung saat ini.


"Berpakaianlah, aku sangat lapar, kita akan makan malam bersama dengan yang lainnya." Setelah berkata demikian aku langsung keluar dari ruang pakaian.


Selama sepuluh menit Vernon berada di ruang pakaian ketika aku merias wajahku. Entah apa yang ia lakukan di sana saat ini, aku juga tidak peduli. Aku tidak menunggunya dan langsung keluar kamar untuk menuju meja makan.


"Sejak kapan kau di sini?" Aku terkejut ketika membuka pintu dan melihat Esteban berdiri di samping pintu kamar.


"Aku harus tetap menjaga nyonya meski nyonya berada di dalam kamar, makanya aku berjaga di luar." Jawab Esteban dengan sebuah senyum.

__ADS_1


"Kau sudah beristirahat?"


"Waktu istirahatku hanya malam hari ketika nyonya tertidur."


"Apa kau sudah lapar?" Tanyaku namun pemuda itu hanya tersenyum tanpa menjawab yang mengartikan jika dirinya memang sudah lapar. "Baiklah, ikutlah makan bersama kami di meja makan."


"Tidak nyonya, aku akan makan bersama dengan yang lainnya di dapur. Gloriana juga sudah memanggilku tapi aku hanya menunggumu hingga kau makan malam saat itu aku akan ke dapur." Ujar Esteban.


"Tidak, kau akan ikut makan bersamaku di meja makan." Seruku dan langsung berjalan. "Kau tidak boleh membantah nyonyamu."


Esteban mengikutiku berjalan menuju meja makan. Di meja makan hanya ada Olivia dan Alec yang terlihat sedang mengobrol.


Kedatanganku membuat Alec menatapku langsung dengan pandangan yang aku tahu kalau ia masih mencintaiku.


"Di mana Vernon, Viv?" Tanya Olivia saat aku duduk di kursi dihadapannya.


"Dia sedang bersiap-siap." Jawabku. "Duduklah, Est. Jangan hanya berdiri saja." Aku menoleh pada Esteban yang masih berdiri di belakangku.


Esteban tidak bergeming karena tatapan Olivia dan Alec padanya yang terlihat aneh karena dirinya hanya seorang anak buah yang tidak seharusnya ikut makan bersama kami.


"Ah, dia adalah Esteban, selama di Venesia dia menjagaku dengan sangat baik. Aku harap tidak masalah jika dia ikut makan bersama kita. Vernon juga tidak masalah dengan hal itu. Kau mengerti kan, Oliv?"


"Ba—baiklah. Kau bisa duduk Esteban." Jawab Olivia yang awalnya terlihat tidak suka namun sudah aku duga gadis itu tidak mungkin menolak perkataanku yang merupakan istri dari kakaknya, pemilik rumah ini.


Esteban segera duduk di kursi di sampingku, aku menoleh padanya saat ia duduk dan memberikan senyuman agar pemuda itu merasa nyaman.


"Vern, kami sudah menunggumu." Seru Alec dengan tatapan mengarah ke belakangku.


Aku segera menoleh dan melihat Vernon yang berdiri terdiam dengan raut wajah menahan rasa kesalnya menatap pada Esteban yang duduk di sampingku.

__ADS_1


"Cepatlah duduk sayang, aku sudah lapar." Seruku dan langsung mendapat tatapan marah dari Vernon.


...–NATZSIMO–...


__ADS_2