PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
PESTA ULANG TAHUN


__ADS_3

"Kau baik-baik saja, Viv?"


Pertanyaan Olivia membuyarkan lamunanku.


Aku menoleh pada kehadirannya yang ada di belakangku. Saat ini diriku sedang duduk menikmati waktu senja di balkon lantai tiga tempat biasa aku menikmati kesendirian diriku.


Sisa satu jam lagi ulang tahun suamiku namun dirinya belum juga datang. Sejujurnya aku sudah berharap ia tidak datang. Setelah aku meninggalkan Napoli, Vernon tidak menghubungiku. Nampaknya ia sangat menikmati waktunya dengan pelayan itu. Pelayan yang mirip dengan wanita yang ia cintai.


"Di luar sangat dingin, masuklah Viv, banyak tamu juga sudah datang. Mereka menanyakanmu." Ujar Olivia.


Bibirku menyunggingkan sebuah senyum pada Olivia. Pastinya ia tahu itu adalah sebuah senyuman kesedihan dari diriku.


"Baiklah, ayo kita temui para tamu." Jawabku seraya bangkit berdiri.


Setiap sudut rumah sudah dipenuhi banyak sekali tamu undangan. Mereka semua langsung menatapku pada kehadiran diriku. Dan aku, tentunya memulas senyum pada mereka semua.


"Aku minta maaf, suamiku sedang sangat sibuk saat ini hingga sampai sekarang dirinya belum sampai." Ucapku yang masih berdiri di ambang tangga, berbicara pada para tamu undangan. "Silakan, nikmati waktu anda semua." Sekali lagi aku tersenyum.


Langkahku kembali menaiki tangga, saat ini aku berniat menuju kamar dan berencana untuk berdiam diri di kamar saja. Aku rasa pesta sudah berakhir saat yang berulang tahun tidak ada. Ya tentu saja, ini adalah pesta ulang tahun, lalu bagaimana bisa acara dilaksanakan tanpa yang empunya acara?


"Nyonya, apa perlu aku menghubunginya?" Tanya Esteban yang selalu setia berada di belakangku.


"Tidak perlu." Jawabku. "Est, tolong panggilkan Gloriana. Aku akan menunggunya di kamar dan bilang padanya untuk membawakan aku sebotol vodka." Ujarku ketika berjalan menuju kamar.


"Baik nyonya." Jawab Esteban.


Di dalam kamar aku berjalan masuk ke dalam ruang pakaian. Langkahku perlahan dan langsung membuka lemari di mana sebelumnya berada figura Wynetta tergantung di dalamnya.


Saat ini sudah tidak ada apapun di dalamnya. Figura itu sudah tidak ada di sana, dan hanya ada bekas jejaknya yang menandakan kalau benda itu sudah tergantung lama di dalam lemari itu.


Terus saja aku tatapi bekas jejak itu seolah-olah figura itu masih tergantung di sana. Aku kembali teringat bagaimana Vernon menatap pelayan itu. Sudah dapat dipastikan mereka pasti bersama saat ini. Itulah yang aku pikirkan.


"Nyonya..." Terdengar suara Gloriana membuka pintu kamar.


"Aku di dalam sini." Jawabku masih tidak mengalihkan pandanganku dari dalam lemari.


"Nyonya, ini vodka yang nyonya inginkan." Ujar Gloriana memberikan aku sebotol vodka.


Aku menerimanya dan langsung membuka tutupnya. Secepatnya meminum minuman alkohol itu hingga setengah botol. Gloriana masih berdiri di belakangku.


"Apa ada yang nyonya butuhkan lagi?" Tampaknya Gloriana mengerti kenapa aku memanggilnya, karena pandanganku tetap tidak teralih dari tempat di mana dirinya menurunkan figura Wynetta.

__ADS_1


"Ke mana kau membawanya?" Tanyaku.


Gloriana tidak menjawab. Sepertinya dirinya tidak bisa menjawab pertanyaanku, atau ia tidak ingin menjawabnya.


"Aku tahu kau diminta Vernon untuk membawanya ke suatu tempat." Ujarku lalu menenggak vodka di tanganku.


Gloriana tetap diam. Aku jadi mengerti kenapa ia tidak ingin berkata apapun.


"Apa Vernon memintamu merahasiakannya?" Aku menoleh pada Gloriana dengan tatapan tajam. "Baiklah, kau boleh pergi."


Sepeninggalan Gloriana aku menghabiskan minumanku dengan pandangan sedikit kunang-kunang. Namun aku sama sekali belum mabuk, aku bahkan masih bisa merasakan kesedihanku saat ini


"Nyonya baik-baik saja?" Tatap Esteban ketika aku memutuskan untuk keluar kamar.


Saat ini sudah jam tujuh malam, waktu yang seharusnya acara ulang tahun Vernon dimulai. Aku ingin ke suatu tempat saat ini.


"Hati-hati nyonya." Esteban memegang pinggangku ketika aku sedikit goyah karena pandangan yang kunang-kunang.


Aku hanya tersenyum sambil menyingkir dari lengan pemuda itu, dan berjalan kembali menuju tangga.


Tamu undangan sudah semakin ramai saat ini. Ketika diriku berada di atas tangga dan hendak turun, tiba-tiba pintu rumah terbuka dan muncul sosok yang aku tunggu.


Semua tamu langsung menoleh padanya. Vernon berjalan menaiki tangga menghampiriku yang masih berdiri di tengah tangga menatap kehadirannya.


Aku merasa ucapannya hanyalah basa-basi saja sehingga tidak ingin menanggapinya.


Vernon merangkul pinggangku dengan berdiri di samping kanan diriku.


"Maaf, karena terlalu sibuk aku jadi sedikit terlambat." Serunya pada para tamu undangan. "Sebelumnya aku berterimakasih karena kalian semua meluangkan waktu untuk datang ke acaraku ini. Silakan nikmati jamuan yang sudah tersedia. Sekali lagi aku berterimakasih." Vernon mengangkat segelas anggur ke arah tamu undangan dan setelah itu meminumnya.


Vernon membawaku untuk menemui beberapa tamu dan berbincang dengan mereka sejenak. Aku mengikuti alurnya dengan baik dan menunda keinginanku untuk ke suatu tempat saat ini.


"Vern, selamat ulang tahun. Kalian tampak sangat bahagia." Seru Sesya memeluk Vernon dan setelah itu memelukku. "Maaf, aku terlambat."


"Tidak masalah, acara juga baru dimulai." Jawab Vernon. "Baiklah, aku akan menemui yang lainnya. Kalian bisa berbincang sebentar."


Setelah berkata demikian Vernon melangkah pergi dan menemui tamu lainnya.


"Ada apa denganmu, Viv?" Tanya Sesya yang aku sangat yakin dirinya pasti mengetahui keadaanku saat ini. "Kau terlihat tidak bahagia."


"Aku hanya sedikit mabuk setelah meminum sebotol vodka." Jawabku menyunggingkan bibirku.

__ADS_1


"Vodka? Ada apa? Kenapa kau minum?" Tanya Sesya heran. "Pasti terjadi sesuatu kan? Kau baik-baik saja?"


"Ya, aku rasa aku baik-baik saja." Jawabku dengan tersenyum pada Sesya. "Art dan Renata tidak datang?"


"Mana mungkin kakakmu datang. Bagaimana pun hubungannya dengan suamimu tidak baik kan?" Ujar Sesya. "Dan sepertinya mereka juga sedang pergi ke luar negeri."


"Aku berharap bertemu Renata saat ini." Ucapku. Aku menoleh pada Esteban yang masih berada di belakangku. "Est, pergilah, nikmatilah pestanya."


"Tidak nyonya." Jawab Esteban.


"Pergilah, nanti aku akan mencarimu ketika membutuhkanmu." Seruku.


"Baik, nyonya." Jawab Esteban setelah itu melangkah pergi meninggalkan aku dan Sesya.


"Sepertinya pemuda itu sangat setia padamu." Ujar Sesya. "Apa dia menyukaimu?"


Aku hanya tertawa kecil mendengar ucapan Sesya. Aku ingin pergi ke suatu tempat saat ini sehingga aku tidak ingin Esteban bersama denganku.


"Kau jangan berselingkuh dengannya ya, Viv. Dia terlihat masih sangat muda." Seru Sesya. "Wajahnya juga tampan. Apa aku harus menggodanya?"


"Ses, aku akan ke kamar kecil sebentar." Ujarku tanpa mau menanggapi ocehan Sesya.


"Kau minum banyak sekali ya sampai ingin ke kamar kecil." Gumam Sesya.


Aku tidak menggubrisnya dan langsung berjalan menuju suatu tempat. Tempat itu berada di lantai satu rumah ini. Jauh dari tempat acara pesta di adakan.


Seperti yang sudah aku duga, tempat itu pun masih dijaga oleh anak buah Vernon. Seorang penjaga berdiri di depannya.


"Biarkan aku masuk." Seruku pada si penjaga.


"Maaf nyonya, anda dilarang masuk." Jawabnya.


Dengan cepat aku mengambil pistol yang penjaga itu sembunyikan di pinggangnya. Si penjaga tampak panik.


"Buka pintunya!!" Seruku lagi sambil mengarahkan pistol tersebut pada diriku sendiri, ke sisi keningku.


Melihatnya mau tidak mau si penjaga menuruti perkataanku. Ia langsung membuka pintu yang terkunci. Aku membuka pintu ruang kerja Vernon dan dugaanku benar.


Figura Wynetta terpajang di dinding belakang meja kerja Vernon.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1



__ADS_2