PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
BERBULAN MADU SINGKAT


__ADS_3

"Bagaimana persiapan perayaan ulang tahun Vernon, Viv?" Tanya Olivia ketika aku dan dirinya sedang duduk bersama di ruangan keluarga menikmati red wine ketika sore hari.


Setelah kembali dari Venesia aku memutuskan untuk menjalin hubungan baik dengan Olivia yang malang. Beberapa kali kami minum bersama ataupun hanya sekedar berbincang.


"Aku rasa semuanya sudah siap tiga hari yang lalu. Besok lusa sudah acaranya, aku harus mempersiapkannya dengan sangat cepat, bukan begitu?" Ujarku setelah itu membasahi bibirku dengan red wine.


"Seharusnya adakan acaranya tidak di rumah Viv, adakan di hotel atau dimanapun." Ucap Olivia.


"Aku juga inginnya begitu, tapi Vernon mau jika acara diadakan di rumah." Jawabku. "Ini ulang tahunnya, sebaiknya aku mengikuti keinginannya."


"Pergi kemana dia saat ini, Viv?"


"Dia bilang akan menemui paman kalian. Sejak pagi dia pergi, seharusnya dia sudah pulang sekarang." Jawabku sambil meletakan gelas ke meja. "Oliv, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Tapi sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, karena aku yang membuatmu lumpuh dan tidak bisa berjalan."


Mendengar perkataanku membuat Olivia menundukan kepalanya. Jika dilihat raut wajahnya ia terlihat menghindari tatapanku.


"Ada apa Oliv? Apa kau tidak ingin memaafkan aku? Ya, aku tahu mungkin kata maaf saja tidak bisa merubah segalanya." Ujarku dengan wajah serius. "Tapi apa kau bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, Oliv?"


Olivia terdiam, ia sama sekali tidak berani melihat padaku. Aku tahu ada sesuatu yang dirinya sembunyikan saat ini. Tidak, maksudku sesuatu yang ia sembunyikan selama ini.


Aku kembali teringat sebuah mimpiku yang di mana aku mendengar percakapan dirinya bersama dengan Alec sepuluh tahun lalu.


Saat itu aku yakin sekali kalau mereka berdua berada di taman rumahku. Olivia yang berusia sama denganku waktu itu terdengar menyatakan cintanya pada Alec.


Ya, aku mendengar sangat jelas karena waktu itu aku berdiri di atas balkon di mana mereka berdua berada di bawahnya.


Namun pernyataan cinta Olivia langsung ditolak Alec dengan satu kalimat yang membuat aku terkejut.


"Aku menyukai Vivian." Ucap Alec pada Olivia.


Ketika bangun dari tidurku waktu itu, aku merasa semuanya semakin rumit. Ternyata Alec yang menyukai diriku sejak dulu sedangkan waktu itu aku hanya menyukai Vernon, mungkin karena itu perasaan cintaku pada Alec pun pudar. Sebab itu juga aku ingin menjalin hubungan baik dengan Olivia karena sejak dulu wanita yang mencintai Alec adalah dirinya.


"Tapi kau tenang saja, akhirnya kau akan menikah dengan pria yang selalu kau cintai kan?" Aku memulas senyum pada Olivia.

__ADS_1


Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatapku. Raut wajahnya terlihat muram, mungkin menahan rasa sedihnya dengan apa yang aku perbuat padanya.


"Viv, mengenai sepuluh tahun lalu, kau tidak perlu meminta maaf padaku." Ucap Olivia.


Aku cukup terkejut mendengar perkataan Olivia. Bagaimana mungkin aku tidak perlu minta maaf padanya? Dirinya menjadi cacat karena ulahku dulu. Sekarang aku semakin tidak mengerti mengenai diri gadis yang duduk di hadapanku saat ini. Atau pada dasarnya Olivia adalah gadis yang baik sehingga ia tidak lagi menyalahkan diriku.


"Apa maksudmu?" Tatapku bingung.


"Nyonya, tuan sudah pulang dan mencari nyonya. Saat ini tuan sudah berada di kamarnya." Seru Gloriana yang tiba-tiba masuk ke ruangan di mana aku dan Olivia menghabiskan waktu bersama.


Segera aku berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk ke kamarku menemui Vernon.


Vernon menoleh padaku ketika aku masuk ke kamar, ia sedang membuka kancing kemejanya setelah itu meminum segelas air putih di bupet.


"Kau sudah pulang?" Aku berjalan masuk mendekatinya. "Kenapa kau mencariku?"


"Aku akan ke Napoli. Paman memintaku ke sana." Jawab Vernon sambil melepas kemejanya karena dirinya berkeringat saat ini.


Tentu saja aku tidak senang karena aku sudah susah payah menyiapkan pesta perayaan ulang tahunnya tapi dirinya malah ingin pergi begitu saja.


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan lama." Jawab Vernon sesekali menoleh padaku karena saat ini dirinya menuang Sampanye ke gelas. "Besok aku akan pulang." Vernon melingkarkan lengannya ke pinggangku dan berbicara sangat dekat sambil meminum sampanye-nya.


"Ya, kau harus pulang sebelum pesta ulang—"


Vernon lebih dulu menciumku sebelum aku mengatakan apa yang ingin aku ucapkan. Setelah itu ia mendekatkan kepalanya ke samping kepalaku dengan mendaratkan kecupan ke bawah telinga kananku.


"Kau ingin ikut denganku atau menikmati waktumu tanpaku di sini?" Tanya Vernon berbisik.


Aku menoleh padanya dan langsung membalas ciumannya. Tentu saja aku akan ikut dengannya. Tidak mungkin aku membiarkannya kemanapun sendirian tanpa diriku.


"Sepertinya kita harus berbulan madu singkat saat di Napoli." Ujar Vernon dan membuatku tersenyum.


Hari ini juga aku dan Vernon berangkat ke Napoli, kota terbesar ketiga setelah Roma dan Milan. Kota yang menjadi kekuasaan dari Camorra. Di mana Godfather Camorra yaitu paman Vernon sendiri Felipe Camorra tinggal.

__ADS_1


Esteban tetap ikut denganku walau saat ini dirinya berada di markas terbesar dari Camorra. Ya, sebagai anak buah La Nostra, Esteban mendapatkan tatapan mencurigakan dari beberapa penjaga.


"Vivian, apa kabar? Aku menyesal mendengar apa yang terjadi enam bulan lalu." Seru Licciardi, istri dari Felipe yang merupakan kakak dari ibu Vernon.


"Semua sudah berlalu, aku sudah baik-baik saja saat ini." Jawabku dengan senyum ramah.


"Baiklah, ikutlah bersamaku, kita akan menghabiskan waktu bersama ketika para pria membahas sesuatu yang membosankan. Bukan begitu Vern?" Licciardi melirik pada Vernon.


"Ya, asal jangan terlalu lama. Setelah ini kami akan pergi ke hotel untuk berbulan madu." Jawab Vernon.


"Aku pikir kalian akan tinggal di sini?" Tanya Felipe yang sejak awal hanya duduk di sofa.


"Banyak hal yang harus kami lakukan." Jawab Vernon sambil berjalan duduk di sofa.


Licciardi membawaku berkeliling rumahnya yang terlihat seperti sebuah bangunan gereja yang memiliki luas bangun yang sangat luas. Bahkan halamannya pun lebih luas dari rumah Arthur dan rumah Vernon.


"Rumah ini terlalu besar jika ditinggali kami berdua. Bukan begitu, Viv?" Tanya Licciardi sambil menoleh padaku.


"Pada dasarnya seperti itu, tapi saat kita tinggal bersama dengan seseorang yang kita cintai dan orang itu mencintai kita juga, itu bukan masalah kan?" Ujarku.


"Ya kau benar." Jawab Licciardi. "Ngomong-ngomong apa dia harus tetap mengikuti kita saat di sini juga?" Wanita berusia sekitar 52 tahun itu menoleh pada Esteban yang berjalan di belakangku.


Aku tersenyum mendengarnya.


"Ya tidak masalah, asal kau jangan berkhianat." Ujar Licciardi pada Esteban. "Viv, apa kau tahu mengenai orang tua kandung suamimu?" Wanita itu menatap padaku.


Aku tidak tahu apapun mengenai hal tersebut. Karena itu pertanyaan Licciardi membuat aku penasaran mengenai siapa orang tua Vernon.


"Apa kau bisa memberitahuku?" Tatapku penasaran.


"Orang tuamulah yang membunuh kedua orang tuanya." Jawab Licciardi.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2