
Tatapan dingin Vernon terpancar dari wajahnya saat Esteban memegang pundakku dan berdiri di sampingku dengan agak sedikit maju, mendekat pada Vernon. Ia bisa melihat bagaimana tatapan tajam pemuda itu mengarah padanya.
Vernon mendengus dengan sedikit tertawa melihat tingkah Esteban. Ia pasti sangat kesal saat ini, itu terlihat jelas diwajahnya.
"Est, sudah aku bilang aku tidak perlu dijaga lagi." Ucapku agar Esteban mundur dan mengurungkan niatnya untuk pergi bersama kami. "Kau bisa pulang ke rumahmu. Kau juga tidak perlu masuk ke dunia—"
"Tidak nyonya! Aku akan tetap bersama denganmu. Aku akan menjagamu dari siapapun." Jawab Esteban matanya masih mengarah tajam ke Vernon yang juga menatapnya.
"Esteban, tetaplah di sini. Kau bisa berada di sini menjagaku atau kembali pada Arthur." Seru nenek yang berjalan mendekat pada kami.
"Baiklah, kau boleh ikut bersama dengan kami. Silakan kalau kau mau menjaga nyonyamu, aku tidak keberatan." Ujar Vernon dengan sebuah senyum, namun senyum tersebut terlihat rasa tidak senang dirinya pada Esteban.
"Est, sebaiknya kau—"
Esteban langsung berjalan membawa koperku menuju helikopter, tidak memedulikan apa yang hendak aku katakan padanya.
"Bagaimana? Kita berangkat sekarang?" Vernon menatapku. "Atau kau menungguku untuk menggendongmu seperti biasanya?"
"Aku rasa kau tidak perlu melakukannya lagi, aku akan meminta Esteban jika aku ingin digendong. Dengan senang hati dia akan menurut pada permintaan nyonyanya bukan?" Jawabku dengan tatapan dingin pada Vernon dan setelah itu melangkah meninggalkannya.
Dibelakang aku bisa mendengar Vernon mendengus kesal dengan tertawa setelah aku mengatakan hal tersebut padanya.
Ya seperti Vernon, teruslah kesal agar aku bisa membuatmu merasa aku bukanlah milikmu melainkan kau lah milikku. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku dalam waktu singkat.
Setelah helikopter mendarat dan tiba di halaman rumah, aku berjalan di samping Esteban sedangkan Vernon lebih dulu berjalan di depan kami.
"Seharusnya kau mendengar perkataanku, ini masih belum terlambat untukmu pergi. Seperti yang kemarin aku bilang, sebaiknya kau berkuliah. Kau bisa menjadi dokter seperti cita-citamu, Est." Ujarku sesekali menoleh pada pemuda yang berjalan di samping kiri diriku.
"Diamlah, nyonya! Sudah aku bilang aku akan menjagamu." Jawab Esteban dengan wajah kesalnya padaku. "Kalau perlu aku akan membawamu pergi dari sini."
Aku tertawa mendengar ucapannya. Seperti kemarin, aku pun tidak menganggap perkataannya dengan serius. Esteban pasti hanya bergurau untuk membuatku tertawa.
"Viv, kau kembali?" Tanya Olivia ketika kami masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di sampingnya berdiri Alec yang menatapku dengan sangat lekat. Aku hanya melihatnya sekejap dan langsung melihat pada Olivia, tidak ingin berkontak mata dengan pria yang dulu aku sangat cintai.
"Ya, ada yang memohon agar aku kembali padanya." Jawabku dengan sebuah senyum pada Olivia. "Di mana Vegard? Aku tidak melihatnya."
"Lima bulan lalu dia kembali ke Oslo, minggu depan dia akan datang lagi untuk acara pernikahan aku dan Alec." Ucap Olivia.
"Aku senang acara itu semakin dekat, Oliv." Ujarku setelah itu melangkah pergi dan diikuti oleh Vernon serta Esteban.
Kami menaiki tangga untuk menuju kamar kami, Gloriana datang menghampiri kami setelah Vernon memanggilnya saat kami berada di depan pintu kamar.
"Nyonya, syukurlah nyonya kembali." Tersungging sebuah senyuman di wajah keriput Gloriana menatapku. "Aku sangat bersedih saat nyonya kehilangan bayi nyonya."
"Ya, siapapun pasti akan bersedih kecuali aku. Bukan begitu, Vern?" Aku menoleh pada Vernon dengan dingin.
"Gloriana, bersihkan kamar tamu di lantai bawah untuknya." Ujar Vernon melirik pada Esteban yang masih bersama kami.
"Lantai bawah?" Tanya Esteban terlihat tidak suka.
"Ada apa? Apa kau juga mau tidur bersama kami?" Ya, kau bisa tidur di tengah-tengah antara kami." Tatap Vernon pada Esteban.
"Gloriana, persiapkan kamar di sebelah saja untuknya." Ucapku menyetujui permintaan Esteban.
Mendengar apa yang aku katakan Vernon bergegas masuk ke kamar dengan membanting pintu. Aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya.
"Kau bisa istirahat setelah kamarnya siap, Est." Senyumku pada Esteban setelah itu mengambil koper yang aku bawa dari tangannya.
Segera aku membuka pintu kamar dan masuk. Seperti yang sudah bisa aku kira, Vernon langsung menarikku dan memojokkan diriku ke tembok. Tatapannya kesal padaku namun aku memberikan tatapan dengan senyum mengejek padanya.
"Aku tahu kau sengaja membuatku kesal, kan?" Seru Vernon menatap dekat padaku.
"Dan yang terjadi sesuai dengan keinginanku." Aku tersenyum merasa menang.
Vernon tertawa mendengar jawabanku setelahnya kembali menatapku dengan tajam.
__ADS_1
"Kau benar-benar memanfaatkan bocah itu, Viv." Ujar Vernon tangan kanannya memegang wajahku dengan agak menekannya.
"Seperti biasanya, aku selalu memanfaatkan apapun dengan baik. Kau pun juga tahu itu kan?" Jawabku tersenyum.
Vernon langsung menciumku, dan aku menyambutnya dengan senang hati. Kami berciuman dengan penuh semangat bergairah hingga pastinya kami melanjutkannya di atas tempat tidur.
Vernon sama sekali tidak melepaskan bibirnya dari bibirku. Ia terus menciumku dan mulai mencoba melepaskan pakaianku namun aku memegang tangannya agar ia tidak melakukannya. Dirinya yang mengungkungku pun aku dorong hingga ia melepas ciumannya dengan tatapan yang merasa heran karena aku menghentikan niatnya untuk bercinta.
"Ada apa? Kenapa kau menghentikan aku?" Tanya Vernon yang masih berada di atasku di tempat tidur.
"Menyingkirlah, aku tidak ingin melakukannya." Seruku dengan dingin.
Vernon tertawa mendengar perintahku. Tawa dengan penuh rasa kesal kepadaku. Ya, bagaimana tidak, aku tahu ia sudah sangat ingin melakukannya, ia sudah sangat berhasrat untuk bercinta tapi aku malah menghentikannya begitu saja.
"Apa kau sangat ingin memiliki anak dariku, Vern?" Tanyaku. "Tapi sekarang aku tidak menginginkannya. Aku tidak ingin memiliki anak darimu agar aku tidak terikat padamu. Jadi aku akan menunggumu sampai kau sendiri yang akan meninggalkan aku. Ah, tidak... Kau tidak akan meninggalkan aku. Aku akan membuatmu tidak akan bisa meninggalkan aku."
Aku menarik tubuh Vernon untuk memeluknya dan langsung mendorongnya dengan tubuhku hingga berputar dan menjadi dirinya yang berbaring dibawahku.
Vernon tertawa melihatku yang menduduki tubuhnya. Akan tetapi tidak ada yang dilakukannya, ia bersikap seperti menunggu apa yang akan aku lakukan. Namun aku diam saja menatap padanya yang ada dibawahku.
"Ada apa lagi? Apa yang kau tunggu?" Tanyanya mulai tidak sabar. "Cepat lakukan apa yang harus kau lakukan."
"Tidak, aku tidak akan melakukannya." Jawabku. "Aku tidak akan melakukannya kalau kau tidak memohon padaku. Memohonlah Vern, kau harus memohon padaku agar aku mau melakukannya." Tatapku dengan sebuah senyum.
Sekarang yang aku inginkan adalah mengendalikan dirinya. Vernon harus mengikuti semua yang aku katakan. Aku pasti akan membuatnya menjadi milikku sepenuhnya.
"Baiklah." Jawab Vernon dengan tatapan serius. "Aku mohon lakukan Viv, aku ingin bercinta denganmu."
"Kau bilang apa? Aku tidak mendengarnya. Katakan sekali lagi dengan suara yang lebih keras agar aku bisa mendengarnya." Seruku.
"Aku mohon bercintalah denganku, Viv." Ucap Vernon.
Mendengarnya aku memberikan senyuman kemenanganku padanya.
__ADS_1
...–NATZSIMO–...