PENEBUS DOSA SANG MAFIA

PENEBUS DOSA SANG MAFIA
PESTA KAPAL PESIAR


__ADS_3

"Sesya bilang kalau Alec meneleponnya beberapa kali untuk menanyakan mengenai perancang gaun pernikahan." Ucapku mengarang cerita.


Vernon duduk di sisi kiri tempat tidur dan menatapku. Aku tidak tahu apa dia mempercayai perkataanku atau tidak.


"Kau sudah merasa lebih baik sekarang?" Tanya Vernon yang tidak membahas mengenai Alec lagi dan itu membuat aku lega.


Vernon naik ke tempat tidur dan duduk bersandar di sampingku. Dia melepaskan semua kancing kemeja hitamnya. Aku menoleh padanya yang terlihat sangat lelah karena sejenak dirinya menutup mata.


"Kau baik-baik saja?" Tanyaku.


"Ya, aku hanya sedikit merasa lelah." Jawab Vernon lalu membuka matanya. "Aku ingin segera meninggalkan kota ini."


Aku tidak mengatakan apapun lagi dan langsung bangun dari posisi berbaring untuk duduk. Aku berniat untuk bersiap-siap mulai dari sekarang karena acara pesta akan dimulai sekitar pukul enam sore.


"Kau mau kemana?" Tanya Vernon saat aku menurunkan kakiku ke lantai berniat turun dari tempat tidur.


"Aku akan mulai bersiap-siap untuk ke acara itu." Jawabku yang memunggungi Vernon.


"Viv, tujuanku membawamu ke restoran itu hanya karena ingin kau merasakan pasta tempat itu. Aku tidak berpikir hal yang lainnya." Ujar Vernon. "Aku tidak tahu kalau kau akan menjadi salah sangka seperti itu."


Aku menoleh pada Vernon, menatapnya. Sejujurnya aku sudah tidak ingin membahas hal tersebut karena sejak awal memang hanya diriku yang merasa salah sangka atau pun terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting.


"Kau bilang wanita hamil lebih sensitif kan? Kalau begitu kau tidak perlu memikirkan semua perkataanku." Jawabku.


"Aku hanya tidak ingin kau berpikiran seperti yang kau pikirkan." Ujar Vernon.


"Sudahlah." Seruku. "Kau lelah kan? Kau bisa istirahat satu jam karena pria tidak membutuhkan waktu yang lama ketika akan pergi ke pesta."


Vernon sedikit tertawa mendengar perkataanku. Ketika aku hendak berbalik kembali, Vernon memegang lenganku membuat aku menatapnya lagi.


"Temani aku beristirahat sejenak, Viv." Tatap Vernon. "Kemarilah."


Tanpa berpikir apapun, aku memenuhi permintaannya dengan kembali naik ke atas tempat tidur dan langsung masuk ke dalam pelukan hangat suamiku, Vernon.


"Kau harus terus menjaga suasana hatimu dengan baik, Viv. Itu bagus untuk anak kita dan juga untukmu sendiri." Bisik Vernon setelah itu mencium bibirku.

__ADS_1


Kapal pesiar milik Costa Crociere S.p.A adalah yang terbesar di Italia. Selain itu kapal tersebut merupakan kapal yang mewah dan menjadi satu-satunya perusahaan yang memiliki kapal pesiar seperti itu di negara ini.


Dengan penjagaan yang ketat, aku dan Vernon menaiki kapal pesiar tersebut di mana acara pesta diadakan. Banyak sekali tamu undangan yang hadir di dalam pesta, dan sebagian besar adalah para pengusaha di Genoa.


Kedatangan kami menjadi sorotan semua pasang mata di kapal ini. Setidaknya, Vernon membawa lima anak buahnya masuk ke dalam pesta, termasuk dengan Pablo yang diminta Vernon agar tidak menjauh dariku sedetikpun.


Vernon selalu berada disampingku setiap kali dirinya menghampiri atau pun di hampiri oleh para tamu di pesta. Sejujurnya aku sudah merasakan sedikit lelah karena terus berdiri hampir satu jam.


"Vern, aku sudah mulai lelah." Bisikku ketika Vernon sedang berbicara dengan salah seorang pengusaha.


Vernon mengakhiri perbincangan tersebut dan berjalan ke sudut ruangan untuk menanggapi perkataanku.


"Kau ingin pulang sekarang?" Tanya Vernon.


"Halo, tuan Skjoldbjærg."


Belum sempat aku mengiyakan pertanyaan Vernon, seorang pria setengah tua dengan kepala yang sudah tidak memiliki rambut menyelaku dengan langsung bersalaman dengan Vernon.


"Tuan Crociere, apa kabar?" Mau tidak mau Vernon menyambut tangan pria tersebut.


"Tentu saja baik." Senyum Crociere. "Tuan Skjoldbjærg, kami ucapkan terimakasih sekali lagi atas bantuanmu tempo hari."


"Kau tidak perlu terus menerus berterimakasih, Tuan Crociere." Jawab Vernon dengan senyum ramah.


"Nyonya Skjoldbjærg, apa yang terjadi? Kau tampak tidak baik-baik saja?" Pria yang bernama Crociere, sama seperti nama perusahaannya itu menatapku dengan heran. "Aku dengar nyonya Skjoldbjærg sedang hamil, apa karena itu kau terlihat pucat?"


"Benar tuan Crociere, istriku sudah merasa lelah, sepertinya kami juga sudah harus segera kembali ke hotel untuk istirahat." Jawab Vernon. "Dan lagi aku juga sudah bertemu denganmu."


"Kenapa harus secepat ini? Padahal sebentar lagi kembang api akan dihidupkan. Ya, lebih baik nyonya Skjoldbjærg menghirup udara di geladak utama sambil melihat kembang api yang akan menghiasi langit malam ini."


Berdua dengan Vernon, aku berjalan keluar kapal pesiar ini menuju geladak utama yang dimaksud untuk menghirup udara segar. sebelumnya, Vernon bertanya padaku apakah aku ingin kembali ke hotel atau mengikuti saran si pemilik kapal.


Tentu saja aku memilih tetap berada di kapal pesiar ini untuk waktu yang sedikit lama. Aku ingin melihat pemandangan tengah laut sekaligus melihat kembang api di langit saat berada di atas kapal ini.


Angin terasa begitu kencang menerpaku ketika kami sampai di geladak utama. Gaun putih dengan seutas tali membuat tulangku yang terkena angin serasa tertusuk.

__ADS_1


Tanpa diminta, Vernon melepas jas hitamnya dan memakaikannya ke pundakku untuk menutupi tubuhku dari deruan angin laut yang sangat menusuk ini.


"Anginnya sangat kencang tapi udaranya terasa sangat segar." Ucapku memperhatikan ke sekeliling laut yang terlihat hanya kegelapan saja.


"Di sini sangat dingin, Viv. Kau baik-baik saja? Apa tidak masalah?" Tanya Vernon tetap saja khawatir walau sudah diberikannya jas miliknya itu padaku.


"Tidak masalah, aku menjadi merasa senang saat berada di sini sekarang." Jawabku tersenyum menoleh pada Vernon yang berdiri di belakangku. "Kapan kembang apinya akan diluncurkan?"


Di waktu yang bersamaan, muncul kembang api yang dihidupkan dari arah bagian belakang kapal pesiar ini. Aku kembali membelakangi Vernon untuk melihat kembang api yang jumlahnya sangat banyak itu menghiasi langit ditengah laut. Melihatnya membuat diriku semakin merasa senang saat ini.


Vernon yang berada di belakangku memelukku. Aku membiarkannya karena sepertinya dirinya kedinginan merasakan deruan angin yang sangat kencang. Tak ada yang diucapkannya dan hanya mendekapku dari belakang.


Hampir lima belas menit kembang api menghiasi langit membuat langit sangat indah. Aku merasa beruntung datang ke kapal pesiar ini dan melihat pemandangan langit yang menakjubkan barusan.


"Kau senang?" Bisik Vernon.


Aku tidak langsung menjawab dan memutar tubuhku hingga berhadapan dengan Vernon. Dia menatapku dengan sebuah senyum simpul.


"Aku senang." Jawabku juga dengan senyum.


Vernon langsung menciumku, dan aku benar-benar senang sekarang. Tampaknya suasana hatiku semakin membaik. Datang ke pesta ini adalah keputusan yang tepat untuk kami berdua.


"Viv, ada yang ingin aku katakan padamu." Ucap Vernon dengan tatapan serius.


Melihat keseriusannya menatapku membuat aku menjadi penasaran mengenai hal apa yang akan dikatakan Vernon padaku. Aku menunggunya melanjutkan perkataannya dengan sedikit tidak sabar.


Namun tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari dalam kapal pesiar. Suara orang-orang berteriak dengan diiringi suara tembakan yang banyak.


Vernon langsung merangkulku ketika keempat anak buahnya beserta Pablo berlari ke arah kami.


"Tuan, sepertinya Sacra Unita menyerang." Seru salah seorang anak buah Vernon.


Mendengarnya, Vernon menatapku dengan ke khawatiran.


...–NATZSIMO–...

__ADS_1


__ADS_2