
Suara kegaduhan terdengar dari ruang acara berlangsung. Aku dan Renata sangat terkejut. Dengan sigap Renata membuka gaun bagian bawahnya dan mengambil senjata yang disembunyikannya di paha kanannya di dalam gaun.
"Apa yang terjadi, Ren?" Tanyaku dengan takut.
Penjaga yang berjaga di luar toilet membuka pintu namun tidak berapa lama dia tertembak dan langsung mati di tempat. Renata menarikku untuk bersembunyi ke balik tembok samping pintu masuk. Terdengar langkah beberapa orang mendekat namun tidak berapa lama suara tembakan yang sangat banyak terdengar.
"Ren, kau di dalam?" Suara Arthur terdengar dari arah luar.
Renata melangkah ke arah pintu dan aku mengikutinya. Arthur datang bersama beberapa anak buahnya.
"Apa yang terjadi, Art? Dimana Vernon?" Tanyaku dengan bingung.
"Sebaiknya kita cepat keluar dari sini. Foggiana sudah mengirim pembunuh bayaran untuk membunuh Simon." Seru Arthur sambil memegang lengan Renata. "Ikutlah denganku, Viv."
"Dimana Vernon?" Tanyaku dengan perasaan khawatir.
"Dia dan anak buahnya masih berada di dalam kekacauan. Saat penyerangan Simon bersama dengannya. Tampaknya dia berusaha melindungi Simon dengan anak buahnya, kemungkinan Simon meminta perlindungan darinya sebelum ini." Jawab Arthur. "Ikutlah bersama kami, Viv."
Aku tidak mendengarkan perkataan Arthur dan memilih langsung berlari untuk menuju ruang acara dimana saat ini masih terdengar suara beberapa kali tembakan. Aku tidak peduli pada Arthur maupun Renata yang memanggilku.
Dengan berani aku masuk tanpa memikirkan apapun hingga sebuah tembakan mendarat di bagian perut kiri. Seketika aku langsung terjatuh. Aku bisa mendengar Vernon berteriak memanggil namaku dan beberapa tembakan terdengar lebih keras saat Vernon berlari ke arahku yang sudah terjatuh ke lantai yang dilapisi karpet merah. Rasa sakit luka tembak di perutku membuat pandanganku gelap namun sebelum pandanganku hilang sepenuhnya, Arthur muncul bersama anak buahnya menembaki orang-orang yang mencoba menembak Vernon.
"Kau sangat tampan, aku mencintaimu. Kenapa bukan kau yang akan menjadi tunanganku?" Aku berkata pada seseorang yang berdiri dihadapanku saat ini. "Aku tahu kau dan gadis itu saling mencintai tapi dia dan kakakku sudah bertunangan."
Lawan bicaraku saat ini tidak menjawab apapun dan hanya berdiri dihadapanku. Bahkan aku tidak bisa melihat wajahnya saat ini karena cahaya matahari menyilaukan mataku ketika aku mengangkat kepala untuk melihat padanya.
__ADS_1
Tiba-tiba aku membuka mata dengan napas yang terengah-engah, dan mataku terasa sakit karena tertusuk cahaya lampu. Saat ini aku sedang berbaring dan baru saja tersadar. Seseorang berdiri di sisi kananku namun sesaat karena mataku yang masih buram aku tidak bisa melihat siapa dia.
"Kau baik-baik saja?" Tanya orang itu, mendengarnya bersuara aku jadi tahu kalau itu adalah Vernon.
Pandanganku mulai kembali seperti semula dan melihat Vernon menatapku. Aku berada di rumah sakit saat ini. Perutku yang tertembak masih terasa sakit saat aku hendak bangun dari tidurku.
"Sebaiknya kau berbaring dulu. Kau tidak sadarkan diri sejak kemarin setelah tertembak. Dokter sudah mengambil pelurunya untung saja tidak mengenai organ vital apapun." Ujar Vernon menahan pundakku agar tidak bangun.
Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku. Ya, aku tertembak dengan bodohnya saat di acara itu. Seharusnya aku tidak masuk ke dalam ruang acara, untung saja aku tidak mati karena tembakan itu. Kebodohan itu tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Seharusnya aku mengikuti perkataan Arthur dan pergi bersama dengannya. Entah apa yang aku pikirkan hingga berlari masuk ke dalam kekacauan itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vernon.
Mataku kembali menatap pada Vernon. Sejenak aku merasakan sesuatu yang berbeda saat ini ketika melihat dirinya. Muncul sebuah perasaan yang tidak aku mengerti mengenai Vernon. Mimpi itu, apa orang yang ada dihadapanku itu adalah Vernon?
"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Vernon mengulangi perkataannya dan membuat aku tersadar dari lamunanku yang hanya menatap dirinya. "Kau mendengarku kan?"
"Kenapa kau masuk kembali ke tempat itu? Seharusnya kau pergi dengan kakakmu." Seru Vernon dengan tatapan kekesalan padaku. "Kenapa kau tidak berpikir kalau masuk ke tempat itu sangat berbahaya?"
"Dari mana kau tahu kalau Art bersamaku?" Aku menatap Vernon karena sepertinya dia tahu kalau Arthur mendatangiku dan Renata ke toilet.
"Renata menyusulmu ke toilet, Arthur pasti mencarinya." Jawab Vernon. "Seharusnya aku tidak mengajak wanita bodoh sepertimu ke acara seperti itu."
"Acara seperti itu?" Tatapku merasa ada yang aneh. "Jadi kau sudah tahu kalau itu akan terjadi kan? Ya, Art juga mengatakannya kemarin kalau ayah dari wanita yang kau cintai itu meminta bantuanmu untuk melindunginya dari serangan Foggianna, kan?" Entah kenapa aku menjadi kesal sekarang. Setelah bermimpi seperti tadi, rasanya kekesalanku pada Vernon bertambah saat memikirkan wanita yang dicintainya.
"Lalu kenapa? Apa ada kesalahan dengan itu? Kenapa kau terlihat tidak menyukainya?" Tanya Vernon.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak mengajakku datang ke acara tembak menembak itu?! Itu sangat membuat aku takut. Dua hari berturut-turut aku harus mengalami ketakutan yang sama." Aku berkata dengan sangat kesal.
"Bukankah kau menyukai kekacauan seperti itu?" Tatap Vernon dengan dingin. "Kenapa sekarang kau menjadi penakut?"
Perkataan Vernon yang dikatakannya dengan dingin membuat aku terdiam. Apa yang dikatakannya itu pasti mengenai diriku yang dulu. Namun kali ini aku hanya diam saja tanpa mengatakan apapun atau ingin bertanya mengenai hal tersebut. Jujur saja aku sudah lelah memikirkannya dan berusaha mencari jawabannya dengan bertanya, karena itu semua selalu percuma. Vernon tidak akan menjawab semua hal yang aku tanyakan mengenai kejadian yang sudah lama berlalu itu.
"Kenapa sekarang kau diam? Apa kau tidak mau tahu mengenai apa yang kau lakukan dulu?"
Aku langsung menengadah melihat pada Vernon, namun aku tidak menjawabnya dan menunggu dia akan melanjutkan perkataannya.
"Ya, aku juga tidak akan menjawabnya karena itu lebih baik kau tidak bertanya apapun lagi mengenai hal itu." Ucap Vernon.
Seketika pintu ruangan di mana diriku dirawat terbuka. Muncul Sesya yang langsung berjalan dengan langkah lebar mendekati ranjang.
"Viv, kau baik-baik saja?" Tanya Sesya berdiri di samping ranjang menggantikan posisi Vernon tadi setelah pria itu berjalan dan duduk di sofa. "Syukurlah kau tidak mati." Mata Sesya terlihat berkaca-kaca dan sahabatku itu menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu berlebihan." Jawabku sedikit kesal karena reaksi berlebihan dari Sesya. "Jangan menangis untukku, aku masih hidup. Kau bisa menangis saat aku mati karena aku tidak akan melihat air matamu itu."
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lagi dan kali ini muncul Alec. Kehadirannya membuat diriku merasa senang. Rasanya aku ingin berlari dan langsung menyambar tubuhnya untuk mendekapnya. Namun apa daya, selain aku tidak bisa beranjak dari tempatku, keberadaan Vernon membuat hal itu tidak akan terjadi.
"Kau datang menjenguk, Alec?" Tatap Vernon pada Alec.
"Ya, aku ingin melihat keadaannya." Jawab Alec berjalan mendekatiku. "Kau baik-baik saja, Viv?" Tanya Alec berdiri di sisi kiri ranjang dimana aku berbaring.
"Aku baik-baik saja." Jawabku dengan sebuah senyum. "Alec aku senang kau datang menjengukku." Tanpa sadar tangan kiriku bergerak sendirinya memegang telapak kanan tangan Alec.
__ADS_1
Seketika Vernon yang duduk di sofa di arah Alec menatap pada apa yang aku lakukan. Aku baru sadar apa yang aku lakukan adalah salah.
...–NATZSIMO–...