Pengantin Gendruwo

Pengantin Gendruwo
Pemakaman Jenna&Brian


__ADS_3

Pagi itu,langit mendung mengiringi pemakaman Jenna Dan Brian, mereka dimakamkan berdampingan, semua pelayat dan juga keluarga Leighton menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata,


Tampak Elizabeth yang dipapah Angeline berdiri sambil menabur bunga,air matanya mengalir dengan deras, kenangan-kenangan dengan keponakannya seperti menari indah di kepalanya


"Andai kalian kemarin naik pesawat yang aku kirimkan pasti ini semua tak akan terjadi,bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan semua ini kepada mamamu bryan?hiks...hiks"Elizabeth terisak disamping pusaran Brian sambil memegang nisan sang keponakan


"Tenanglah Eliz,semua sudah menjadi kehendakNya, anda jangan terus-terusan menyalahkan dirimu sendiri" Dengan telaten Angeline membantu Elizabeth berdiri seraya tangannya terus mengelus bahu sahabatnya sekaligus bosnya yang telah sama-sama berusia senja


Tak jauh dari tempat mereka berdiri nampak Damian berdiri menjulang dengan menggendong gadis kecil yang masih belum mengerti kenapa semuanya nampak bersedih, bahkan gadis itu tengah sibuk memainkan jenggot tipis Damian yang belum tercukur beberapa hari



"Uncle kenapa semuanya menangis? kenapa mom&Dad harus dimasukan kotak itu" Tanyanya polos seraya menatap wajah Damian tanpa berkedip, kepolosannya mengingatkan Damian kepada sosok Jenna yang baru datang ke kerajaan jinnya dahulu kala


"Emmhh Jenny, mom&dad harus bobo panjang jadi harus pake kotak itu supaya ketika malam tiba mom&dad Jenny tidak merasa kedinginan sayang" Damian menjelaskannya dengan lembut sambil membelai pipi gadis mungil itu lembut


"Belapa lama mom&dad akan tidul uncle?kalau mom&dad gak bangun-bangun,siapa yang akan menyuapiku makan dan antal sekolah" Jenny semakin tajam menatap unclenya


Zakia yang berada tepat disamping Damian mulai ikutan menjawab seraya mencondongkan badannya guna menarik perhatian gadis mungil itu "Jenny sayang, mulai besok aunty yang akan menyuapi Jenny serta mengantarkan Jenny sekolah, Jenny akan tinggal bersama kak Darren dan sekolah bersamanya yah..."Zakia mengelus pipi gadis mungil itu lalu menciumnya, sekuat tenaga Zakia menahan air matanya supaya tak terjatuh lagi


"Mom and Dad ayo kita pulang, pemakamannya sudah selesai" Daren terus berjalan tanpa menunggu jawaban Mommy and Daddynya, bukan karena tanpa sebab Darren bersikap seperti itu, Dia merasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan kedua orang tua Jenny, ketika Jenny menanyakan perihal orang tuanya dengan polosnya tadi ke daddynya terdengar seperti hantaman nuklir di gendang telinganya,kini Daren duduk didepan bersama sopir sedangkan bangku belakang di tempati Zakia yang kini ganti memangku Jenny yang tengah tertidur pulas dipelukannya.


Sepanjang perjalanan pulang tak ada yang bersuara, tangan Zakia mengelus lembut punggung Jenny supaya semakin nyenyak tidurnya,sedangkan kepalannya dia sandarkan dada bidang suaminya yang berada disampingnya, sebenarnya mereka semua didera lelah yang luar biasa karena semenjak pesta mereka tak ada yang beristirahat sama sekali.

__ADS_1


"Tidurlah sayang" Damian memebenarkan posisinya supaya Zakia bisa sedikit nyaman


"Sttsssssstttt,kamu bisa membangunkan Jenny" Zakia berbisik supaya suaminya memelankan suaranya,lalu diapun menuruti Damian,dia membenarkan posisinya kini dia pun ikut terlelap dipelukan suaminya


"Daren, setelah sampai dirumah temuin Dad diruang kerja, ada beberapa hal yang ing Dad bahas denganmu"


"Baik Dad"


Iring-iringan mobil Damian dan keluarganya baru sampai di kediaman Leighton ketika senja mulai menyapa lagit Manhattan, bahy sister langsung menyambut kedatangan mereka dipintu,dengan cekatan dan hati-hati dia menggendong Jenny supaya tak terbangun ketika dipindahkan dikamarnya,sedangkan Zakia yang mulai terbangun tak diberi kesempatan berjalan sendiri oleh Damian, Damian langsung menggendongnya


"Damian aku malu,jangan seperti ini,turunkan aku,ini bukan saat yang tepat untuk beromantis ria" Zakia menyembunyikan wajahnya diceruk suaminya


"Kenapa mesti malu,kann kita sudah menjadi suami istri,lagian kamu masih ngantuk,aku hanya gak mau asetku yang paling berharga jatuh karena memaksakan berjalan ketika ngantuk"Damian mencoba berkelakar, sudut bibirnya tersenyum simpul melihat rona merah Zakia yang memenuhi wajahnya,kali ini dia yakin Zakia memang benar-benar malu,tapi demi apapun Damian gak ada maksud lain,dia tau Zakia sangat capek dia berusaha membantu Zakia,ketika mereka sampai dikamar dia baringkan Zakia perlahan,kemudian menarik bed cover untuk menyelimuti Zakia


"Mau kemana?"


"Aku mau ke ruang kerja,ada beberapa hal yang harus ku diskusikan bersama putramu"


"Diskusi?sama Darren?anak seusia Darren memangnya mau diajak diskusi apaan?jangan mencari alasan,pasti kamu mau bertemu sama pelayat dari negri jin yang cewek-cewek ganjen itukan"Ngantuk Zakia langsung hilang bila dia ingat kejadian tadi pagi,ada beberapa jin cewek yang mengaku kerabat Jenna dan sahabat merka yang menangis berlebih sambil memeluk suaminya


"Oh ayolah sayang,mereka bukan sainganmu,jangan lupa Dareen bukan seperti anak-anak pada umumnya,kamu kalau cemburu seperti ini lucu"Damian mencubit hidung istrinya yang imut itu,kemudian mengecup keningnya kembali "Aku janji gak akan lama okay,sekarang kamu tidurlah dulu,setelah beres aku akan kembali secepatnya guna menuntaskan acara pengantin baru kita"Damian mengangkat kedua alisnya keatas kebawah dengan tampang yang dibuat konyol sebelum istrinya sadar akan kodenya dia buru-buru pergi ngacir menuju pintu kamar langsung ngacir keluar dengan menutup pintu itu sambil senyum-senyum,dia langsung menetralkan raut mukanya ketika berpapasan dengan salah satu maid dikediaman Leighton


Sedangankan dikamar Zakia yang baru sadar akan kode dari suaminya langsung bersumpah serapah "Dasar jin mesum gila,bagaimana dia bisa mengatakannya saat berkabung seperti ini,benar-benar tak punya otak!!! Damian!!!awas kau!!!"Meskipun sumpah serapahnya hanya diucapkan pelan nyaris berbisik tapi suaranya terdengar jelas ditelinga Damian,yang membuat Damian mengukir senyumnya,sekuat tenaga dia menahan tawanya hingga dia masuk keruang kerjanya

__ADS_1


Darren yang bisa mendengar suara makian mommynya hanya bisa geleng-geleng kepala "Tidak heran mommy menyumpahi Daddy seperti itu,Apa Daddy sehat?"


"Beginilah cara Daddy menghibur Mommymu"


"Cih,entah sampai kapan citra mesum itu tak melekat lagi pada bangsa kita jika rajanya saja seperti ini"Darren seolah tak percaya dengan penyataan vulgar sang Daddy yang menyebut kemesumannya adalah hiburan buat mommynya


"Jadi apa kamu yakin Jordan sudah kamu lenyapkan?bola kristal kehidupannya sudah kau hancurkan juga?"


"Bola kristal kehidupan?"Darren berfikir keras ,kedua alisnya menyatu,dia nampak serius kali ini,ada keraguan besar yang terlihat jelas diwajahnya


"Kalau kamu belum menghancurkan bola kristal kehidupan Jordan,kamu hanya menghancurkan cangkangnya saja, meskipun dia tak sebanding dengan kemampuanmu namun jika kekuatan iblis itu dilatih bertahun-tahun tidak mustahil dia akan mengancam kehidupanmu juga keluarga kita dikemudian hari" Damian duduk di kursi kerjanya seraya mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sambil menatap anaknya


"Apa aku harus memburunya sekarang Dad?"


"Tidak perlu,akan sulit dan membuang waktu jika kau mencarinya sekarang ada ribuan bahkan milyaran bola kehidupan dibumi ini,bagaimana kau akan mencarinya satu persatu,mereka akan nampak sama,dia pasti akan mencari cangkang baru dan melatih lagi kekuatannya,yang bisa kita lakukan hanya menunggu,hingga dia muncul kembali,ah iya Dad juga ingin memberi tahu padamu satu hal Darren,nanti jika kau dewasa kau tak boleh jatuh cinta ataupun berhubungan melebihi kakak dan adik dengan Jenny,mulai hari ini dia adalah adikmu


"Jangan khawatir Dad,aku tau masalah itu"


"Konsekwensinya terlalu besar jika kamu melanggar perintah Daddy,ya sudah istirahatlah"


"Oke Dad,good nite"Daren beranjak keluar setelah mengucapkan salam ke Daddynya,


"Semoga bocah itu memegang kata-katanya" Damian mendengus pelan,diapun beranjak dari tempat duduknya dengan langkah sedikit gontai karena kelelahan dia menuju kamarnya kembali

__ADS_1


__ADS_2