
ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR...
ALLAHUAKBAR ALLAHUAKBAR...
Sayup - Sayup aku mendengar suara azan yang baru saja berkumandang merdu, dengan penuh semangat aku membuka mata berharap hari ini allah beri kebahagiaan dan kelapangan dada, aku menatap sosok pria yang paras nya hampir sempurna di mataku.
"Mas bangun sudah subuh, kamu gak sholat dulu?"
Aku menggoyang - goyangkan tubuh seorang pria yang selama 6 tahun ini bergelar suamiku.
"Masih ngantuk aku, nanti saja lah." Mas haikal semakin menenggelamkan tubuhnya dibawah selimut tebalnya.
"Mas ayo lah... Sampai kapan kamu mau seperti ini? Kamu gak takut selalu meninggalkan sholat?" Aku masih berusaha membujuknya, "Kapan kamu mau bimbing aku dan Kia sholat, jadi imam sholat kita?"
Aku masih setia menunggu suamiku bangun, tapi Dia tanpa respon sedikitpun. Ahir nya aku menyerah, aku mulai meninggalkan tempat dudukku menuju mushola kecil di dalam rumah ku. Iya, di dalam rumahku emang khusus aku bangun sebuah mushola, tepat nya mungkin ruangan kecil untuk aku dan keluarga sholat dan beribadah lain nya.
Selesai sholat aku menjalankan rutinas pagi ku, memasak untuk sarapan, kadang mencuci atau kalau jadwal dinas kerjaku pagi, aku akan siap-siap untul dinas, dan itu artinya aku meninggalkan cucianku, walaupun akan jadi menumpuk tapi tidak masalah, itu lebih baik dari pada aku harus telat ke tempat kerja ku.
Kebetulan hari ini aku sedang dinas malam, jadi aku bisa sedikit santai mengerjakan pekerjaan rumah, aku bekerja di salah satu rumah sakit swasta di kotaku.
Selesai sudah rutinas pagi ku, aku kembali ke kamar dan aku masih melihat suami ku tidur dengan sangat pulas, hampir setiap hari selama beberapa bulan ini, pemandangan ini yang selalu aku lihat. Dia selalu sibuk dengan dunianya, dia tidak akan segan untuk tidur sampai siang, sarapan pun tak jarang dia lewatkan, bahkan lupa untuk bekerja. Kadang ingin aku menyerah tapi dulu ini lah pilihan. Dia laki-laki yang aku pilih sendiri untuk menjadi teman hidup ku.
Selesai memasak aku kembali ke kamar.
"Mas kamu masih gak niat cari kerja?" Aku duduk dipingir ranjang dan aku mencoba berbicara baik-baik pada nya, walau pun aku melihat mata nya masih tertutup tapi aku berharap dia bisa mendengar ucapan ku.
"Mas..." Panggil ku sedikit lebih keras
"Mas... Aku bantu kamu cari kerjaan y mas?" bujuk ku penuh harap.
Setelah sekian lama aku bicara tanpa respon, akhirnya harapan ku terkabul, dia membuka mata.
"Kerja apa sih? Kau mau aku kerja yang bagaimana? Aku masih belum niat bekerja dengan orang lain, aku masih memikirkan usaha apa yang harus aku kerjakan lagi."
"Iya tapi mas, Untuk membuka usaha kita perlu modal lagi, dari mana kita dapat uang nya lagi mas? sebelum punya uang apa salah kamu mencoba cari kerja dulu, kerja apa aja tidak masalah, asal kamunya mau, yang penting halal mas, nanti pelan-pelan kita tabung dan bikin usaha lagi, uang gajiku gak akan cukup untuk biaya kebutuhan hidup kita mas, Kia sebentar lagi harus sekolah, coba fikirkan baik-baik." Nadaku mulai naik, aku mulai kesal, sudah hampir satu tahun ini suamiku memang tidak punya pemasukan, selama ini kami memiliki usaha tapi karena sekarang per ekonomi negara memang lagi tidak stabil karena wabah covid ini ahir nya dia memutuskan untuk menutup usaha kami sementara.
Selama usaha nya di tutup dia mulai malas-malasan dan parah nya lagi sangat malas-malasan, setiap hari kerjaan cuma nongkrong main bersama teman-teman nya bahkan tidak jarang Dia tidur diluar rumah, entah dimana atau dengan siapa.
"Akuu sudah bilangan kan, aku gak suka kerja sama orang! Masalah Kia kau tak perlu risau, aku akan bertanggung jawab, cih... Pagi-pagi sudah bikin moodku hancur." Dia mengubah posisi tidurnya.
"Tapi untuk biaya hidup kita sehari-hari saja ini sangat pas-pasan mas, aku gak bisa terus seperti ini, bagaimana kita bisa menabung untuk sekolah Kia?" Aku mencoba membuat nya mengerti, walau aku tahu ini sedikit mustahil.
"Ya sudah nanti aku coba cari," Dia menenggelamkan kepalanya kedalaman bantalnya.
ALHAMDULILLAH, aku bersyukur dalam hati ku, semoga ini benar-benar awal dari perubahan dia, aku tersenyum memandang nya yang kini wajahnya sudah tidak bisa aku pandang lagi.
"Mau sarapan dulu mas? Aku sudah bikin nasi goreng untuk mu." Aku masih tersenyum, aku berusaha tersenyum semanis mungkin untuk benar-benar meluluhkan hati nya.
"Nanti saja aku sarapan sendiri, aku masih ngantuk." Mendengar jawaban nya badan ku jadi lemas, aku membuang nafas ku dengan sangat berat
HUHH...
"Sabar... Suatu saat dia pasti berubah." batin ku. Hatiku mencoba menghibur hati yang lain.
__ADS_1
Aku pun meninggalkan kan dia, dan bermain dengan putri ku satu-satunya.
"Syakia Aisyah" dia lah putriku yang biasa di panggil Kia atau Kak Kia, dia di panggil kakak karena dia punya 3 saudara sepupu ( anak dari abang ipar ku, atau abang dari suami ku).
" sayang lagi main apa?" Aku menghampiri Kia dengan senyum yang sangat indah, aku menyembunyikan segala kerisauan dan kegundahan hatiku, dia lah penghibur di setiap kesedihan ku.
"Main rumah-rumahan Bu, coba Ibu lihat ini sangat cantik, besok kakak beli yang bisa masak-masak nya ya Bu? Yang kayak gini." Jawab nya dengan antusias sambil menunjuk salah satu gambar di sampul bekas mainan nya.
"Mainan kak kia kan sudah banyak nak, kak kia juga sudah besar dan sudah mau sekolah, jadi gak boleh Banyak-banyak beli mainan,oke." Tanganku membentuk huruf O didepan Kia.
"Baik lah Bu, tapi nanti kalau mainan nya sudah rusak baru boleh ya bu?"
"Iya, tapi Kak Kia harus menjaga dan merawat mainan nya dengan baik biar gak cepat rusak y sayang " Jawabanku, sambil aku pegang dan aku usap kepala nya.
Dia pun membalas ucapanku dengan anggukan tanda mengerti, aku memang selalu sebisa mungkin mengajarkan dia untuk bertanggung jawab dengan milik nya atau pun dengan milik orang lain yang di pinjam nya, kalau pun aku tau aku bukan ibu yang baik, bahkan jauh dari kata Baik dan sempurna, aku ingin mengajarkan anakku hal-hal baik dan menanamkan sifat rendah hati dan suka berbagi pada nya.
"Kakak mau sarapan sama Ibu? Ibu masak nasi goreng ke sukaan kakak lho."
"Nanti saja lah Bu, Kia masih mau main." Jawabnya, seraya melirik kearahku.
"Main nya kan bisa nanti kak, nanti kalau sakit gimana? Nanti kalau sakit Kak Kia gak bisa main lagi lho! mau di suntik lagi sama tante Yuli?"Kalau sudah soal makan, aku mengeluarkan sejuta cara untuk membujuknya, mulai dari rayuan sampai hal-hal yang bisa membuat dia takut.
"Oke lah! Tapi makan nya sedikit aja ya Bu." Masih saja sama dengan hari-hari biasa, selalu tawar menawar.
"Oke... Yang penting Kak Kia makan dulu ya, biar cepat gedek, kan mau sekolah!" Aku menuntunnya berdiri. Setelah drama panjang kami pun ahir nya menuju ruang makan, hanya kami berdua.
Aku sangat bersyukur Kia tumbuh menjadi anak yang sangat pintar dan kritis, di usia dia yang sudah memasuki 5 tahun, dia selalu bertanya banyak hal, dia terlalu cerewet untuk anak se usianya.
Tapi menurut sebagian orang Kia sedikit berbeda dengan teman-teman nya, dari usia nya yang ke-3 tahun, dia mulai suka berbicara sendiri, berimajinasi dengan dunia anak-anak nya, bahkan pernah suatu ketika dia menangis ketakutan sambil berkata dia melihat sosok raksasa besar di dalam rumah kami.
Aku mulai berfikir ini bukan hal yang normal, tapi seiring berjalan nya waktu Dia pun sudah mulai terbiasa dengan apa yang di lihat nya. Dia juga sudah tidak pernah takut lagi. Kesimpulanku sampai saat ini adalah dia memang mempunyai kelebihan untuk bisa melihat hal-hal yang tidak bisa di lihat ke banyakan orang.
Ohh iya, Ini juga ke biasaan aneh Kia, dulu aku mengajari dia memanggilku dengan panggilan Ummi/Ummu. Menurutku, ini panggilan yang islami, jadi ketika kelak panggilan ini tidak sesuai dengan akhlakku, aku akan malu dengan panggilan itu. Tapi Kia merubah semua imajinasiku dulu sesuai kehendak hati nya. Dia mulai memanggil ku dengan sebutan Mama, Mami, Mommy Bunda... Dan berakhir di Ibu.
Tidak masalah! Apa pun itu tidak akan merubah apapun di antara aku dan dia, dia tetap putriku yang sangat istimewa.
"Hallo... ohh oke oke." Aku mendengar suamiku berbicara di telpon dengan suara yang berat, suara khas orang bangun tidur.
"Sudah bangun mas?" Sapaku! Sambil menyuapi nasi goreng kedalaman mulut Kia, sesaat setelah melihat nya keluar dari kamar.
"Hmmm...." Jawaban singkat darinya.
"Abi kok baru bangun sih?" Tanya Kia! Yang memicitkan matanya setelah melihat Abinya berjalan melewati kami.
"Iya... Abi mandi dulu ya." Dia pun berlalu menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian Dia sudah selesai mandi dan sudah berpakaian rapi, lalu makan dan setelah itu bermain bersama kia! Sejujur nya dia bukan tidak peduli seutuhnya, karena dia masih sering menemani Kia bermain.
"Mau kemana mas kok rapi benar? Siapa yang menelvon tadi?" Aku melihat Dia dengan pakaian kemeja dan celana jins hitam.
"Bukan siapa-siapa, cuma teman saja." Jawab nya singkat, tanpa menatapku.
Ahir-ahir ini dia memang sedikit berubah, dia mulai cuek dan tidak peduli, dia juga mulai terbiasa menerima telpon secara sembunyi-sembunyi.
__ADS_1
Aku menatap nya sedikit tidak percaya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Seperti nya dia tau yang aku fikirkan, "Udah gak usah curiga, itu cuma temanku saja, dia mau ajak aku cari kerja hari ini." Seakan-akan dia memberi jawaban kecurigaanku.
"Alhamdulillah Mas, aku doakan usahamu tidak sia-sia ya Mas, kamu yang sabar, luruskan niat ya mas, insya allah akan membuahkan hasil yang baik." Aku tersenyum dengan penuh rasa syukur, semoga kali ini dia tidak menghancurkan harapan dan kepercayaanku.
"Udah gak usah ceramah, gak usah terlalu berharap juga." Belum apa-apa Dia sudah membuat aku kecewa.
"Mas... Kamu kenapa? Ahir-ahir ini kamu semakin berubah, kamu jadi lebih suka marah, bentak-bentak, aku ada salah sama kamu? Maafkan aku, kalau aku sudah buat kamu marah dan kecewa mas." Aku mencoba mencari tau apa sebenar nya yang terjadi.
"Hmm." Dia membuang nafas nya dengan berat dan dalam.
"Mas...." Panggilku dengan suara yang mulai gemetar dan mataku mulai berkaca-kaca.
"Bisa gak sih gak usah cengeng? Bisa nya cuma nangis, ngomel aja, aku lebih suka kamu itu diam gak usah banyak bicara, aku mulai pusing dengar kamu ngomel." Dia membanting pulpen mainan Kia.
"Kamu gak perlu membentakku Mas! kamu bisa katakan semua kesalahanku secara baik-baik." Aku menjawab ucapan nya dengan nada kecewa.
"Abi kenapa marah-marah?" Kia menatap penuh tanya ke arah Abi nya.
Aku terdiam! Mungkin bagi nya kata-kata itu biasa, tapi entah kenapa ada rasa sakit di dada kiri ku. Seolah-olah harapan kami berbanding terbalik, seperti nya hanya aku yang berharap terlalu banyak padanya, sekuat tenaga aku tahan agar butiran beningku tidak tumpah.
Aku memilih meninggalkan dia bersama Kia di ruang keluarga, Aki kembali ke kamar dengan rasa yang bwrkecambuk. Kecewa? Jelas iya, Aku kembali kecewa, aku tidak bisa menahan tangis ku lagi.
"Sabar... Istighfar." Aku mengelus dadaku berulang kali, mencoba membuat sedikit celah di rongga dadaku yang terasa amat sempit untuk bernafas.
"Kuatkan aku Ya Allah, kuat kan aku."
Aku tidak boleh menyerah sampai di sini, aku tidak boleh berputus harap akan kebaikan Allah. Kadang aku sering berfikir untuk pulang kerumah orangtuaku hanya untuk sekedar menenangkan hati dan fikiranku, hampir setiap saat aku sangat merindukan Bunda ku.
Ingin rasa nya aku menceritakan semua masalahku pada nya, tapi aku tau ini bukan cara terbaik. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa, aku tidak ingin menyusahkan mereka lagi! Tapi aku memutuskan untuk menelepon Ibuku yang biasa aku panggil bunda. Hanya mendengar suara nya saja sudah memberiku banyak kekuatan menjalani semua masalah ini.
Tuuuutttt... Suara tersambung dari Ponselku.
"Assalamualaikum Bunda, Bunda sehat?" Aku sangat bahagia ketika telponku tersambung. Aku berusaha menetralkan suara bekas tangis ku.
"Waalaikumussalam... Sehat nak alhamdulillah, kakak sehat? Kenapa gak vidio call, tumben cuma telpon biasa saja, kamu lagi ada masalah? Habis nangis? Takut bunda melihat mata mu yang masih merah karena menangis!" Tanya bunda yang selalu benar menebak keadaanku.
"Bunda... Satu-satu donk tanya nya!" Protesku.
"Hehehe." Bunda hanya tertawa mendengar keluhanku.
"Oke... Sekarang coba cerita sama bunda ada apa?" Tanya bunda dengan nada serius.
"Gak papa Bun, disini sinyal nya jelek, aku lagi di rumah mama." Jawabku asal.
'maaf bunda aku harus berbohong ' batinku iya itu lah insting seorang ibu, tanpa bercerita kadang percaya tidak percaya, perasaan ibu tidak bisa di bohongi.
30 menit sudah kami mengobrol via telpon pintar ini, aku mengakhiri panggilan dan kembali pada perasaan risau dan kecewa ku.
Tak terasa aku tertidur sangat lelap, sampai-sampai aku tidak tau kapan Kia ikut tidur di samping ku. Aku bangun, Pukul 14.20 Wib.
Aku bergegas bangkit, berwudu dan menuju mushola kecil untuk sholat. Dan tak kupungkiri, aku selalu ingin tau di mana dan sedang apa suamiku itu, setelah berkeliling rumah aku tidak menemukan nya.
__ADS_1
"Ah sudah lah mungkin dia sudah pergi, semoga usaha nya tidak sia-sia." Aku bermonolog.
Ohh iya nama ku “KHOIRATUL' AFIFAH" dan biasa nya aku di panggil Afifah dengan hampir semua orang yang mengenalku, sekarang usia ku sudah 28 tahun, sudah tidak muda lagi bukan? profesiku seorang perawat terampil di sebuah rumah sakit swasta di kotaku, tepat nya kota suamiku.