
Kondisi kia sudah mulai membaik, setelah membersihkan tubuh nya kia terlihat lebih segar.
Mengingat ucapan yusuf kalau aku tidak becus menjadi ibu, rasa nya sungguh sakit. Kenapa aku kembali down dengan ucapan yusuf?
Aku berjalan dengan langkah pelan.
Sekarang pikiran ku entah kemana, hingga aku tidak sadar kia sudah berlari menjauh dari ku.
Aku terlalu asik dengan fikiran ku sendiri.
" mbak afiifah, mbak.. " anisa menepuk pundak ku.
Aku menoleh ke arah nisa.
" mbak.. Gak dengar nisa ngomong dari tadi ya? "
" maaf nisa, mbak sedikit pusing " aku berbohong.
" mbak butuh obat? " tanya nisa.
" gak papa nisa, insya allah nanti baikan lagi " aku tersenyum lagi.
Aku dan nisa mempercepat langkah kami biar bisa nyusul kia yang sudah duduk di samping yusuf.
Masya allah...
Baru aku sadari betapa rupawan nya yusuf.
Tubuh tinggi nya sempurna dengan pakaian yang di pakai nya.
Tapi kenapa dia pakai batik?
Seperti nya dia salah kontum.
Aku hanya bisa menahan tawa.
Batik ungu yang di padukan celana panjang hitam itu sangat cocok untuk nya.
Pakaian yang ngepres di badan nya itu menampakkan bentuk tubuh nya. Seperti nya dia rajin olahraga.
Tiba-tiba aku merasa geli dengan stylish yang di gunakan nya.
" ada yang lucu dari saya? "
Yusuf sadar kalau aku memperhatikan nya dengan sedikit tertawa.
" abang ngapain pakai batik? Kayak mau kondangan saja " ucapan nisa mewakili perasaan ku saat ini.
Aku spontan tersenyum lebar.
" gak bawa baju lain abang, baju tadi udah kecipratan muntah kia " jawab nya.
" lho bukan nya tadi abang bawa ransel ya? " seolah-olah nisa gak percaya.
" abang bawa ransel untuk berkas kerja abang, bukan kayak kalian, hampir setengah bawaan pasti perlengkapan makeup " celetuk nya.
" iya beda lah.. Abang laki kita perempuan, dimana-mana kebutuhan perempuan itu lebih banyak " anisa gak mau kalah.
" alah dek... Kalau jelek tetap aja jelek, mau pake makeup gimana pun juga sama, apa lagi kamu, gak akan bisa berubah jadi putih bening " Yusuf kembali memukul jidat anisa dengan punggung tangan nya.
" astaga.. Abang, gak bisa ya mulut nya di rem sikit, tiap ngomong kok nusuk ke hati " anisa memukul lengan Yusuf.
" kia udah baikan? Atau masih mau muntah? " tanya nisa.
" udah baikan kak, perut kia udah gak sakit lagi, kia mau makan nasi goreng boleh gak bu? "
Setelah menjawab pertanyaan nisa, kia minta izin untk makan nasi goreng.
" tapi kia nanti muntah lagi lho" jawab ku ragu untuk memberi izin.
" gak papa, dari pada nanti dia gak makan, perut nya makin kosong, nanti masuk angin dia " sambung Yusuf.
'Kenapa sekarang Yusuf jadi lebih banyak ngomong sih? ' batin ku.
" boleh y bu? " rengek kia.
" oke.. Boleh, habis ini minum obat ya, biar gak masuk angin " aku ikuti mau kia.
" mbak.. Tapi benar ya mbak itu perawat? " anisa menatap ku
" hmmm, memang nya kenapa?, kamu juga mau bilang seorang perawat tapi kok ngurus anak gak becus? " aku menyindir ucapan Yusuf.
Sontak Yusuf melihat ku.
" bukan gitu maksud aku, aku keceplos an " yusuf balik menatap ku.
Tak sengaja pandangan kami bertemu.
" mbak.. Jawab " anisa melambaikan tangan di depan wajah ku.
" jawab apa ni? " tanya ku lagi.
" ya allah... Jawab, apa benar mbak perawat? " nisa mengulang pertanyaan nya.
" ohhh itu... Iya " jawab ku sambil tersenyum pada nya.
" dari mana abang tau kalo mbak afiifah perawat? " kini pandangan nisa ke yusuf.
" betul.. Dari mana kamu tau kalau aku perawat? " aku pun ikut penasaran.
" KITA BERANGKAT... AYO SEGERA MASUK " terdengar suara seorang pria berteriak memberi perintah untuk segera masuk ke dalam bus, ahh ternyata itu bus yang kami tumpangi.
" cuma menebak saja, gak usah di bawa serius" jawab yusuf singkat kemudian dia berdiri dan berjalan menuju bus.
" gak percaya nisa, yang psikolog kan nisa bukan abang " nisa berlari mengsejajarkan diri nya dengan yusuf.
Aku dan kia pun ikut mengekor mereka menuju bus.
" abang jawab " rengek anisa.
anisa masih berusaha mencari tau jawaban dari mana yusuf tau kalau aku seorang perawat.
Tapi yusuf masih tak peduli dengan pertanyaan nisa.
__ADS_1
Kami pun duduk di kursi masing-masing.
" abang... Tau dari mana abang kalau mbak afiifah itu perawat? "
Anisa masih berusaha mendapatkan jawaban yang memuaskan nya.
" apa sih kamu dek,? Kamu itu sudah mau nikah udah tua berarti, jadi stop kayak anak kecil. " yusuf masih dengan pendirian nya untuk bungkam soal pertanyaan anisa.
" lah emang nya anisa ngapain?, anisa kan cuma tanya bang, anisa bukan nya ngerengek minta di bukain permen lolipop kayak anak kecil "
Rengut anisa.
" nih coba lihat, kamu itu suka bergelayut di lengan abang, kayak anak kecil suka ngerengek yang gak jelas kamu " jelas yusuf.
" makanya abang jawab, anisa jadi penasaran, gak mungkin kan abang tetiba jadi peramal gara-gara kecipratan muntah kia? " sambung anisa.
Aku hanya tersenyum mendengar obrolan abang adek yang duduk di belakang ku.
" kan abang sudah bilang cuma menebak dek, kamu itu yah di kurang-kurangin cerewet nya, perempuan itu harus manis, nanti suami kamu ilfil sama kamu " nasihat yusuf.
" abang doakan anisa gak jadi nikah ya? " kini aku menoleh ke belakang mendengar ucapan anisa.
" hus gak boleh su'uzon sama bang sendiri, dimana-mana semua abang itu mau adik nya bahagia, kamu pikir abang sejahat itu apa? "
aku masih tersenyum mendengar pertengkaran mereka, mungkin saja aku tersenyum sebab sekarang yusuf jadi banyak bicara.
" hehehe.... Makasih abang ".
Sekarang aku bisa pastikan anisa kembali bergelayut manja di tangan yusuf.
" atau mbak afiifah sudah kenal dengan bang yusuf ya sebelum nya? "
Anisa mencoel tangan ku, yang arti nya sekarang dia berbicara pada ku.
Aku menoleh ke arah anisa dan yusuf.
Ku tatap wajah yusuf, sambil berfikir dan mengingat - ingat.
Benarkah kami saling kenal?
Atau mungkin pernah bertemu.
Tanpa di duga pandang kami saling bertemu. Astagfirullah.. Kenapa aku jadi gugup?
Kemudian aku buang pandangan ku. Aku netral kan perasaan ku.
" entah lah nisa, mbak merasa sedikit gak asing sama abang mu," jawab ku.
" apa kita pernah bertemu suf? "
Aku memastikan dan bertanya pada yusuf.
Yusuf menatap ku dengan ekspresi datar tanpa menjawab pertanyaan ku.
" subhanallah... Astagfirullah, abang di tanyain juga. " anisa memukul lengan yusuf.
" ya allah... Alangkah repot nya berurusan dengan kaum wanita ini " yusuf memejam kan matanya.
Aku pun kembali tersenyum lalu aku kembali melihat ke depan. Bisa patah leher ku menoleh ke belakang terus.
' astagfirullah astagfirullah astagfirullah... ' aku segera membuang fikiran kotor ku.
Tapi mana mungkin aku bisa jatuh cinta lagi setelah mengalami luka ini. Apa lagi untuk kembali menikah.
Aku hanya ingin membesar kan kia, mendidik kia sepenuh hati. Aku ingin menjadikan kia seorang hafizoh. Aamiin.
" apa ini alasan abang gak mau nikah? " nisa masih saja memburu yusuf dengan pertanyaan.
" iya.. Betul sekali " jawab yusuf tegas.
" alah... Bilang aja gak ada yang tertarik sama bang ". Sambung nisa.
" ehh jangan salah kamu, coba lihat baik-baik abang mu yang ganteng, cerdas, dan penuh pesona ini "
Jawab yusuf dengan penuh percaya diri.
" sok keganteng an kamu suf suf ". Efek anisa.
Sontak aku tertawa mendengar anisa panggil yusuf tanpa kata abang.
" aduh sakit bang, suka banget deh mukul jidat nisa ". Sewot nisa.
" biar otak kamu encer.udah berani kurang ajar kamu ya, panggil suf suf doang " protes yusuf.
" abang pernah ketemu afiifah dulu di rumah sakit ". Tanpa di minta lagi yusuf memberi jawaban penasaran aku dan anisa. Sontak aku kembali menoleh ke belakang.
" lho emang nya abang pernah sakit apa di jakarta? " nisa tampak bingung.
" bukan abang.. Tapi teman nya abang, lagian abang juga udah kenal afiifah sebelum ini "
Jelas saja aku dan anisa semakin kaget mendengar ucapan yusuf.
" stop.gak usah pasang wajah penasaran. Abang udah gak mau jawab pertanyaan apa pun lagi ".
Yusuf mengantisipasi sebelum di tanya.
" sejak kapan kamu kenal aku suf? " sumpah aku penasaran.
" kenal mbak afiifah dari mana abang? " tanya anisa lagi.
" bang.. Abang... Ihsss " anisa menggoyang - goyang tangan Yusuf. Tapi Yusuf melepas pelukan tangan nisa dengan memejam kan mata,sambil memperbaiki posisi duduk untuk menyandar kan tubuh nya di kursi.
" udah gak usah berisik, abang mau tidur. Itu kan rumah sakit yah biasalah kalau para pasien dan keluarga pasien mengenal dokter dan perawat mereka ". Jawab Yusuf lagi dengan mata yang masih terpejam.
" benar juga sih " gumam ku pelan. Dan demi apa? , aku melihat Yusuf tersenyum mendengar ucapan pelan ku barusan.aku kembali melihat ke arah depan.
Apa ada yang lucu dari ucapan ku tadi?.ahh sudah lah. Lagian apa penting nya sih kalau emang pernah bertemu? Batin ku.
Aku melihat kia yang sudah lelap dalam tidur nya.
Aku memperbaiki posisi tidur nya dan merapikan selimut nya.
Aku kecup pelan puncak kepala nya yang tertutup sempurna oleh kerudung.
__ADS_1
Dia pasti sangat lelah.
Sunyi rasanya tanpa ocehan nisa.
Mungkin dia pun sudah tidur.
Aku melihat jam di layar Ponsel ku, dan ternyata sudah tengah malam. Tapi aku belum merasakan kantuk.
Ku buka tirai jendela bus di samping ku.
Aku benar-benar ingin menikmati perjalanan ini.
Meskipun masih ada rasa sakit di hati ku. Ternyata aku belum bisa memaafkan perbuatan mas haikal.
Kenangan masa lalu nan indah bersama mas haikal kembali memenuhi ruang hati dan fikiran ku.
Rasa nya Aku masih belum percaya, kalau sekarang dia sudah menjadi mantan suami ku?
Aku masih berat menyandang status baru ku sebagai janda.
Aku masih takut dengan pandang rendah orang-orang pada ku.
Dengan status ku sekarang aku semakin takut untuk berteman, terutama dengan laki-laki.
Secara aku tau, kadang orang-orang beranggapan janda itu suka menggoda.
Ya allah.. Ampun hamba mu ni.
Tolong bimbingan hamba mu ini.
Tolong lindungi hamba mu ini dari orang-orang yang berprasangka buruk.
Astagfirullah..
Mungkin selama ini aku masih sering terobsesi akan nikmat dunia. Aku lalai untuk banyak mengingat allah.
Mungkin allah rindu pada ku, dengan ujian ini allah ingin aku lebih dekat pada - NYA.
Semoga ujian ini menjadikan aku wanita yang lebih baik, lebih sabar lebih beriman lagi.
Tak terasa air mata ku mengalir.
Mengenang semua perbuatan mas haikal.
Penyesalan pun datang di hatiku.
Seandai nya saja dulu aku tidak memaksakan diri untuk tetap menikah dengan mas haikal, ini tidak akan pernah terjadi.
Seandai nya saja aku mendengar nasihat ayah dan bunda, ini juga tidak akan pernah terjadi.
***. Flasback.
" kami yakin untuk terus menikah dengan haikal kak? " tanya bunda.
" iya bun, insya allah dia anak nya baik dan bertanggung jawab kok bun " jawab ku.
" tapi kenapa ayah sama bunda kurang yakin kak sama dia " sambung ayah yang duduk di depan ku.
" kenapa ayah sama bunda kurang yakin sama mas haikal? " tanya ku lagi.
" entah lah nak, tapi ayah merasa mereka tidak terlalu menyukai mu, ayah takut kalau keluarga haikal tidak bisa menerima kamu sepenuh hati " jelas ayah.
" insya allah seiring berjalan nya waktu mereka akan bisa menerima afiifah yah " aku meyakinkan kedua orang tua ku.
" baik lah, kalau memang afiifah masih tetap mau menikah dengan haikal, minta orang tua haikal datang secepat mungkin " ahir nya ayah memberi izin haikal untuk melamar ku.
Dua minggu kemudian haikal datang dengan orang tua nya.
Tapi hanya mama mas haikal yang datang tanpa ada nya papa mas haikal.
" maaf om, papa saya tidak bisa hadir karena banyak pekerjaan yang tidak bisa beliau tinggalkan " mas haikal memberi jawaban dari rasa penasaran ayah ku.
" ohh tidak apa-apa yang penting ada perwakilan orang tua kamu yang hadir " jawab papa. Sebenarnya aku tau ayah kecewa.
Setelah acara lamaran usai dan sepeninggalan mereka, ayah masih mengutarakan isi hati nya akan keraguan ayah terhadap mas haikal.
" afiifah... Kenapa ayah berfikir kalau mereka tidak merestui pernikahan kalian? "
Ayah kembali menampakkan ke khawatir an atas rencana pernikahan ku.
" sudah lah yah, mungkin papa nya mas haikal. Emang lagi sibuk, mungkin pekerjaan nya memang tidak bisa di tinggal kan "
Sambung fariz baru datang dan bergabung dengan aku, ayah dan bunda di ruang makan sambil menikmati sarapan kami setelah kemaren aku di hibah mas haikal.
" kita doakan saja yah, supaya mas haikal benar-benar orang yang tepat untuk kak afiifah" sambung fariz lagi.
" iya yah, kita doakan saja " kata bunda.
Sampai hari - H pernikahan ku ternyata papa mas haikal tidak juga hadir padahal aku dan mas haikal sendiri meminta papa untuk datang di hari pernikahan kami.
Aku dan mas haikal sendiri yang memohon, setidaknya papa menghormati keluarga ku, menghormati orang tua ku.
Tapi apa hendak di kata, harapan ku dan mas haikal sia-sia, bukan hanya papa yang tidak hadir, mama juga tidak hadir, aku tidak habis fikir kenapa mama mas haikal pun ikut tidak hadir.
Mas haikal hanya di dampingi adik nya dan beberapa saudara sepupu nya.
Jelas saja perbuatan orang tua mas haikal membuat orang tua ku kecewa, bahkan sangat kecewa.
Mereka menyimpan semua rasa kecewa mereka, hanya demi kebahagiaan ku.
Mereka hanya berharap aku dan mas haikal benar-benar bahagia dan selalu bersama.
*** Flasback of.
Sejak dari hari itu sampai hari ini, setelah aku resmi di talak suami ku. Mantan suami tepat nya, hubungan antara keluarga ku dan mas haikal tidak pernah baik.
Bahkan orang tua kami tidak pernah saling komunikasi lewat via Phone.
Ini lah kehendak allah.
Yang akan aku jadikan pelajaran, bahwa ridho orang tua adalah ridho nya allah.
Aku tidak boleh egois dengan kehendak ku sendiri.
__ADS_1
Perjalanan hidup ku saat ini adalah pelajaran untuk hidup ku di masa depan.