Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Bab 6


__ADS_3

"Miiris bukan kak hidupku? musnah sudah harapanku membina rumah tangga yang bahagia, hilang sudah harapanku berjodoh sampai surga bersama mas Haikal."


Aku mengakhiri kisah suram masa lalu yang kini kisah memilukan itu kembali terulang dengan nyata.


Aku melihat mereka menatap ku dengan iba dan penuh rasa kasihan. Berkali-kali aku menyeka air mata yang tak berhenti mengalir.


"Betapa Allah begitu mencintaiku kak, sampai Allah memberikan aku cobaan yang kurasa aku tidak kuat memikul nya."


Aku masih menangis, air mata ku tak bisa berhenti mengalir walaupun hanya sesaat.


Mereka masih duduk di depanku mendengar kan semua isi hatiku dengan pemikiran mereka sendiri.


Berkali-kali pula tangan mereka bergantian mengelus pundakku.


"Tapi aku tau, aku harus kuat,satu duniaku pergi tapi duniaku yang lain sedang menungguku, jadi... kalian jangan terlalu kasian padaku kak, aku masih punya Allah tempatku kembali, tempatku meminta kekuatan. Tempat bersandar dan Allah pasti tidak akan meninggalkan aku yang lemah ini."


Aku memaksa kan diri tersenyum pada mereka.


"Afifah..." Mereka memelukku secara bersamaan mereka pun memberi kan senyuman hangat padaku.


Ada rasa syukur di hati ku memiliki mereka di sisi ku, mereka yang dulu bukan siapa-siapa sekarang mereka lah yang menjadi sandaran ku.


"Kamu memang hebat Fah, sungguh Allah tau kepada siapa cobaan harus Allah berikan." Kak Ana menggengam erat kedua tanganku, "aku iri dengan keridhoanmu menerima segala masalah ini, Fah."


"Selama kamu masih disini, kamu bisa mengandalkan kita Fah, kita akan menjaga kamu Kia dan calon Bayimu ini."


Kak Nada mengelus lembut perutku dan pipiku, sambil menyeka sisa air mata di yang masih terus mengalir.


"Makasih yah, sungguh aku bersyukur memiliki kalian." Betapa aku sangat mencintai dan menyayangi mereka.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan Fah?" tanya kak Valen, membuat aku menarik nafas dalam. Ntahlah... Belum tau apa yang akan aku lakukan setelah ini.


Tok tok tok


Seorang perawat masuk dengan seragam putih-putih nya sembari tersenyum padaku.


"Aduh mengganggu y kak?" Ia hendak kembali keluar, "nanti saja Elin balik ke sini lagi kak." lanjut nya sambil membalikan badan hendak meninggal kan aku dan sahabat-sahabatku.


Elin adalah Junior kami di rumah sakit ini, memegang hampir rata-rata di seluruh dunia kesehatan senioritas itu sangat kental, mereka yang di sebut Junior jarang sekali ada yang berani membantah perintah senior mereka ntah mereka suka atau tidak kebanyakan dari mereka akan menerima nya.


Tapi, aku pribadi tidak terlalu peduli dengan hal ini, bagiku... mereka tidak perlu menghormatiku, cukup mereka segan sejajar nya saja, aku juga suka berteman dengan mereka yang di sebut para senior itu.


Elin salah satu nya, dia bahkan suka sekali menggoda ku pipi chabi kalau bertemu. Dia tidak pernah takut padaku, tapi jelas saja ia sangat sungkan dan takut pada kak Valen. Jangankan Elin, senior saja kecut kalau kak Valen sudah marah. Ck... Sahabatku satu ini memang luar biasa.


"Gak papa Elin, masuk aja, ada apa?" aku mempersilahkan dia masuk.


Elin melirik kam Valen dengan sudut matanya. "Obat pulang kakak sudah siap kak, administrasi juga sudah siap, kakak boleh pulang sekarang."


"Ini obat-obat nya kak." dia mengeluarkan satu persatu obat yang tadi di resapkan padaku.


"Mkasih ya, Lin." aku tersenyum pada nya.


"Gak perlu Elin jelasin lagi kan kak cara konsumsi nya? Heheh... Kakak mah udah lebih pintar dari Elin." dia kembali menggodaku dengan senyuman nakal nya.


"Kamu itu yah... Gak takut kamu sama dia?" aku menunjuk pada kak Valen yang duduk lumayan jauh dari bad mku.


"Stttt, Elin pergi dulu babay." dia meletakkan telunjuk di bibir sambil sedikit berbisik padaku. "Maaf mengganggu Kakak-kakak, saya permisi." ia menunduk kemudian melambaikan tangan dan segera pergi.


Kak Valen hanya menatap Elin tajam.


Sebenar nya dia bukan galak, tapi bawaan nya yang memang serius dan selalu tegas jadi banyak orang-orang yang takut pada nya.


Aku hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah aneh Elin.


"Sering-sering senyum kamu, biar awet muda. Kasian adek-adek disini pada ngeri kalo ketemu kamu." Goda kak Nada melirik kak Valen.


"Ck... Mereka saja yang lebay, padahal aku gak galak-galak amat." Bantal kak Valen membela diri.


"Hahaha... Perasaan kamu aja itu, bagi adek-adek disini kamu tu harimau, senggol dikit ngaum." Kak Nada gak mau kalah.


"Ck... "Kak Valen hanya berdecak kesal.


"Kamu mau pulang sekarang Fah?" Kak Ana mengalihkan pertengkaran dua manusia yang beda karakter itu.


"Hatiku masih belum siap untuk terus bertemu mas Haikal di rumah kak, tapi kemana lagi aku harus pergi kalau bukan kembali kerumah? Kasian Kia juga." jawab ku.


"Atau kamu mau tinggal di rumahku sementara Fah?" kak Ana menawarkan tumpang padaku, dia memang tinggal seorang diri karena keluarga nya sudah pindah kedesa.


"Makasih kak, tapi gimana nanti dengan pandangan orang-orang? Gimana dengan mertua ku? Dan aku masih ingin menjadi istri yang berbakti kak, aku gak mau meninggalkan rumah tanpa izin mas Haikal." aku bingung.


"Hmm, sebaik nya kamu pulang kerumah mertuamu saja Fah, dan minta solusi dari mereka." sambung kak Valen.


"Mungkin ini ide yang terbaik saat ini kak, mksh y kak." setelah berfikir panjang, ku kira usul kak Valen masuk akal.


"Ayo... kita antar kamu pulang." kak Nada berdiri dan memegang kedua pundakku.

__ADS_1


***


Aku membolak balik tubuhku berusaha untuk tidur, tapi usahaku sia-sia, sampai larut malam kantuk belum menghampiriku. Mataku masih segar, masih full baterai.


Aku melihat jam di Ponselku


"Ahhh, sudah pukul 03.15 ternyata." gumamku.


"Huhf... " aku membuang nafas berat, berkali-kali. ahir nya aku keluar dari kamarku, tepat nya sekarang aku ada di kamar rumah mertuaku. Kamar yang dulu pernah menjadi saksi betapa indahnya kehidupan suami istri, betapa nikmatnya menikah.


Aku menuju kamar mandi, aku berniat untuk melaksanakan sholat malam.


Menurut ilmu yang pernah kupelajari, salah satu waktu terbaik untuk meminta kepada sang pecipta di sepertiga malam.


Aku ingin menceritakan segala keresahan dan kesedihan hatiku.


Tidak ada yang bisa ku perbuat, selain menerima segala masalah ini dengan penuh keridhoan, aku meyakinkan diri bahwa tidak akan ada masalah tanpa penyelesaian, tidak mungkin selama nya Allah memberi ku kesedihan, pasti ada kebahagiaan di sisi lain kehidupanku.


Selesai menghadap sang Kholik. aku kembali ke tempat tidurku, ku pandangi wajah cantik Kia yang sudah terlelap, perasaanku semakin tak menentu.


Betapa Malang nya kehidupan Kia, yang tak bisa lagi merasakan kasih sayang dan cinta dari seorang ayah sepenuhnya.


"Maafkan Ibu sayang, maafkan Ibu." ucap ku lirih,


Tak terasa air mata kukembali menetes.


Aku peluk tubuh mungil nya, aku kecup seluruh wajah nya dengan penuh cinta.


"Ya Allah...tolong jaga Kia dan beri dia cinta yang tak ternilai." doa ku.


***


Pagi hari.


"Ma... " aku menyapa wanita yang sudah enam tahun ini kupanggil mama, mama mertuaku.


Dia tersenyum ramah padaku.


"Maaf Ma, tadi habis sholat Afiifah ketiduran lagi." aku merasa tak enak hati melihat mama menyiapkan sarapan sendirian .


"Tidak papa fah, mama juga sudah terbiasa, kamu istirahat saja, kamu pasti lelah lagian mama cuma menata makanan nya saja, yang masak Tetap mbak" senyum mama masih menghiasi wajah nya.


"Pagi, Pa." sapaku. Sambil menarik kursi tempat papa mertuaku duduk.


Dia masih sama, sama seperti dari awal kami bertemu, sampai enam tahun pernikahanmu, ia masih tetap dingin padaku.


Selama enam tahun aku hidup bersama keluarga suami ini, aku sudah cukup mengenal pribadi mereka, termasuk papa mertuaku, sebenar nya aku tau kalau dia tidak begitu menyukaiku, ntah apa penyebanya, aku tidak pernah tau.


Bahkan di hari pernikahanku pun, papa mertuaku tidak hadir, bahkan dia tidak pernah memberi ucapan restu pada pernikahanku dan mas Haikal. mungkin karena keluargaku bukan dari keluarga kaya seperti mereka.


Sebenarnya terlalu banyak masalah dari awal pernikahan ku dan mas Haikal. Bukan hanya tak dapat restu dari papa nya mas Haikal, orang tuaku pun sebenarnya tidak menerima mas Haikal sepenuh hati, terutama adik laki-lakiku, yaitu fariz.


Orang tuaku tidak menyukai mas Haikal bukan tanpa sebab, keluargaku bukan hanya tak menyukai mas Haikal, bahkan keluargaku sama sekali tidak menyukai papa mertuaku.


Alasan mereka tak menyukai keluarga mas Haikal hanya satu, karena keluarga mas Haikal yang terlalu sombong dan merendahkan orang tuaku bahkan mereka sudah mempermalukan harga diri keluargaku.


*** flasback


"Saya tidak menyukai pernikahan ini, dan saya tidak akan hadir di acara pernikahan kalian."


Itu kata pertama yang di ucapkan papa saat aku dan mas Haikal meminta papa datang kepernikahan kami.


"Silahkan kalian menikah tanpa restu dari saya." papa kembali menegaskan ucapan nya tanpa melihat padaku dan mas Haikal.


Aku meremas kedua tanganku.


Kenapa rasanya sakit begini?


"Pa... Haikal mohon pa, kalau pun papa tidak menyukai pernikahanku, setidaknya nya bisa hadir pa." mas hmHaikal memohon.


"Tidak kal, papa banyak pekerjaan, dan itu lebih penting dari sekedar pernikahan kalian." jawab papa tegas.


"Tolong hargai keluarga Afiifah, Pa." Mas Haikal kembali berusaha.


"Sekalipun seluruh keluarga calon istrimu yang memintaku datang, aku tidak akan sudi."


"Apa alasan papa tidak merestui pernikahan kami pa?" aku memberanikan diri bertanya.


Papa membalikkan badan. "kau bertanya?" papa menatap wajahku seksama.


Ku jawab dengan anggukan kepala.


"Tapi entah lah, aku hanya tidak suka dengan kau dan keluargamu." jawab papa enteng tanpa ada rasa bersalah.


Aku pun langsung terdiam. Setelah papa meyakinkan aku dan mas Haikal untk tidak hadir, ahir nya aku dan mas Haikal menyerah, aku berfikir mungkin dengan berjalan nya waktu Papa akan bisa menerimaku.

__ADS_1


Satu tahun, dua tahun, tiga tahun sampai enam tahun usia pernikahanku, papa masih memandangku dengan tatapan tak suka dan cenderung dingin.


Hari pernikahanku.


Mungkin hari ini menjadi hari terburuk untuk orang tuaku dan keluargaku.


Pasal nya bukan hanya papa mas Haikal yang tidak hadir di pernikahan kami, mama mas Haikal pun tidak hadir. Kedua orangtua nya tidak hadir.


Mas Haikal hanya di dampingi satu adik kandung nya dan dua saudara jauh nya.


Aku bisa melihat betapa kecewa orang tua ku, pasal nya ketika mas haikal melamar ku dia masih di dampingi 1 orang tua nya, yaitu mama nya, mama monic,mama mertua ku.


Tapi ternyata di hari pernikahan kami mama monic pun ikut tidak hadir, tentu saja orang tua ku tidak menerima perlakuan mereka.


Mereka tidak menghargai keluargaku, dan mereka tidak memberi penjelasan dan letak permasalahan yang sebenar nya.


Hal itu juga yang memicu kebencian di hati adikku fariz.


*** flasback of


Selesai sarapan aku menemani Kia bermain di dalam kamar, walau pikiranku sedang kacau aku juga tidak ingin membuang kesempatan untuk bermain bersama Kia.


Setelah sekian lama bermain, aku pun mulai mengantuk, apa lagi semalam memang aku kurang tidur.


Aku pun terlelap.


Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena mendengar suara ribut di depan kamarku, ternyata Kia pun ikut tertidur di sampingku, aku usap wajah cantik nya, lalu aku cium kening nya.


"Bukan nya dulu Mama dan Papa tidak suka pada nya? Jadi biarkan saja kami berpisah."


Deg... Detak jantungku mulai tak beraturan


"Itu kan suara mas haikal." lirihku.


Tapi aku masih berdiam di tempat tidurku, hanya mengubah posisi dari tidur menjadi sedikit duduk.


"Kau sudah dewasa Haikal, coba kau selesai kan masalahmu baik-baik, kau fikirkan masa depan Kia, apa salah nya kau mulai kembali bekerja? Itu memang kewajibanmu untuk memberi nafkah dan seluruh keperluan istrimu, bukan malah istrimu yang menafkahimu." aku mendengar suara mama mulai kesal.


"Jangan lagi berbuat hal-hal nyeleneh." lanjut mama.


Ohh jadi sekarang mereka membahas masalahku dan mas Haikal.


"Alhamdulillah, ahir nya mama mau menasihati mas Haikal." aku mengusap dadaku pelan sambil berucap syukur, aku berharap mas Haikal mau mendengar kan nasihat orang tua nya.


"Masalahnya ma, bukan aku tidak bisa bekerja tapi karena aku memang sudah tidak mau menafkahi nya lagi, masalah nya aku sudah tidak ingin hidup bersama nya lagi!" jelas mas Haikal.


"Haikal... kau jangan egois, apa kau punya wanita lain?" suara mama mulai mereda.


"Huhh, iya ma, aku jatuh cinta pada wanita lain, yang bisa membuatku lebih nyaman dan yang pasti lebih menarik dari dia." suara mas Haikal juga mulai mereda,tapi aku masih bisa mendengar nya dengan sangat jelas.


Mendengar penjelasan dan kejujuran mas Haikal hatiku semakin hancur, dadaku mulai terasa sempit untuk bernafas, ruang dadaku terasa penuh.


Aku membungkam mulutku dengan tangan, aku menahan agar tangisku tidak terdengar, aku takut Kia terbangun.


"Kau kembali berselingkuh haikal?" percakapan mereka masih berlanjut dan aku masih setia mendengar perdebatan mereka, aku ingin tau apa masalah yang sebenarnya hingga membuat mas Haikal berpaling dari ku.


"Iya, aku jatuh cinta pada wanita lain" jawab mas Haikal singkat padat dan jelas.


"Kenapa kau lakukan ini lagi Haikal? Tidak kah kau kasian pada Kia?"


"Ma... Aku mulai tidak peduli pada Kia, aku juga mulai risih pada nya ma." jawab mas Haikal "menyusahkan ternyata punya anak."


"Plaaaak." aku mendengar suara tamparan.


"Kau keterlaluan Haikal, dulu kau sudah berjanji akan berubah, tapi sekarang kau mengulangi kesalahan yang sama, tidakkah kau takut menyesal nanti? menyesal aku dulu menikah kan kau dengan Afiifah, kurang baik apa dia Kal? Kau akan menyesal dengan perbuatanmu ini Kal." umpat mama.


"Ya... Memiliki anak sepertimu memang menyusahkan." Hardik mama.


Sekarang hening...


Sudah tidak ada suaran pertengkaran ibu dan anak itu lagi.


Aku memberanikan diri menatap mas Haikal.


"Sekarang aku tau mas, kenapa kau berubah bahkan kau sengaja untuk tidak bertanggung jawab padaku dan Kia, ternyata kau memang sudah tidak menginginkan aku dan Kia lagi.


"Betapa Malang hidup Kia, jika ia tau bahwa ayahnya, laki-laki pertama yang di cintainya, orang yang di harapkan menjadi pelindung nya ternyata memang tidak pernah peduli dan mencintai dia, seperti dia mencintai laki-laki itu."


Aku berkata pada mas Haikal, aku harus menerima kenyataan pahit ini.


"Sekarang kau sudah dengar semua nya bukan? kau sudah tau bahwa aku sudah tidak mencintaimu lagi." Mas Haikal menatapku yang berdiri kaku di ambang pintu.


"Iya... Sekarang aku sudah tau alasannya, dan aku lega... Setidaknya aku tau, masalah ini buka disebabkan olehku." aku membalikkan badanku kembali ke dalam kamar.


Badanku terasa semakin lemas seluruh duniaku terasa berhenti berputar, aku tidak punya kekuatan untuk terus melangkah.

__ADS_1


Tiba-tiba perutku terasa amat sakit, sperti di remas-remas, sakit sekali rasa nya.


Aku merasa ada yang tidak benar dengan kandunganku.


__ADS_2