
Selesai sholat magrib, aku menghabiskan waktu senjaku dibalkon kamar.
Baru kali ini aku benar-benar melihat keindahan senja, pantas saja terdapat para penikmat senja.
Walau kehadirannya hnya sebentar, tapi hampir setiap orang menyukai keindahannya.
Melanjutkan hafalan Alkahfi. Aku memulai Malamku dengan kalamullah. Aku percaya Alquran selalu membawa ketenangan dalam hidupku.
Begitu khusuk, sampai ponselku berdering menghancurkan konsentrasiku.
Dengan malas aku mencari ponsel yang terus saja berdering. "alah... Mati lagi." belum sempat ku jawab, panggilan ya sudah berakhir.
"Ya Allah, sepuluh kali! Ngapain kak Valen nelpon sampai sepuluh kali?"
"Ngapain nanya alamatku?" Aku membuka pesan dari kak Valen.
"Hallo kak... " segera setelah panggilan ulangku tersambung.
"Iihhh di telponin dari tadi gak dijawab-jawab! Di Wa juga gak di read! Dari mana sih? Udah gak ingat kita lagi?"
"Ya Allah... Pesan-pelan atuh kak ngomongnya."
"Tadi lagi ngaji dibalkon, jadi gak kedengaran suara Hpnya, bukan lupa..."
"Kenapa tanya alamat ku disini?"
"Ehh tumben telpon? Biasanya juga Wa atau VC! Lagi banyak pulsa ya? He."
"Kamu di Wa gak dibalas, mau Vc lgi malas liat muka kamu."
"Ck... Buruan atuh, kirim alamat lengkap kamu."
"Untuk apa kak? Gak minat nyulik aku kan?"
"Ais... Mendingan nyulik polisi ganteng dari pada nyulik kamu yang janda! Aku tunggu sekarang alamat lu."
"Iya iya... Kakak apa kabar?"
Tut...
"Astagfirullah... Main mati-matikan aja, gak sopan." Aku melempar ponselku ke tempat tidur.
Segera melanjutkan hafalan lagi.
"Fah... "
Aku menoleh, "Eh bunda."
"Maaf bunda langsung masuk, bunda ketok-ketok dari tadi gak ada jawaban,"
"Lanjutin hafalan lagi?" Bunda duduk dismapingku. Sepertinya Bunda ingin bicara serius denagnku, karena bunda gak biasa-biasanya nyamperin aku kekamar dan mau mengganggu mengajiku. Kalau gak penting-penting amat, bunda pasti akan menunggu setelah aku selesai murajaah.
"Iya bun, ada apa?" aku menutup Alquranku, kuciumi. Mengakhiri mengajiku.
Melihat ekspresi Bunda yang tampak bingung, aku menebak pasti terjadi hal yang serius.
"Bun... Bunda kenapa? Apa yang mau bunda katakan, katakan saja jangan sungkan." Aku memegang tangan Bunda.
"Hmm... Bunda mau tanya sesuatu, boleh?" Aku mengangguk.
"Serius?" Bunda amenatapku tajam.
"Iya bun, serius ... Katakan saja, apa yang mau bunda tanyakan." Mengubah posisi lebih menghadap bunda.
"Bun... Afiifah ini anak bunda, Afiifah tau bunda yang paling mencintai Afiifah didunia ini, jadi... Katakan apa saja yang ingin bunda tanyakan. Jangan takut membuat Afiifah tidak nyaman atau tersinggung."
Bunda masih diam.
"Bun... " aku menggoyang lengan bunda." Gak jadi tanya ni? Kalau gak jadi Afiifah mau lanjut murojaah ni."
"Huhh... Mau tanya soal Yusuf. Boleh tidak?" Bunda menatapku.
Aku hanya menggangguk dan tersenyum.
"Bunda ingat, dulu Yusuf pernah bilang sudah sebulan ngelamar gadis pujaannya... Hmm" Bunda menggantung ucapannya.
"Terus... " Aku tersenyum." tapi bukan gadis bun, tepatnya seorang janda."
Plak... Bunda memukul pelan tanganku.
"Ya Allah... Bunda." Aku kaget.
"Gak masalah kamu janda, kamu masih cantik, masih muda, kamu harus percaya diri dengan status kamu, lagian yang salah bukan kamu, tapi laki-laki itu." Muka kesal bunda mulai terlihat. Bunda selalu begini, setelah perceraianku dengan mas Haikal, bunda selalu suka emosi mendengar semua tentang mas Haikal. Hati seorang ibu, lebih hancur melihat anaknya tersakiti.
"Hahaha... Bunda mah suka emosi kalau sudah bahas masalahku sama mas Haikal." Aku menggoda bunda.
"Ck... Gak usah sebut-sebut nama dia, bunda jadi makin emosi." Bunda kembali cemberut.
"Okeh... Tapi bunda gak boleh gitu, Afiifah saja sudah memaaaf mas Haikal, lagi-lagi ini takdir Allah untuk Afiifah, ujian juga untuk bunda dan ayah memiliki anak yang janda."
"Kenapa ujian untuk bunda?" Bunda menatapku lagi.
"Iya donk. Secara tidak langsung bisa saja bunda malu dengan status Afiifah, pasti ada orang yang tanyaasalah Afiifah sama bunda."
"Maafkan Afiifah ya Bun, Afiifah belum bisa ngebahagiain Bunda sama Ayah."
"Ck.. Ngomong apa sih kamu? Kamu itu tidak salah. Sudah lah jangan bahas masa lalu kamu, bunda mau bahas masa depan kamu." Bunda lebih menghadapku.
__ADS_1
"Katakan apa yang mau bunda bicarakan, serius amat kayaknya." aku jadi penasaran.
"Sampai mana tadi?"
"Ya ampun bunda... Benar-benar udah tua kayaknya, sampai Yusuf pernah ngelarang aku." Mulia jengkel, rasa penasadanku makin mengegebu-gebu, apa seberapanya yang ingin bunda katakan.
"Ohh iya..."
"Bunda ingat dulu Yusuf bilang sudah satu bulan menunggu jawaban dari wanita yang ia lamar, ternyata kamu."
"Kenapa kamu begitu lama memberi jawaban pada Yusuf?" Bunda tampak serius.
"Hmm... Ntah lah bun, mungkin waktu itu Afiifah benar-benar belum siap, dan masih ragu." Jawabku.
"Apa karena kamu masih mengharapkan Haikal?"
Aku tersenyum melihat kerutan didahi bunda. "Jangan suka berfikir berat bun, sampai keningnya berkerut gitu, makin nampak tua bundanya."
" Bunda serius." Bunda menepis pelan tanganku yang menyentuh keningnya.
"Huh... Bukan bun, bukan itu alasannya. Afiifah juga sudah tidak pernah berharap untuk balik sama mas Haikal lagi, Afiifah sudah ridho melepas dia bun,"
"Saya itu Afiifah benar-benar belum yakin penuh atas perasaan Yusuf, jujur saja Afiifah merasa insecure dengan status Afiifah."
"Gimana pun, Yusuf itu lebih pantas dapat wanita yang lebih baik dari Afiifah, yang masih gadis."
"Tapi kamu sekarang ada rasa untuk Yusuf?" Bunda ajakin tampak serius.
Lagi-lagi aku merasa lucu dengan wajah serius bunda "kenapa? Bunda atau menjodohkan Afiifah dengan Yusuf? Atau bunda yang jatuh cinta dengan pesona Yusuf? Hmm."
"Bunda serius ni... Lagian mustahil bunda jatuh cinta sam Yusuf, masih okean ayah lah dimana-mana."
"Hahaha.. Tau tau, ayah mah nomor satu, tersempurna dihati Bunda, satu-satunya yang tahan dengan cerewet bunda."
"Bun... Huh. Terima kasih selama ini gak pernah mau ikut campur masalah hati Afiifah, terkadang Afiifah memang butuh waktu untuk berfikir sendirian. Makasih sudah memberi kepercayaan penuh atas hidup Afiifah."
"Jujur saja... Dulu Afiifah ragu atas perasaan Yusuf, tapi kini Afiifah sudah yakin, bahwa Afiifah juga punya rasa untuk Yusuf."
"Afiifah butuh Yusuf menjadi imam yang baik untuk Afiifah, tapi sayangnya... Yusuf sudah tidak lagi mengharapkan Afiifah, bun. Dan Afiifah juga sudah belajar untuk menerima keputusan Yusuf."
Bunda benar-benar menyimak dengan khusus ucapanku.
"Jadi... Klau sudah mulia suka sama Yusuf?"
"Sedikit... Afiifah merasa kecewa ketika Yusuf memutuskan untuk melepaskan Afiifah dari khitbah nya, mungkin kami benar-benar tidak berjodoh bun."
"Seandainya ada orang lain yang ingin mengkhitbah kamu lagi, kamu mau?" Atau Yusuf yang akan mengkhitbah kamu lagi, masih mau?"
"Orang lain? Afiifah harus tau dulu siapa, tapi kalau memang menurut ayah dan bunda dia baik, agamanya baik, keluarganya baik, insayAllah Afiifah akan terima, atau jika itu Yusuf, kalau bunda dan ayah terima Afiifah juga terima. Afiifah yakin... Pilihan ayah bunda adalah yang terbaik."
"InsayAllah, bun."
"Kapan kamu siap?" Kini aku sudah bisa melihat senyum dibibir bunda.
"Kapan saja Afiifah siap, asal ada laki-laki nya, bukan nikah sendiri, hehehe."
"Oke. Bunda akan bilang sama Ayah, kalau kamu menerima lamarannya, dan siap menikah. Makasih ya nak." Bunda tampak sangat bahagia.
"Menerima lamaran? Apa maksud bunda? Apa ada seseorang dibawah yang sedang ngelamar Afiifah?" aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tauku.
Bunda mengganguk sembari tersenyum.
"Siapa bun?" Aku hendak berdiri.
"Eh... Mau kemana? Sini aja, gak usah turun. Suprise buat kamu, pokoknya kamu mah tenang saja, dia lebih ganteng dari mantan suami kamu, lebih cool, lebih keren, lebih baik, lebih mapan, pokoknya lebih segala-galanya."
"Siapa, bun? Afiifah mau lihat sikit aja, cuma mau tau siapa orangnya kok, Afiifah janji... Masih akan tetap menerima lamarannya."
"Masak iya Afiifah gak boleh tau orangnya sih!" Aku bingung dengan sikap bunda.
"Kali ini bunda yang akan urus segala pernikahan kamu, dimana surat cerai kalian dulu?"
"Dalam lemari." aku menjawab dengan patahan leher kearah lemari.
"Ambil!" Bunda mendorongku.
"Bun... Ini bunda serius mau langsung menikahkan Afiifah tanpa ngasih tau orangnya? Bunda serius Afiifah gak boleh tau siapa orangnya?"
"Iya... Ayo buruan ambil syarat-syarat untuk nikahnya."
Bunda semakin mendorongku masuk
YA ALLAH...
Bunda benar-benar deh, barang sedikit pun aku gak boleh liat siapa yang tiba-tiba datang khitbahku.
Aku menyiapkan segala keperluan syarat untuk menikah, jelas saja aku gak bingung, karena ini pernikahan keduaku.
Yang mana sebelumnya, aku juga sudah pernah ngurus persyaratan untuk menikah.
"Ini bun, tapi masih perlu surat tanda ** dulu gak bun untuk syaratnya? Kayaknya cuma itu saja yang kurang."
"Cuma itu? Nanti bunda telpon pak Ahmad, bisa lah di atur." Bunda memegang map ditangannya dengan erat. Sungguh... Bunda tampak sangat bahagia.
"Bunda serius, Afiifah gak boleh tau siapa orangnya?"
Bunda mengangguk. "Tenang saja... Kamu pasti suka sama dia."
__ADS_1
"Bukan gitu bun, Afiifah juga mau tau donk, kenapa dia tiba-tiba datang melamar, dia gak tau kekurangan Afiifah, gimana nanti kalau setelah menikah dia gak bisa terima kekurangan Afiifah? Setidaknya Afiifah yakin kalau dia benar-benar menginginkan Afiifah, Bun."
Ck... Bunda ada-ada saja, okelah tadi aku katakan menerima lamaran siapa pun selagi ia baik menurut bunda, tapi gak gini juga!
Masak mau ketemu saja gak boleh, biar suprise lah.. Ahh alasan apa itu.
"Bunda kebawah dulu oke. Kamu jangan banyak berfikir, yang pasti ia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, ayah sama bunda sudah mengenal baik orangnya."
"Bunda keluar dulu, lanjutin lagi aja ngafal dan murojaah nya."
"Bun, sebentar." Aku menarik tangan Bunda, "Apa dia Yusuf?" ahh... Aku masih ingin tau siapa calon suami yang sudah aku terima secara tidak langsung itu.
Bunda menggeleng. "Nanti kamu juga akan tau siapa orangnya, kita akan diskusikan rencana kedepannya."
"Tanpa Afiifah gitu? Apa lah bunda ini... Ini kan pernikahan Afiifah, gak bisa Afiifah yang memilih sendiri konsepnya?" Aku memelas.
"Katakan, konsep pernikahan seperti apa maumu?" Bunda kembali mendekatiku.
"Hmmm.... "aku berfikir sejenak," Ck... Masak gak boleh Afiifah ikut andil dalam persiapan pernikahan Afiifah sih, bun."
Aku masih bersikekeh untuk tau.
"Afiifah percaya sama bunda kan?" Bunda menagkup wajahku dengan kedua tangannya. Meleleh sudah rasa kekeh keingin tauan melihat tatapan mata bunda yang begitu hangat. Aku mengangguk.
Baiklah... Aku menyerah.bunda benar, anggap saja ini rasa suprise untukku. Lagian pilihan ayah dan bunda kali ini pasti yang terbaik.
"Bunda kebawa dulu, kamu jangan lupa terus belajar memperbaiki diri, lebih memantaskan diri lagi untuk siap menjadi seorang istri. Ingat... Perpisahan kamu dan mantan suami kamu bukan salah Afiifah, Allah pasti akan memberikan Afiifah laki-laki yang terbaik." Bunda mencium keningku.
"Makasih bunda...
"Afiifah akan ingat selalu pesan bunda,
"Doakan Afiifah untuk menjadi anak yang semakin berbakti, jadi wanita yang lebih baik, dia bisa menjaga rumah tangga Afiifah kali ini dengan baik."
Aku peluk tubuh wanita yang telah memberikan aku cinta tiada tanding ini. Air mataku tanpa diundang jatuh begitu saja.
Sepeninggalan bunda, tetap saja rasa penasaranku semakin kuat. Tapi ya sudahlah... Bunda melarang aku untuk tau.
Aku setengah berlari, mencari ponsel yang tadi kelenjar kesmebarang arah diatas tempat tidur. Tanpa berpikir panjang aku menelepon nomor Yusuf.
Tut... Panghilanku ditolak.
"Gak usah telpon, aku lagi dijalan. Wa saja." pesan dari Yusuf.
"Dari mana atau mau kemana?" balasanku.
"Dari kantor, ambil berkas yang tadi ketinggalan." balasan Yusuf lagi.
"Selamat malam, dengan wink's Cafe&Resto, ada yang bisa di bantu?" Terdengar jawaban seorang wanita dari balik telpon.
"Ini saya, Afiifah. Barusan ad apakah Yusuf kekantor?"
"Oh... Bu Afiifah! Ada bu, baru sekitar 5 menit yang lalu beliau pulang, hanya sebentar. Sepertinya ada yang ia ambil, bu."
"Baiklah... Makasih ya Rin,"
"Sama-sama, bu."
"Apa yang aku fikirkan? Ck... Apa ini? Kenapa aku berharap Yusuf yang sedang dibawah?" Aku kesal pada hatiku sendiri.
Aku membuang nafas lagi.
Aku kembali kebalkon untuk melanjutkan hafalanku, tapi fikiran tidak fokus.
"Ya Allah... Gak konsentrasi."
Aku menuntup surah Alkahfi. Dan membuka Juz 30, murojaah surah Annaba', lagi-lagi fikiranku masih kacau.
"Astagfirullah...." Berkali-kali aku istighfar, fikiranku masih balik kelaki-laki yang tadi datang kerumah.
Dret Dret...
"Yusuf... Kenapa dia telpon?" Saat layar ponselku menunjukan nama Yusuf yang menelepon.
"Assalamualaikum, ada apa Suf?" aku mencoba menatralisir perasaanku.
"Wa'alaikumussalam, tadi kenapa kamu telpon? Aku masih dijalan tadi dari kantor." Tampak wajah Yusuf.
Tut...
Aku matikan dan balik telpon.
"Kenapa dimatikan?" tanya Yusuf.
"Gak papa, gak usah Video Call, telpon biasa saja,
"tadi cuma mau tanya kabar saja, setelah seharian keluar rumah, apa kamu ada keluhan." alasanku.
"Oh... Aku gak papa, sehat alhamdulillah. Terima kasih sudah mengantar aku sampai rumah tadi."
"It's oke... Semiga kamu selalu sehat dan bahagia, aku tutup dulu ya, assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban dari Yusuf, aku segera mematikan langgilanku.
Kenapa ada rasa sedih dan kecewa mengetahui bukan Yusuf laki-laki yang datang mengkhitbahku barusan.
"Mungkin memang tidak jodoh." Monologku.
__ADS_1