Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 56


__ADS_3

Dari detik ini aku memutuskan untuk terusi bahagia dan terus bersyukur.


Terllau banyak alasan yang membuat aku harus bahagia, Smga lah satunya keluarga yang amat sangat mencintaiku.


Melihat kepedulian Yusuf dan keluarganya pada Kia, yang hari Mami rela meninggalkan kliennya dibutik hanya untuk ikut ziarah kemakam Kia, padahal bisa saja Mami kehilangan puluhan juta saat ini, membuat aku semakin yakin bahwa mereka memang menerima aku sepenuh hati.


"Terima kasih sudah membuat aku merasa semakin berharga, selalu memikirkan aku." Aku semakin mengeratkan genggaman tangan Yusuf, saat keluar melewati jejeran makam di TPU pondok indah ini.


"Hm, percayalah... Abang akan selalu berusaha membuat kamu bahagia. Apapun...selagi Abang mampu."


"Kamu mau pulang?"


"Abang harus ke kampus sebentar, mau antar soal untuk MID semester anak-anak." Setelah mobil semakin meninggalkan lokasi TPU pondok indah.


"Lama ke kampusnya?"


"Rencananya aku mau belanja, dikulkas hanya sedikit stok untuk memasak. Mumpung kita keluar."


"Gak juga sih, mau Abang temani?"


"Hmm... Kalau abang sibuk, biar aku minta temani Bunda saja." Aku menoleh kebelakang masih tampak mobil yang ditumpangi Bunda, Mami dan Nisa, yang tadi pamit langsung pulang.


"Biar sama Abang saja."


"Baiklah."


"Ayo turun!" Sesaat setelah kurang lebih empat puluh lima menit diperjalanan, akhirnya sampai dikampus tempat Yusuf mengajar.


"Biar disini saja, gak lama kan?"


"Yakin?"


"Iya, gak papa. Aku tunggu disini saja."


"Ya sudah Abang keatas sebentar, nanti kalau ada apa-apa telpon Abang, dan... Disamping ada kantin, kamu bisa makan disana kalau lapar atau butuh minuman, nanti setelah pulang dari kampus kita makan siang sekali belanja." Yusuf menunjuk kantin yang ia maksud sambil setelah membuka seatbelt.


"Iya." Aku mengantar Yusuf keluar dengan senyuman setelah satu kecupan manis mendarat dikeningku.


Untuk yang kedua kali aku datang kekampus ini, masih ingat dengan jelas bagai mana dulu Yusuf digoda mahasiswinya. Bagai mana kabar anak itu jika tau Yusuf sudah menikah. Mungkin kah ia akan kecewa?


Jadi ingat dulu, aku juga pernah mengagumi dosen bahkan guru SMA-ku, Bahkan juga sering jadi bahan olok-olok temanku, akupun pernah patah hati ketika dosen yang ku incar sudah akan menikah.


Tapi mengagumi guru atau dosen Seperti menjadi hal yang positif bagiku, jadi lebih giat belajar, biar sering dipanggil dan biar jadi mahasiswi kesayangan.


Sepuluh menit berlalu. Ternyata terasa lama ketika menunggu orang yang kita cintai tak kunjung datang, sesekali aku melirik tangga dimana tadi Yusuf hilang dalam pandanganku.


"Maaf sayang... Sedikit lebih lama, mungkin setengah jam lagi, nunggu teman lagi keluar."


"Teman apa?"


"Teman untuk Abang titipkan soal MID ini."


"Sayang tunggu Abang dikantin saja. Ada pegang uang kan?"


"Ada. Oke lah. Nanti cari dikantin yah. Jangan lama-lama... Kalau udah langsung turun."


"Kangen ya? Baru juga beberapa menit."


"Bukan kangen, bosan aku nya." pesan-pesan Yusuf cukup menghapus sedikit kebosanaku.


"Bu, jus mangganya satu." Aku keluar dari mobil, mengikuti saran Yusuf untuk menunggunya dikantin, sedikit sepi hanya ada beberapa anak-anak yang nongkrong dikantin. Mungkin karena memang karena jam makan siang sudah hampir habis.


Sembari tersenyum aku memesan satu gelas jus mangga, kebetulan sudah dari kemarin kepingin minum jus mangga.


"Makannya gak, Neng?" Tanya sang pemilik warung.


"Gak, Bu. Jusnya saja." Jawabku diiringi Gelengen pelan.


"Tunggu ya, Neng. Ibu bikinkan dulu."


Ku jawab dengan anggukan lagi. Mengalihkan sementara pandangan dari layar ponsel, tidak ada balasan pesan dari Yusuf.


"Kabarnya Pak Yusuf benar sudah menikah lho, Ta." Sontak tanganku yang sedari tadi sibuk dengan aktivitas menscroll instagram terhenti ketika nama Yusuf mereka sebutkan.


Muhkin Yusuf yang lain, fikirku.


"Ck." Aku menggelengkan pelan kepalaku, mencoba untuk mengabaikan mahasiswi disampingku yang sedang bergosip.


"Masak sih? Kalau benaran kasian ya Bu Sarah. Padahal kita semua ngira mereka akan menikah. Aku sih setuju kalau mereka menikah. Cantik satunya ganteng." Sarah? Sepertinya Yusuf yang mereka bicarakan benar adanya suamiku. Sarah... Aku ingat! Ia adalah wanita yang pernah kutemui dibioskop lalu, yang memperkenalkan diri sebagai mantan Yusuf. Masih teringat bagai mana ia menatap Yusuf penuh kekecewaan ketika mengetahui Yusuf sudah menikah.


"Kalau aku mah gak setuju. Bu Sarah itu terlalu centil, kasian Pak Yusuf. Lagian dulukan Bu Sarah yang meninggalkan Pak Yusuf."


"Masak Iya sih?" Aku melirik kedua mahasiswi didepanku, sedangkan satu mahasiswi yang ditengah sibuk dengan mie goreng didepannya.


"Iya. Katanya lagi... Istri pak Yusuf yang sekarang gak cantik-cantik amat, masih kalah sama Bu Sarah." Lanjut sikerudung biru.


"Ck, sok tau kamu. Nih lihat..." Yang baju biru samping kanan meyodorkan ponselnya, "Istrinya juga gak kalah cantik sama Bu Sarah. Kelihatannya baik lagi, teduh wajahnya kalau dipandang." Dengan ekspresi puas sibaju biru yang dikanan kembali menutup ponselnya.


"Itu dapat photonya dari mana Mel"? tanya sibaju biru yang kiri.


"Lu dari tadi makan mulu deh, Lin."


"Habisnya kalian malah gosipin pak Yusuf. Aku yang ngefans aja biasa saja ngedengar Beliau sudah menikah." Jawab mahasiswi yang dipanggil Lin itu.


"Justru kalau lu ngefans harusnya lu cari tau donk, iya kan Ta?"


"Neng... Jusnya." Si Ibu kantin membuyarkan kekhusukan aku mendengar mahasiswi Yusuf ngegosip.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu."


"Bismillah hirrohaman nirrohim." Detik kemudian sudah beberapa tegukan sukses membuat rasa haus dan penatku hilang, apa lagi ngedengar anak-anak ini mgegosip.


"Mahasiswi baru ya, Neng?" Bu kantin mereka menatapku lekat.


"Bukan, Bu. Khuk... Saya lagi nungguin suami." Aku kembali tersenyum, dan sontak ketiga mahasiswi disampingku menoleh, menatapku sesaat lalu kembali melanjutkan obrolan cantik mereka.


"Oh... Kirain mahasiswi baru, pantas saja Ibu batu ngeliat Neng, asing soalnya."


"Lanjutin Neng, Ibu kedalaman dulu. Nanti kalau butuh sesuatu panggil saja."


"Terima kasih, Bu."


"Jadi penasaran sama istrinya pak Yusuf." Yang ditengah, yang tadi dipanggil Lin kembali membuka suara.


"Sayang..." Yang ku tunggu akhirnya datang. Gak sabar liat ekspresi mereka saat mengetahui aku adalah orang yang sedari tadi jadi bahan santapan obrolan cantik mereka.


"Eh, udah kelar?" Aku segera menoleh dan mengkode agar Yusuf disampingku, tepat dihadapan ketiga mahasiswi itu.


"Sudah, udah pesan makanan nya?"


"Kok cuma jus doang?"


"Mau Abang pesankan makan?"


"Udah hampir jam dua, kamu belum makan siang." Yusuf mamandnagku lekat.


"Gak papa, nungguin Abang, katanya mau makan diluar saja." Aku menggeser dudukku.


"Pak." Si baju biru yang kanan menyapa Yusuf, diikuti anggukan sopan kedua temannya. tampak jelas wajah tak karuan mereka.


Beberapa kali mereka saling pandang dan tersenyum masam saat beradu pandang denganku, aku hanya menikmati raut wajah mereka dengan menahan tawa.


"Istri Bapak?" Tanya salah satu dari mereka.


"Iya, istri saya, udah kenalan?"


"Belum pak, baru juga bapak kenalkan." Jawab yang tengah, yang sedari tadi tidak Terlalu banyak bicara.


"Assalamualaikum, Bu." Sapa mereka hampir bersamaan.


"Wa'alaikumussalam..." Aku menyambut uluran tangan mereka dengan tersenyum, mencium punggung tanganku bergantian.


"Kenalkan Bu, saya Meli... Ini teman saya Alin, dan Tata. Kita mahasiswi pak Yusuf semester Empat, Bu." Oh... Ternyata anak yang duduk dikanan Meli, dan yang jadi fansnya Yusuf ini bernama Alin.


"Salam kenal yah, senang bertemu dengan kalian, tentunya juga kalian kan? Jadi gak penasaran lagi." Aku tersenyum saat melihat senyum kejut mereka.


"Hehe... Iya, Bu." Jawab si Meli sembari menyeruput jus semangkanya yang warnanya sudah memudar.


"Abang sholat dulu ya, udah hampir jam dua. Nanti takut gak keburu kalau harus cari masjid diluar." Yusuf melirik arloji ditangan kirinya.


"Baik, Pak." Jawab Anak bernama Alin.


"Maaf, Bu kalau tadi kita menyinggung perasaan Ibu." Alin yang sedari tadi tidak banyak bicara lebih berani memulai percakapan denganku, sedangkan kedua temannya tampak lebih tidak enak hati.


"Gak papa, terus sekarang gimana? Lebih cantikan saya... Atau Bu Sarah?"


"Uhuk..."


"Hahaha..."


"Ma...maaf, Bu."


"Hehe... Gak papa, saya hanya bercanda."


"Mau pesan makan lagi?" Tawarku, mencoba mencairkan suasana canggung mereka.


"Udah... Santai saja, jangan tegang gitu."


"Jurusan management bisnis?"


"Iya, Bu." Jawab Tata.


"Hm..." Aku mengangguk-angguk pelan.


"Kenapa ambil jurusan manajemen bisnis?" masih berusaha membuat mereka nyaman.


"Pengen jadi pengusaha?" Mereka masih tampak canggung.


"Iya, Bu. Tapi beda sama mereka, si Alin lebih pingin jadi Entreprenuer dibandingkan seorang pengusaha, dia mah orkay, Bu. Jadi gak mikir untung rugi, yang penting puas." Jawab si Tata, sepertinya ia mulai merasa nyaman.


"Kalau kamu..."


"Meli, Bu."


"Iya Meli. Minat jadi pengusaha atau Entreprenuer?"


"Jadi Dosen Bu, kayak Pak Yusuf. Siapa tau dapat suami cakep kayak pak Yusuf, heheh... Becanda, Bu." Ia mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya.


"Hahah... Bisa saja kamu."


"Eh... Udah selesai shalatnya?" Terlampau asik bersama mereka tidak menyadari keberadaan Yusuf.


"Sudah,


"Sudah selesai minumnya?"

__ADS_1


"Sudah. Abang gak minum dulu?"


"Gak usah, nanti kita mampir ke Denco sebelum beli perlengkapan dapur."


"Bu..."


"Iya, eh... Pak Yusuf! Ada yang bisa dibantu pak?"


"Ini suami yang tadi Ibu maksud?" Ibu kantin yang Yusuf panggil sepertinya kaget mengetahui Yusuf adalah suamiku.


"Iya, Bu. Kenapa? Kaget yah? Heheh."


"Iya, Bu. MasyaAllah... Selamat, Bu. Semoga selalu bahagia, ahirnya salah satu dosen idola menikah juga."


"Terima kasih, Bu. Panggil saja Afiifah saja, Bu." Aku menerima uluran tangan Bu kantin padaku.


"Sering-sering temenin Pak Yusuf kekampus Bu, soalnya disini banyak yang incar bapak, Suami Ibu banyak fansnya. Hehehe."


"Ibu bisa saja."


"Berapa Bu?" Yusuf segera berdiri.


"Sekalian punya mereka." Yusuf menunjuk ketiga mahasiswinya dengan dua lembar seratus ribuan yang dijepit diantara telunjuk dan jari tengahnya.


"Benaran saya Bu, tuh buktinya salah satu dari mereka ada yang fansnya Bapak,


"Benarkan?" si Ibu kantin mengalihkan pandangan pada mereka bertiga.


"Hehe..." hanya dijawab dengan nyegiran kuda mereka.


"Lain kali jangan suka ngegosip Neng, kan jadi gak enak kalau ternyata yang digosipin ada didepan mata."


"Ini Pak, semuanya delapan puluh dalapan ribu." Ibu kantin menyerahkan bon pesanan pada Yusuf.


"Hahah... Ibu bisa saja, saya gak papa Bu, lagian mereka juga gak ngomong yang aneh-aneh." melihat tampang mereka yang sedikit ketakutan membuat aku kasian.


"Mereka ngomongin apa, yank?" Yusuf kembali duduk.


"Gak papa, cuma bilang kalau kamu dosen favorit mereka." Aku kembali tersenyum melihat ekspresi malu-malu mereka, yang ketangkap basah sedang mgegosip.


"Oh..."


"Gak usah, buat Ibu saja." tolak Yusuf sopan saat ibu kantin menyodorkan uang kembalian pada Yusuf.


"Terima kasih, Pak."


"Kita pamit, Bu." Yusuf segera menggenggam tanganku.


"Kita duluan yah, belajar untuk MID mata kuliah saya." Yusuf sekilas menatap dingin tanpa senyuman, bergantian pada ketiga mahasiswinya itu.


"InsyaAllah, Pak. Terima kasih traktirannya pak."


"Kita duluan yah, jangan banyak ngegosip lagi. Hmmm." Aku Mengedipkan mata pada mereka yang dibalas dengan senyuman kecut mereka.


"InsyaAllah, Bu. Sekali lagi mohon maaf kalau ada kata-kata kita yang tidak berkenan, Bu. Dan selamat atas pernikahan Ibu dan pak Yusuf. Dari saya pribadi semoga Bapak dan Ibu selalu bahagia dan segera diberi anak-anak yang sholeh sholehah seperti Bapak dan Ibu." Alin kembali menjabat tanganku dan mencium punggung tanganku, diikuti kedua temannya.


"Terima kasih, Yah. Kita pamit."


"Assalamualaikum,


"Bu, Assalamualaikum." Aku mencium punggung tangan Ibu kantin.


"Wa'alaikikumussalam."


"kik... " aku melambaikan tangan pada mereka.


Setelah ini entah apa yang akan jadi bahan gosipan mereka, mungkin aku lah yang sekarang jadi topik hangat Mereka.


"Ngomongin apa mereka?" Yusuf tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Gak ada yang penting sih, mereka cuma bilang kalau gosip hangat dikampus sedang membicarakan Abang yang sudah menikah." Aku sesekali melirik Yusuf yang pandangannya fokus kedepan.


"Oh... Terus apa lagi?"


"Gak ada. Cuma itu doang.


"Memangnya Abang berharap apa lagi?


"Minta dipuji karena ganteng, trus jadi dosen favorit mahasiswinya?"


"Mungkin saja, karena memang aku sering jadi topik menarik dalam gosipan mereka, bahkan dalam mading fakultaspun, lukisan Abang sering terpajang." Ah... Senyum bangga yang menyebalkan.


"Dulu aku juga gitu kok! Jadi salah satu cewek terfavorit dikelasku, bahkan diangkatanku. Kata mereka aku pintar." Aku tidak mau kalah. Ada rasa tidak suka ketika mengetahui Yusuf menjadi idola dikalangan mahasiswinya.


"Hahahah... Jangan cemburu, mereka itu masih kecil, kamu jauh lebih menarik dari pada mereka." Yusuf mengusap lembut pipiku.


"Kalau Sarah, Gimana? Masih kalah menarik dari aku?" Aku memandang Yusuf, berusah mencari tau isi hatinya.


"Tentu saja, kamu itu istri Abang. Kelas lebih segalanya dari siapapun. Abang sudah tidak tertarik dengan pesona wanita mana pun."


"Ayo turun." Mobil sudah terparkir didepan restoran Denco, salah satu restoran pilihan orang-orang kalangan atas, disini tersedia menu hampir dari penjuru negeri.


Selain dari desain lestorannya yang memang klasik dan nyaman, rasa masakannya juga tidak kalah mantap.


Rasa masih menjadi pilihan utama restoran ini.


Tidak terlalu ramai, karena mungkin waktu makan siang sudah lewat.

__ADS_1


Memilih kursi paling pojok, dilantai dua bisa melepaskan sedikit penat yang sedari pagi sudah keluar rumah.


__ADS_2