Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 9


__ADS_3

Hampir 1 tahun sudah aku kehilangan tidur yang berkualitas.


Tidak ubah nya dengan pagi ini, bahkan semalam menjadi tidur terburuk dalamhidupku.


menjadi malam paling kelam sepanjang hidup ku.


Bismillah... Aku tarik nafas begitu dalam. Aku pejamkan mata, aku minta kekuatan dari zat yang maha berkuasa.


Mulai hari ini aku bertekad untuk lebih kuat.


Prioritasku saat ini adalah Kia.


"Subhanallah... MasyaAllah, anak ibu sungguh sangat cantik." Ku pakaian Kia baju muslimah dengan kerudung sedikit panjang menutup sempurna tubuh kecil nya.


aku bertekad untuk mulia ajarkan Kia ilmu agama dan nilai-nilai agama sejak hari ini.


Aku ingin dia tumbuh menjadi seorang muslimah demagn penuh rasa keimanan.


Aku khilaf selama ini sibuk mempercantik rupa Kia, aku lupa bahwa aku harus menanamkan akhlak mulia sedini mungkin. Aku ingin Kia hidup dengan akhlak yang mulia dan lebih mengenal Allah.


"Wah... Kia suka ibu!" Kia memutar badannya sembari melihat cermin besar di depannya. Dia sangat bahagia melihat sosok cantiknya dibalik cermin.


"Alhamdulillah... Mulia hari ini, Kia harus selalu memakai kerudung ya, biar Kia semakin cantik dan disayang Allah, dan kalau Allah sayang, semua orang juga akan sayang Kia."


Aku menagkup kedua pipinya sembari tersenyum.


"Ituu artinya, Abi pun akan sayang Kia lagi y bu?" senyumku spontan memudar.


Ah kenapa ada sakit lagi di hati ini?


Belum bisa ku terima perbuatan mas Haikal pada ku terlebih lagi pada Kia, betapa kejam sikap mas Haikal pada buah hatinya.


Ini lah yang aku takut kan.


Jawaban apa yang akan ku berikan saat Kia bertanya banyak hal tentang Abi nya.


Aku lemah kalau sudah di hadapan Kia." hmmm tentu sayang, tapi Kia jangan lupa berdoa supaya Abi pun selalu sayang Kia, ya udah youk kita berangkat!" Aku memimpin langkah.


"Kita mau kemana ibu?" Kia mengikuti Tarikan tanganku.


"Kita ketemu tante Valen, tante Ana dan bibi Nada nanti, kita kerumah sakit dulu, oke!"


Aku putuskan untuk gunakan jasa taxi, tentu saja aku tidak akan menyentuh mobil merah di depan rumahku itu, terasa jijik ketika membayangkan perbuatan dosa mereka disana. Terlebih lagi... Mas Haikal tak akan membiarkan aku menyentuhnya.


"Kata Ibu, kakak gak boleh ikut kerumah sakit banyak virus nya, kenapa kita kerumah sakit sekarang?" tanya Kia.


Aku tersenyum kembali dan masuk ke dalam taxi yang sudah ada di hadapanku yang telah ku pesan lewat online.


"Sekarang bukan untuk ibu kerja, lagian kita cuma main keruangannya tante Valent kok, gak ada orang sakitnya." Jelasku.


**


Tok tok


"Kak, boleh masuk?" aku meminta izin dengan membiarkan sedikit kepalaku masuk kedalam ruangan pribadi kak Valen.


Walaupun aku sudah janjian dengannya tapi, aku masih sangat menghargai privasi dia.


Dia emang punya ruangan sendiri karena dia memang seorang kepala ruangan di ruangan icu rumah sakit ini, tentu saja perlu ruangan untuk menyimpan segala berkas dan laporan pekerjaannya.


"Ehh Afiifah! masuk Fah, sebentar ya aku rapikan dulu." kak Valen segera menyingkirkan map merah dan kuning dari atas mejanya.


"Ada apa Fah? Kayak nya penting banget sampai kamu harus datang keruangan aku, kamu kan masih ada izin istirahat hari ini." kak Valen menghampiriku.


"Aku mau konsultasi kak, kalau Aku risegn sekarang gimana y kak? kontrak kerja masih satu bulan lagi." aku mulai mengutarakan maksudku ragu-ragu.


"Hmm!" kak Valen mulai berfikir.


"Kapan kamu akan mulai berhenti?" kak Valen memecah keheningan.


"Hari ini kak, aku berencana pulang kerumah orang tua ku dua hari lagi." jawabku.


"Kenapa sangat mendadak Fah?" jelas saja kak Valen terkejut.


"Nanti aku akan cerita kekalian dirumahku kak, tapi bisa gak aku putuskan kontra kerjaku sekarang?" aku mulia merasa putus asa.


"Sebenar nya gak bisa Fah, apa pun alasan kamu, kamu akan tetap harus bayar penalti" kak Valen menegaskan dengan menyatukan kedua tangannya.


Sebenar nya aku tau dengan aturan ini, kalau berhenti sebelum kontrak kerja selesai aku harus bayar pinalti, arti nya uang ganti dua kalj lipat dari upah yang ku terima tiap bulan.


"Gak papa kak aku bayar, tapi gimana dengan jadwal dinas kalian? Kalian pasti kerepotan karena kekurangan anggota."


ya sudah lah... Aku lanjutkan juga gak mungkin, aku sudah janji akan pergi setelah tiga hari dengan mas Haimal.


"Kamu ke sini mau bilang masalah ini fah?" tanya kak Valen. Dan mengabaikan pertanyaanku tadi.


Aku mengangguk. "huh... Kita kerumah kamu saja fah, saya sudah izin keruangan untuk keluar, lagian Ana dan Nada juga sudah siap mau tewe kerumah kamu." ajak kak Valen yang sudah berdiri.


Aku masih diam di tempat.


"Ayokkk... Nanti kita bahas di rumah, kamu gak usah terlalu risau, pasti ada jalan keluar, nanti kita shering di rumah kamu, kamu bawa mobil ke sini?" kak Valen keluar ruangan dan tentu di ikuti olehku.


"Gak kak, aku dan Kia pakai taxi." jawab ku dengan sedikit gelengan.

__ADS_1


"Ohhh...!ya ampun! Kia sangat cantik." kak Valen mencoel pipi gemes Kia.


"Iya donk tante... Kia suka baju muslim ini tante." jawab Kia antusias, tampak sekali raut bahagia di wajah nya.


Betapa bahagia menjadi kecil sperti kia.


"Kita jemput Ana dan Nada dulu ya," mobil kak Valen keluar parkiran rumah sakit.


***


"Lho dirumah mu ada Haikal, Fah? " tanya kak Ana setelah mobil yang kami kendarai sampai di depan rumahku.


Jelas saja aku kaget, kenapa mas Haikal belum pergi? Bagaimana reaksi mereka setelah melihat mas Haikal bersama perempuan lain.


"Tunggu kak!" aku menahan mereka saat hendak turun.


"Kenapa, Fah? Kamu takut? Gak papa Fah, ada kita, kita pasti jagain kamu." tanya kak Nada yang duduk di sampingku.


"Bukan itu kak... Tapi."


Krekk...


Belum selesai ucapanku. Mas Haikal keluar dengan Felli, tentu saja dengan gelayut manja Felli di lengan mas Haimal.


Sontak mata mereka terbelalak lebar, seolah tak percaya yang mereka lihat.


Mereka melihatku bersamaan.


"Afiifah, apa semalam mereka menginap di rumahmu?" kak Nada sudah tak tahan untuk bertanya. Aku meng-angguk.


"Mereka tidur berdua fah?" sambung kak Ana. Aku kembali meng-angguk.


"Astaga... Emosi pulak aku. Macam lah tak punya otak betul mereka."


kalau udah emosi, kak Valent sangat ngeri, secara dia pun keturunan batak. Tapi dia sangat baik pada sahabat-sahabtnya.


Mereka mulai emosi, dan itu tampak jelas kemarahan diwajah mereka.


"Itu wanita yang waktu itu ketemu kita dilestoran kan, Fah?" Kak nada bertanya dengan kerutan berlipat-lipat didahinya.


Aku meng-angguk lagi, "stttt tenang kak, jangan marah, jangan turun dulu biarkan mereka pergi dulu, nanti aku jelasin, aku gak mau Kia ketemu Abi nya dan buat Kia sedih lagi."


Aku berusaha membuat mereka tenang.


Mereka mulai tenang sambil melihat mobil mas Haim dan Felli meninggalkan rumah kami.


Astagfirullah...


Kenapa masih sakit rasa nya?


Aku gak kuat membayangkan yang terjadi di antara mereka semalam.


Aku gak bisa lupa suara ******* mesra mereka yang terdengar bak petir di telinga ku.


Ya Allah kuat kan hati ini.


"Afiifah!" kak Nada menggoyang tubuhku dengan sedikit kencang sehingga membuyarkan pikiranku tentang malam indah mereka.


"Ehh i... Iya kak." suaraku terbata-bata.


"Afiifah...!" wajah kak Ana sudah tidak sabar minta penjelasan.


"Oke... Kita turun dulu, simpan pertanyaan kalian, nanti aku jelaskan." aku segera memotong ucapan kak Ana, aku tau mereka sudah tidak sabar memburuku dengan pertanyaan mereka.


Kali ini aku biar Kia main SmartPhone, tapi tentu saja masih dalam pengawasanku, biar dia fokus kemainan nya dan tidak mendengar ucapan aku dan para wanita mengerikan ini kalau sudah marah.


Sudah dapat aku pastikan suasana saat ini akan tegang setelah mendengar penjelasanku.


"APPAAAA?" mereka kaget bersamaan.


"Jadi semalam mereka benar inginap disini?" tanya kak Nada.


"Mereka tidur bersama?" sambung kak Ana lagi.


"Kau...! Kau gak gila kan, Fah? Kenapa lah gak kau bunuh saja bajingan itu, aisss bangsat kali lah dia." kak Valen emosi tanpa sadar logat khas bataknya keluar.


Sontak saja aku tersenyum. Ntah apa yang membuatku bisa tersenyum disaat seperti ini.


"Stttt... aku kesini minta bantuan kalian untuk bereskan Barang-barangku bukan untuk bunuh orang." candaku.


"Hebat kau, Fah,


"Hebat... Hebat kau bisa tenang lihat suamimu tidur dengan wanita lain." kak Valen memberikan dua jempolnya didepan wajahku.


Aku kembali tersenyum getir.


"Gak kak... Jelas aku aku sakit, jelas aku marah, aku murka bagaimana pun aku hanya manusia biasa, bagaimana pun aku masih ada cinta untuknya, untuk laki-laki yang selama enam tahun lebih ini ku panggil suami, tapi apa hakku untuk melarang mereka melakukan itu semua." aku menghempas nafasku kasar.


"Aku hanya orang luar, aku bukan siapa-siapa kak di rumah ini, aku hanya menumpang, statusku bukan lagi nyonya di rumah ini, aku hanya mantan istri nya."


"APPAAAA?" mereka lebih kaget lagi sambil menatap wajah senduku.


"Mantan istri kata mu?" kak Ana sadar dengan ucapanku.

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Fah? Kau sudah bercerai atau masih berencana bercerai?" kak Nada butuh jawaban pasti dariku.


"Iya... Aku adalah mantan istri nya kak, aku wanita yang baru saja di thalak suamiku semalam, sekarang aku seorang janda." Ahh entah kenapa berat rasa nya mengatakan kata talak dan seorang janda?


Tiba-tiba pertahanan hatiku mulai runtuh. "dia sudah mengembalikan aku keorang tua ku, bahkan mas Haikal sudah menjatuhkan thalak dua padaku kak."


Isak tangisku mulai terdengar.


"Afiifah..." kak Ana merangkulku. Memelukku memberiku sedikit kenyamanan dan ketenangan.


"Jadi ini alasan kamu untuk pulang ke rumah orang tua mu dua hari lagi, Fah?" kini kak Valen mengerti alasanku.


"Kamu mau pulang ke Jambi, fmFah? Dua hari lagi? Kenapa mendadak sekali Fah?" kak Nada melepaskan pelukannya.


"Aku harus gimana kak? Gak mungkin aku masih tinggal di rumah ini? Aku sudah tidak di izinkan mas Haikal di rumah ini lagi kak,


"Aku sudah meminta izin untuk menghabiskan masa iddahku disini. Tapi mas Haikal tidakberi izin, dia meminta untuk segera kembali kerumah orang tuaku.


"lagian aku gak sudi kalau harus melihat perbuatan hina mereka di depanku, aku takut Kia tau perbuatan Abi nya kak, bagaimana pun aku mau mas Haikal jadi ayah yang baik dimatanya."


Tentu saja aku masih menangis, walau sudah mulai mereda.


"Sabar ya, Fah." elus kak Nada dipundakku.


"Hmmm... Tapi aku masih belajar kak " jawabku.


"Kami tau ini pasti berat untuk mu dan kia fah, kami hanya bisa mendoakan kamu dan kia selalu bahagia fah "


" makasih kak " aku memeluk kak ana.


" maksih y kak, kalian sudah sudi menjadi keluarga ku selama di sini, makasih juga jadi sahabat terbaik untuk ku. Semoga kita masih bisa bertemu lagi nanti suatu saat. "


Aku memeluk mereka secara gantian.


" kamu pasti kuat fah " kak Valen mengangkat lengan nya dan di ikuti kak nada dan kak ana.


" fighting " mereka kompak.


Aku balas dengan senyuman dan ikut mengangkat tangan sperti mereka.


" sabar ya fah " kak ana masih ragu kalau aku bisa tegar.


" iya kak, iya insya allah kak, udah donk ah, aku masih punya allah kak, dulu allah yang memberikan rasa cinta di hati ku untuk mas haikal dan sekarang aku juga yakin kak allah akan membantu hati ku untuk sembuh, percaya lah kak, aku hanya butuh doa kalian "


Aku pandang wajah kak ana dengan penuh rasa yakin.


Kami pun kembali berpelukan, hari ini aku merasa jadi teletubbies amat sangat sering berpelukan. Hehe...


Tapi terima kasih untuk mereka yang selalu ada di sisi ku.


"Bantu aku beresin Barang-barangku ya kak."


Aku mulai membongkar satu persatu almari. "semua ini mau kamu bawa pulang ke Jambi, fah?" kak valen kaget melihat betapa banyak bajuku terutama mainan Kia.


"Rencana nya gak kak, aku hanya bawa baju dua koper bag saja, satu koperbag untuk baju Kia, satu kotak besar ini untuk boneka dan mainan Kia" aku menjelaskan pada mereka.


"Yang ini yang mau aku bawa kak" aku mulia mengeluarkan baju dalam almari kamarku.


"Dan yang ini insyaAllah rencana nya mau aku kasih kepanti kak." aku menunjuk baju dalam almari satu lagi.


"Kenapa gak di bawa aja semua, fah? " tanya kak Ana yang juga mulia merupikan.


"Rencananya aku pulang pakai bus saja kak."


"Kenapa fah? Bukan nya kau bilang jauh, bisa dua hari perjalanan dari Jakarta?" tanya ka Ana lagi.


"Aku belum siap untuk sampai di rumah bundaku kak, aku masih berfikir cara menjelaskan masalahku pada mereka."


aku dan kak Ana ngobrol sambil memasukkan baju satu persatu dalam koperbag.


Sedangkan kak Nada dan kak Valen berekan mainan Kia.


"Tenang saja Fah, jelaskan saat mereka bertanya, gak akan ada yang paling bisa ngertiin kamu selain dari keluargamu Fah, bahkan mungkin tanpa kau jelaskan mereka sudah bisa menebak masalanya."


"Doakan aku ya Allah kak."


Selesai sudah satu masalah, sekarang aku akan pamit ke rumah mertua ku.


Aku akan cerita apa yang terjadi, tapi tentu saja tak semua bisa aku ceritakan, aku akan simpan masalah mas haikal dan felli semalam.


Bagaimana pun aku masih ingin menjaga sedikit nama baik mantan suami ku itu.


Dan besok pagi-pagi aku akan menyelesaikan masalah kontrak kerjaku dirumah sakit.


Walaupun kak Valen bilang tidak apa-apa setidaknya nya aku ingin undur diri secara sopan dan beretika.


Untuk urusan jadwal dinasku, aku sangat bersyukur bahwa yang menjadi atasanku adalah sahabatku sendiri dan jelas saja dia tidak mempersulit ke adaanku, karena dia juga sangat tau masalahku saat ini.


Dan aku bersyukur mereka semua bersedia membantu kak Valen, itu arti nya sama saja mereka membantu ku, karena tanpa kesediaan mereka untuk menggantikan jam dinas ku, mustahil pihak managemen memberi izin ku untuk keluar sebelum waktu nya.


Terima kasih rumah sakit hasanuddin sudah di pertemukan dengan orang-orang baik nan sholeh.


Terima kasih para dokter dan senior sudah ikhlas berbagi ilmu padaku.

__ADS_1


Terima kasih untuk semua penghuni gedung hijau 2 tingkat ini sudah memberi aku cinta kasih sayang dan kebaikan juga perselisihan sehingga aku semakin punya pengalaman hidup terutama dalam berteman.


Aku pamit...


__ADS_2