Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Bab 3


__ADS_3

Hari berganti hari, tidak ada yang berubah menjadi baik di dalam pernikahan ku, bahkan kini aku merasa semakin jauh dengan mas Haikal.


Aku semakin tidak mengenal nya bahkan kami hampir tidak pernah bertemu.


Setiap hari, yang kulihat mas Haikal semakin asik dengan dunianya sendiri. Ponsel kini menjadi prioritas utamanya.


Ntah apa yang membuat ia suka tersenyum kala menatap layar Ponselnya.


Tak seperti biasa. Sore ini ia sepertinya sedikit lebih betah dirumah. Dengan pakaian santai. Tapi tetap saja tanpa kehangatan.


"Mas, kamu semalam nginep di rumah mama yah?" Aku melirik mas Haikal yang berbaring disofa, dengan kaki menyilang keatas kaki satunya.


Tapi dia tanpa respon, bahkan melirikku saja tidak, "Mas gimana? Kamu udah dapat kerja?" Aku masih setia menunggu dia berbicara.


Betapa hancur hati ku di acuhkan seperti ini, mungkin saja dia sudah tidak peduli dengan kehadiran ku dan Kia. Tanpa menjawab, ia pergi meninggalkan ku, menuju kamar mandi.


Ting....ting ting


Ponselnya berbunyi berkali-kali,


Deg...


Felli, nama itu yang tertera di layar panggilan nya.


Dia kembali mengambil Ponsel nya dari tanganku. Tanpa kata, ia menarik dengan paksa Ponselnya dan meninggal kan aku dengan sejuta tanda tanya.


Aku menatap mas Haikal penuh selidik. "Siapa Felli mas?" aku bertanya setelah dia memutuskan panggilan nya dengan perempuan itu.


"Teman!" Jawab nya singkat.


"Untuk apa dia menelepon? Dan kenapa kamu harus menghindar dari ku untuk berbicara dengan nya?" Aku mengekor Mas Haikal yang menjauh dariku. Jujur saja aku ragu dengan kata teman di antara mereka.


Ia masih bungkam. Tenang, seolah tak ada yang terjadi. "Jawab mas." Nada bicaraku mulai meninggi. Emosiku rasanya sudah tak mampu ku tahan saat ia kembali acuhkan aku dan kembali asik dengan Ponselnya.


"Mas... " Ku balik paksa tubuhnya, "Apa kamu mulai macam-macam di belakang ku mas? Apa ini alasan kamu mulai enggan menyentuh aku?" Tatapanku penuh selidik.


Aku benar-benar harus menahan air mata ku, hari ini aku harus tau dan mendapat jawaban dari pertanyaan hatiku selama ini.


Iya, dia ahir-ahir ini sangat jarang pulang kerumah, bahkan kami sudah jarang tidur dalam satu kamar, selain dari jam dinas malam ku yang mengharuskan aku tidur di rumah sakit, saat aku di rumah dia memilih tidur di luar rumah, ntah di mana dan dengan siapa, dia tidak pernah menjawab pertanyaan ku setiap kali kutanya.


"Jawab mas, aku menunggu penjelasan kamu, aku siap menerima penjelasanmu, aku hanya sekedar ingin tau, biar aku tidak menerka-nerka kesalahan apa yang ku perbuat."


Aku menarik tangan nya, dengan segera ia menepis peganganku dan menatapku dengan pandangan tidak suka, benar-benar tidak sudi aku sentuh.


"Iya... Dia teman spesialku, tapi aku tidak berselingkuh, kami hanya suka berbagi cerita saja, setidaknya aku tidak pusing dengan ocehan mu dan tuntutan mu meminta aku untuk mencari pekerjaan, toh aku tidak bekerja kamu masih bisa makan di rumah orang tuaku kan!"


Duniaku seakan-akan berhenti berputar mendengar jawaban nya, tapi aku masih harus kuat.


"Jangan membuat dirimu nyaman dengannya mas, ataupun dengan perempuan mana saja. awal nya kalian hanya teman, menjadi nyaman pada ahir nya kamu mulai takut kehilangan dia dan timbul ke nginan memiliki dia." Aku mencoba membuat nya mengerti, walaupun aku tau kata-kata ku hanya sebagai angin lalu.


Menatapnya sendu. Aku melihat dengan jelas,dimatanya sudah tidak ada cinta untukku.


"Dasar kamu nya saja yang cemburuan, kalau kamu takut aku berpaling dari mu, kamu harus nya berubah, bisa menyenangkan hati suami, bukan malah ceramah tiap hari." Dia mengubah posisi nya untuk tidur mambututiku.


Sungguh sangat sakit rasa nya, aku tidak percaya dengan yang baru saja aku dengar. Bukan kah sewajarnya nya aku menuntut dia menafkahi ku secara lahir? Bukan kah ini kewajiban nya? Tapi ternyata dia benar-benar terbebani dengan keinginan ku ini, yang kurasa ini baik, baik untuk keluarga kami dan masa depan Kia.


Dengan perasaan kacau, Aku meninggalkan dia dan memeluk erat tubuh Kia yang tertidur di kamar ku.


Apa yang harus aku lakukan jika dia benar-benar berselingkuh di belakang ku? akan kah aku mampu menerima rasa sakit ini lagi, akan kah aku harus merasakan sakit ini lagi? Bagai mana jika aku tidak kuat? Haruskah aku memilih untuk pergi? Bagai mana dengan Kia dan orang tuaku?


Aku mulai berfikir untuk menyerah, aku segera berwudu' ntah kemana aku harus bercerita jika bukan ke pada Robbku, aku tunaikan sholat dua rakaat. Sholat sunnah.


Aku meminta petunjuk dan ketenangan, aku tumpahkan segala kegundahan hatiku ini, aku ungkap kan semua rasa sakitku, kepada-NYA aku meminta kekuatan, kepada-NYA aku meminta petujuntuk untuk setiap langkah yang akan aku pilih.


Tiba-tiba kepala ku sangat berat, mungkin ini efek aku kurang istirahat, rasa letih ku bertambah seakan-akan tidak ada kekuatan pada diriku, aku lepaskan perlengkapan sholat ku, aku kembali merebahkan diri di samping kia, aku tidak ingin berbuat apa pun, aku hanya ingin tidur dan tidur rasanya. Kebetulan aku hari ini dan dua hari kedepan libur. Jadi aku bisa istirahat dengan cukup.


***


Di rumah orang tua afiifah.


Hafiz's family POV.

__ADS_1


MUHAMMAD Hafizd.Saudara satu-satunya afiifah, sekarang usia nya sudah 25 tahun.


Menurut keluarga nya dia sosok yang sempurna secara fisik dan mapan secara materi.


Dia memiliki tinggi badan yang sempurna 180 cm, hidung yang mancung kulit sawo matang khas nya orang Asia, bibir nya yang sedikit tipis, bulu mata yang lentik dan bola mata yang besar, sangat indah di pandang.


Diusia dia 23 tahun dia sudah bis memiliki rumah sendiri, di komplek perumahan elit.


Dia memiliki kendaraan pribadi, dia seorang pembisnis dan menjadi seorang manajer di sebuah bank swasta di kota ku.


Bukan karena dia pintar, dia hanya lulusan s1- managemen, yang membuat dia sukses adalah dia sangat rendah hati, suka berbagi yang hampir semua orang yang bertemu dengan nya menyukai nya.


Diusia nya 25 tahun, sekarang ia sudah memiliki calon pendamping hidup, dia menjadi sosok calon menantu dan calon suami idaman di kalangan orang-orang terdekat nya, bahkan sudah beberapa orang ingin menjodohkan dia dengan anak perempuan mereka.


Pernah suatu ketika.


"Hafiz sudah punya calon istri" tanya seorang ibu, saat dia bertemu Ibu-ibu yang ikut ke acara syukuran saudara nya.


Hafiz selalu menjawab dengan senyuman menawan nya.


"Insya Alllah sudah ada, Bu."


Hampir setiap di tanya dia menjawab dengan ucap itu, walaupun mungkin hanya becanda tapi di dalam hati dia selalu meng amin kan dalam hati nya.


***


"Bun besok kak Afifah jadi pulang k sini?" Tanya hafiz pada sang bunda.


"Kemaren sih ada dia telpon bunda, tapi gak ada kasih kabar jadi atau gak, bunda juga belum tanya lagi, nanti kalau dia libur pulang kok." Bunda menyiapkan. breakfirst, "kenapa? kamu udah rindu sama kakak itu?" Bunda hanya tersenyum melihat tingkah Yusuf yang tak pernah mengakui perasaannya pada Afiifah.


"Aku gak terlalu kangen kakak, tapi aku rindu sekali sama Kia." Yusuf menjawab sambil tersenyum, tangannya sibuk saling meremas, dengan siku sebagai penopang kedua tangannya dimeja makan.


"Kamu itu Fiz, kalau ketemu aja suka bertengkar, kalau udah jauh-jauhan gini baru selalu kangen," oceh bunda.


"Itu kan dulu bun, sekarang udah dewasa, aku sudah bisa jaga Kakak dan Kia" Yusuf merebahkan punggungnya pada kursi.


"Hus kamu ini!" Wanita yang dipanggil Bunda itu memukul pelan mulut Fariz. "kan ada mas haikal yang jaga mereka."


Pernah suatu ketika saat dia melakukan video call, ia melihat raut wajah sedih Afiifah, tapi ia tidak ingin bertanya karena ia tau, sang kakak nya tidak akan pernah memberi tau dia masalah keluarga nya.


"Bunda... Sudah 6 tahun kakak menikah dan menetap di jakarta, apa bunda gak pengen kakak balik ke ke sini lagi bun? "


Hafiz mencoba membaca fikiran bunda nya, karena Hafiz juga tau kalau bunda nya sebentar sudah ingin Afiifah kembali ke Jambi, kumpul bersama mereka.


"Nanti kalau kakak sudah memutuskan untuk kembali dia pasti akan kembali tanpa harus kita minta Fiz." Jawab bunda dengan sedikit tersenyum, "ayo dimakan sarapanmu, keburu dingin nanti susu kamu."


"Hafiz tau sebenar nya bunda juga berfikir kalau pernikahan kakak tidak baik-baik saja kan bun?" Hafiz mencoba menebak dan menghakimi sang bunda.


Tapi bunda hanya tersenyum dan membuang nafas dengan berat.


"Kita berdoa saja Fiz mereka selalu baik dan selalu bahagia " bunda mencoba membuang semua firasat buruk nya.


"Kalau firasat ku benar, aku tidak akan memberi ampun mas Haikal bun, sudah cukup dia membuat kak Afifah dulu menderita sampai harus menenangkan diri nya dan pergi dari kita"


Hafiz berkata dengan nada emosi dan sedih, jelas sekali di ingatan nya bagai mana dulu saudara perempuan nya itu begitu prustasi saat pernikahan yang baru se ujung tanduk sudah mengalami cobaan yang begitu berat.


Hafiz menyantap makanannya penuh semangat. Makanan yang setiap pagi yang dibuat oalah tangan tercinta sang Bunda. Nasi goreng spesial super pedas.


"Hafiz pamit ke kantor ya bun, oh ya bun minggu depan filen dan keluarga nya mau berlibur ke rumah kita, apa bunda tidak masalah?"


Hafiz meminta izin bunda nya saat tau filen dan keluarga nya berencana akan berlibur sekalian bersilaturahmi ke rumah mereka.


"Boleh donk! lagian bunda juga sudah kangen sama calon mantu bunda, udah lama dia gak ke rumah "


Jawab bunda antusias, sembari mencabut uluran tangan sang anak, dan diakhiri kecupan cinta untuk putra tercinta.


Hafiz dan filen memang jarang bertemu, karena Filen dan keluarganya sering bolak-balik jakarta. Tempat tinggal sebagian besar keluarga Filen.


Filen lah sosok perempuan yang menjadi pilihan hafiz untuk menjadi calon pendamping hidup nya.


Filen yang juga adik dari faftner kerja Fariz, yang diketahui keluarga Afiifah bernama Satria.

__ADS_1


Persahabatan mereka di mulai dari awal SMA, sebenar nya Satria adalah kakak kelas Hafiz, bahkan dia sekretaris OSIS. Ntah bagaimana persahabatan mereka di mulai.


Kisah Hafiz dan Filen di mulai dua tahun lalu, Ntah di sengaja atau tidak Satria yang waktu itu datang bersama Filen dan keluarganya kerumah pada waktu perayaan idul fitri datang, mereka saling tertarik dan pada ahir nya memutuskan untuk serius, jodoh memang tiada yang tau.


***


Afiifah...


Lelah yang kurasa membuatku tertidur begitu pulas, pukul 16.30 Wib, aku ingin bangkit untuk mandi tapi kepalaku sangat pusing dan berat, beberapa hari ini aku memang merasa ada yang aneh dengan tubuh ku.


Bubraaakkk....


Aku menabrak lemari di samping tempat tidur ku, tiba-tiba pandanganku mulai kabur, sayup-sayup aku mendengar Kia memanggilku.


"Ibu... " Teriak nya.


Aku tak tau apa yang terjadi! Aku tidak ingat sudah berapa lama aku tertidur, aku mulai membuka mata, melihat sekeliling ku, ini bukan rumahku dan aku sangat hafal tempat ini.


Aku melihat mama mertuaku di sofa sambil asik bercerita pada Kia.


"Sudah bangun kamu Fah?" Mama menghampiriku dengan tersenyum lega.


"minum dulu!" Mama memberikanku segelas air putih.


"Ibuu sudah bangun?" Kiamenatapku dan mata nya berkaca-kaca. Tampak jelas ketakutan dimatanya.


"Kia sangat takut melihat Ibu terjatuh tadi, besok-besok jangan sakit lagi ya bu," Kia memelukku.


Kukecup kepalanya, "maafkan ibu ya sayang, ibu sudah buat Kia sedih," aku memeluk erat tubuh mungil itu yang kini sudah semakin meninggi.


"Kemana mas Haikal ma?" aku mencari tau keberadaan suamiku itu.


"Sebentar lagi dia datang, tadi pulang ambil perlengkapan untuk untukmu" Jawab mama, sembari mengelus lembut kepalaku.


Tok tok... Cekrekk


Suara pintu terbuka, mas Haikal masuk tanpa senyuman, tampak jelas sekali di wajah nya rasa tidak suka.


"Itu Haikal sudah datang, mama pulang dulu yah, biar Kia sama mama aja di rumah, kasian kalau harus mengenal di rumah sakit."


Pamit mama sambil membereskan sampah apel yang tadi di makan Kia.


"Iya ma, terima kasih ma," pandanganku mengekor kemana mama melangkah. "Kia pulang sama nenek ya sayang! jadi anak baik oke." Nasihat ku pada Kia.


Pelukanku mulai merenggang, mendorong sedikit tubuh Kia. "iya Bu," Kia membalas senyumanku sambil kembali memelukku dan mencium pipi kiriku.


"Kal mama pulang dulu, kamu jangan pergi, jaga Afifah saja dulu." Sambung mama. Tapi tanpa respon dari mas Haikal.


"Mas... makasih ya sudah bawa aku kerumah sakit."


Aku mencoba membuka pembicaraan pada mas Haikal, tapi dia masih tanpa respon, dia masih asik dengan dunia nya, masih fokus dengan ponsel nya, ntah apa yang membuat dia terkadang senyum sambil memandangi layar Ponselnya. Tangannya selalu sibuk menekan huruf demi huruf.


Ya Allah dia benar-benar semakin berubah. Ia bukan mas Haikal yang kukenal selama ini. Suami yang selalu bersikap hangat padaku.


Jujur saja...


Aku merasa kalau saat ini dia pasti sedang berkomunikasi dengan Felli, sakit rasa nya membayangkan ia bersama perempuan lain dan mengacuhkan aku seperti ini.


"Kamu chat an sama siapa sih mas? Dari tadi asik sendiri, bahkan tidak menjawab omongan ku."


Lagi-lagi aku coba memulai percakapan di antara kami.


"Kamu chat an sama felli?" ahir nya aku tidak bisa menyembunyikan rasa curigaku setelah sekian lama ia bungkam.


"Kamu itu kenapa sih selalu ingin tau urusan ku? kamu urus saja diri sendiri, sudah malam lebih baik kamu tidur biar cepat sembuh biar gak ngerepotin aku. jadi gak usah berisik." Nada bicara nya benar-benar tidak menunjukan rasa kasih sayang sedikit pun.


Aku melihat jam pada layar ponselku, ternyata baru juga mau isya, aku sudah meninggalkan sholat magribku.


Aku mencoba bangkit dari tidurku, aku hendak ke kamar mandi untuk berwudhu' tapi tubuh ku sangat lemah.


Lebih baik aku bertayamum saja dari pada nanti aku malah jatuh di kamar mandi. Batin ku.

__ADS_1


aku memutuskan bertayamum setelah aku melihat tidak ada respon dari mas Haikal untuk menemaniku ke kamar mandi. Sungguh sakit rasa nya di acuhkan begini. Ku buang nafasku pelan.


__ADS_2