Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 31


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Waalaikumussalam," Aku melihat siapa yang datang, " Ya Allah... Putri cantik Ibu!" Aku melihat Kia bersama bunda.


"Ibu... " Kia melompat dalam pelukanku," Kia Rindu Ibu."


"Hmmm," Aku mencoel hidungnya, "Ibu pun Rindu Kia," bunda kenapa bawa Kia kerumah sakit?" pandanganku beralih kearah Bunda yang berdiri tersenyum disamping Yusuf yang baru saja membalas uluran tangan Yusuf untuk memberi salam pada Bunda.


"Kia yang merengek minta datang kesini!, katanya rindu sama kalian," Bunda tersenyum, "bagaimana kondisimu Suf?" Tanya Bunda.


"Alhamdulillah... Gak ada masalah serius bun, cuma sekarang agak pusing aja," jawab Yusuf, "Makasih ya sudah jenguk om Yusuf, om Yusuf rindu sekali sama Kia." Yusuf menatap Kia denagn tersenyum begitu manis.


"Om Yusuf cepat sembuh ya, biar bisa main sama Kia lagi." Aku melihat wajah sendu Kia.


"Oke... "Yusuf membentuk huruf O dengan tangan kirinya.


Mereka pun tertawa.


"Kalian sudah sarapan?" Bunda meletakkan paperbag yang mungkin berisi makanan diatas nakas," bunda sudah bikin sop kesukaan Yusuf." lanjut bunda.


"Makasih bun, tapi Yusuf baru saja sarapan! Jadi ngerepotin bunda Yusuf." Yusuf kembali tersenyum.


"Gak papa, yang penting Yusuf cepat sembuh," bunda menepuk pundak kiri Yusuf, "gimana kamu bisa kecelakaan sih?" Rasa ingin tau bunda mulai menyerang, " bunda sampai gak bisa tidur semalam mikirin Yusuf."


"Ahhh, bunda lebai." Aku tersenyum sinis.


"Hahahaha." Bunda tertawa mendengar ucapan.


"Yusuf kurang hati-hati dan kurang fokus bawa motornya bun." Jawab Yusuf yang mampu menghentikan tawa bunda.


"Kamu ngapain juga bawa motor!" protes bunda.


"Yusuf ngejar waktu untuk ngisi kelas bun, gak papa bun, namanya juga musibah." Yusuf seolah-olah menenangkan Bunda.


"Mikirin apa kamu sampai gak fokus bawa motornya?" Tanya bunda penuh selidik.


"Hehehehe, Mikir ucapan seseorang bun." Yusuf melirik kearahku, tentu saja bunda ikut melirikku juga dengan rasa curiga.


"Kenapa liatin Afiifah gitu?" Aku menatap mereka bergantian, "apa hubungannya kecelakaan Yusuf sama Afiifah?" kaku protes, seakan aku yang mereka jadikan penyebab kecelakaan Yusuf. Aku membuang pandangan dari mereka.


"Kenapa? Kalian bertengkar?" Tanya bunda pada Yusuf.


"Hmmm, Kita... "


"Pernah punya masalah aja gak bun, gimana mau bertengkar." Aku menyela ucapan Yusuf sebelum dia menjawab pertanyaan bunda. Aku merasa takut Yusuf akan cerita yang terjadi antara aku dan dia semalam. Aku belum mau bunda tau tentang Yusuf yang memintaku jadi istrinya.


"Om Yusuf... Besok Kia udah mau sekolah lho!" Kia membuyarkan mencair kan suasana tegang kami.


"ohh ya!... Bagus donk, itu artinya Kia udah semakin besar," Yusuf merspon Kia dengan semangat.


"Om Yusuf cepat sembuh, biar bisa antar Kia sekolah, sama ibu," Kia berjalan mendekati Yusuf, "jangan sakit om, Kia sedih... Nanti gak ada yang nemenin Kia bermain lagi." Mata kia berkaca-kaca.


"Iya sayang, om Yusuf janji akan cepat sembuh." Yusuf mengusap kepala Kia penuh kelembutan. Tampak jelas raut kebahagiaan dibajak Kia.


"Bun, Afiifah kemushola dulu ya, Bunda temenin Yusuf sebentar." Aku menyambar perlengkapan sholat dari atas sofa.


Dengan pelan aku berjalan menuju mushola, sesekali perkataan Yusuf hadir dalam pikiranku, jelas saja itu membuat aku kelabu.


Jika sebelumnya tidak ada nama yang khusus aku sebutkan dalam doaku, maka saat ini nama Yusuf akan sering jadi bahan curhatanku.


Aku tidak ingin salah dalam melangkah, saat ini kebahagiaan Kia prioritas utamaku, aku merasa Kia begitu bahagia bersama Yusuf, haruskah aku menerima Yusuf sebab Kia? Jika harus aku terima, benarkah keputusanku? Entahlah, lagi-lagi semua semu, semoga allah memberi petunjuk.


Begitu sampai dimushola, aku segera berwudhu', untuk sholat Dhuhaku. Jika kemarin aku istikhoroh maka hari ini aku memutuskan sholat hajat setelah dhuha.


Selesai sholat, aku memutuskan untuk membaca Al-Quran, berharap hatiku lebih tenang dan damai.


Atau-demi ayat aku lantunkan dengan suara lirih, seketika bacaanku terhenti. Aku menghampiri seorang wanita hamil didepan yang habis sholat terlihat menahan sakit.


"Assalamualaikum, Ibu baik-baik saja?" Aku ikut mensejelajarkan tubuh dengan wanita tersebut. Aku tidak pasti apa yang terjadi dengan wanita ini, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya, sebab tertutup dengan niqobnya. Hanya saja hatiku merasa Beliau tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, tolong bawa saya keruangan gawat darurat mbak." Wanita ini mengeratkan tangan pada lenganku.


Tanpa menjawab, kedua tanganku merangkul tubuh ibu tersebut dengan alquran juga dalam pelukan ku.


"Pak! Tolong saya untuk membawa ibu ini ke instansi gawat darurat!" Aku memanggil scurity yang kebetulan lewat, "tolong ambillah kursi roda saja pak, sepertinya ibu ini tidak kuat berjalan." sambungku dan diikuti amggukan scurity tersebut.


"Tolong Dok, saya tidak tau apa yang terjadi dengan wanita ini." Sesaat tiba di UGD.


Aku cukup panik melihat Ibu yang belum ku ketahui identitasnya ini merintis kesakitan.


"Ibu keluarga pasien?" Tanya Dokter padaku.


"Bukan dokter, saya bertemu beliau ketika dimushola, saya tidak melihat beliau datang bersama seseorang." Jawabku.


"Mbak... Tolong hubungi suami saya," Wanita tersebut mengambil Ponsel dari dalam tas nya, "kontaknya sayang." Aku segera mengambil ponsel tersebut dan melentakan alquran ku di atas nakas samping pasien lalu mencari kontak yang bernama sayang, segera aku menelepon.


Tut Tut...


"Assalamualaikum sayang." Terdengar suara yang begitu lembut dari sebrang sana ketika panggilanku dijawab.


"Waalaikumussalam maaf pak saya diminta istri bapak untuk menghubungi bapak, sekarang beliau sedang diperiksa di UGD rumah sakit Hasannudin pak." Aku segera menjelaskan yang terjadi.


"Innalillahi waa Innalillahi roojiun, subhanallah, bagaimana kondisinya sekarang mbak?"


"Bapak segera datang saja kesini, istri bapak lagi dalam pemeriksaan, mudah-mudahan beliau baik-baik saja." jelasku.


"Baiklah, terimakasih mbak, saya segera kesana, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." Aku menutup panggilan.


"Ya Allah, semoga Ibu dan calon Bayinya selamat dan sehat." Monolog dalam doa.


Dret Dret...


"Assalamualaikum bunda." Handphoneku bergetar, bunda memanggil.


"Waalaikumussalam, dimana kamu Fah? Dari tadi gak pulang-pulang kekamar? " Tanya bunda segera setelah panggilan tersambung.


"Ibu... "


"Hani, nama saya Hani mbak." Ibu tersebut menyebutkan namanya setelah sedikit lebih tenang, mungkin sudah diberi anti nyeri oleh dokter.


"Bagaimana keadaan ibu?" Aku lebih mendekati Bu Hani, "saya sudah menghubungi suami Ibu, insya allah beliau segera kesini." aku mengelus tangan Hani sembari tersenyum.


"Makasih ya mbak... "


" Saya Afiifah."


"Makasih ya Afiifah, sudah membantu saya, kalau tidak ada kamu, entah apa yang terjadi denganku." Seketika senyumnya memudar.


"Saya hanya perantara saja bu, Allah yang sudah mengizinkan kita bertemu." Aku masih tersenyum.


"Sekali lagi, makasih banyak Afiifah." Hani kali tersenyum.


"Saya tinggal dulu ya, saya mau liat teman saya yang juga dirawat disini, assalamualaikum." Aku mengulurukan tangan.


"Waalaikumussalam, sekali lagi terimakasih Afiifah, senang bertemu dengan mu, semoga suatu hari nanti bisa bertemu lagi." Hani menyambut uluran tanganku.


"Hmmm, senang bertemu dengan mu juga." Kali ini aku memeluk Hani, "Semoga Ibu dan Bayi Ibu sehat dan selamat." Dan aku segera berlalu meninggalkan Hani. Menuju kamar Yusuf.


"Semoga Hani dan Bayinya benar-benar sehat dan selamat." Aku menghempaskan kedua pumdakku ke bawah.


Pertemuan singkat ku dengan Hani terasa begitu bahagia. Aku yakin Hani dan Suaminya sangat bahagia menantikan kelahiran buah cinta mereka. Aku ingat begitu dulu aku melahirkan Kia, betapa bahagia mas Haikal, sampai menitikan airmata memeluk ku dan mengucapkan terimakasih sudah melahirkan putri yang begitu cantik.


"Astagfirullah!" Aku kembali mehela napas, membuang semua kenangan yang terlintas.


Rasanya sedikit berat untuk kembali kekamar Yusuf, aku tidak suka dengan perasaanku saat ini. Jantungku mulia berdetak cepat.tak ber-aturan saat melihat Yusuf.


Mungkinkah aku mulai memiliki rasa pada Yusuf?

__ADS_1


Semoga Allah menjaga hati dan pikiran ku dari hal-hal yang membuat aku lengah dan berdosa.


Akupun juga segera menepis bayangan Yusuf. Ya Allah, memikirkan Yusuf saja saat ini sudah membuat hatiku bergetar.


"Assalamualaikum." Seketika semua mata tertuju padaku.


Tampak seorang dokter yang sangat cantik, berkulit putih, hijab yang stylis, ditambah senyumnya begitu manis. Mereka sedang berbicara pada Yusuf, ditemani dua orang perawat yang tak kalah cantiknya dengan membawa Rekam Medik Yusuf ditangannya, "Waalaikumussalam." Mereka menjawab hampir berbarengan. Akupun tersenyum.


Aku melihat Kia duduk dipangkuan Yusuf, mendengarkan penjelasan Dokter dengan begitu serius. Ahh, betapa lucunya sikap Kia, seolah mengerti dengan pembicaraan Dokter dan Pasien itu.


"Jadi saya boleh pulang nanti sore Dok? " Yusuf kembali bertanya setelah penjelasan dari sang dokter.


" Iya, tapi kalau bapak tidak ada keluhan atau demam lagi." Jawab sang Dokter.


"Saya sudah baik-baik saja Dok." Lanjut Yusuf.


"Maaf Dok, apa semua hasil pemeriksaan Yusuf semuanya baik dan normal?" Aku bertanya, karena memang aku tidak mendengar penjelasan Dokter dari awal.


"Semua baik, laboratorium nya juga normal, hasil CT-Can juga baik, Ibu gak perlu khawatir." Jawab Dokter tersebut. Dokter Wike Nadia. Spesialis Bedah. Itu yang tertara di dada kanan jas dokternya.


"Alhamdulillah." Aku lebih lega, "jadi demam semalam itu tidak masalah ya dok?" Tanyaku lagi.


"Insyaallah bukan masalah Bu, karena itu kita observasi sampai sore, jika tidak ada demam lagi nanti sore ia boleh pulang." dokter tersebut kembali menjelaskan padaku. " baiklah, saya permisi dulu, jika nanti terjadi sesuatu bisa laporkan pada perawat yang jaga ya." Dokter tersebut segera berlalu.


"Kamu benar sudah merasa lebih baik Suf?" Aku bertanya untuk memastikan kondisi kesehatannya.


"Iya, aku sudah tidak betah disini." Jawab Yusuf sambil memperbaiki posisi tubuh kia di atasnya.


"Kalau nanti pulang, untuk sementara Yusuf tinggal dirumah bunda saja ya nak, sampai mami sama papi kamu pulang." Bunda berjalan Yusuf.


"Tidak apa-apa pulang kerumah saja Bun, kan ada bi Ime dirumah bun." Yusuf menolak dengan sopan.


"Dirumah saja, tangan kamu juga belum berfungsi dengan baik." Bunda bersikeras mana Yusuf pulang kerumah.


"Benar Suf, lebih baik pulang kerumah kita saja dulu, kalau nanti mami sama papi sudah pulang, kita akan antar kamu pulang." Aku ikut membujuk Yusuf.


"Baiklah kalau begitu." Ahir nya Yusuf mengalah.


Aku menceritakan apa yang terjadi pada bunda sewaktu dimushola, sehingga aku sedikit terlambat kembali ke kamar.


"Kasian sekali, semoga mereka baik-baik saja ya nak." Tampak wajah empati bunda.


Aku hanya men-angguk, meng-aamiin doa bunda.


Waktu bergulir terasa cepat. Tidak ada masalah pada kesehatan Yusuf. Ataupun keluhan darinya. Sesekali aku melihat Yusuf dan Kia bermain bersama dengan keterbatasan Yusuf saat ini. Mereka tampak sangat bahagia, tersenyum bahkan sesekali mereka tertawa lepas tanpa beban.


Lagi-lagi ucapan Yusuf masih menjadi beban dihatiku.Saat menatap Yusuf, Benarkah Yusuf mencintaiku dan Kia? Tak bisa kupungkiri, ada keinginan dihatiku menjadikan Yusuf ayah untuk Kia, demi kebahagiaan Kia. Tapi, aku tak bisa berbohong, masih ada rasa takut dan insecure dengan statusku saat ini.


Bersyukur kecelakaan yang terjadi pada Yusuf tidaklah Fatal. Apa yang sebenarnya Yusuf pikirkan sehingga tidak Fokus? Ingin sekali rasanya aku bertanya.


Aku tidak tau alasan Yusuf memilih aku menjadi pendamping nya. Aku belum memutuskan untuk mengenal Yusuf lebih dekat, aku tidak ingin memberi harapan pada diriku sendiri.


Tak terasa, waktu azan magrib sudah berkumandang. Aku segera melaksanakan kewajibanku, begitu pula dengan Yusuf dan Bunda. Tenang rasanya melihat Yusuf tetap melaksanakan kewajiban walau dalam kondisi sakit. Aku yakin dia adalah laki-laki sholeh dengan akhlak yang baik.


"Kau yakin tetap mau pulang Suf?" Tanyaku Setelah Yusuf merapikan sajadah sholatnya.


"Iya Afiifah, insya allah aku benar-benar sudah jauh lebih baik." Jawab Yusuf.


"Mginap saja satu malam lagi Suf, kita observasi sampai besok, kalau benar-benar sudah baikan besok kita pulang." Aku masih membujuk Yusuf sambil merapikan pakaian Yusuf tanpa melihat keatas nya agar tetap dirawat malam ini.


"Benar nak, apa sebaiknya kamu dirawat saja satu malam lagi." Bunda yang ikut membantuku merapikan semua barang Yusuf ikut membujuk Yusuf.


"Tidak papa Bunda, lagian Yusuf tidak enak harus merepotkan Afiifah menjaga Yusuf." Yusuf menurunkan Kia dari bad tempat tidur.


"Tapi aku tidak merasa direpotkan Suf." Kini aku melirik sejenak ke arah Yusuf. Dia pun tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum.


"Bagaimana mungkin tidak merepotkan mu Fah? Kau tampak tidak nyaman didekatku, tidak tega rasanya harus membiarkan kau tidur diluar." Kini Yusuf menatapku, segera aku membuang pandanganku dan kembali membereskan barang yang tersisa.


Bunda menatapku tajam. "Jadi semalam kau bahkan tidak menjaga Yusuf?" Bunda berkata lirih, seakan tidak ingin Yusuf menderitanya.

__ADS_1


Aku hanya merespon dengan meng-amggukan kepalaku. " Afiifah tidak nyaman kalau harus berdua saja dengan Yusuf dalam ruangan ini bun, Afiifah takut jadi fitnah dan dosa." Aku mengatakan alasanku pada Bunda dengan sedikit raut penyesalan. Bunda hanya mengusap kepalaku sembari tersenyum.


Setelah selesai, Kami pun mulai meninggalkan ruangan perawatan Yusuf. Yusuf berjalan menuntun Kia dengan tangan kirinya. Mereka benar-benar seperti anak dan ayah. Tanpa disadari, senyumku mengembang begitu saja. Yusuf menolak untuk di antar dengan kursi roda. Malu katanya.


__ADS_2