Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 34


__ADS_3

Hari-hariku berlalu begitu saja, tanpa disadari satu bulan sudah berlalu dan aku masih belum memberi jawaban pada Yusuf.


Entah karena aku ragu atau karena takut. Allah belum memberi kepastian pada pilihanku.


Kadang ingin aku menolak, entah dengan alasan apa. Kadang ingin pula aku segera menerima juga demi alasan apapun.


Yusuf juga tidak pernah mendesak jawaban dariku. Hanya saja aku merasa tidak pantas mengabaikan dan membuatnya menunggu terlalu lama Yusuf.


Sejujurnya! Jauh dilubuk hatiku terdalam, aku mulai mencintai Yusuf, dan selalu menyebut Yusuf hampir disetiap doaku.


Hari-hari Yusuf juga selalu sama. Hampir setiap hari datang kerumah. Entah itu dengan alasan bertemu Kia atau hanya sedekar bercakap-cakap bersama Ayah dan Fariz. Atau juga dia selalu ingin bertemu dengan ku. Astagfirullah....


Bell rumah berbunyi. Dengan sedikit malas aku berdiri, hendak menengok siapa tamu sepagi ini. Walaupun sebenarnya aku bisa menebak siapa tamu yang selalu rajin bertandang sepagi ini.


Matahari baru saja ingin menyapa hangat. Cerah. Bahkan embum saja masih belum menghilang. Sosok Yusuf sudah berdiri didepan pintu, dengan seragam olahraga. Sudah bisa kupastikan Yusuf akan bersepeda keliling komplek perumahan ini bersama Kia. Seperti biasa rutinas mereka dihari libur.


Pantas saja kemarin Kia meminta stelan olahraga berwarna Abu, ternyata Yusuf juga mengenakan stelan berwarna senada.


"Assalamualaikum." Aku menyapa Yusuf yang memunggungiku.


"Wa'alaikumussalam, Pagi Afiifah." Yusuf menjawab salamku dengan memutar kepalanya dan diikuti tubuhnya.


"Pagi..., silahkan masuk Suf." Aku menyepi. Memberi celah untuk Yusuf lewati.


Hanya anggukan sebagai balasan dari Yusuf.


"Langsung kemeja makan saja Suf, semua orang masih berkumpul disana." Aku berjalan melewati Yusuf, diikuti Yusuf.


"Siapa Kak?" Tanya Ayah tanpa menoleh.


"Yusuf." Jawabku singkat. Lalu kembali duduk diposisi semula sebelum menyambut Yusuf.


"Ohhh, Tamu istimewa kita ternyata!" Bunda tersenyum. Diikuti senyuman semua orang.


"Assalamualaikum Anak baik." Yusuf mengambil posisi disamping Kia. Hanya Kia yang jadi penghalang Aku dan Yusuf.


"Wa'alaikumussala..., wah Om Yusuf sangat wangi." Kia menghentikan kunyahan nasi goreng didalam mulutnya.


Yusuf membalas dengan elusan lembut dikepala Kia.


"Anisa dimana Riz." Yusuf mencari sosok adiknya.


"Hehehe... Dia lagi gak mau makan Bang!" Jawab Fariz tanpa menoleh.


"Kenapa Riz? Tidak biasanya Dia melewatkan sarapan bersama Kita!" Kini sorotan mata Bunda penuh tanya.


"Hehehe... Dia, Dia lagi pengen dikamar saja Bun, katanya lagi gak mau cium bau dapur." Yusuf memasukkan sendok yang terisi penuh dengan nasi goreng.


"Ya Allah... Sakit Dia?" Bunda tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Bunda.


"Bunda, ihh... Kayak gak pernah hamil muda aja deh!" Kini aku sudah tak tahan untuk membuka mulut.


"Serius Anisa sudah hamil?" Bunda rada tak percaya. Bahkan setengah badannya mendekat kearahku Yusuf yang berada disampingnya.


Aku hanya menggeleng melihat tingkah Bunda. Sebenarnya aku hanya menebak, berkat pengalamanku bertahun-tahun menjadi perawat terkadang aku bisa menebak hanya melihatnya saja.


"Iya Bun... " Fariz tersenyum. Tampak rona wajah yang begitu bahagia.


"Alhamdulillah..." Semua orang berucap syukur. Kecuali Aku dak Kia, aku hanya mengucap syukur tanpa suara. Kia pasti belum mengerti dengan arah pembicaraan kami.


"Topcar Kau Riz." Yusuf mengepal tangan membentuk tinju, dan di balas oleh Fariz. Ya Allah... Mereka Seperti anak gaul. Lagi-lagi aku hanya menggeleng sembari tersenyum.


"Cepatlah Bang menyusul. Aku yakin Kau pun copcer Bang. Hahahaha." Gelak tawa Fariz begitu nyaring terdengar.


Sedikit bibir Yusuf terangkat keatas. Tersenyum simpul. Dia melirik kearahku dan diikuti semua mata yang ikut tertuju menatapku. Apa yang mereka fikir sekarang?


Aku hanya bisa tertunduk, menahan malu. Kenapa mereka menatapku seperti tau sesuatu? Apa Yusuf sudah bercerita pada Ayah, Bunda dan Fariz? Ah, entahlah.


"Ahh Kau ini macam tidak tau sesuatu saja!" Yusuf kembali memasukkan sendok berisi nasi goreng kemulutnya.

__ADS_1


"Iya Nak, kapan lagi menyusul Fariz dan Anisa? Kau juga sudah cukup matang untuk menikah!" Bunda ikut menipali ucapan Fariz.


"Doakan saja Bunda, Yusuf juga ingin segera Bun, tapi masih menunggu jodoh."


"Masih belum ada jawaban dari wanita yang Kau lamar kemaren Suf?" Mendengar pertanyaan Ayah, sekujur tubuhku mendadak merasa dingin. Aku menggit bibir. Apa yang akan terjadi selanjutnya?


"Lho! Memangnya Yusuf sudah mempunyai wanita pilihan Yah?" Bunda meminta penjelasan pada Ayah.


"Bunda tanyakan saja pada Yusuf! Ayah juga tidak tau siapa wanita tersebut. Tapi Yusuf pernah bercerita kalau satu bulan yang lalu Yusuf melamar seorang gadis." Ayah memajukan mulutnya kearahku Yusuf.


"Suf! Benar kamu sudah punya wanita idaman? Bahkan sudah melamarnya?" Pandangan Bunda beralih menatap Yusuf.


"Benar Bun, doakan saja. Yusuf juga ingin segera Bun, tapi lagi-lagi harus menunggu. Siapa Dia? Nanti saja Yusuf kenalkan jika Dia sudah menerima khitbah Yusuf." Yusuf menatap Bunda. Serius. Itu terdengar sangat serius.


Aku tidak mampu berkata-kata. Tapi setidaknya aku sedikit lega, setidaknya Yusuf tidak menceritakan Aku lah wanita yang sudah Dia Hibbah! Aku lah wanita yang sedang mereka bicarakan.


Aku meremas kedua tanganku bergantian. Mungkin Hari ini sudah waktunya aku memberi jawaban pada Yusuf.


"Pupus sudah harapan kita Yah!" Bunda menyenggol Ayah dengan sikunya. Ayah hanya membalas dengan anggukan dan senyum kecewa.


"Apa maksud Bunda?" Fariz yang sedari tadi terus tersenyum, kini menatap Bunda penuh pertanyaan.


"Iya... Tidak apa-apa." Bunda meneguk air putih didepannya, "tapi bukankah sudah satu bulan yang lalu? Kenapa masih belum ada jawaban darinya?" Tanya Bunda lagi.


"Hmm, mungkin Dia masih butuh waktu Bun, tidak apa Bun, Yusuf masih bisa menunggu." Yusuf ikut mendorong makanannya dengan air putih didepannya.


Sebenarnya, aku tau apa yang Bunda maksud.


Aku pernah tanpa sengaja mendengar Ayah dan Bunda saling curhat, ingin menjadikan Yusuf pendamping hidup aku. Ingin Yusuf menjadi Ayah untuk Kia.


Spertinya... Yusuf benar-benar belum bercerita kepada Ayah ataupun Bunda tentang aku.


"Ahhh, romantis kali Kau Bang! Tidak takut kecewa lagi? Gimana kalau Dia menolak Bang?"


"Tidak apa jika harus ditolak Riz, berarti bukan Jodoh!" Kali ini aku menatap Yusuf. Kenapa aku berfikir kalau Yusuf tidak benar-benar serius padaku.


"Kamu sepertinya begitu serius pada pilihanmu Suf! Setidaknya perjuangkan jika benar mencintainya." Ucapan Bunda seolah mewakili rasa ingin tauku.


"Bunda jadi penasaran! Bawa dia sesekali bertemu kita Suf, Kau itu sudah seperti putra kita sendiri."


"InsyaaAllah Bun." Yusuf mengusap mulut sisa makanannya dengan tisu.


"Semoga Dia wanita terbaik untuk mendampingi Mu Suf, Yusuf itu laki-laki yang hampir sempurna Bun, akan menyesal kalau wanita tersebut menolaknya." Ayah kembali angkat bicara.


"Benar Yah, dan semoga saja dia wanita yang baik Suf." Bunda ikut menyudahi sarapannya.


"Ahh, Ayah terlalu berlebihan. Malah Yusuf merasa, dia yang terlalu sempurna untuk Yusuf Yah, dan... Dia lebih dari baik Bun, dia begitu berharga. Tolong doakan Yusuf Bun, doa seorang Ibu itu sangat ma'bul." Mendengar ucapan Yusuf hatiku bergetar. Aku semakin sulit mengatur napasku.


"Ya sudah... Yusuf dan Kia tidak jadi olahraga? Matahari sudah mulai tinggi!" Ayah memang arloji ditangan kirinya.


"Iya Yah, ayo kita berangkat." Yusuf mendaratkan Kia dalam gendongannya.


Kia tampak begitu bahagia. Tidak pernah kehilangan senyumannya saat bersama Yusuf. Bahkan Kia tidak pernah bertanya soal mas Haikal lagi.


Pernah sesuatu malam Kia mengatakan padaku, bahwa dia sudah tidak sedih jika mas haikal tidak menyayanginya lagi, dia akan terus menjadi anak baik, tapi kali ini biar bisa terus disayang Om Yusuf katanya. Kia juga sudah berulang kali memintaku untuk tinggal bahkan tidur bersama dengan Yusuf.


Aku mengantar Yusuf dan Kia sampai gerbang depan.


"Yusuf... " Aku mencoba memulai pembicaraan," maaf kalau aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Tapi kalau kau berubah fikiran, kau bisa membatalkannya Suf."


"Tidak masalah Fah, Aku yakin pilihanku sudah benar, jadi menunggu sedikit lebih lama lagi juga bukan masalah untukku."


Langkah kami terhenti ketika sudah sampai didepan gerbang rumah.


"Suf, kau benar-benar yakin untuk menjadikan aku pilihanmu?" Aku mendongak. Kali ini aku beranikan diri menatap Yusuf lebih lama, aku ingin melihat mata Yusuf. Biar aku benar-benar yakin dengan pilihanku kelak.


"Apa yang membuatmu ragu dengan perasaanku Fah?" Yusuf menatapku balik. Ya Allah... Degup jangungku lagi-lagi berpacu tak menentu. Aku membuang pandanganku.


"Entahlah... Aku hanya merasa tidak pantas Suf, Ayah dan Bunda benar, Kau itu hampir sempurna Suf." Kini tatapanku tertuju pada ujung kakiku.

__ADS_1


"Dan jika aku benar hampir sempurna, Kau juga wanita yang lebih dari sempurna Fah, kau akan membuat aku yang hampir sempurna ini menjadi lebih sempurna." Aku masih diam.


"Fah... Demi Allah, Aku mencintaimu bukan karena kasian, aku mencintaimu karena akhlakmu, aku ingin wanita sholehah yang bisa membuat aku lebih dekat dengan Tuhanku Fah, yah... Walaupun aku tidak munafik, aku kembali jatuh cinta dengan parasmu yang begitu cantik." Mendengar ucapan Yusuf membuatku menyembunyikan wajahku tertunduk semakin banyak dalam.


"Baiklah... Aku dan Kia pergi dulu. Kau mau ikut?" Aku menggeleng sebagai penolakan.


"Hati-hati ya, dan... Kia ingat tetap jadi anak baik, jangan menyusahkan Om Yusuf. Oke! "


"Ingat Ibu, by by Ibu." Kia melambaikan tangan padaku.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." Aku membalas lambaian mereka.


"Yusuf... " Aku mengeraskan suara saat Yusuf sudah mulai mengayuh sepeda nya.


Aku berjalan mendekat dimana Yusuf menghentikan laju sepedanya." Insyaa Allah nanti aku akan memberi jawabannya dihadapan Ayah dan Bunda. Jadi... Cepatlah balik. Tolong hati-hati ya." Mendengar ucapanku, senyum Yusuf mengembang lebar. Matanya berbinar. Entah perasaanku saja atau memang benar, dia tampak begitu bahagia.


Dia kembali mengayuh sepeda Bike hitamnya.


"Kenapa aku merasa berat melepas kepergian Yusuf dan Kia?" Aku berjalan masuk mengakhiri monologku.


"Mungkin karena aku gugup untuk memberi jawaban pada Yusuf dan bertemu Yusuf lagi nantinya." Aku memukul pelan jidatku. Mengalihkan prasangka buruk.


"Lho... Kakak gak ikut?" Yusuf menghentikan langkahnya sejenak, diikuti pandangan Ayah dan Bunda tertuju padaku, saat menyadari kedatanganku.


"Gak. Malas kakak. Susu untuk Ibu hamil?" Aku menunjuk segelas susu ditangan Yusuf.


"Iya... Susu tadi pagi gak diminum Nisa kak, katanya mual!" Aku mengikuti Yusuf memasuki kamar. Aku melihat Nisa sedang terbaring dengan mata tertutup. Sepertinya tidak sedang tidur.


"Nis, kamu baik-baik saja?" Aku duduk disamping Nisa, dengan punggung tanganku menempel dikeningnya.


"Entahlah kak, gak tau rasa Nisa. Mual, pusing, manggigil badan Nisa." Nisa membuka matanya, dan dia tampak seperti mengiba.


"Hei! Kenapa seperti ingin menangis? Yusuf tidak memperlakukan kamu dengan baik ya?" Aku melihat matanya memerah, mengedip-ngedip, menahan hujan yang hendak turun dipipinya.


"Apa sih kak! Aku tu paling bisa jaga Nisa. Adik kakak ni suami siaga!" Yusuf tidak terima dengan tuduhanku.


"Kenapa Bang Yusuf gak jenguk Nisa kesini kak? Padahal dia pasti sudah tau Nisa gak sehat." Aku tersenyum mendengar pertanyaan Nisa. Bisa kupastikan inilah penyebab Dia menangis.


"Bang Yusuf gak tau kalau Nisa gak sehat begini, lagian bang Yusuf mana tau orang hamil itu gak sehat. Nanti dia balik kesini lagi, kalau dia sudah sampai nanti kakak suruh dia jenguk Nisa." Aku menyodorkan susu yang tadi dibawa Yusuf, "minum dulu susunya! Kamu harus tetap ada nutrisi, kasian Baby kamu."


"Assalamualaikum." Aku memutar kepala menuju pintu yang berada dibelakangku.


"Wa'alaikumussalam." Tampak Bunda dengan beragam buah ditangannya.


"Nisa mau makan apa? Nanti Bunda bikinkan untuk Nisa." Bunda duduk disampingku. Sedangkan Fariz masih berdiri dengan tangan terlipat didadanya, lebih mirip dengan bodygard dibandingkan seorang suami. Berpakaian serba hitam dengan tubuh tinggi dan Tegap.


Nisa menggeleng, lagi-lagi menitikan air mata.


"Terimakasih Bunda, sudah selalu ngerawat Nisa dan sayang Nisa." Aku tersenyum melihat tingkah Nisa memeluk bunda. Dibalas dengan usapan lembut dipunggung Nisa.


"Kak, dari tadi malam Nisa selaku saja nangis, dikit-dikit nangis. Aku jadi bingung kadang. Serba salah aku kak." Yusuf berisik ditelingaku.


Aku hanya tersenyum mendengar curhatan suami Nisa itu.


Bunda merenggangkan pelukan Nisa.


"Gak perlu terimakasih, Nisa juga anak Bunda, pasti selalu Bunda jaga dan bunda sayang." Bunda mengusap sisa air mata dipipinya.


"Ibu hamil itu hormonnya sedang tidak stabil, jadi wajar kalau Nisa suka merasa sedih atau was-was." Aku mengusap punggung Nisa, secara tidak langsung menjawab pertanyaan galau Yusuf tadi.


"Jangan stress, bawa happy! Nikmati kehamilan ini dek." Aku mengelus lembut pipi mulus nan chaby Nisa.


"Nisa jangan takut bercerita apa saja yang mengganjal dihati Nisa, atau katakan semua apa yang Nisa mau." Aku kembali mencoba membuat Nisa lebih tenang. Diikuti anggukan Bunda tanda setuju dengan ucapanku.


"Assalamualaikum... " Aku melihat Yusuf menerima panggilan. Suaranya yang begitu lantang membuat aku menoleh kearahnya.


"Tunggu sebentar, tolong jelaskan perlahan." Yusuf menjauh dari ruangan, keluar kamar.

__ADS_1


Tak berapa lama, Yusuf kembali bersama Ayah, dengan wajah yang tegang.


"Ayah, Fariz! Ada apa? Wajahnya kok pada tegang gitu?" kerutan keningku kan bertambah melihat ekspresi aneh mereka. Kini pandangan Bunda juga tertuju pada mereka.


__ADS_2