Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 30


__ADS_3

"Khoiratul Afiifah, dengarkan aku! Tetap didalam ruangan ini, dan... Tolong jadilah pendamping Hidupku." Lagi-lagi Yusuf menghentikan langkahku, kali ini bukan hanya langkahku, tapi juga membuat duniaku seolah berhenti. Kembang-kempis dadaku berusaha tenang, setenang-tenangnya.


Tanpa menghiraukan ucapan Yusuf, dengan perasaan tak menentu meninggalkan ruangan Yusuf, tujuanku adalah mushola.


Aku akan cerita pada Allah atas apa yang baru saja terjadi.


Setelah sampai dimushola, aku segera berwudu dan melaksanakan sholat isya. Tanpa ragu aku kembali melaksanakan sholat istikhoroh, sholat istikhoroh? Padahal sebelumnya bukan sholat ini yang ingin aku kerjakan. Entahlah. Allah yang maha membolak balikan hatiku.


"Ya Allah yang maha pengampun, tolong ampuni segala dosa hamba ini, segala khilaf hamba, segala keangkuhan dan kesombongan hamba. Ya Allah yang maha mengetahui yang segala takdir hidupku ditangan-Mu, apa sebenarnya yang engkau persiapkan untuk hidupku? Ya Allah yang maha berkuasa dan berkehendak. Aku tau hidupku milik-Mu. Aku ridho dengan segala takdir ini, aku tau segala yang engkau berikan adalah yang terbaik. Ya Allah... Aku tau engkau maha melihat dia mendengar, Aku hanya ingin mengadu dan bercerita pada-Mu tentang Yusuf. Apa sebenarnya yang menjadi takdir kami berdua? Yusuf secara tak terduga memintaku menjadi istrinya. Tolong Ya Allah, beri aku petunjuk. Jika engkau izinkan aku menerima khitbahnya, maka yakinan hatiku. Tapi jika menurut engkau dia bukan yang terbaik untukku dan Kia, jauhkan hati nya dariku begitu pula sebaliknya, tolong jauhkan aku dari hatinya." Airmataku tumpah begitu saja.


Semoga Allah memberi petunjuk padaku.


Aku berjalan lunglai menuju ruang perawat Yusuf. Hatiku semakin ragu untuk bertemu Yusuf. Aku melihat Yusuf dari kaca pintu, dia sudah terlelap. Aku memutuskan untuk tetap diluar kamar Yusuf.


"pesan?" Aku membuka handphone dan melihat beberapa pesan masuk, pasalnya memang setelah berpisah dari mas Haikal aku jarang mendapat pesan dari siapa pun. Teman-temanku ataupun orang terdekatku lebih sering menelepon daripada mengirim pesan.


"Calon imam? Ya Allah kenapa aku lagi-lagi lupa mengganti namanya?" Ahir nya aku mengganti nama Yusuf dikontakku sebelum aku lupa lagi.


"Afiifah, maaf membuatmu tidak nyaman, sebaiknya kamu pulang saja sebelum larut malam, tapi tolong pikirkan permintaanku tadi, Demi Allah... Aku benar mencintaimu dan menginginkan kau dan Kia menjadi bagian dari hidupku." Aku membaca pesan dari Yusuf.


Jujur saja ingin rasanya aku pulang kerumah dan tidak bertemu Yusuf untuk saat ini, tapi hatiku menolak untk meninggalkan Yusuf sendirian.


Berkali-kali aku membuang napas berat, rasanya tidak percaya, disaat sakit dia malah melamarku.


Malam semakin larut, sunyi. Hanya sesekali mendengar langkah petugas yang berjaga malam, kantukpun menyerangku.


***


"Ibu... Maaf, Ibu keluarga pasien yang didalam?" Aku terbangun setelah merasakan sentuhan dibahas kananku. Seorang perawat yang mungkin dari kamar perawatan Yusuf.


"Iya Sus, saya yang menjaga pasien ini," aku mendongak melihat arah lawan bicaraku, "Ada apa dengan teman saya Sus?"


"Pasien ini demam Bu, tolong bantu dikompres, saya sudah memberikan peredaran demamnya, nanti kalau belum turun panasnya, bisa panggil perawat lagi."


"Makasih banyak Sus." Aku pun segera bangkit dari dudukku.


"Sama-sama Bu, saya permisi." Perawat tersebut meninggalkan ku.


"Untung saja aku tidak pulang dan meninggalkan Yusuf sendirian." Ucapku lirih.


Akupun segera memeriksa kondisi Yusuf.


Subhanallah... Benar, tubuhnya sangat panas. Akupun segera mengompres Yusuf dengan air hangat.


"Ya Allah... Maafkan hamba harus menyentuh nya."


"Semoga kau baik-baik saja Suf, maaf aku terlambat tau kalau kau demam, aku hanya tidak ingin memberi peluang setan untuk menggoda kita." Ada rasa bersalah dihatiku meninggalkan Yusuf sendiri didalam kamar.


Aku sungguh risau, hatiku gelisah, iya... Semoga Yusuf baik-baik saja.


"Ayah... Ibu... " Aku terkejut mendengar Yusuf berbicara dalam kondisi mata tertutup. Aku jadi ingat ucapan Nisa, Yusuf akan suka mengingau memanggil orang tuanya saat demam.


"Yusuf... Tenanglah, aku akan menemani kamu." Aku menyentuh bahu Yusuf yang tertutup selimut rumah sakit.


Dia pasti sangat merindukan orangtuanya. Seketika aku ingat Kia, apa Kia juga akan merasakan kehilangan sosok Ayah juga? Apa Kia juga merindukan mas Haikal?.


"Ayah... Ibu... " Lagi-lagi Yusuf menyebut kedua nama itu. Pilu rasanya hatiku.


" Yusuf... Yusuf, tenang lah, tidak apa-apa Suf,tenang lah." Aku berusaha membuatnya tenang. Aku merasakan suhu tubuh Yusuf dengan tanganku, semakin panas. Mungkin obatnya belum bekerja efektif.


Apa lagi yang harus aku lakukan?


Aku berjalan menuju ners station, "Maaf mengganggu Sus, apa ada perawat laki-laki yang berjaga malam ini? Saya butuh bantuan." Aku bertanya pada salah satu perawat.


"Mohon maaf Bu, untuk malam ini kebetulan gak ada, biasanya selalu ada Bu, tapi beliau sakit jadi tidak masuk dinas malam ini, ada yang bisa saya bantu?" Perawat tersebut menawarkan diri.


Sejenak aku berpikir, apa aku harus meminta bantuan perawat ini untuk membuka baju Yusuf? Tapi kenapa rasanya aku tidak rela Yusuf disentuh wanita lain.

__ADS_1


"Hmm, tidak apa-apa Sus, terima kasih." Ahirnya aku memutuskan untuk mengganti baju Yusuf sendiri. Aku kembali kekamar perawatan Yusuf.


"Ya Allah... Yusuf, kenapa seperti ini?" Aku sungguh panikt melihat wajah Yusuf yang mulai pucat, dia menggigil dan dipenuhi keringat.


"Apa yang harus aku lakukan?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


"Ya Allah maafkan aku harus menyentuh Yusuf berkali-kali." Aku menarik napas dan membuangnya perlahan.


Aku berusaha membantu Yusuf dengan semua ilmu keperawatan yang pernah aku pelajari.


Aku mulai mengompres dengan air hangat mengganti baju dan selimut Yusuf dengan yang lebih tipis, bergetar rasa hatiku saat menyentuh tubuh Yusuf, perasaanku tak menentu.


" Ya Allah... Tolong kendalikan hatiku," aku mencoba mengendalikan diriku, "maaf kan aku Yusuf, maaf sudah menyentuhmu." Aku berusaha membuat Yusuf setengah duduk dan membuka pakaian Yusuf.


"Afiifah...." Tiba-tiba Yusuf membuka matanya sebelum aku sempat membuka baju Yusuf. Sontak aku segera melepaskan tanganku dari tubuh Yusuf dan Ya Allah... Tubuh Yusuf tak sengaja terbanting ketempat tidur.


"Ma...maafkan aku Suf." Aku melihat mata Yusuf terbuka, tapi seperti tanpa tenaga. Dia sungguh lemah.


Dia hanya sedikit tersenyum melihat kearahku, kemudian matanya kembali terpejam.


Sekarang apa lagi yang harus aku lakukan? Tubuhnya semakin panas, bajunya pun sudah basah karena keringat. Sudah lah... Anggap saja tadi Yusuf bermimpi. Aku pun kembali berusaha membuka baju Yusuf dan mengganti nya.


Satu jam berlalu, tubuh Yusuf masih panas tapi tidak sepakat tadi, sudah mulai turun.


Aku masih terus mengompres Yusuf, dan melirik jam didinding. Pukul 02.45 dini hari. Aku mulai merasa ngantuk. Aku memutuskan untuk tidur disamping bad Yusuf, dengan tangan sebagai alas kepalaku. Aku juga sedikit lega dengan panas Yusuf yang mulai turun.


***


"Afiifah... "Aku segera membuka mata saat mendengar suara Yusuf mamanggilku. Aku mendongak kearah Yusuf. Aku terperanjat saat sadar tangan Yusuf berada diatas kepalaku dan mengusapnya pelan.


Hampir saja aku terjatuh. Yusuf tersenyum melihat tingkahku yang belum sadar penuh.


"Maaf Yusuf, aku ketiduran, kau sudah merasa lebih baik?" Sekilas aku melihat Yusuf, sepertinya dia jugo lebih baik.


"Hanya sedikit pusing." Jawabnya.


"Mau whudu', sudah masuk waktu subuh." Yusuf berlalu tanpa melihatku, "kau mau kemana? Ngapain ngekor dibelakangku?" Langkah Yusuf terhenti saat menyadari aku berada dibelaknagnya.


"Haaa?" Aku pun baru menyadari kalau aku benar-benar mengikuti Yusuf dari belakang.


"Kenapa? Mau ikut kekamar mandi bersamaku?" Yusuf menggodaku dengan tersenyum.


Ya Tuhan... Betapa malunya aku. Akupun kembali kesofa, sesekali aku melihat Yusuf, jujur saja, aku masih khawatir Yusuf akan jatuh.


Tapi kekhawatiran hilang saat melihat Yusuf keluar dari kamar mandi. Ia pun segera sholat dan aku juga segera berwudu', aku putuskan untuk sholat disini saja, aku tidak tega meninggalkan Yusuf sendirian.


"Afiifah... Makasih sudah menjagaku semalaman, maaf kalau aku sudah merepotkan mu." Yusuf kembali ke tempat tidurnya.


"Kau benar-benar sudah merasa baikan?" tanya ku, tanpa menjawab pertanyaannya. Aku mencoba membuang bayangan yang terjadi tadi malam.


"Iya, aku baik-baik saja karena kau sudah menjagaku dengan sangat baik, sekali lagi terima kasih Afiifah."


"Tidak masalah Suf, aku hanya menjalankan amanah Anisa untuk menjagamu." Aku masih menundukan pandangku.


"Afiifah... Aku... "


Ucapan Yusuf terhenti saat seorang perawat masuk. " Selamat pagi, permisi saya mau memeriksa kondisi Bapak." perawat tersebut menyapaku dan Yusuf.


"Silahkan Sus." Aku mundur beberapa langkah dari tempat tidur Yusuf.


"Panasnya mulia turun, tensi darah Bapak saja yang sedikit rendah, lebih banyak istirahat dan minum air putih ya!" Pesan perawat tersebut sebelum berlalu.


"Terimakasih." Aku tersenyum pada perawat tersebut. Ia pun meninggalkan aku dan Yusuf.


"Afiifah... Aku perlu bicara sesuatu padamu, maukah kau mendengar apa yang ingin aku sampaikan?" Yusuf menatapku.


"Apa yang ingin kau sampaikan?, jika tentang perasaan mu? Aku tidak ingin mendengar nya, lebih baik kau fokus pada pemulihanmu," Aku berlalu meninggalkan Yusuf, "aku akan keluar sebentar, kau mau kubelikan sesuatu?" Tanyaku sebelum berlalu.

__ADS_1


"Tidak." Jawabnya singkat.


"Baiklah, aku akan cepat balik kesini."


Aku pun benar-benar meninggalkan Yusuf, rasa khawatirku sedikit berkurang.


Aku berjalan menyusuri petunjuk arah menuju kantin. Entah apa yang ingin kupesan, yang pasti aku ingin segera pergi dari hadapan Yusuf. Aku takut tidak mampu mengendalikan perasaanku.


Pikiranku traveling kemana-mana, bayangan tubuh Yusuf kadang datang menghantuiku. Astagfirullah... Aku tau ini salah, semoga Allah mengampuni dosaku ini.


"Pesanan nya Bu." Seseorang datang dengan nasi goreng dan aqua di tangannya.


"Makasih Bude." Aku membuyarkan pikiranku dari Yusuf, dan segera menyantap nasi goreng yang sudah kupesan.


Setelah sarapan habis kulahapwhabis tanpa sisa.


Dengan berat hati, kakiku melangkah, langkah demi langkah menuju ruangan perawatan Yusuf, Apa sebenarnya yang membuat aku tak nyaman bertemu Yusuf? Entahlah aku pun bingung.


Berkali-kali aku menghebuskan napas pelan, berusaha setenang mungkin, sebelum ahir nya aku mengetok kamar Yusuf.


"Assalamualaikum... " Aku berjalan mendekati Yusuf, " Aku bawa bubur ayam untuk mu, makanlah! " aku menyodorkan semangkuk bubur ayam kehadapan Yusuf lengkap dengan air mineral.


" Aku belum lapar, aku tidak terbiasa sarapan bubur." Yusuf menatap bubur ayam yang masih ditanganku.


"Tapi kau harus makan. Atau kau mau makan bubur yang dari rumah sakit ini?" Aku mengganti bubur ditanganku dengan bubur dari rumah sakit.


"Aku tidak mau bubur manapun." Kini Yusuf meraih Ponsel nya dan mengotak-atik ponselnya tanpa tujuan.


"Jadi kau mau sarapan apa?" Aku tidak suka dengan sifat Yusuf yang menurutku ke kanak-kanakan ini, "katakan, biar aku carikan lagi." Aku meletakkan bubur ditanganku ke atas panggung Yusuf yang duduk menyila.


"Afiifah... Aku serius, aku ingin menjadikan kau dan Kia sebagai keluargaku." Aku menjauh dari Yusuf.


"katakan, kenapa kau diam?" Yusuf kembali bertanya.


"Yusuf... Jangan buat aku merasa tidak nyaman bersamamu, Sekarang fokus saja pada kesehatanmu."


"Baiklah... Aku minta maaf." Yusuf menjangkau bubur yang tadi aku belikan dari nakas samping tempat tidurnya.


Sepi, hanya sesekali dentingan sendok makan Yusuf yang terdengar, keras tapi lamban, aku beranikan diri menatap wajah nya. Sendu, tanpa senyuman yang biasa selalu terpancar. Akukah penyebab nya menghilang? Sebegitu patah hati kah Yusuf? Tidak, siapa aku yang mampu membuat Yusuf terpesona? Iya... Mustahil rasanya.


Yusuf kembali tidur setelah menghabiskan sarapannya. Aku tidak berani menebak apa yang membuat gaidahnya hilang. Aku tidak peduli, iya... Aku berusaha tidak peduli, aku hanya menjalankan amanah Nisa menjaga Yusuf. Soal hibbahnya, aku ingin berpura-pura.


Terlantar dibenakku kenapa Yusuf masih belum menikah selama ini? Apakah karena wanita yang membuatnya menunggu selama 6 tahun itu? Lantas kenapa dia berubah pikiran setelah bertemu aku? Mungkin merasa iba dan kasian, bukan benar-benar karena cinta.


Aku orang yang sudah pernah gagal dalam pernikahan, jelas saja aku akan lebih berhati-hati dalam melangkah.


Bukan hanya soal perasaanku, tapi juga tentang Kia. Tapi betulkah Yusuf juga menyayangi Kia seperti ucapannya? Jika benar... Apa yang harus aku lakukan?


Entah lah... Aku hanya mampu menyerahkan seluruh permasalahanku pada Allah, biar Allah saja yang mengatur hidupku.


"Kenapa kau berubah pikiran untuk berhenti menunggu setelah bertahun-tahum bertahan?" Aku memecah kesunyian.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan kesempatan lagi." Jawabnya tanpa melihatku.


"Kau yakin dengan keputusanmu?" Aku masih menatap Yusuf yang terbaring.


"Tak masalah jika kau tak yakin dengan keputusanku, tapi jangan ragukan keputusan bahwa dia pilihanku."


"Beri aku waktu untuk berfikir." Tak sengaja kami beradu pandang, Yusuf tampak sedikit tersenyum. Matanya begitu teduh. Aku bisa melihat ketulusan dimatanya, tapi tetap saja aku butuh waktu untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupku.


"Terima kasih Afiifah, aku akan menunggu jawabanmu, dan semoga penantianku ini tidaklah sia-sia." Mata Yusuf tampak bersinar. Sebahagia itukah dia dengan jawabanku untuk memberinya kesempatan? Aku akan minta petunjuk Allah dan pastinya restu orang tua. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Aku membalas senyumnya seadanya.


Kembali sepi, kami hanya bermain dengan pikiran masing-masing, sesekali Yusuf mencuri pandang padaku Sbil tersenyum. Bak seorang remaja yang baru jatuh cinta.


"Assalamualaikum... " crekkkk.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2