Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 28


__ADS_3

Setelah menerima telepon dari nomor calon imam, aku segera meninggalkan kantorku, pikiranku kalut, tak menentu. Ada rasa takut kehilangan dihatiku.


Aku berjalan sedikit berlari meninggalkan ruangan kerjaku.


"Morin aku akan keluar, tolong nanti kau bereskan ruangan kerjaku!". Tanpa menunggu jawaban dari Morin, aku berlalu menuju area parkir.


Tanpa berfikir aku mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Rasanya seperti mimpi ketika seorang wanita meneleponku dan memperkenalkan dirinya sebagai seorang Dokter yang menangani Yusuf dirumah sakit. Yusuf kecelakaan.


Mustahil rasanya, beberapa waktu lalu aku baru saja mengerutu kesal karena ulahnya.


Rasanya ini bukan diriku, aku yang sangat berhati-hati dalam mengemudi tapi, saat ini berubah jadi pembalap liar.


Yang kupikirkan hanya segera sampai dirumah sakit.


Perjalanan yang seharusnya biasa aku tempuh 30 menit dari kantor kerumah sakit, saat ini menjadi 15 menit. Hebat bukan? Entah lah, entah hebat atau aku mulai gila. Bisa-bisanya aku bermain dengan keselamatanku setelah mendengar kabar yang terjadi pada Yusuf.


Aku segera keluar dari mobil menuju ruang Igd setelah sampai dirumah sakit dimana Yusuf ditangani.


"Assalamualaikum maaf Dokter, dimana pasien kecelakaan atas nama Yusuf ditangani?" Aku bertanya pada wanita yang memakai jas Dokter yang sedang bertugas.


"Didalam ikuti alur warna hijau itu Bu." Wanita tersebut menunjuk arah dengan jempol nya.


"Terima kasih." Aku berlalu dengan perasaan takut.


Berkali-kali aku berdoa untuk keselamatan Yusuf.


"Assalamualaikum, Innalillahi...! Ya Allah, bagaimana keadaan pasien ini Dok?" Aku mendekati brangkar Yusuf dengan perasaan kalut.


"Waalaikumussalam, Ibu keluarga Pasien?" Tnya Dokter disamping Yusuf menoleh.


"Iya, saya keluarganya." Aku semakin khawatir setelah melihat Yusuf terbaring tak berdaya.


"Kondisinya kurang baik bu, sepertinya tangan nya fraktur, pasien juga belum sadar dari tadi."


Ya Allah sekujur tubuhku melemas. Entah kenapa aku begitu takut terjadi sesuatu pada Yusuf. Tak terasa airmataku jatuh begitu saja.


"Keluarga pak Yusuf!" Panggil seorang perawat di belakangku.


"Iya sus, saya keluarga pak Yusuf." Aku menoleh ke asal suara.


"Ohh Ibu istri pak Yusuf yang tadi bicara sama saya di telpon?" Perawat tersebut berjalan kearahku dan Yusuf.


"Ha!" Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan perawat didepanku ini, " I-iya sus tadi saya yang berbicara di telpon, tapi saya bukan istrinya sus."


"Oh maaf Bu, saya pikir Ibu istrinya, silahkan Ibu tanda tangan informconsen ini terlebih dahulu Bu." Perawat yang bernama Febi di Id card tersebut menyerahkan selembar kertas padaku.


"Mohon maaf sus, saya bukan keluarga inti pasien, saya rasa, saya tidak bisa menandatangani surat ini." Aku menyerahkan kembali kertas tersebut pada perawat.


"Tapi orang tua pak Yusuf lagi keluar kota Bu, kita butuh tanda tangan seseorang." Jelas Dokter Febi.


"Suster sudah mencoba menghubungi orang tuanya?"


"Tidak Bu, tapi Pak Yusuf sendiri tadi yang minta saya menghubungi Ibu, karena orang tua beliau lagi keluar kota." Jelas Perawat Febi lagi.


"Meminta? Jadi, tadi Yusuf bisa bicara"? Aku sedikit bingung, aku melihat kearah Dokter disamping Yusuf yang tadi bilang kalau Yusuf tidak sadarkan diri.


"Iya, pak Yusuf bisa bicara bu, pak Yusuf hanya mengalami cedera keseleo di pergelangan tangannya saja, tadi sebelum Ibu datang beliau juga bangun dan bisa bicara." Perawat Febi menjelaskan kondisi Yusuf padaku.


"Jadi maksud suster, sebenarnya Yusuf sadar dan dia baik-baik saja"? Aku menatap perawat Febi dan temannya bergantian.


"Saya Dokter Sila kak Afiifah, Saya temannya Yusuf," Dokter yang dari tadi berada di samping Yusuf itu memperkenalkan diri padaku.


"Yusuf udahlah, bangun kasian calon istri kamu." Dokter sila menggoyangkan tubuh Yusuf dan membangunkan Yusuf.

__ADS_1


"Ada apa ini"? Aku sungguh bingung dengan apa yang terjadi.


"Feb, biar aku saja yang nanganin pasien ini, dia temanku." Ucapa Dokter Sila pada Perawat Febi.


Perawat Febi pun segera meninggalkan aku yang penuh tanda tanya.


"Jelaskan ada apa ini!" Aku menetap Sila tajam.


Melihat Dokter Sila yang tersenyum padaku membuat aku sedikit tenang, mungkin kondisi Yusuf tidak lah seburuk pikiranku.


"Tandatangan ini dulu kak, Yusuf tidak apa-apa, dia cuma sedikit pusing saja, orang tua Yusuf lagi diluar kota, jadi Yusuf minta kak Afiifah saja yang jadi walinya." Perawat Sila mencoba menjelaskan padaku.


"Mami sam Papi lagi ke Jakarta Fah, Jadi aku yang minta mereka menghubungi kamu." Kini Yusuf sudah membuka matanya.


"Lalu kenapa kalian berbohong dengan mengatakan kondisi kau tidak baik? " Aku menatap mereka dengan pandangan datar.


"Maaf ya, itu semuanya hanya ulah kejahilanku saja." Sila tersenyum padaku seolah-olah tidak ada yang terjadi.


Aku hanya menggelengkan kepala melihat ulah konyol mereka. Aku menghemapaskan tubuh dikursi samping brangkar Yusuf dan menandatangani informconsen yang ada di depanku.


"Makasih kak, silahkan pesan kamar rawat inap diruangan sebelah kak, Yusuf akan di rawat untuk beberapa hari kedepan, sebenarnya tidak ada luka yang serius, kita akan observasi karena kepala Yusuf terbentur bahu jalan yang cukup keras," Dokter Sila tersenyum lagi padaku, "silahkan daftar dan pilih ruangan perawatan disana kak." Dokter Sila menunjuk ruangan disamping Igd. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.


"Saya permisi dulu yah, saya akan siapkan obat-obatan Yusuf dulu." Dokter Silapun berlalu meninggalkan aku dan yusuf.


Setelah kepergian Dokter Sila, satu persatu Perawat maupun Dokter silih berganti menangani Perawatan untuk Yusuf. Mulai dari pemasangan infus, pemberian obat intravena, observasi hingga akhirnya Yusuf diantar kekamar perawatan untuk beristirahat.


Aku yang lebih banyak diam sembari terus mendampingi perawatan Yusuf, begitu pula dengan Yusuf.


"Jika nanti Bapak atau Ibu butuh sesuatu silahkankan pencet Bell ini." Jelas seorang perawat sesaat sebelum pergi meninggalkan aku dan Yusuf yang sudah berada dikamar perawatan Yusuf.


"Terimakasih Sus." Aku tersenyum ramah.


Hanya berduaan didalam ruangan, membuat aku tidak nyaman, walaupun akhlakku belum lah baik sempurna, dosaku masih menggunung tapi, aku tau berduaan dengan lawan jenis bukanlah hal yang wajar. Apa yang harus aku lakukan.? Meninggalkan Yusuf sendirian? Ahh, tak tega rasanga aku, apa lagi dengan kondisi tangannya yang belum bisa digunakan secara sempurna.


"Kau tampak begitu gelisah Fah,?" Yusuf menatapku, "jika kau tidak nyaman disini, kamu bisa pulang, aku tidak apa-apa, kan ada perawat juga yang akan menjaga aku Fah." Yusuf berkata seolah-olah tau apa yang aku fikirkan.


"Apa yang terjadi sebenarnya Suf?" Aku ingat dengan pertanyaan yang sedari tadi aku tahan untuk menunggu waktu yang tepat, "Bagaimana kau bisa kecelakaan?" Aku masih memburu Yusuf dengan pertanyaan.


"Aku mengendara kurang fokus, sampai menabrak pembatasan jalan karena terburu-buru." Yusuf berkata sambil membenarkan posisi duduknya, "Auuu!" Pekik Yusuf ketika pergelangan tangannya tak sengaja jadi tumpuan tubuh aslinya.


"Ada apa?" Aku dengan panik mendekati Yusuf, "hmmm, apa ada yang bisa aku bantu?" Aku bertanya dengan gugup.


"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri." Jawab Yusuf yang masih berusaha untuk bergerak.


"Kamu yakin? Sepertinya kamu kesulitan melakukan sesuatu! Katakan saja Suf." Yusuf berhenti dari aktivitasnya, " Kau yakin mau membantuku?" Yusuf menatapku dan aku meng-anggukan kepalaku.


"Kalau gitu tolong antar aku kekamar mandi." Yusufasoh menatapku.


"Kekamar mandi"? Mataku terbelalak terkejut.


"Iya, kekamar mandi!" Yusuf lebih meyakinkan bahwa pendengaran tidak salah, "Gimana? kamu bisa membantuku?" Tanya Yusuf lagi.


"Aku panggilakan perawat saja ya." Alih-alih menjawab iya atau tidak lebih baik aku minta tolong perawat saja, mana mungkin aku membantunya kekamar mandi!, memikirkan nya saja aku tidak mau.


" Gak usah." Yusuf menghentikan langkahku saat aku akan memutar badan, keluar mencari perawat, "Jadi kau gak usah terlalu cerewet, gak semua hal kamu bisa bantu aku." sambung Yusuf.


"Akukan cuma niat bantu karena aku khawatir nanti tangan kamu makin sakit." Aku bingung dengan sifat Yusuf yang tek pernah bersahabat denganku.


"Oke, makasih sudah mau bantuin aku, tapi selagi aku gak minta tolong itu artinya, aku masih bisa Fah." Kini Yusuf sudah mampu turun dari tempat tidur dan melangkah kekamar mandi.


Setelah beberapa saat, Yusuf keluar dengan wajah yang basah, sepertinya Yusuf habis beewudu', aku pun melihat jam di tangan kiriku, benar saja, waktu zuhur sedang masuk. Lagi-lagi aku terpesona melihat wajah Yusuf yang begitu tampan dengan air yang sedikit melekat di wajahnya.


"Jangan terlalu lama menatapku, aku tau kalau aku sangat tampan." Ucapan Yusuf membubarkan lamunan dan khayalanku. Akusegera membuang pandanganku.


"Kau pulang saja, aku bisa sendiri, nanti Fariz dan Nisa juga sudah pulang." Yusuf berjalan melewatiku tanpa menoleh.

__ADS_1


"Baiklah, aku mau balik kekantor lagi, masih banyak yang harus aku urus, kalau nanti kamu butuh sesuatu, kamu bisa menghubungiku! "


"Hmmm, pelan-pelan saja." Yusuf memperingatiku.


"Ohh ya, dimana mobilmu? Biar aku aku bawa kebengkel jika perlu perbaikan." Tanyaku.


"Dirumah, mobilmu baik-baik saja, hanya motor kesayanganku yang hampir hancur." Lanjut Yusuf.


"Kenapa motormu? Atau jangan-jangan tadi kau bawa motor ya bukan mobil?" Kini aku sedikit berjalan kemarahan Yusuf.


"Iya." Jawabnya singkat.


"Kenapa bawa motor? Apa motor moge yang di depan Cafe tadi pagi itu motor kamu?"


"Kamu gak jadi pergi?, kalau kamu masih di sana dan ngomel mulu, aku gak Jadi-jadi ni sholat nya." Aku pun tersenyum mendengar ucapan Yusuf, "Oke lah, aku pergi dulu ya, jangan lupa nanti kabarin aku kalau butuh sesuatu!" Aku kembali memperingati Yusuf.


"Iya Afiifah, sekarang kamu sudah bisa pergi gak?, aku mau sholat." Yusuf mengusirku secara tidak langsung.


"Ehh, tunggu dulu," Aku membalikan badan saat ingat sesuatu, "Apa kamu yang ganti kontak Nama kamu dihandphoneku jadi calon imam?" Aku kembali bertanya pada Yusuf.


Sejanak Yusuf diam, "Afiifah, aku mau sholat, kapan kamu akan pergi?" Kali ini dia berbicara tanpa menoleh kearahku.


"Kenapa kau berani menggantinya?" Aku masih butuh jawaban dari Yusuf, tapi tanpa menjawab pertanyaanku Yusuf segera melaksanakan sholatnya, dan aku meninggalkan ruangan perawatan Yusuf untuk kembali kekantor.


Aku tidak bisa membohongi hatiku, saat ini aku merasa tidak tenang meninggalkan Yusuf sendirian dirumah sakit. Bagaimana kalau dia butuh minum atau makan?, siapa yang akan membantu dia makan? Pasti sulit makan menggunakan satu tangan kiri saja. Aku memutuskan untuk kembali kerumah, ahh, biarkan saja pekerjaanku semakin menumpuk, aku akan pulang dan beristirahat dirumah.


Seperti biasa, dalam perjalanan pulang ini aku mengemudi dengan kecepatan sedang, bahkan bisa dibilang pelaya, tidak seperti saat berangkat kerumah sakit tadi.


Setelah sapi dirumah, aku segera membersihkan tubuhku, mengganti baju, dengan baju rumahan, tak lupa aku lebih dulu mengerjakan kewajibanku.


"Assalamualaikum bun," Aku menghampiri Bunda dan Kia dihalaman belakang.


"Eh, Waalaikumussalam, udah pulang kamu nak?" jawab bunda.


"Sudah bun, udah lumayan lama, tadi Afiifah istirahat sebentar dikamar." Aku mendekati bunda dan Kia yang asik bermain.


"Assalamualaikum anak cantik ibu," aku memeluk Kia, "Asik bener! Sampai gak sadar kalau Ibu udah pulang." Kia hanya membalas sapaan ku dengan pandangan dan senyumannya.


"Oh ya Fah, tadi bunda sudah beli perlengkapan sekolah Kia, maaf ya, bunda gak izin kamu dulu, bunda fikir kamu akan senang, lagian gak ada salahnya kan bunda yang belikan?"


"Ya Allah, iya gak apa-apa dong bun, malah Afiifah makasih banget, bunda sudah bantu Afiifah ngurus Kia, Afiifah juga tau bunda sayang sama Kia." Aku berkata sambil tersenyum pada bunda, aku merasa bunda tidak enak hati karena sudah belikan perlengkapan sekolah Kia tanpa berkonsultasi padaku terlebih dahulu.


"Tadi Kia sama Nenek jalan-jalan di Mall loh Bu!" Sambung kia, "Kia beli banyak krayon untuk sekolah Tk, beli tas little pony, buku mewarnai, pensil, ikat rambut, bando daaan banyak lagi." Kia bercerita dengan antusias, taklupa dengan senyumannya yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya.


"Kia suka?" Aku kembali memeluk Kia, " kalau Kia suka, besok saat Ibu libur kerja, Ibu akan bawa Kia jalan-jalan lagi dan kita beli sepatu untuk Kia, giman?"


"Mau mau.. sama om Yusuf juga ya Bu." Ahh, lagi-lagi Yusuf, nama Yusuf yang setiap hari yang menjadi keinginan Kia, apa-apa sama Om Yusuf, jalan-jalan sama om Yusuf, Ini-itu sama om Yusuf, Yusuf benar-benar sudah menjadi spesial dihati Kia.


Aku hanya meng-angguk menjawab keinginan Kia, kubantah pun hanya akan memperburuk keadaan.


"Gimana keadaan Yusuf nak?" Tanya bunda yang tiba-tiba ingat kalau Yusuf mengalami musibah,tentu saja aku yang memberi tau bunda tentang itu.


"Alhamdulillah tidak ada cedera yang serius bun, hanya pergelangan tangan kanannya belum bisa digunakan karena terkilir," Aku menjawab pertanyaan bunda, tampak jelas bundapun khawatir dengan keadaan Yusuf, pasalnya bunda pun sudah meng-anggap Yusuf seperti putranya sendiri.


"Syukurlah kalau begitu, tadi bunda sempat cemas saat dapat kabar darimu Yusuf kecelakaan, suara kamupun terdengar cemas." bunda menghembuskan nafasnya, lega.


"Fariz sama Nisa jadi pulang kan bun nanti malam?" Aku berharap mereka benar-benar pulang dari honeymoon mereka, agar Fariz bisa menjaga Yusuf dirumah sakit.


"Hmmm, tadi sih mereka telpon jadi, tapi belum pasti, karena mendadak dapat kabar Yusuf kecelakaan, jadi mereka belum pesan tiket." jelas bunda.


"Non, ada telpon." Tiba-tiba Bu Siti menghampiriku sambil memegang handphoneku.


"Siapa Bu?". Tanyaku.


"Gak tau Non, namanya calon imam."

__ADS_1


Sontak bunda menatapku tanpa berkedip, bahkan kerutan diwajah bunda semakin terlihat jelas.


__ADS_2