Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 47


__ADS_3

"Kamu baik-baik aja?" untuk kesekian kali pertanyaan yang sama aku dengar hari ini.


"Hah! Udah yang kesekian kalinya," aku melirik Yusuf dengan sudut mataku, "Gak papa akunya, nih! Lihat! Aku baik-baik aja." aku merentangkan kedua tanganku.


"Iya alhamdulillah. Aku cuma khawatir aja." Yusuf duduk dipinggiran ranjang.


Aku membalikkan badan menghadapinya, "Tadi mah aku pingsan bukan karena gak sehat."


"Lalu?"


"Aku syok melihat kamu yang ada dihasapan Ayah, lagian kalian kenapa merahasiakan ini dari aku?"


Tak tok...


"Mbak Ai! Ada apa?" Tampak sosok mbak Aina dihadapan Yusuf.


"Mbak Ai, ada apa mbak?" aku mencondongkan diri dari tempat dusukku.


"Udah selesai belum?" mbak Ai ikut mencondongkan diri agar bisa melihatku.


"Belum mbak,mbak Ai masuk aja!"


"Mbak mau beresin yang dibawah, kamu bisa melepas sendiri?"


"Ta..."


"Mbak lanjutin aja pekerja mbak, sudah malam juga, nanti Afiifah, biar aku yang bantu." Yusuf memotong omonganku.


"Makasih yah," Mbak Aina menepuk pundak Yusuf, "Dibantu sama laki lu aja ya, Fah. Mbak kebawah." Mbak Aina berlalu.


"Sini! Aku bantu." Yusuf memutar badanku menghadap cermin. Aku hanya meliriknya sesekali lewat pantulan cermin.


"Gak usah lirik-lirik gitu," Yusuf bikin aku malu.


Yah... Setelah tadi aku fikir tak perlu resepsi dengan baju adat Jambi, tapi aku kasian lihat Yusuf dan keluarganya. Jadi aku putuskan untuk melakukan resepsi, tapi hanya memakai satu baju dari rencana awal ada tiga baju.


Lagian tidak memungkinkan bisa kepake semua bajunya.


Bagaimana pun inilah pernikahan pertama Yusuf, pasti ingin merasakan persatuan pernikahan seperti Fariz dan Annisa dulu.


Sebenarnya Yusuf tidak memaksa, tapi aku rasa tak masalah. Benar kata Yusuf! Sebenarnya aku malu dan tidak nyaman, tapi setelah dilalui... Semuanya baik-baik saja.


Walaupun pernikahanku kali ini tidak semewah dan semegah pernikahan pertamaku, tapi aku sangat bahagia.


Bersyukur... Yusuf dan keluarganya bisa mengerti perasaanku. Bunda bilang, awalnya orang tua Yusuf ingin pernikahan ini di-GOR, gedung olahraga. Tapi bunda tau, aku pasti akan menolaknya.


Pernikahan ini juga memuat aku merasa berharga, bisa dilihat dari mas kawin yang Yusuf dan keluarganya berikan, satu unit mobil BMW dan satu unit rumah yang terletak di perumahan elit, Jambi. Kota dalam Kota.


Ini juga bukanlah permintaanku, atau pun orang tuaku. Ketika Bunda bertanya apa yang aku minta sebagai mas kawin, aku menerima apa saja. Aku ridho dengan apa yang diberikan suamiku.


Tapi... MasyaAllah, ini jauh diluar spekulasi ku.


"Maaf ya, rencana pernikahan yang kalian buat jadi kacau gara-gara aku." aku mulai merasa bersalah.


"Gara-gara kamu gimana?" Yusuf masih melepas satu persatu jarum dijilbabku, setelah tadi melepas perhiasan yang menyakitkan kepalaku.


"Gara-gara aku malah pingsan!"


"Ohh! Gak masalah. Lagian aku juga udah hilang2 sama Mami Papi kalau gak perlu resepsi, cukup akad saja. Tapi mereka menolak."


"Angkat kepalanya..."


"Eh... Ngapain?" aku menepis tangan Yusuf yang menyusup masuk kedalaman baju atasku.


"Jarumnya ada nyangkut didalam. Ni gak bisa ditarik jilbab kamu." Yusuf menarik-narik jilbabku.


"Biar aku saja."


"Tadi aku pingsan bukan karena kurang sehat, aku yakin. Karena aku benar-benar menjaga stamina untuk persiapan pernikahan ini."


"Ck... Tapi Bisa-bisanya aku malah pingsan,"


"Memalukan."


"Kalian juga sih merahasiakan ini dari aku. Aku tu sempat membayangkan wajah kamu kurus, jenggotan pendek... Ah. Pokoknya gak kayak gini lah." Aku menjuk tubuh Yusuf.


"Terus kayak siapa? Kayak pak Jepri yang kalian bilang itu?" Yusuf masih pokus pada jarum-jarum dikeplaku.


"Masih banyak ya? Udah sakit ini kepalaku, kamu putar dari tadi."


"Bentar lagi."


"Terus tadi ngapain kamu pingsan, ck... Aku gak pernah ngebayangin istri aku pingsan diacara akadku."


"Aku Syok. Ternyata kamu yang duduk sihadapan Ayah. Hebat kamu ya, bisa benar berpura-pura gitu."


Aku mencabut pinggang Yusuf.


"Eh eh. Sakit Afiifah. Jangan ganggu dulu, gak selesai nanti ni, lagian ini jarum napa banyak banget sih? Udah kayak jualan aja dikepala kamu."


Detak dret...


"Nada beserta rombongan." Yusuf menyerahkan handphoneku

__ADS_1


"Rombongan?siapa?" keningku berkerut.


"Assalamualaikum, kak." Tampak senyum tak enak diwajah mereka.


"Wih... Pengantin baru cuy, eh... Benaran lu tadi pingsan waktu akad?"


"Pasti kalian yang nyebarin," tunjukku bergantian pada kak Valen dan kak Ana.


"Hahaha..." Tawa mereka.


"Habis lu, ada-ada aja. Masak pingsan pas lamaran, belum juga lagi malam pertama." sambung kak Ana.


"Mana laki kamu?" kak Valen celingak an.


"Ngapain nanya laki aku? Aku simpan." Aku melirik Yusuf yang juga asik dengan Ponselnya, setelah ritual pelepasan jarum dikepalaku.


"Ya elah... Jamuran nanti, hahahaha. Eh maaf ya! Tadi kita pulangnya dadakan."


"Gak papa kak,, titip salam sama Ibu kakak, semoga cepat sembuh." Aku tersenyum.


"Afiifah..."


Tampak kepala bunda sudah setengah dalam kamar.


"Udah dulu yah, nanti sambung lagi, dibawah masih banyak tamu, Assalamualaikum." Aku segera memutuskan panggilan.


"Iya Bun," Aku menghampiri bunda dan Yusuf, Yusuf yang sudah dulu menghampiri Bunda.


"Baik Bun," Jawab Yusuf.


"Kenapa Bun?" Tapi Bunda sudah berlalu. Pandangku beralih pada Yusuf yang juga bergerak meninggalkan aku di depan pintu.


"Disuruh Bunda kebawah, ritual malam penggantinya besok saja kata Bunda." Yusuf meninggalkan aku yang mematung mendengar ucapannya didepan pintu.


"Buruan." Yusuf menoleh kebelakang.


Tanpa berka-kata aku mengambil baju dari lemari.


"Gak udah mandi, lama. Lagian udah malam." suara Yusuf sedikit berteriak sebelum aku masuk ke kamar mandi.


Tanpa menghiraukan ucapan Yusuf, aku segera masuk ke kamar mandi dan berganti baju, aku juga tidak berniat untuk mandi. Pikirku, nanti saja mandinya. Mandi sekarang pasti gerah lagi.


Aku sudah siap dengan gamis dan jilbab peac menjulur panjang sampai pinggangku.


"Sudah siap?" Yusuf segera berdiri melihatku keluar dari kamar mandi.


Aku hanya mengangguk. Entahlah... Perasaanku saat ini tak menentu. Kenapa Detak jantungku tiba-tiba kembali tak beraturan.


Menapaki anak tangga dengan atensi semua orang tertuju padaku dan Yusuf, membuat aku menyembunyikan wajahku semakin dalam, dalam tundukan.


"Iya... Heran, pake malu-malu segala." sambung gadis disampingnya.


"Suit Suit... Ei pengantin baru ei."


"Ck... Bukan main wajah bang Satria, sok cool lu bang,gandeng bang, gandeng."


"Udah gak usah gangguin kakak kalian, tuh lihat! Muka Kak Afi udah kayak dikasih pewarna merah."


Aku hanya tersipu malu mendengar godaan mereka satu persatu.


"Sini nak, Mami Papi kenalkan sama keluarga besar Satria."


Aku menghampiri Mami Tania, dan duduk disampingnya.


Memang undangan dari pagi tak terlihat begitu banyak, maklum saja... Acara pernikahan ini bisa dibilang dadakan. Setelah Bunda mengatakan ada yang meng-khitbahku, Tiba-tiba Bunda bilang tiga hari lagi, tepatnya hari ini, langsung digelar acara pernikahan.


Masih ngerasa mimpi kalau sekarang aku sudah menjadi istri lagi, dulu walaupun berpisah dari mas Haikal gak pernah kepikiran secepat ini untuk kembali menikah.


Ahh... Allah inilah skenario Allah, aku yakin ini jalan yang terbaik untuk hidupku.


Mami dan Papi memperkenalkan aku satu persatu, jelas saja aku tidak langsung menghafal nama mereka, hanya saja... Semua hampir dipanggil tante, jadi sedikit mempermudah aku untuk berintraksi dan komunikasi sama mereka.


Nayla... Gadis pertama yang aku lihat tadi, yang pertama menggoda aku dan Yusuf, ternyata ia sepupu Yusuf. Anak dari Om Santo dan tante mei, Adik bungsu dari Mami Tania.


Ada Amanda juga, ahh... Banyak. Kuhitung ada lima anak remaja yang hampir seumuran, ada empat orang anak laki-laki yang Ku fikir mereka juga hampir seumuran.


Belum lagi anak-anak kecil, yang dari Tk-Smp. Aku tidak bisa mengingat mereka dengan jelas. Syukurnya mereka pada asik. Jadi bisa menghilangkan sedikit rasa canggung.


Begitu pula dengan Ayah Bunda, yang juga memperkenalkan Yusuf dan keluarganya, pada keluarga besarku.


Tapi beda denganku, Yusuf sedikit banyak sudah mengenal sepupu-sepupuku, sepertinya selama ini Yusuf memang sering bertemu dengan saudara sepupuku, itu terlihat jelas dari cara mereka berintraksi.


Tak terasa, malam semakin larut.


Langit tampak begitu terang, dengan sinar rembulan yang tampak jelas, dikawal bintang-bintang yang bertebaran, indah. Membuat suasana malam ini semakin bahagia.


Senyumku saja hampir tak pernah hilang, begitu pula dengan Yusuf.


Sesekali aku mencuri pandang pada laki-laki yang kini harus kuhormati dan ku patuhi jiwa dan patuhi.


"Pada nginap disinikan?" Entah pada siapa pertanyaan itu Bunda layangkan.


"Kita langsung pulang aja kak, lagian gak jauh juga rumah kita, cuma satu jam." jawab salah seorang wanita, yang... Ah, jujur saja aku sudah lupa secepat ini.

__ADS_1


"Iya, kita juga pulang saja. Yusuf itu salah satu kebanggaan kita, anak kenyang kita-kita. Jadi pasti kita akan sering bertemu." Sambung tante Mei.


Iya. Aku melihat Yusuf berbeda saat bersama keluarganya, terutama saat bersama adek-adiknya. Ia tampak disegani dan dihormati.


Dan Aku baru mengetahui... Ternyata Yusuf adalah Cucu pertama didalam keluarganya.


"Sayang sekali yah, padahal pasti semakin seru kalau kita bisa ngobrol sampai pagi." Bunda sedikit kecewa.


"Kamu mikir cuma kesenangan kamu aja, Bun. Fikirkan juga manten barunya." Ayah melirik Yusuf, aku melihat Yusuf hanya tersenyum tipis digodain Ayah. Aku yang berada didepan Yusuf berpura-pura tidak mendengar.


"Kak, kita pulang dulu ya! Udah hampir tengah malam ini." Ternyata orang tua Yusuf juga ikut pulang.


"Kita pulang dulu, Zain. Aku titip Yusuf." Papi Han menjabat tangan Ayah.


"Pasti, Han. Dia dari dulu juga udah kayak anak aku. Sekarang alhamdulillah... Betul-betul jadi anakku, jadi pasti makin aku jaga." Ayah mengeratkan genggaman tangan Papi Han.


"Kita semua pulang dulu kak, semoga kita semakin secepatnya bisa dapat cucu dari mereka."


Ck, beginirkadi pengantin baru. Pasti selaku jadi bahan candaan orang-orang.


"Terima kasih tante...


"Makasih om, Tante. Makasih... " Aku mencium punggung tangan mereka satu persatu, begitu pula dengan Yusuf.


"Harus makin sering tempat Om, yah!" Om Sahrul - adik Ayah- menepuk-nepuk punggung Yusuf.


"InsyaAllah, Om. Doakan Yusuf bisa selalu menjaga Afiifah Om, bisa selalu bikin Afiifah bahagia." Yusuf mencium punggung tangan Om Sahrul.


"Pasti. Ya sudah Om pulang dulu..."


"Om pulang dulu ya, Fah." Om Sahrul mengusap lembut kepalaku.


"Iya Om, tante... Hati-hati dijalan."


"Bang... Sat."


"Astagfirullah." Ngusap dada akunya. Eh ternyata yang dipanggil bang Sat, ada disamping aku. Ck ck...


"Hie. Berapa kali aku bilang, kalau panggil itu jangan setengah-setengah." Yusuf menepis kasar tangan dipundaknya.


"Hehehe... Udah kebiasaan bang."


"Kita pulang yah. Jangan lupa ajak kakak Ipar aku jalan-jalan, akunya jangan lupa diajak."


"Kita pulang ya kak, kakak Ipar aku yang cantik nan sholehah."


"Assalamualaikum... Eh, jangan lupa, nama aku Firman. Awas kalau kakak lupa lagi."


"Baiklah, anak ganteng. He... Gak akan lupa lagi. Maklum baru pertama ketemu. Yang harus kakak ingat banyak." Aku membela diri.


"Udah buruan... Tuh udah pada keluar. Kamu mau nginep disini." Aku menunjuk rombongan keluarga besar Yusuf yang sudah melewati pintu satu persatu.


"Sama aku masih ingat gak? Atau jangan-jangan juga lupa." Celetuk seorang gadis yang tiba-tiba merangkulku.


"Nayla." Jawabku spontan, tentu saja demagn senyuman terbiakku. Aku ingin meninggalkan kesan ramah dihadapan keluarga baruku.


"Buruan... Kamu juga mau ditinggal." Aku melepas tangan Nanda dari pjndakku.


"Assalamualaikum." satu kecupan mendarat sempurna dipipi kiriku.


"Wa'alaikumussalam." Aku melambaikan tangan pada Nayla.


"Gak salim Abang?" Yusuf mendelik, melihat Nayla pergi tanpa pamit padanya.


"Aku udah berpindah hati, udah bosan punya Abang. Sekarang aku udah nambah kakak." Nayla tidak melirik Yusuf.


"Nayla pulang ya kak, Baby... Sehat-sehat didalam. Udah gak sabar akunya pengen dipanggil Bibi." Nayla mencium Anisa dan perut Nisa, yang sudah terlihat sedikit meninggi. Kandungan Nisa sudah jalan empat bulan. Dan Alhamdulillah... Nisa udah bisa makan banyak sekarang.


"Hati-hati. Belajar yang baik. Ingat! Sikapnya dirubah. Gak akan ada lagi yang ngurusin kamu disekolah kalau orang tua dipanggil. Kita udah gak mau menjain kamu lagi." Anisa mencubit hidung Nayla.


Sepertinya Nayla kesayangan Yusuf dan Aniisa.


"Masuk, masuk." Bak induk ayam, Ayah mendorong kita semua menjauh dari pintu.


"Kalian langsung istirahat, besok saja beres-beresnya." Bunda digandeng Ayah menuju kamar.


"Bang... Istirahat bang, jangan begadang." Si Fariz ikut-ikutan jahil.


"Kamu juga langsung istirahat, jangan ajak aku begadang." Anisa menyikut pinggang Fariz.


Aku dan Yusuf hanya tersenyum melihat tingkah suami istri yang moodnya suka beeubah-ubah itu, tanpa ingin membalas kejahilan Fariz.


"Ayo." Yusuf mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu.


Tanpa ba bi bu, aku segera membersihkan tubuhku yang berasa lengket dan gerah.


Rasa yang berkecambu. Tak menentu. Membayangkan Yusuf didalam saat ini, Aku seperti anak perawan yang baru pertama menikah.


"Buruan, aku juga udah gerah." Yusuf mengetok kamar mandi dan membuyarkan lamunanku.


"I... Iya. Sebentar." Aku segera menyelesaikan mandiku. Teringat pintu kamar mandi gak kekunci.


"Bajunya aku tarok mana ni?" Tanya Yusuf saat berpapasan didepan pintu.

__ADS_1


"Didalam ada keranjang baju kotor." Menunjuk kedalam, tanpa melihat Yusuf.


__ADS_2