Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 48


__ADS_3

Canggung. Walaupun selama ini sering bersama Yusuf, dan beberapa kali bersama Yusuf dalam ruangan ini saat dulu bersama Kia, saat Kia merengek untuk tidur ditemani Yusuf, tetap saja Aku merasa Canggung saat ini.


"Apa aku harus siapkan baju Yusuf?" bertanya pada diri sendiri.


Pernah gagal dalam pernikahan dan pernah dihianati, sepertinya membuat aku tidak percaya diri saat ini. Aku jadi takut Yusuf tidak bisa menerima kekuranganku. Aku takut tidak bisa melayani suamiku dengan baik, ah... Masih canggung rasanya menyebut Yusuf suami.


"Mau jadi makmum sholat isya ku?" terperanja, suara Yusuf membuyarkan pikiranku yang sedang jalan-jalan.


"Ternyata udah pake baju dia" batinku.


"Iya." jawabku singkat, tanpa melihat kearahnya. Aku segera membentang sajadah dibelakangnya.


Belum mulai sholat saja, dadaku sudah berdebar kencang. Mana bisa khusuk. Astagfirullah...


Ini bukan sholat pertamaku menjadi makmum dalam sholat Yusuf,dulu pernah beberapa kali sholat bersamanya. hanya saja keadaan saat ini yang sudah berbeda.


Aku mulai sholat setelah Alfatihah terdengar Yusuf lantunkan. Berkali-kali aku mengambil dan membuang nafas pelan berusaha tak terdengar oleh Yusuf kegugupanku.


"Apa?"


"Oh!" Astagfirullah... Bisa-bisanya aku bertanya apa ketika Yusuf membalikan badan menghadapku. Hihihi... Ternyata Yusuf mengulurkan tangan untuk kusalami. Astagfirullah. Bodoh atau pura-pura bodoh sih aku.


"Mikirin apa kamu?" kening Yusuf berkerut.


"Gak mikir apa-apa." Aku berdiri berusaha menghindari dari tatapan Yusuf setelah kuraih tangannya.


"Kamu baik-baik aja? Sehatkan?"


"Kenapa Yusuf dari tadi nanyain kondisi aku ya? Jangan-jangan... Ah." aku mengegelengkan kepala dengan memukul sedikit kepalaku.


fikiran kotorku berselancar dikepala.


"Gak papa sih, tapi...sedikit pusing sekarang. Kayaknya kecapek-an." Tak apa lah berbohong sedikit.


"Mau aku pijat?"


"GAK USAH." aku menjauh dari Yusuf yang sudah berjalan menghampiriku. "Gak usah, gak usah. Aku bisa istirahat dan minum vifamin. Besok juga akan enakan kok."


"Atau mau aku buatkan teh hangat? Atau susu hangat?" Tawarnya lagi.


"Gak usah, aku gak papa. Aku cuma butuh istirahat saja. Kamu juga istirahat, pasti capekkan?"


Aku merapikan ranjang yang sudah rapi, tanpa berani melirik Yusuf sedikitpun.


Melihat Yusuf yang segera berbaring tanpa berkata-kata membuat aku makin canggung. Kenapa aku malah merasa buat salah sama Yusuf?


"Selamat malam." aku ikut merebahkan tubuh disamping Yusuf. Aku sedikit melirik Yusuf yang sudah terpejam.


"Hm, malam." Yusuf menarik selimut sampai dada.


Sunyi. Sesekali aku melirik Yusuf terbaring dengan posisi telentang, dengan satu tangan dikepala.


"berat kali beban fikiran Yusuf."


Ah, bukan Yusuf yang terlalu banyak fikiran, sepertinya fikiran ku lebih banyak.


Sudahlah, tubuhku terlalu lelah untuk memikirkan apapun itu, rasa kantuk sudah tak mampu kau tahan.


***


"Eh! Yusuf!"


Aku terperanja ketika tangan dingin Yusuf menyentuh pipiku dengan lembut.


"Sholat dulu." Ya Allah! Bangun tidur, langsung dapat senyuman.


"Kak berapa?" Aku mwngucek mata pelan.


"Jam lima."


"APA?" aku terperanja, seketika rasa lelah dan ngntukku sedikit berkurang.


"Ya Allah, sudah subuh, kenapa alarm aku gak bunyi sih?" Aku memeriksa woker disamping ranjang.


"Ih kok of?" Aku membanting sedikit kesal.


"Maaf! Tadi aku yang matikan."


"Whudu dulu, waktu subuh cuma sebentar." Yusuf membentang dua sajadah.


"Aku tunggu, buruan."


Ya sudahlah, nanti saja aku tnya Yusuf kenapa alarmnya dimatikan.


Aku segera bergegas berwudu.


Rasa kantukku sekarang benar-benar hilang, tapi badanku rasanya remuk.


Kali ini, aku yang lebih dahulu mengulurkan tangan dan disambut Yusuf. Darahku berdesir kala menyentuh tangan Yusuf. Ya Allah... Tiba-tiba rasa cintaku begitu besar dan rasa takut kehilangan, ternyata trauma dimasa lalu belum sembuh seutuhnya.


"Terima kasih sudah menjadi istriku." Satu kecupan mendarat dikenongku.


"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu, jadi! Jangan takut kalau aku meninggalkan kamu."


"Aku akan mencintaimu seumur hidupku."


"Allah maha baik, setelah tujuh tahun pennatianku, setelah tujuh tahun aku mencintaimu, akhirnya Allah kabulkan doa ku."


"Sekali lagi, terima kasih sayang."


Aku hanya mengangguk tanpa mampu berkata, padahal banyak yang ingin aku katakan.


"Maafkan aku." Ah! Kenapa air mata ini hendak ikut nimbrung sih!


"Untuk apa?"


"Tidak pernah ada kesalahan yang kau perbuat."


"Entahlah. Aku hanya merasa harus meminta maaf saja."

__ADS_1


"Sudah! Tak apa." Yusuf memelukku.


"Seandainya saja masih Ada Kia, kebahagiaan ini pasti lebih sempurna."


"Seandainya dulu aku tidak ragu menerima kamu, setidaknya Bisa membuat Kia bahagia diahir hidupnya."


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Kia saat itu, Fah." Aku mendongak. Aku lihat air mata Yusuf mengenang memenuhi ruang dimatanya.


"Ini bukan salah kamu, ini kehendak Allah." Aku semakin menenggelamkan kepalaku didasarkan Yusuf.


"Nanti kita bikin Kia yang lain Banyak-banyak yah!" Mendengar ucapan Yusuf, aku segera melepaskan pelukanku, dan melihat senyum tipis Yusuf.


"Ck. Aku mau dua saja." Aku segera berdiri dan membereskan tempat sholatku.


"Aku mau empat." Yusuf menarik tanganku.


"Satu laki-laki dan Tiga perempuan." Aku berusaha melepaskan tangan Yusuf dari pergelangan tanganku.


"Maukan?" Yusuf mengintip wajah kusembunyikan dalam tundukanku.


"Gak. Aku maunya dua aja."


"Empat."


"Dua."


"Empat!" Ia semaki mendekatkan wajahnya didepan hidungku.


"Oke oke, empat." Aku mendorong Wajah Yusuf menjauh. Tapi bukan makin menjauh, wajah Yusuf semakin dekat, bahkan hampir tak berjarak.


Ya Allah, Detak jantungku sangat tak bersahabat. Dadaku kembang kempis saat aroma maskulin dari tubuh Yusuf membuat aku mabuk.


Satu kecupan lembut mendarat dibibirku.


Aku hanya mampu menyembunyikan bibirku kedalaman.


Aku takut tidak mampu menahan godaan Yusuf.


"Aku mencintaimu." Bisikan lembut dan mesra ditelingaku membuat aku tak tentu arah.


Aku memutar menoleh kekanan, melihat wajah Yusuf yang berada pundakku.


"Aku mencintaimu." Ulang Yusuf.


"Terima kasih untuk segala cinta Itu." Aku berbalik, mendekap Yusuf dari depan, bahkan kini dadaku menempel tanpa penghalang dengan Yusuf.


Yusuf melepas mukenaku. Kecupan demi kecupan mendarat dipipi dan keningku.


Kali ini, cium dibibirku membuat aku benar-benar melayang, semakin lama semakin dalam dan lama, membuat nafasku tersengah-engah.


"WOI." Gedoran pintu yang begitu keras membuat aku dan Yusuf terperanja.


"Bangun WOI. Sholat subuh." Yusuf menggaruk kepala belakangnya kasar.


"WOI... Bangun Woiii."


"Ck." Yusuf melepaskan tangannya dari pundakku.


"Ck ck... Ritualnya baru mau dimulai ya? Hahaha." kepala Yusuf berhasil meyunsup kedalam kamar.


"Bereskan dulu peralatan sholatnya, tuh... Beececeran dimana."


Astaga! Aku baru sadar, ternyata benar. Sajadah yang tadi hendak ku letakan dalam lemari malah tercecer di lantai. Mukenaku dibuang Yusuf sedikit lebih jauh dari Sajadah. Sajadah Yusuf yang masih utuh ditempat sholat tadi.


Aku hanya tersenyum malu.


"Udah udah pergi sana." Yusufasoh berusaha membuat Fariz menjauh.


"Eh... Main masuk-masuk aja." Yusuf terpaksa memberi celah ketika Nisa datang dan menerobos masuk. Eh... Laki-bini kok gak ada akhlak sopan santun.


Aku segera memungut peralatan sholat dan meletakkan sembarangan didalam lemari.


"Ck ck ck. Malam tadi belum kelar ya kak? Atau nyambung? Hahaha." Nisa tertawa gurih.


Pletok.


"Keluar sana!" satu jentikan keras mendarat dikening Nisa lagi. Sepertinya ini cara khas Yusuf untuk menunjukan kasih sayangnya pada Nisa.


"Gak ada baik-baiknya, heran. Udah punya bini masih aja suka ngejentik kening Nisa." Cemberut Nisa.


"Ayo yang, kita keluar. Mereka masih mau lanjut kayaknya."


"Jangan ganas-ganas bang, lakukan dengan penuh cinta. Hahaha."


"Ck. Ais... Udah keluar, Fariz bawa perut buncit ini keluar."


"Buncit-buncit tapi makin nyoi bang, makin sering minta dia, jadi... Buruan dibuncitin juga bang. Hahaha."


"Au... Sakit yank." Fariz meringis akibat cubitan Nisa dipinggangnya.


"Udah udah, keluar."


"Kakak mau mandi." Aku mendorong kedua suami istri itu keluar. Bisa gila lama-lama bersama mereka.


Memang sih, Nisa pernah cerita selama hamil trimester kedua ini, ia lebih sering minta jatah duluan sama Fariz. Apa aku nanti juga gitu ya? Soalnya dulu hamil Kia aku malah gak suka dekatan sama Mas Haikal.


"Mereka mengganggu saja." Yusuf menutup pintu sembari mengoceh. "Gak ada ngerti-ngertinya."


"Udah udah" Aku melepaskan pelukan Yusuf dari pinggangku. "nih mandi." Memberikan sehelai handuk padanya.


"Kamu gak mandi?" Yusuf kembali memelukku.


"Mandi. Kamu duluan saja, aku lagi bereskan ranjangnya dulu, sikat gigi yang baru sudah aku siapkan, untuk perlengkapan lainnya, nanti kita beli ya, aku gak tau kamu pakai merek apa."


Aku mendorong tubuh pria yang kini sah sebagai suamiku itu.


"Gak mau mandi barang aku?"


"Gak." Aku mendorong kepalanya yang keluar pintu masuk kedalaman lagi.

__ADS_1


"Aku mau lihat ke bawah dulu, kamu mau dibikinkan sarapan apa?" sudah tak ada jawaban. Sepertinya Yusuf sudah mulai ritual mandinya.


"Hah. Sepertinya kesunyian aku akan segera berakhir." Aku membuang nafas kasar.


"Pagi, Bun. Yah."


"Lho! Bunda ada selesai masak, udah siap lagi sarapannya." aku tersenyum kuda.


"Nunggu kamu turun bisa kurus Ayah, nah... Lihat,"


"Lihat udah jam berapa sekarang?" Bunda masih sibuk menata makanan diatas meja.


"Hehe... Tadi udah mau lebaran Bun, tapi Nisa sama Fariz malah gangguin masuk kamar." Aku ikut membantu Bunda menata nasi goreng dimeja.


"Eh! Ngapain Bawa-bawa nama kita?"


"Lagian udah siang masih juga mau lanjut, gak bisa nunggu malam apa?" Fariz menggandeng Nisa. Senang sekali melihat mereka selalu mesra.


"Kayak gak pernah jadi manten baru aja kalian."


"Hehe... Ayah dulu gitu juga?" Fariz Duduk disamping Ayah.


"Hahaha... Iya gak lah, Bunda mah dulu masih malu malam pertama pernikahan kita, seminggu Ayah dibikin ngiler."


"Masak sih, Yah?"


"Wah... Tega Bunda."


"Dosa Bun."


"Bang... Sanggup kayak Ayah, dibikin ngiler seminggu? Hahaha." Yusuf yang baru sampai dimeja makan hanya tersenyum tak karuan sembari mengeleng pelan.


"Udah udah... Makan." Bunda menyudahi obrolan yang tak akan ada habisnya ini.


"Udah?" Saat dua sendok nasi masuk kelas piring Yusuf.


"Hm." Yusuf mengangguk.


"Makan yang banyak biar kuat, hehe."


Aku hanya tersenyum melihat Yusuf salah tingkah dicoba Bunda.


"Iya, Bun." Yusuf mulai memasukkan satu sendok nasi goreng spesial kedalam mulutnya.


"Jadi habis ini kalian mau tinggal dimana?" Ayah memecah kesunyian yang terjadi sejenak.


"Suf!" Ayah melihat kearah Yusuf.


"Saya terserah Afiifah saja,Yah." Yusuf melirilku.


"Kalian diskusikan saja dulu, kalian harus mulai merencanakan kehidupan kalian kedepannya." Lanjut Ayah.


"Termasuk punya anakkan, Yah?"


"Tadi aku dengar mereka bertengkar gara-gara jumlah anak, Yah. Hahaha." Fariz sepertinya belum puas menganggu Yusuf.


"Iya. Itu juga penting." Ayah tersenyum tipis sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Belajar dari Ayah juga boleh cara bikin cowok cewek. Hahaha." Ayah tertawa.


"Coba lihat, Ayah hebatnya? Bisa ngatur cowok cewek, gak perlu kedokteran kalian." Lanjut Ayah.


"Astagfirullah... Sudah, jangan ganggu mereka terus. Tuh lihat Yusuf dari tadi minum mulu. Bisa kembung dia." Bunda yang sedari tadi hanya mendengarkan kini ikut berkomentar.


"Hahaha..." Ayah kembali tertawa.


"Yusuf!" Yusuf mendongak. Kini suara Bunda terdengar serius.


"Kamu sudah tau kan kalau dulu Afiifah pernah gagal dalam pernikahan pertamanya?"


"Bunda ingin, kamu selalu menepati janji kamu."


"InsyaAllah, Bun. Yusuf akan berusaha untuk menetapinya, Bun." Yusuf kembali meneguk air putih didepannya.


Sarapan pagi ini terasa sangat lama. Pertanyaan Ayah membuat aku sadar, tempat tinggal memang menjadi prioritas utama saat ini.


Setelah sarapan, Ayah, Yusuf dan Fariz segera menunju halaman samping yang memang memiliki menjadi tempat favorit mereka selama ini.


Aku, Bunda dan Nisa membantu Bu Siti membersihkan meja makan dan kitchen set.


Memang... Selam ini pun, Bu Siti biasanya hanya mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, sedangkan untuk memasak dan menghidangkan makanan biasanya selalu Bunda.


"Kamu ingat nasihat Bunda yang dulu?"


"Iya, Bun. Afiifah ingat. Dulu waktu bersama mas Haikal mungkin Afiifah memang masih lalai menjalankan tugas Afiifah, terutama dalam menyiapkan makan untuknya."


"Mungkin iyah dulu penyebab mas Haikal berpaling dari Afiifah ya Bun." Aku sedikit menyesal kenapa dulu aku sering lalai dalam mengurus mas Haikal. Aku belum 100% menjalankan tugasku sebagai seorang istri.


"Apa pun yang terjadi dimasa lalu, tak perlu kamu jadikan penyesalan, sekarang jadikan itu sebagai pelajaran, syukuri apa yang sudah terjadi." Bunda mengelus punggungku.


"Ingat. Mengurus rumah memang bukan tugas utama seorang istri,


"Tapi... InsyaAllah semua itu akan jadi ama indah untuk kamu, bukankah tujuan menikah itu untuk ibadah? Jadi ambil kesempatan dalam pernikahan ini sebagai ladang ibadah."


"Iya, Bun. Kali ini Afiifah akan menjalankan tugas sebaik mungkin sebagai istri. Afiifah juga gak akan biarkan ada yang merebut Yusuf dari Afiifah lagi. Hehehe." Aku memeluk lengan Bunda.


"Tenaga kak, kalau bang Yusuf macam-macam, Nisa yang akan bela kakak pertama kali."


"Hahaha. Makasih sm sudah ada dipihak kakak." Aku memeluk Nisa.


"Sehat-sehat ya dek, harus buat Mami banyak makan." Aku mengelus perut buncit Nisa.


"Nih lihat badan Nisa kak, udah kayak badak sekarang."


"Gak apa. Yang penting Nisa sehat, dan Baby nya juga sehat, soal badan! Fariz gak akan berpaling cuma gara-gara kamu gendut, dek. Tenaga aja."


"Kak, ini kado-kadonya mau Bu Siti letakan dimana?"


"Oh iya, Afiifah lupa. Letakan disitu saja dulu Bu, nanti sore dibuka-bukain dan dirapikan.

__ADS_1


"Makasih ya, Bu."


__ADS_2