
Aku setengah berlari mengejar Kia, di ikuti kak Nada di belakangku.
Langkahku terhenti, jantungku berdebar kencang bahkan tiga kali lebih cepat dari detak jantung normalku. Ada rasa sakit yang tak bisa aku ungkap.
Sekarang aku tau alasan Kia berlari dan melepaskan gengangam tanganku.
"Kenapa Fah?" kak Nada melirikku, setelah sampai di sampingku.
Kak Nada mengikuti pandanganku. "fah.. Afiifah!" kak Nada menepuk pundakku dengan sedikit kencang.
Aku pun tersadar dan melanjutkan perjalananku sambil setengah berlari, rasanya aku tidak berada dibumi saat ini. Aku abaikan pertanyaan kak Nada. Aku menahan air mataku untuk tidak tumpah.
"Abiiii... "
Kia memeluk kaki mas Haikal dari belakang, sontak mas Haikal kaget dengan kedatangan Kia.
Aku segera melepaskan peluk kan tangan Kia dari kaki mas Haikal.
Sakit sekali melihat mas Haikal mereka mengabaikan Kia, bahkan ia berusaha melepaskan pelukan Kia dari kakinya.
aku abaikan rasa sakitku, aku hanya takut mas Haikal akan kasar dan menyakiti perasaan Kia dengan ucapan kasar nya, pasal nya aku tau mas Haikal tidak tidak lagi menyukai Kia,putri kandungnya, darah dagingnya sendiri.
Mas Haikal menatapku dan Kia sinis bergantian, aku tau tatapan itu penuh ketidak sukaan dan penuh kebencian.
"Kia..."
Aku menggendong Kia segera.
"Abi... Kia rindu!"
Wajah Kia tampak sendu.
"Kia.. Biarkan abi pulang dulu ya, nanti kia bisa main sama abi dirumah "
Aku mencoba tenangkan Kia.
"Abi tidak kangen kakak?" tanya nya. Kia mengabaikan ucapanku, air matanya mulai berjatuhan.
Pertahanan hatiku mulai runtuh.
"Ngapain kamu di sini?Kata nya sakit malah keluyuran,dasar pemalas."
Mas haikal menarik tangan wanita di sampingnya dan segera meninggalkan aku dan Kia.
Sungguh aku benci tatapan wanita itu, tatapan mengejek. Tatapan seolah-olah memberi isyarat bahwa aku sudah kalah darinya.
ucapanan mas Haikal menusuk hatiku paling dalam. Aku berusaha kuat! aku mencoba mengabaikan ucapan mas Haikal.
"Maaf mas, mbak... Maaf sudah mengganggu." sesaat sebelum mereka meninggalkanku.
Aku pun berlalu meninggalkan mereka dengan langkah lulai.
Aku dekap erat Kia dalam pelukanku.
Aku masih berusaha kuat.
Entah apa yang ku fikirkan, aku ingin sekali melihat kebelakang, aku ingin sekali melihat kemesraan mereka.
Aku menghentikan langkahku, hanya sekedar ingin menoleh kebelakakang.
Biar hatiku melihat dengan jelas kejahatan mereka. Biar se
Betapa nyeri di ruang hatiku melihat wanita cantik itu bergelayut manja di lengan suamiku.
Beri aku kekuatan ya Allah.
"Ibu...!Apa abi tidak sayang kakak lagi?" ucapan Kia membuyarkan pandanganku pada mereka yang tengah di mabuk asmara terlarang itu.
Pertanyaan Kia semakin membuat nyeri hati ini.
"Sayang... maafkan Abi ya nak, mungkin Abi lelah, Abi pasti masih sayang kakak." aku mengusap lembut kepalanya. Aku seka air mataku dengan lembut.
"Kita pulang, Fah." Kak Nada mengusap punggungku.
Aku mengangguk.
Kamipun berlalu meninggalkan lestoran itu. Moodku hancur. semangat ku kembali luntur. Nyatanya hatiku belum bisa nerima takdir Allah ini.
"Afiifah, kamu oke?" kak Nada melihatku dengan raut kasian. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan Kia yang sudah terlelap dipangkuanku setelah puas menangis.
"Bohong kalau aku bilang oke kak, nyata nya hatiku sakit, sangat sakit." Air mataku tak henti mengalir.
"Mau jalan-jalan lagi?" tanya kak Nada.
Aku menganguk memberi persetujuan. "tapi kamu gak lelah, Fah ? Kamu masih dalam pemulihan?"
"Gak papa kak, jangan bawa aku pulang." jawabku. "apa yang harus kulakukan sekarang kak?" sambungku.
"Kita mau kemana dulu? Tenangkan fikiranmu dulu."
"Terserah kakak saja, aku tidak punya tujuan yang ku inginkan kak, aku hanya tidak ingin di rumah." jawabku.
Aku buang napas dengan berat, aku berharap dadaku lebih lapang sehingga aku bisa bernafas lega.
"Berat sekali ujian ini. Tega sekali Alla biar kan Kia menderita sekecil ini. Aku ingin menyerah rasa nya kak."
Air mataku kembali mengucur deras.
Aku gigit bibirku, aku tahan siapkan ini agar tak terdengar kencang.
"Istighfar Fah, istighfar... Jangan mengumpat jangan berburuk sangka sama Allah, kamu itu hebat makanya Allah kasih cobaan ini."
"Astagfirullah.... Ampuni hamba yang Allah." Ucapku lirih, "Makasih sudah ada disini bersamaku kak."
__ADS_1
"Kita pulang saja kak." Tibba-tiba aku berubah pikiran.
"Kenapa? Tadi mau jalan-jalan dulu." kak Nada memperlambat kecepatan mobil nya.
"Aku akan segera menyelesaikan masalahku dan mas Haikal kak, aku ingin kejelasan akan hubungan kami, jika memang dia sudah tidak inginkan aku dan Kia lagi, aku akan belajar ridho kak, aku memutuskan untuk menyerah."
Aku sudah putus asa.
Lebih baik aku pergi secepat mungkin dari pada semakin terluka.
"Baik lah, kita pulang."
Kami pun mengarah pulang kerumahku.
***
Pukul 02.05 PM.
Aku masih menunggu mas Haikal pulang, aku masih setia menunggu suamiku pulang.
Walaupun aku tidak yakin dia akan pulang.
Jika benar dia tidak pulang, mungkin dia bermalam dengan wanita simpanannya itu.
Ahh kenangan masa lalu itu kembali melintas, mau tak mau harus ku ingat lagi.
"Bahkan kita sudah tidur bersama" ucapan felli Seolah-olah menari dalam ingatan ku.
Tak berapa lama, aku melihat mobil mas Haikal memasuki halaman rumah.
Astagfirullah... Dia membawa wanita itu pulang kerumah.
kenapa aku jadi gugup untuk bertemu mas Haikal?
"Kenapa mas membawa felli kerumah?" Aku menyambut mereka didepan pintu.
Tanpa menjawab pertanyaan ku, mas Haikal segera membawa Felli kekamar.
Hati ku kenapa tak tenang memikirkan mereka berdua di dalam sana?
Apa yang mereka lakukan?
Astagfirullah... Aku tidak kuat membayangkan mereka menyatu dalam cinta.
Betapa kejam kedua manusia itu.
Entah dari mana keberanianku datang, aku mendekat kekamar itu dan aku membuka pintunya.
Terbakar rasa hatiku melihat mereka bercumbu mesra. Dengan nafas Felli yang semakin mendesah, menikmati dosa mereka.
"Heii, apa yang kau lakukan?" bentak mas Haikal, melihat Felli tersenyum membuat hatiku semakin terkoyak-koyak,
"Tega sekali kau mas, tega sekali kau berbuat kotor di rumahku." aku menahan amarah di hatiku.
"Kalian tidak pantas disebut manusia."
Tidak rela rasa nya melihat tubuh mas Haikal tanpa sehelai benangpun berada dalam pelukan wanita itu.
"Rumah mu? heh ini tentu saja bukan rumahmu, ini rumah orang tuaku." mas Haikal tersenyum sinis padaku.
Ahh benar. Ini bukanlah rumahku, ini betul ada nya rumah orang tua mas haikal yang kami tempati selama lima tahun ini.
"Aku lupa kalau ini bukan rumahku mas, tapi setidaknya hargai aku yang masih ada di rumah ini, tidak bisa kamu tunggu aku pergi dulu mas? Atau setidaknya ceraikan aku dulu." aku masih menatap mereka, tapi kali ini mulai ada kebencian di hatiku, aku berusaha menahan tangisku.
" tidak bisa kah kau menunggu aku dan Kia pergi dari sini mas, setelah itu kau bebas membawa wanita ini kerumah" suaraku bergetar, tapi tidak, aku tidak boleh menangis. Aku akan mengingat malam ini sebagai acuan agar aku yakin untuk membuang rasa cintaku.
"Mas... Aku muak liat dia, aku gak suka dia mengganggu kesenangan kita." kini feeling mulai bicara, dengan tanpa malu sedikitpun ia semakin mengeratkan pelukannya pada mas Haikal, muat tubuh mereka semakin tanpa jarak.
"Keluar sana!" bentak mas Haikal.
"Pelan kan suaramu mas, Kia sedang tidur." aku semakin geram, gigiku menyatu menahan amarah.
"Mas... Ayolah, ceraikan saja dia. Sungguh menyebalkan melihat wajah, bikin moodku hancur." Kini Felli mendorong tubuh mas Haikal.
"Iya sayang... Aku juga muak lihat mukanya, nanti kita lanjut lagi ya!" satu kecupan mendarat dibibir Felli.
"Aku bilang keluar, keluar! sebelum aku berbuat kasar." bentak nya lagi.
"Tega sekali kau mas, demi Allah aku tidak akan lupa dengan rasa sakit ini. Dan kau Felli! tidak kah kau takut akan hukuman Allah? Kau dengan tereng-terangan berbuat zina dengan laki-laki yang sudah jelas memiliki istri."
"Ingat mas, kau akan merasakan sakit yang aku rasakan. Aku yakin Allah tidak tidur."
Tatapanku tajam pada Felli dia mas Haikal.
Felli hanya merespon ucapanku dengan senyuman tipis.
"Mas..." rengek Felli manja sambil meraba lembut dada telanjang mas Haikal.
Tentu saja itu membuatku semakin muak tapi jelas ada rasa sakit di hatiku.
"Keluar... Aku bilang keluar!" mas Haikal kembali membantakku semakin kasar. Bahkan melemparkan charger yang berada diatas nakas.
"Jangan membentakku Haikal, kau tidak berhak berbuat kasar padaku." aku kembali membentak nya dengan suara tinggi. Demi allah ini untuk pertama kali aku bersikap tidak sopan pada nya.
Pada suamiku, ahh tidak mungkin calon mantan suamiku.
"Aku akan keluar," sambung ku. "tapi silahkan kau putuskan pernikahan ini, silahkan jatuhkan talak untuk ku." suarat2 bergetar. Air mataku mulai tak mampu aku bendung.
Ahir nya aku meminta satu kata yang sangat Allah benci.
Tapi niatku sudah bulat dan aku yakin ini lah pilihan terbaik.
"Hahahaha... Dengan senang hati Afiifah, dengan senang hati." kini mas Haikal melangkah mendekatiku, dengan memyambar pakaian dismapingnya.
__ADS_1
Felli! wanita selingkuhan nya itu masih saja bergelayut manja di lengan kanan nya tentu saja sambil tersenyum..
"Khairotul Afiifah, dengan penuh kesadaran dan tanpa ada paksaan dari pihak manapun saya, Haikal Efendi melepaskanmu dari status sebagai istriku, aku kembalikan kau keorang tuamu maka aku jatuhkan talak dua padamu, sekarang silahkan pergi dari ruangan ini." Mas Haikal dengan mantap melepaskan aku.
"Silahkan keluar!" Usir mas Haikal sembari menunjuk arah pintu.
"Baik mas, aku akan keluar tapi izinkan aku tinggal di rumah ini selamanya iddahku, setelah itu aku akan kembali kerumah orang tuaku."
"Tidak. Silahkan kau pergi dari sini secepatnya. Aku tidak ingin kau berlama-lama disini, itu membuatku terganggu."
"Baik! Beri aku waktu tiga hari." aku melangkah meninggalkan kamar yang serasa neraka itu.
Bersyukur nya selama di depan mereka Allah memberiku sedikit kekuatan sehingga air mataku segera aku tahan.
Tapi rasa sakit di hati ini, hanya Allah yang tau.
Saat ini aku bingung dengan rasa yang ku punya.
Sakit... Sungguh sakit tapi juga ada sedikit lega dan segera pula Allah gantikan rasa cinta di hati ini seketika hilang hampir tanpa sisa, malah di gantikan dengan rasa benci dan jijik.
Yah... Aku hanya wanita biasa jauh dari kata baik.
Aku bukan Aisyah yang bisa sabar dengan semua perbuatan buruk dan keji suaminya.
Tapi aku ingin belajar seperti ummu sulaim "Rumaisha" yang memiliki ketabahan luar biasa dan belajar rela dengan segala keputusan Allah terhadap diriku.
Aku sadar, manusia hanya merancang, tuhan menentukan.
Aku yang merancang sebuah keluarga yang bahagia, yang di cintai suami seorang diri tanpa ada kata orang ketiga, tapi jika Allah mengubah hati mas Haikal, untuk berbalik haluan dari cintanya padaku, apa hendak di kata?
Hidup bukan terserah padaku, tapi hidup sesuai ke inginan Allah, tuhan pemilik seluruh alam.
Mungkin ini lah saat nya aku mundur dari perjuangan untuk menjadi istri terbaik.
Aku sudah kalah oleh pesona menawan Felli yang mampu mengait cinta suamiku hingga memilih melepas kan aku dan anaknya.
Aku lunglai, tubuhku hampir tumbang tapi aku harus kuat.
Aku mulai berfikir apa yang hendakku perbuat esok hari.
Aku mulai berfikir harus memulai dari mana hidupku lagi.
Aku merebahkan diri di sisi Kia, kembali ku peluk erat tubuh kecil disampingku, sembari kucium puncak kepala nya penuh cinta.
"Kita akan bahagia nak, Allah tidak akan menyia-nyia hidup kita." aku berkata lirih dengan Kia dalam pelukanku.
Kia lah sumber kebahagiaan dan kekuatanku, Kia juga lah kelemahan terbesarku.
Aku bergumam dengan fikiranku sendiri.
Bagaimana hidup Kia tanpa sosok ayah nya?
Apa yang harus ku jawab saat dia bertanya abi nya?
Entah lah...
Saat ini aku hanya berpasrah diri.
Terserah Allah mau bagai mana mengatur hidupku.
Aku nikmati setiap luka dan duma ini, akan aku jadikan dia pelajaran dan kenangan di masa depan.
Aku raih Ponsel di almari kamarku.
Ku buka aplikasi whatshapp.
"kak besok aku mau ketemu ama kakak jam sembilan, nanti aku kurungan kakak."
Aku mengirim pesan pada kak Valen.
Setelah itu Aku mengetik percakapan di grup whatshapp pertemananku.
" besok kerumah ku ya, setelah pulang dari rumah sakit. Besok jam sembilan aku ke rumah sakit. aku butuh kalian."
Lalu aku tekan kirim.
Beberapa kali aku menunggu balasan dari mereka, tapi jangan kan balasan di baca pun tidak pesan ku.
Jelas saja aku tau mereka bukan sengaja mengabaikan pesanku melainkan mereka pasti sudah bermimpi di alam mimpi masing-masing.
Gelisah sekali hati ini, beberapa kali ku coba untuk tidur tapi hasil nya masih melek.
Aku putuskan untuk sholat malam, setelahku lihat jam menunjuk arah 03.10 p.m
Aku akan bercerita segala resahku pada sang kholik.
Akan aku curahkan segala isi hati ku.
Aku akan mengadu segala perbuatan dua manusia cipta an allah yang sangat kejam ini.
Usai mengadu pada allah aku mencari ketenangan dengan membaca alquran sesekali ku coba pahami arti dari bacaan ku.
Sial nya konsentrasi ku blur, ahh Bisa-bisa nya aku mendengar desahan dari kamar depan. Mungkinkah mereka sengaja membuat ku terluka sampai harus mendesah sangat kuat.
Ahh... Nyesak kali rasa hati ini, walaupun sekarang aku bukan istri mas Haikal, tetap saja masih sakit rasanya.
Jujur saja masih ada cinta di hatiku walaupun saat ini rasa sakitku lebih besar.
Tapi apa lah daya, statusku hanya tamu di rumah ini.
Aku wanita yang baru saja di thalak suamiku.
Aku wanita yang menyadang status janda beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Aku putar lantunan ayat suci alquran di samping telingaku cukup kencang sampai suara desahan manusia-manusia tak bermoral itu tak lagi aku dengar.