Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 24


__ADS_3

Tak peduli bagaimana keras nya aku hidup di masa lalu, hari ini aku akan memulai dengan kehidupan yang baru.


" bismillah, semoga allah lancar kan langkah awal ku ini, semoga allah ridho dengan keputusan yang ku ambil, jika kelak apa yang menjadi keputusan ku ini mendatangkan mudhorat dalam kehidupan ku, tolong hamba-Mu ini agar kembali ke jalan-Mu yang benar, seberapa pun besar nya kecintaan ku kelak pada pekerjaan ku ini, ridho-Mu akan menjadi prioritas utama ku ".


Aku terbangun dari tidur ku, setelah selesai sholat subuh aku tertidur, entah kenapa badan ku terasa sedikit lelah hari ini.


Mungkin karena aku terlalu semangat dengan acara pertunangan fariz dan nisa dari kemaren sampai larut malam.


Aku segera mandi dan menyiapkan perlengkapan ku untuk bekerja hari ini, iya hari ini hari pertama aku bekerja, setelah memutuskan untuk menerima tawaran fariz dan yusuf.


Tapi bukan bekerja pada profesi ku, aku belajar untuk mengelola manajemen keuangan, bukan karena aku sudah tidak mencintai profesi ku lagi, hanya saja untuk saat ini aku ingin mencoba hal yang baru.


Bukan kah hidup terus belajar?


Aku fikir tidak ada salah nya aku belajar menjadi seorang pengusaha. Pintu rizki datang dari mana saja yang allah kehendaki.


Aku sedikit bingung, apa yang harus aku pakai? Maklum saja aku bukan orang yang terlalu pintar dalam memilih fashion,karena aku tipe anak rumahan yang bisa di kata hobbi hanya rebahan di kamar sambil menonton drama korea favorit ku.


Ahh terserah saja lah, ku pikir pakaian bagus bukan lah menjadi tolak ukur untuk menjadi cantik dan berkelas, yang terpenting bagi ku nyaman dan tidak menyalahkan aturan dalam islam, yang arti nya harus menunjukan jati diri seorang muslimah.


Aku menjangkau gamis ungu polos dengan hiasan beberapa kancing di bagian depan nya, bukan baru, hanya saja warna ungu menjadi warna favorit ku sejak dulu, kata sebagian teman-teman ku ungu adalah warna janda, apa mungkin ucapan mereka di dengar sama tuhan? Sehingga aku benar-benar menjadi janda. Hahaha.


Aku melihat diriku di cermin yang seluruh tubuh ku tampak jelas dari pantulan nya.


Aku meng-hembuskan napas ku perlahan, kemudian mencoba merias sedikit wajah ku agar terlihat lebih segar dan lagi-lagi aku bukan lah perempuan yang pintar berhias diri.


Setelah semua aku pikir cukup, aku mulai menyusuri satu persatu anak tangga menuju ruangan bawah, mata ku tertuju pada sosok tubuh tinggi di dengan kaki menyilang di atas kaki satu nya, jelas saja aku mengenal sosok laki-laki itu.


Aku sedikit menundukkan pandangan ku sambil berjalan untuk menghampiri nya.


" assalamualaikum, yusuf ". Aku menyapa nya.


" Wa waalaikumussalam salam " yusuf menjawab salam ku sedikit terbata-bata. Dia menatap ku dengan pandangan yang berbeda dari biasa nya.


" kamu sendirian? ". Aku melihat sekeliling yusuf tapi aku tidak menemukan kia bersama nya.


" iya, memang nya aku biasa nya datang bersama siapa? ". Yusuf juga ikut melirik kiri-kanan, mencoba mencari tau siapa yang aku cari.


" lalu di mana kia? ". Lanjut ku.


" ohh kamu cari kia ternyata? Dia sudah pergi bersama fariz dan nisa, kata nya mau ke kebun binatang ". Jawab yusuf.


" memang nya kamu pikir aku cari siapa? Hmmm mereka pergi sepagi ini? ". Tanya ku sedikit heran nya.


" pagi? Hello.. Nyonya afiifah sudah lihat jam belum? pukul berapa sekarang? "


" pukul 7 pagi ". Jawab ku tanpa ragu.


" astaga.. Baru pertama masuk kerja kamu sudah buat kesalahan ". Yusuf mengeleng-geleng kan kepala nya.


" kesalahan apa yang aku lakukan ". Aku tidak terima dengan ucapan yusuf.


" coba lihat kembali ini sudah jam berapa ". Yusuf mengulurkan jam di pergelangan tangan nya pada ku.


" haaa? jam 9.15 Wib? "


" iya.. Gak perlu kaget gitu, tuh lihat matahari sudah tersenyum menegejek kamu ".


" mustahil, tadi jam weker ku masih pukul 7 kok". Aku yakin aku tidak salah lihat di kamar tadi sebelum turun ke bawah.


" nanti aku belikan kamu jam woker baru, ayo buruan kita sudah telat ". Yusuf menarik ujung jilbab ku.


" aku gak butuh jam baru, aku juga belum niat untuk mengganti nya ". Aku mengekor di belakang yusuf.


" kenapa? ". Yusuf mendadak berhenti didepan ku, hampir saja membuat ku menabrak tubuh nya.


" ya gak papa, aku masih suka weker itu ". Jawab ku, aku pun sontak ikut menghentikan langkah ku.


" apa begitu berharga?, sudah rusak pun masih mau di simpan ". Yusuf kembali berjalan dan melepas kan ujung kerudung ku.


" iya, itu kado ulang tahun ku yang pertama dari mas haikal ". Jawab ku dengan suara pelan.


Lagi-lagi yusuf berhenti mendadak di depan ku, kali ini aku benar-benar menabrak tubuh nya, sontak saja membuat aku mundur satu langkah.


" kalu begitu woker itu benar-benar harus segera di buang, ngapain kamu simpan barang sampah itu dari si sampah juga ". Yusuf menatap wajah ku dengan tatapan rasa tidak suka.

__ADS_1


" kamu ngapain sih suka berhenti mendadak gitu? ". Protes ku pada yusuf.


" salah kamu sendiri jalan melihat ke bawah, apa yang kamu tengok di bawah sana? ".


" ah sudah lah.. Pagi-pagi udah bikin emosi kamu ". Aku berjalan mendahului yusuf.


Tiba-tiba langkah ku terhenti, dan aku ingat sesuatu. aku ingat belum pamit sama bunda.


" mau kemana lagi kamu? ".


" aku mau pamit sama bunda dulu ". Jawab ku sambil melangkah balik ke dalam rumah.


Sesampai Di dalam rumah aku tidak menemukan ayah maupun bunda. Ahh ayah pasti saja sudah berangkat ke kantor, tapi dimana bunda?.


Setelah tidak menemukan bunda, Ahir nya aku kembali keluar dan melihat yusuf menunggu ku di depan pintu mobil dengan kedua tangan di dalam saku celana nya.


" udah? " tanya yusuf.


" waktu kamu datang tadi ada ketemu bunda gak? " aku memutuskan bertanya pada yusuf, barangkali yusuf melihat bunda sewaktu dia menunggu ku tadi.


" bunda ikut fariz sama nisa dan kia ". Jawab yusuf yang kini sudah berada di dalam mobil.


" Ya Allah yusuf.... Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku sudah bolak balik nyariin bunda, sampai gerah aku ". Jelas saja aku kesal dengan sikap yusuf. Aku pun ikut masuk ke dalam mobil.


" salah kamu sendiri main nyelonong saja tanpa bertanya pada ku ". Yusuf mulai mengendarai mobil dan meninggal kediaman ku.


" bisa gila lama-lama aku dekat sama kamu ". Aku melampiaskan kekesalan ku pada yusuf.


Yusuf malah sedikit tersenyum mendengar umpatan ku.


" asal kamu jangan tergila-gila saja sama ku ".mendengar ucapan yusuf, sontak aku melihat yusuf dengan tatapan heran.tapi aku memutuskan untuk diam tanpa membalas ucapan yusuf.


" lagian bunda bilang kamu bakalan turun sebentar lagi, nyata nya hampir 2 jam aku menunggu kamu di bawah, aku yang hampir gila nungguin kamu ". Kini aku yang tersenyum melihat wajah yusuf yang menahan rasa kesal nya.


" baru juga 2 jam, asal kamu jangan sampai tergila-gila sama aku ". Aku membalas menggoda yusuf.


Stttt...


" yusuf ". Aku berteriak saat yusuf meng-rem mendadak, membuat tubuh ku terbanting ke depan. Untuk saja aku memakai seatbelt.


" khoratul afiifah binti Muhammad zein, 2 jam bukan apa-apa bagi ku untuk menunggu.Bahkan aku pernah menunggu seseorang selama 6 tahun, berharap dia kembali pada ku. Jadi jangan pernah membuat aku menunggu kamu untuk yang ketiga kali nya, jangan buat aku menunggu lebih lama lagi, iya aku sudah gila, bahkan sudah tergila-gila sebab seorang wanita ". Dada ku rasa nya berdegup kencang saat yusuf meng-condongkan tubuh nya membuat jarak kami sangat dekat.


Aku masa bodo dan tidak peduli dengan curhatan yusuf barusan, bahkan aku tidak bisa mencerna ucapan yusuf tersebut, aku tidak peduli berapa lama dia sudah menunggu atau siapa pun wanita yang membuat dia menunggu.


saat ini aku hanya peduli dengan jantung ku yang rasa nya mau lepas karena berdetak begitu kencang dan tidak beraturan.


Astagfirullah.. Aku segera mendorong tubuh yusuf untuk menjauh dari ku. Aku tidak ingin dia mendengar detak jantung ku.


"astagfirullah.. Yusuf, apa yang kau laku kan?jangan membuat aku merasa terhina dengan sikap kamu, walau pun aku seorang janda, aku masih punya harga diri dan rasa malu ".


Aku sungguh marah dengan sikap yusuf.


Entah aku marah karena merasa tidak di hargai? Atau karena aku takut jatuh cinta pada nya?.


Entah lah, apa yang menjadi penyebab kemarahan ku sebenar nya.


" maaf afiifah, aku tidak bermaksud melecehkan mu ". Mungkin kini yusuf merasa menyesal atas perbuatan nya.


Aku tidak menghiraukan permintaan maaf yusuf, aku terlalu sibuk menetralkan perasaan ku.


Astagfirullah.. Berkali-kali aku mengucap istighfar, aku tau ini salah.


Yusuf kembali melanjutkan perjalanan.


Suasana pun berubah hening, kami hanya bermain dengan pikiran masing-masing.


Setelah sampai di Cafe, aku segera turun tanpa memperdulikan tatapan yusuf pada ku.


"Afiifah ". Yusuf memanggil ku dengan suara yang cukup lembut.


Aku menghentikan langkah ku tanpa menoleh ke arah yusuf.


" sekali lagi aku minta maaf afiifah, Demi Allah aku tidak bermaksud merendahkan kamu, aku tidak peduli dengan status kamu fah, sekali lagi tolong maaf kan aku ".


Yusuf melangkah mendekati ku. Aku bisa merasakan penyesalan yusuf. Apa pun yang ada di dalam pikiran dan niat hati nya, tetap saja aku tidak suka.

__ADS_1


Aku meninggalkan yusuf tanpa berkata-kata.


Tapi aku lupa jika hari ini hari pertama aku kerja, apa yang harus aku lakukan? Dimana ruangan ku?.


Aku meng-hentikan langkah ku, lalu menatap yusuf yang masih mematung berdiri di hadapan ku.


" dimana ruangan ku? ". Tanya ku dengan tatapan datar.


Sial nya yusuf malah tersenyum.


Lalu yusuf berjalan mendahului aku tanpa menjawab pertanyaan ku.


Jelas saja aku tidak punya pilihan lain selain meng-ikuti nya dari belakang.


" jangan berjalan di belakang ku, aku bukan bos kamu, belajarlah untuk mulai berjalan di samping ku ". Yusuf berjalan perlahan untuk mensejajarkan posisi kami.


" aku akan memperkenalkan kamu dengan seluruh staff di sini, ingat kamu jangan terlalu galak sama mereka, jangan anggap mereka bawahan, karena kita juga sangat butuh mereka, anggap saja mereka sebagai teman ". Yusuf memberi ku nasihat sebelum bertemu dengan para staff.


Setelah sampai di dalam Cafe, Aku bingung dengan sikap para staff tidak ada satu pun dari mereka yang memberi hormat pada bos mereka, aku hanya melihat mereka tersenyum begitu melihat yusuf melewati mereka atau bertatap muka dengan mereka.


Ini sungguh berbeda dengan apa yang sering aku lihat di Tv atau pun Novel. Bagaimana para bawahan begitu menggila ingin memberi hormat pada sang atasan atau istilah sekarang CEO.


" morin, ikut keruangan saya sebentar ". Perintah yusuf dengan sedikit tersenyum.


" baik pak ". Morin pun berjalan di samping ku meng-ikuti aku dan yusuf.


'ini yang nama nya morin, masyaallah cantik, pantas saja yusuf tergoda '. Aku mencoba memberi kesan baik pada morin dalam pertemuan pertama ini. Aku melirik morin di samping ku, laki-laki mana yang tidak tergoda dengan morin, dia sungguh cantik dan modis, dia berpakaian sedikit mini seperti sekretaris-sekretaris dalam bayangan ku.


Sesampai nya di sebuah ruangan, seperti nya ruangan yusuf.


" duduk ". Perintah yusuf pada ku.


Aku pun duduk tanpa berniat untuk protes.


" morin, ini adalah afiifah, dia akan menjadi rekan kamu, dan akan membantu pekerjaan ku dan juga dia yang akan menggantikan aku ketika aku tidak ada di sini ".


Ahir nya yusuf memperkenalkan aku pada morin.


" baik pak, selamat bergabung bu afiifah, saya morin, jika perlu apa pun ibu bisa perintah saya atau katakan pada saya ". Morin mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan ku.


" senang berkenalan dengan mu morin, saya afiifah, mohon bimbingan nya morin, silahkan tegur aku, jika nanti aku berbuat kesalahan ". Kami pun saling tersenyum.


" ya sudah kamu bisa keluar morin. "


Morin pun berlalu meninggalkan aku dan yusuf.


" itu tempat kerja kamu ". Yusuf menunjuk meja yang berada di pojok ruang ini.


Aku mendekati meja yang di maksud yusuf.


" kamu serius? ". Tanya ku


" kenapa? Ada masalah dengan meja nya? Atau kursi nya? ". Yusuf bertanya balik, sambil memutar-mutar kursi nya yang bergoyang.


" bukan masalah sama kursi atau meja nya, hanya saja, harus kah kita satu ruangan? ".


" kenapa? Dulu aku dan maya juga satu ruanga, dan itu tidak menjadi masalah ". Jawab Yusuf.


" tapi apakah layak laki-laki dan wanita tinggal satu ruangan begini? ".


Aku meng-utarakan isi hati ku.


" kamu takut kalau aku berbuat macam-macam sama kamu? ". Kini yusuf berjalan ke arah ku.


" aku masih waras afiifah, mana mungkin aku berani berbuat tidak senonoh atau melecehkan kamu ". Yusuf menarik tirai ymdi belakang meja ku.


" nih lihat, kalau kamu takut, kamu bisa buka tirai penutup ini seluas yang kamu mau ".


Jelas yusuf.


Aku hanya tersenyum merasa idak enak diri.


Tapi jujur saja, bagaimana pun aku tetap tidak nyaman berdua dalam satu ruangan dengan laki-laki yang makhrom ku.


" ya sudah, kamu hari ini cukup berkenalan saja dulu sama para staff di bawah, kamu bisa tanda-tanya sama morin tentang pekerjaan kamu. Aku mau ke kampus dulu, nanti aku antar kamu pulang ". Yusuf berjalan menuju arah keluar, lalu pergi meninggalkan aku.

__ADS_1


Aku melihat tubuh Yusuf yang semakin menghilang. Walaupun dia terlihat acuh terhadap para staff nya, tapi dia terlihat berwibawa.


__ADS_2