
Jumat pagi, minggu pertama diagustus.
Detak jantung semakin berdegup tak berirama.
Iriguler. Tak beraturan.
Ruangan lantai satu sudah terdengar bak taman bermain.
Kadang terdengar tangisan, kadang tawa.
Ahh ingin sekali rasanya menghabiskan pagiku bersenda gurau bersama sepupu-sepupuku dari desa. Sayangnya... Sedari semalam aku tidak diperbolehkan keluar kamar, bahkan bertanya perihal suasana diluar pun aku tidak diizinkan.
Ini yang mereka bilang dipingit?
Entahlah, bertemu calon suamiku saja belum pernah.
Sebegitu istimewa kah laki-laki pilihan Ayah da Bunda itu?
Astagfirullah... Kenapa sampai detik ini, - detik-detik menunggu ijab - aku masih berharap Haikal lah laki-laki itu?
Pernikahan keduaku sangat berbeda, jika dulu pernikahan pertamaku menggores luka dihati orang tuaku, Ayah Bunda dulu tidak sebahagia saat ini.
Inilah takdir Tuhan. Hanya bersyukur masih Allah beri kesempatan membuat Ayah dan Bunda bahagia.
Rasanya kantuk sekali. Semalam aku tak bisa tidur dengan nyenyak, bayangan laki-laki yang akan menjadi suamiku hari ini selalu mengganggu. Sesekali bayangan Pak Jepri - scurity dirumah sakit tempatku bekerja dulh- hadir sebagai reprensi calon suamiku.
Hahaha...
Lucu mengingat scurity yg sudah cukup matang umurnya kala menggodaku dulu.
"Bapak tidak tau kalau saya sudah punya suami? "
"Tau atuh neng, tapi bapak mah santai. Bukan mau jadikan Neng Ifeh bini. Semacam fans gitu lho, yang hanya sekedar mengagumi."
Ck ck... Aku hanya menggeleng-geleng setiap pak Jepri selalu siaga menyambutku didepan gerbang rumah sakit.
Ahh semoga saja beliau selalu sehat. Dan mendapatkan istri dunia ahirat. Beliau seorang duda dengan dua orang anak.
Sembilan pagi.
Masih belum ada tanda-tanda kedatangan calon suamiku dan keluarganya. Semakin gelisah tak menentu saja perasaanku. Takut akan kecewa seperti dulu.
"Sarapan dulu, Nak." Bunda datang dengan senampan nasi lengkap dengan rendang ditangannya.
"kamu can...tik sekali." Puji Bunda.
"Masih lama ya, Bun?" aksara kecemasan siraut wajahku.
"Ck... Sabar atuh, setengah jam lagi mereka datang."
Bunda mulai memasukkan sendok demi sendok nasi kedalaman mulutku. "ehh... Ni anak gadis berdua kenapa belum ganti baju?" yang ditanya malah nyengir.
"Bun... Masak kita hiasannya heboh gini sih? Kita yang natural-natural aja ya? Kayak Afiifah. Nih lihat... Kita mau hapus make up nya dulu, natural saja. Si mbak MUA nya apa-apaan sih. Kalau gak, lipstik nya aja deh ganti jadi natural." Runtuh kak Valen, lengkap dengan bibir manyunnya.
"Ck... Itu uda cantik. Gak usah diganti!" Bunda menipis tangan kak Valen yang sudah siap dengan micseller water ditangannya.
"Buruan sarapan. Sebentar lagi rombongan pengantinnya datang." Satu sendok yang siap kulahap lagi didepan mulutku.
"Iya kak, itu cantik. Kakak aja yang gak percaya diri."
"Cantik apa nya? Kayak badut akunya. Nih lipstik aku merasa merona, iss..." Dengan perasaan kesal kak Valen mengikuti permintaanku dengan tetap membiarkan makeup yang lumayan jelas diwajahnya. "demi kamu ini yah." Kak Valen menunjuk kearahku.
"Ck ck... Cantik kali Kau Butet, lah cocok lah kau jadi pengantin juga. Biar kubilang Ayah nantinya, biar dicarikan calon laki hari ini. Hahaha." Kak Ana menggoda.
"Bunda keluar dulu, tuh dimakan sarapannya." Bunda menunjuk dua porsi makanan.
"Makasih ya kak, untung ada kalian disini. Kalian memang yang terbaik."
"Heh! Jangan Coba-coba nangis kamu yah!" Kak Valen mengancamku, air mataku mulai menggenang, hampir memenuhi kelopak mataku.
"Kau lihatlah, aku lah kayak badut gini demi kau." Ck batak satu ini kalau sifat aslinha keluar, aku kelar.
"Hehehe... Aku cuma bersyukur memiliki kalian, aku tuh gak punya banyak teman."
"Udah... Sarapan aja buruan." Kak Ana memberikan sepiring nasi untuk kak Valen. "Ayo, Fah. Dimakan sarapannya." lanjut kak Ana.
"Udah kenyang aku kak, kalian buruan makannya...
"Kok mulai sunyi yah?"
"Sepertinya rombongan laki-laki nya udah pada dateng." Sambung kak Ana dengan mulut yang penuh dengan makanan nya.
Butuh saja.
Suara Pak Saiful mulai mengisi ruangan, dia yang ditunjuk Ayah untuk jadi MC dicari pernikahanku ini.
Pak Saiful memang handal dalam bidang satu ini, sudah biasa. Dengan pembawaannya yang sedikit lembek dan kemayu, mampu mengundang tawa para tamu.
Satu-persatu susunan acara dimulai, mulai dari menyambut para rombongan pengantin, membawa ayat suci Alquran, kata sambutan terdengar sangat jelas.
Kini sampai diacara yang membuat dadaku naik turun dengan cepat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khoiratul Afiifah binti Muhammad Zain dengan maskawin tersebut tunai."
Terdengar sahut sah para dan alhamdulillah dari bawah dengan jelas.
Air mataku mulai tak terbendung, mengalir bak air.
"Afiifah... Jangan nangis, luntur makeup kamu!" Mbak Aini mengelap pelan air mataku. Beliau MBA handal yang Bunda pilihkan untukku. MUA yang sudah tak diragukan lagi kemampuannya dikota ini.
Air mataku semakin deras.
"Afiifah... Ayo itu sudah dipanggil!" Kak Ana membimbing ku untuk berdiri.
"Iya, Fah. Buruan. Gak pengen liat calon suami kamu?" sambung kak Valen.
Aku menggeleng.
"Bun..." Suaraku nyaris tak terdengar memanggil Bunda yang baru masuk dan menghampiriku.
"Bunda... Itu benar dia?" aku menatap wajah Bunda yang dipenuhi raut kebahagian.
__ADS_1
Bunda menggeleng dengan kedua tangan meraup wajahku.
"Sudah... sudah jangan nangis, ayo buruan turun, suami kamu sudah nungguin!"
Air mataku semakin tak terbendung, "Maafkan aku Ya Allah, ampuni aku yang berharap itu dia."
Kenapa sampai setelah ijab pun, aku masih berharap itu Yusuf. Dan suara itu seperti milik Yusuf. Tapi aku tau... Tak mungkin rasanya.
"Mbak Aina, tolong benarin makeup ku lagi." pinta ku sopan pada MUA muda itu.
"Rame ya, Bun?" Ada rasa malu membayangkan semua mata akan tertuju padaku.
"Udah, ayo buruan. Kasian pak penghulunya nungguin lama." Ucap Bunda yang mengiri langkahku.
"Bun, Afiifah malu."
"Udah gak papa, mau di batalkan ni nikahnya?" gertak Bunda.
"Ya Tuhan..." Kak Valen teriak histeris setelah kembali dari pintu.
"Kenapa kak?" ahh kenapa hari ini tak menentu gini ya? Dulu pernikahan pertamaku tak ada drama seperti ini. Ya Allah...
"Buruan Afiifah... Kasian suami lu nungguin." sesaat setelah kesadaran kak Valen pulih.
"Kakak kenapa kaget gitu? Udah lihat suamiku? Benaran kayak bang Jepri ya kak?"
"Hahahahaha..." Kak Valen tertawa lepas. Aku semakin bingung dengan reaksi kak Valen, kak Ana pun ikutan berkerut.
"Siapa Jepri?" celetuk Bunda, "Ah udah lah, ayo buruan." Bunda sudah tidak bisa menahan sabarnya.
Dengan perasaan yang masih tak menentu, aku di dampingi Bunda, kak Valen dan kak Ana mulai keluar kamar.
"Alhamdulillah... Keluar juga pengantin wanitanya." Terdengar suara pak Saiful.
Satu persatu anak tangga aku lewati, dan aku masih belum siap mengetahui siapa laki-laki yang kini menjadi suamiku. Pandangan ku lurus kebawah.
"Pengantin wanita, pandangan kedepan... Lihat Camera, biar gambarnya terlihat jelas." Lagi-lagi pak Saiful memecah konsentrasiku.
"Bunda...!" langkahku terhenti ketika melihat laki-laki yang duduk dihadapan Ayah dengan Baju yang senada denganku.
Aku melirik Bunda, dan dibalas anggukan kepala Bunda. Aku memeluk Bunda. Tak peduli pak penghulu yang sedang menunggu. Tak peduli dengan tatapan semua orang.
"Ayo sayang... Hampiri suamimu." Bisik Bunda.
"Afiifah gak kuat Bun, kaki Afiifah gak sanggup untuk melangkah, terima kasih Bunda. Terima kasih untuk suami pilihan Bunda." Aku masih dalam pelukan Bunda.
"Sudah sudah... Kita selesaikan dulu prosesi akad ini." Bunda merenggangkan pelukannya.
Tapi benar saja, aku tidak sanggup untuk melangkah. Apalagi setelah melihat laki-laki yang baru saja menjadi suamiku itu tersenyum padaku.
***
"Hey, bangun." Terasa tampan kecil diwajahku. Perlahan rasa panas terasa menyengat dihidungku.
"Apa ini?" Aku menepis benda yang membuat hidungku bak terbakar. Suara pelan.
Astagfirullah... Mimpi apa aku? Bangun tidur melihat laki-laki dihadapanku, tersenyum pula.
Aku menepis tangannya dari bahuku, "ngapain kamu disini?"
"Bangun dulu, minum!" Ia masih berusaha membantuku bangun.
"Ayo diminum!"
Aku berusaha mengingat yang terjadi.
"Astagfirullah... Ck." Aku memejamkan mata, menarik napas dalam lagi.
Terasa lebih baik setelah dinginnya air melalui tenggorokanku.
"Sekarang sudah ingat?"
Ck... Ia malah tersenyum mengejekku.
Aku mengganguk.
"Jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam dua siang, mau sholat dulu?"
"Hm... "Aku mulai bergerak menuju kamar mandi. Ahh kepala ku terasa berat.
" Astagfirullah... " aku baru sadar sudah berganti baju dan sudah tidak berjilbab.
"Aku yang ganti." Ia Seolah-olah tau apa yang aku fikirkan. "Kuat?" Ia memegang kedua pundakku.
Aku mengangguk. Ya Allah... Terasa canggung, "tolong ambilkan jilbabku." Aku menunjuk lemari.
"Aku sendiri aja," Aku melepaskan tangannya setelah memberikan jilbabku.
"Gak papa aku bantu, nanti kamu jatuh." ia mencoba membantuku berdiri.
"Gak papa, aku kuat."
"Afiifah..."
Kenapa ia berubah jadi galak sih?
"Aku gak papa, Suf. Aku bisa. Lagian aku juga akan buang air kecil. Aku mau mandi dulu." Aku mencoba berdiri sendiri.
"Biar aku yang ambil bajunya, kamu duduk aja dulu." Ia malah mendorong tubuhku untuk kembali duduk.
"Gak gak... Aku sendiri saja." Aku berusaha melawan untuk berdiri.
"Mau aku gendong kedalam?" Spontan aku menatap wajah Yusuf. Pandangan kami bertemu. Segera aku membuang wajahku.
"Aku bisa sendiri, untuk hari ini saja." Lagi-lagi air mataku mengenang, apa lagi yang membuat aku menangis! Entahlah.
Ahir nya Yusuf menyerah, dan menyingkir dari hadapanku.
Aku segera mengambil baju ganti dan masik kekamar mandi.
__ADS_1
"Ya Allah... " Aku menatap wajahku dicermin.
Aku masih memulihkan kesadafanku. Bisa-bisanya aku pingsan. Memalukan rasanya.
Lagian kenapa juga semua orang menyembunyikan identitas Yusuf dariku. Hebatnya Yusuf juga menyembunyikan ini dariku.
" Ya Allah... Dia pasti sengaja."
"Ngapain malah bengong disana?"
"Astagfirullah... Yusuf! Kamu apa-apaan sih? Main nyelonong masuk aja. Kalau aku lagi mandi gimana?" tiba-tiba Yusuf nerobos masuk.
"Habisnya dari tadi aku gak dengar ada suara kamu mandi, jadi aku fikir terjadi sesuatu. Kamu ngapain juga bengong didepan kaca sebesar itu?"
"keluar atuh, aku mau mandi."
"Iya... Gak usah heboh. Buruan mandinya. Nanti zuhurnya habis."
"Iya!"
"Pintunya jangan sikunci dari dalam." Sesaat sebelum Yusuf keluar.
"Ck." decakku tak menentu.
Tok tok...
"Aduh, apa lagi sih?" rutukku.
"Ada apa? Aku dah mau mandi ni." spontan aku menunjukan bajuku yang sudah siap kebuka.
"udah dibilang juga jangan dikunci Pintunya...
"Gak usah tunjukkan sekarang buka bajunya."
"Astagfirullah..." Aku segera menutup pintu.
Aku bergegas mandi. Benar kata Yusuf... Waktu zuhur sudah hampir habis.
Aku segera sholat. Gak khusuk rasanya sholat diperhatikan Yusuf.
Ahh aku bak anak perawan yang baru pertama menikah saja. Pakai acara malu-malu segala.
Tapi, aku memang malu, bukan Sok-sok malu.
Satu tahun setelah perceraianku dengan mas Haikal, aku bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan laki-laki lain, iya... Selain dari Yusuf. Apa lagi sekarang harus tinggal satu ruangan lagi dengan seorang laki-laki.
Aku bingung harus mulai dari mana. Apa lagi ahir-ahir ini hubunganku dengan Yusuf tak sebaik waktu ada Kia. Kami lebih jauh, dan sekarang tiba-tiba aku mengetahui dialah suami yang idengitasnya disimpan rapat oleh Ayah dan Bunda.
Rasa belum percaya kalau kami sudah menikah. Apa lagi aku belum menyelesaikan serangkaian pernikahan, aku belum menandatangani surat nikah.
Bisa-biasanya aku tidak sadarkan diri diacara ijab qabulku. Ya Allah... Ada-ada saja.
Tok tok...
"Bunda... " Yusuf membuka pintu.
"Udah siuman dia?" tanya Bunda pelan.
"Sudah Bun, masuk aja. Dia habis sholat."
"Bun..." aku menghampiri Bunda, "masuk Bun, ngapain ngintip didepan pintu."
"Gak papa, cuma mau liat kamu aja, udah mendingan? Kalau udah, siap-siap kebawah lagi, baju gantinya tu udah disiapin ama mbak Aina."
"Mbak Ai... Sini, ganti baju Afiifah sekarang ya! Kasian tamunga udah pada nungguin dibawah."
"Yusuf juga, buruan. Dimakeup sikit sama mbak Ai."
"Mbak Ai, tolong ya Yusuf sekalian." Bunda masih berdiri diambang pintu.
"Bun... Ngomong nya pelan, mbak Ai nya bingung. Lagian Bunda ngomongnya diluar, masuk." Protesku.
"Mbak Ai, maaf ya. Tunggu sebentar, saya mau ngomong sama istri saya." Sesaat sebelum mbak Aina menjalankan perintah Bunda.
"Bun... Nanti kalau udah siap kita kebawah, Yusuf mau bicara sebentar sama Afiifah."
"Jangan lama-lama!" sambung Bunda.
"Maaf Ai, maaf yah! Mbak Ai tunggu dikamar tamu saja sebentar, saya mau ngomong sama istri saya dulu, nanti saya panggil."
Mendengar Yusuf menyebut istri, entah kenapa hatiku begitu bahagia. Baru juga beberapa jam menjadi istrinya, aku sudah sangat bahagia.
"Oke. Nanti panggil aja kalau udah siap. Jangan lama-lama. Ditahan aja dulu, nanti malam sambung lagi." Mbak Ai pun berlalu.
"Mau ngomong apa?" Tanyaku. Sembari mengekor dibelakang Yusuf.
"Kamu udah gak papa?" Tanya Yusuf.
"Gak papa sih, dak udah gak ngerasa apa-apa lagi, tadi kenapa aku bisa pingsan yah?"
"Kok tanya aku! Yang pingsan kan kamu!" Yusuf mengangkat kedua bahunya.
"Kamu beneran gak papa? Atau kita gak usah resepsi saja? Pakai baju biasa saja. Baju adat itu kayaknya berat, nanti kamu malah gak kuat."
Jujur saja... Sebenarnya aku udah gak kepengen ada resepsi, cukup ijab qabul saja.
"Tapi, kamu yakin gak papa kalau gak resepsi?" menapaki wajah Yusuf.
"Hmmm... Gak papa, yang penting kamu nyaman."
"Resepsi bukanlah prioritas dalam rencana pernikahanku, yang penting ijab qabul nya, dan siapa orangnya." Yusuf melirikku.
"Kalau kamu gak nyaman, lebih baik gak usah, aku gak mau malah jari beban fikiran kamu."
"Seperti ini saja aku sudah bahagia." Yusuf tersenyum tipis.
"Maaf ya! Belum apa-apa aku udah bikin kamu sedih, aku tau, ini pernikahan pertama kamu, kamu pasti pernikahan yang sempurna." Aku tertunduk lesu.
"Gak papa, aku juga tau kamu gak nyaman dan mungkin malu dengan pernikahan ini, aku bilang Mbak Ai sama Bunda dulu ya! Kamu istirahat saja sebentar lagi." aku memandang wajah Yusuf dengan tersenyum. Sentuhan tangan Yusuf dikepalaku seakan melunturkan segala sakit dimasa laluku. Seakan membuatku lupa dengan penghianatan dalam pernikahanku dulu.
"Makasih ya."
__ADS_1
Yusuf hanya tersenyum dan keluar, mungkin untuk bilang sama Bunda dan Mbak Ai.