Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 50


__ADS_3

"Hmmttt, huappp."


"Lelah ya?" suara bariton yang kini terasa nyaman ditelingaku.


Aku mengangguk, menggeliat merenggangkan tulang belulangku saat dua tangan kekar merangkul tubuh kecilkku kedalaman pelukannya.


Tubuhku terasa remuk, rasa lelah dihari pernikahan kemarin belum seutuhnya hilang, beberes rumah yang tak karuan rupanya, ditambah olahraga yang dibuat Yusuf tadi malam, benar-benar semakin membuatku remuk.


"Astagfirullah sudah siang..." Saat aku hendak bangkit, tangan Yusuf dengan sigap menangkap pinggangku.


"Lepasin atuh, aku bikin kan sarapan dulu."


"Tuh lihat, sudah jam tujuh." Aku menunjuk arah jam dengan mataku.


"Kamu sih ngajakin aku tidur lagi habis sholat, jadi kesiangan akunya." Aku masih berusaha keluar dari kekangan tangan dan kaki Yusuf.


"Aku masih ngantuk, sebentar lagi." Yusuf kembali menciumi pipiku, "Terima kasih sudah memberi warna baru dalam hidupku." kecupan demi kecupan bertubu-tubi mendarat diseluruh wajahku.


"Iya, iya... Lepaskan, Suf. Aku mau bantu Bunda dibawa, malu atuh... Aku gak pernah bangun saat matahari sudah tinggi seperti ini."


"Pasti nanti jadi sasaran empuk buat Fariz untuk menggoda kita."


"Ayo buruan bangun,


"Kita kerumah Papi Mami nanti sore."


"Jangan panggil aku Yusuf lagi." Yusuf makin mengeratkan pelukannya.


"Terus mau dipanggil apa?"


"Apa aja! Mau abang, sayang, honey, husband! Apa aja... Asal jangan mas."


"Lo kenapa?"


"Katanya boleh apa aja, mas juga boleh donk? Aku biasa manggil orang dengan panggilan mas,


"Dijakarta dulu gitu, sampai token ojek ujung lorong pun aku panggil mas."


"Tukang sayur keliling komplek juga biasa kau panggil mas, mas sayurnya mas. Hehehe." aku memperagakan menggagimit tukang sayur.


"Gak pernah protes tuh tukang sayur atau mas ojek." lanjutku.


"Aku bukan tukang ojek, ataupun tukang sayur, aku suami kamu, aku gak suka dengan panggilan mas." Ia merenggangkan pelukannya.


"Aku gak suka kamu kasih panggilan sama antara aku dan mantan suami kamu." ia berdiri menuju kamar mandi.


"Ck ck ck... Ternyata ini alasannya."


"Aku juga dulu suka manggil mas Haikal, sayang... Honey... Cintaku, dan bahkan kontak nya aku kasih nama my husband." Aku sengaja ingin melihat rekasinya.


"Abang saja." Sejenak sebelum tubuh Yusuf menghilang dari balik pintu kamar mandi.


"Hehe, iya my husband." ia mendelik saat ku buka pintu kamar mandi.


"Cepat bang, aku tunggu dibawah untuk sarapan."


"Hm."


Lima belas menit berlalu, Yusuf baru menyusul ke meja makan untuk sarapan.


"Idih... Tumben Bunda menu sarapan pagi ini beda."


"Udah berpaling hati dari nasi gorengan, Bun?" celetuk Fariz dengan langsung ambil posisi diujung meja.


"Spesial buat mantu laki kesayangan Bunda."


"Dimakan, Suf. Spesial Bunda bikin untuk menyambut hari pertama kamu dirumah ini." Sembari tersenyum manis Bunda menyajikan dua porsi sandicw kedalaman piring Yusuf.


"Nyogok ya Bun, biar bang Satria betah disini?" Fariz menggigit pingir sandicwnya.


"Ck... Sok tau kamu! gak disogok juga Yusuf sudah betah disini. Dari dulu juga tiap hari nongol, apa lagi setelah kakak kamu balik."


"Makan yang banyak, biar kuat menghadapi hidup baru, Afiifah tampaknya aja yang kalem, tapi rumit ngurusin hidup dia, musti sabar kamunya." Bunda kembali menggeser segelas jus jeruk kedepan Yusuf.


"Hehe, iya Bun. Makasih."


"Cukup?" Yusuf memasukkan sepotong sandicw kedalam piring milikku.


"Hm." Aku mengangguk tidak lupa tersenyum manis.


Terkadang tindakan sederhana mampu membuat seorang wanita merasa istimewa. Sama seperti yang Yusuf lakukan saat ini.


"Dimakan Nis!"


"Jadi kemarin periksa kandung?"


"Jadi, Bun. Kata dokter semuanya baik, pemikiran lahirnya kurang lebih dua bulan lagi."


"Bisa lahiran biasa?"


"Belum tau, Bun. Usia kandungan saat ini posisi Baby nya masih bisa berubah. Kita lihat satu bulan kedepan. Kalau sekarang posisi nya sih bagus." Jawab Nisa dengan sesekali memasukkan sandicw kedalaman mulutnya.


"Ohh gitu!

__ADS_1


"Eh... Baby nya cowok cewek?"


"Rahasia, Bun. Suprise." Jawab Fariz.


"Ck... Gak usah rahasia-rahasia. Bunda penasaran ini, bunda udah gak sabarau belanja perlengkapan bayi." Tampak mata bunda berbinar-binar.


"Bunda atau nya cewek atau cowok?" Tanya Nisa.


"Terserah! Bunda mah apapun bersyukur. Bunda cuma mau belanja perlengkapan bayi aja, kalau cewek Bunda akan beli fink semua." Lanjut Bunda, kembali menggigit sisa sandicw ditangannya.


"Jangan fink semua, Bun. Pusing Fariz ngeliatnya. Warna biru aja, bisa dipakai cowok cewek." Protes Fariz.


"Bunda maunya Fink!" protes bunda juga.


"Bun... Jangan gitu ah, warna bukan masalah. Lagian Fariz dan Nisa orang tua nya, Bunda gak boleh maksa kehendak Bunda gitu." Ayah yang sedari tadi diam ikut berkomentar.


"Ck... Iya iya, Bunda cuma gak sabar pengen gendong."


"Afiifah... Yusuf! Jangan nunda punya anak yah, Bunda pengen rumah ini rame. Bunda kesepian kalau kalian pada berangkat kerja." Bunda cemberut.


"Doakan saja, Bun. Yusuf juga pengen segera dikasih rejeki sama Allah." Yusuf tersenyum tipis.


Aku juga tersenyum. Lagian aku juga gak niat untuk menunda.


"Kita hari ini rencananya mau kerumah Papi Mami, Yah." Aku mengalihkan obrolan.


"Bunda boleh ikut yah, Bunda mau ketemu sama Mami kamu."


"Anisa juga ikut ya kak, Anisa rindu kamar."


"Iya,


"Abang gak sibukkan hari ini?" tanya ku pada Yusuf, aku takut Yusuf punya rencana lain, karena memang aku belum diskusi dengan Yusuf tentang rencana mau kerumah orang tuanya.


"Iya, nanti kita kesana." Jawab Yusuf.


"Abng juga mau ambil pakaian lagi, kemari cuma bawa tiga stel pakaian."


"Ya Allah... Abang? Ck ck, meleleh hati adek bang." Fariz memegang dada kirinya. "kalau lagi damai panggilan nya abang sayang, pengantin baru..."


"Udah... Udah, suka banget gangguin abangmu, selesaikan makannya buruan." aku membantu bunda membereskan meja makan.


"Iya, ini juga udah selesai." Fariz mengusap sisa makan dimulutnya dengan tisu.


Tidak ada yang berbeda rasanya sarapan pagi ini mungkin karena sudah biasa dengan kehadiran Yusuf yang hampir setiap pagi datang untuk sarapan atau pun dengan alasan ingin bertemu Kia,


hanya saja merasa kurang, biasanya selalu ada Kia disamping Yusuf menunggu suapan makanan dari tangan Yusuf.


Tapi ini lah kehidupan, Allah lebih berhak atas apa yang Ia kehendaki.


Semoga saja Allah segera memberi kami Kia yang lain dalam pernikahan ini.


Mobil jazz kuning Yusuf mencari parkir diarea super market, aku meminta Yusuf mampir kesuper market dulu, untuk membeli buah-buahan untuk dijadikan oleh-oleh untuk orang tua Yusuf.


Bunda dan Nisa tidak jadi pergi bersama ku dan Yusuf, alasan nya mereka tidak mau mengganggu waktu kami.


Lantai satu tujuan utamaku, membeli perlengkapan Yusuf selama dirumah.


aku akan menjalankan peran pertamaku sebagai istri pagi ini.


Darahku berdesir, jantungku kembali berdegup kencang ketika Yusuf meraih tanganku untuk digenggamnya. "Aku gak tau apa kebutuhan kamu, jadi hari ini aku akan melihat Barang-barang yang kamu butuhkan untuk dirumahku." Aku melirik Yusuf yang pandangannya lurus kedepan.


"Jadi kamu kesini ngajakin aku belanja untuk keperluan aku?" Yusuf melihat ku sekilas, sebelum menaiki eskulator menuju lantai dua.


"Iya." Jawabku, diiringi anggukan.


"Aku gak tau produk apa yang kamu pakai, terutama sabun dan lain sebagainya. Kalau ikut pakai punyaku... Mungkin kamu gak nyaman, karena wewangin aku hampir semua lembut, khas wanita." terangku.


"Selain mencari kebutuhan aku, apa lagi yang mau kamu beli?"


"Buah-buahan untuk Mami Papi,


"Hmm... Aku juga gak tau apa yang mereka suka." Raut wajahku berubah kecewa, seandainya saja aku bisa dekat dengan orang tua Yusuf dari sebelum menikah, seperti Yusuf yang sudah mengenal orang tua, mungkin aku bisa lebih percaya diri saat akan bertemu mereka sebagai menantu untuk kali pertama ini.


Yusuf membawaku kesebuah toko igor's pastry, ck... Sungguh jauh berbeda dengan selera ku, mungkin mulai saat ini aku harus mulai menyukai jenis makan seperti ini.


"Mungkin mulai saat ini kamu harus membiasakan diri dan harus mulai menyukai makanan ini."


"Kenapa?" Aku mengikuti Yusuf yang memasukkan satu buah cheese ball dan banana bun kedalam kotak.


"Karena makanan ini hampir akan kamu temui setiap hari dirumah, seperti makanan wajib yang harus ada dirumah." Jelas Yusuf.


Tiga buah blueberry crispi Roll kembali Yusuf masukan kedalam kotak.


Seperti dugaan ku, keju? Bukan selera ku sama sekali.


"Tapi... Anisa gak pernah membawa makanan ini kerumah?" penasaran, pasalnya hampir satu tahun tinggal dirumah aku gak pernah melihat Anisa membawa makanan ini.


"Karena mungkin Nisa udah bosan makan ini hampir setiap hari." Jawab Yusuf dan kini menuju Kasir.


Yusuf memberi tiga lembar seratusan hampir tak ada kembalian dengan membawa satu kotak sedang yang bertulisan igo's pastry.


"Oh... Gitu, trus kalau aku gak suka gimana?" Aku penasaran dengan reaksi orang tua Yusuf, terutama sang Mami mengetahui aku tak satu selera dengan mereka.

__ADS_1


"Gak papa juga sih, tapi biasa nya Mami akan maksa kamu untuk terus nyoba."


"Oh..." Mulutku bulat.


"Eh kita mau kemana?" Aku menarik lengan Yusuf ketika arah yang kami tuju bukan arah pulang.


"Kita beli buahnya dibawah, sekalian pulang." Lanjutku.


"Kita nonton dulu," Yusuf memandang arloji ditangan kirinya sekilas, "masih lumayan pagi juga, baru jam sembilan. Kita nonton dulu." Yusuf kembali mengeratkan genggaman tangannya ditanganku.


"Dua tiket kak." ketika Yusuf sampai diresepsionis pembelian tiket memilih film critical eleven.


"Disini kak." lanjut Yusuf.


"Jangan disana ah, disini saja." Aku menunjuk kursi dibagikan bawah, ketika Yusuf meminta tiket dikursi tengah.


"Kenapa harus dibawah? Kamu tau, posisi terbaik saat menonton itu ya disini, di barisan E sampai F, suaranya lebih jelas dan akan membuat kamu lebih nyaman,


"Kalau disini..." Yusuf menunjuk kursi yang tadi aku pilih, " Disini akan membuat leher kamu terasa sakit, karena mendongak terlalu lama." jelasnya.


"Gak mau, aku maunya disini." Jawbaku ngotot. "disini aku lebih nyaman, kalau disini..." aku juga menunjuk pada kursi pilihan Yusuf, aku gak akan bisa fokus," aku menarik tubuh Yusuf untuk sedikit merendah. "Aku punya kesan tidak enak kalau menonton dari atas." Aku mendekatkan wajahku ke Yusuf biar suaraku tidak Terllau terdengar orang lain.


"Kesan tidak enak gimana?" tanya Yusuf dengan kerutan didahinya.


"Ck. Aku pernah melihat orang ciuman, gak suka aku. Masih sering kebayang aja." aku lebih menarik tubuh Yusuf untuk lebih mendekat, bahkan hidungku menyentuh pipi Yusuf. kali ini suaraku lebih pelan lagi.


"Emangnya kenapa? Bagus donk... Kita juga bisa melakukannya." Yusuf kembali berbisik ditelingaku.


Saat ini aku pastikan wajahku merah menahan rasa malu dengan godaan Yusuf.


"Disini saja kak." Yusuf kembali menunjuk bangku tengah.


"Baik, dua ratus ribu pak."


Yusuf mengeluarkan dua lembar seratus ribuan.


"Dua ratus? Ya Allah mahal sekali, dulu waktu aku masih SMA cuma lima belas ribu." Aku mengingat harga tiket yang dulu sering aku beli untuk hanguot bersama teman-temanku.


Yusuf tersenyum tipis mendengar ucapanku, seolah mengejek. "Jadi terahir kamu nonton bioskop waktu Sma?" tanya Yusuf yang kembali menggengam tanganku dan duduk dikursi tunggu.


"Gak. Nonton disini saja yang sudah lama, kan habis lulus Sma aku kuliah dijakarta, jadi... Ya dijakarta masih sering hanguot kebisokop sama teman-teman." Jawbaku.


"Kamu suka nonton disini ya?" Aku menapaki wajah Yusuf.


"Suasananya banyak yang berubah dengan zamannya aku dulu ternyata." Aku menapaki sekeliling ruang bioskop.


"Hmm... Lumayan, suka pergi sama teman kerja ataupun teman kuliah dulu." Jawab Yusuf sembari menyeruput taetea.


"Sama siapa?"


"Teman!"


"Laki atau perempuan?" tanya ku lagi.


"Kadang laki, kadang juga perempuan." Jawab Yusuf.


"Sama pacar? Atau mantan pacar?" Aku masih penasaran.


"Pernah sama calon istri." Jawab Yusuf enteng.


"Berdua saja? Terus duduknya dimana? Diposis kayak tadi?" Aku makin penasaran.


"Hmmm. Paling bawah pojok." jawbnya. Mendengar jawaban Yusuf pikiran burukku datang begitu saja.


"Apa yang kamu pikirkan? Bekerut gitu keningnya." Yusuf menepuk pelan dahiku.


"Jangan berpikir kotor." Lanjutanya.


"Iya wajar donk akunya berpikir aneh-aneh, setauku... Bioskop itu memang tempat pacarannya anda muda, bahkan mereka gak segan berbuat tak senonoh disana." Aku mengingat dulu Sabda, teman Sma ku sering bercerita suka berciuaman saat menonton.


"Kamu dulu juga gitu?"


"Eh... Gak lah, walaupun nakal, suka pergi-pergi tapi aku dulu pacarannya sama anak baik, lagian Ayah juga selalu pesan kalau aku harus bisa jaga diri, jangan bikin malu orang tua. Jangan seret Ayah keneraka karena dosa ku." iya... Aku memang selalu ingat Ayah Bunda saat akan melakukan apapun yang bisa membuat aku menyesal.


"Punya banyak mantan ya?"


"Gak. Cuma...


"Satu... Dua, ada lima, hehe. Semuanya mantan ku pada pintar, bahkan yang terahir seorang ustad lulusan pesantren."


"Terus, kenapa malah nikah sama dia? Bukan sama si ustad."


"Iya jodoh... Lagian setelah pindah kejakarta, aku udah gak pernah ketemu dia lagi, walaupun rumahnya diujung komplek, dia juga kata Ema temanku, udah lanjut kuliah ke Kairo waktu itu."


"Pintu teather dua sudah dibuka, bagi yang memiliki tiket silahkan memasuki pintu teater dua."


"Oh... Jadi si ustad itu anak komplek? Yang rumahnya cat biru diujung komplek?" Yusuf masih penasaran.


"Kamu kenal?"


"Udah ah, nanya mulu. Tuh dah dipanggil suruh masuk, mau masuk atau masih mau ngobrol disini?" Aku berdiri dan menunjuk arah pintu teater dua.


Yusuf segera berdiri dan kembali menggengam tanganku, serasa diperlakukan begitu istimewa.

__ADS_1


__ADS_2