Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Bab 5


__ADS_3

"Suprise..." Aku di kagetkan dengan kedatangan sahabat-sahabtku.


"Astagfirullah...!" aku mengusap dadaku, dan memandang mereka satu persatu.


"Ihh, ya Allah. kalian ih, ngagetin deh." Aku memasang wajah kesal.


Mereka tersenyum lalu memelukku bergantian.


"Hampir saja aku jantung ulah kalian." Aku masih meluap rasa kesalku.


"Asuh bumil gak boleh marah-marah. selamat afiifah, alhamdulillah punya calon bayi lagi kita." Seru kak Valen.


"Semoga cewek lagi yah." Sambung kak Ana.


"Kok cewek sih? cowok donk nuna biar ada teman ferel bermain nanti." protes kak Nada, Ferel adalah anaknya.


"Ssstt jangan berisik dia lagi tidur." aku memberi syarat dan menunjuk ke arah mas Haikal yang tertidur di sofa.


Mereka tersenyum lebar menanggapi ucapan ku, sembari menutup mulut dengan tangan.


"Kamu kok gak semangat gitu sih wajah nya?" kak Valen menatapku penuh selidik.


"Gak papa kak, aku cuma sedikit pusing, ehh apa hasil rapat kmren kak?" Tiba-tiba aku teringat kalau kemaren semua karyawan rumah sakit di panggil untuk ikut rapat di aula rumah sakit tempat kami bekerja.


Kak Valen adalah kepala ruangan kami, dia berbeda keyakinan dengan kami, hanya dia satu-satunya yang non muslim, tapi selama dia bekerja dia juga berhijab, itu adalah aturan dari awal dia di terima bekerja di sini, dia di terima karena memang dia sangat pintar. ia juga sangat layak untuk menjadi pemimpin kami, selain pintar ia juga bijaksana dalam membuat keputusan dan, yang paling kami sukai, dia sangat melindungi dan membela kami, bawahan nya jika terjadi sesuatu.


"Ohhh itu, masalah kontrak kerja yang harus di perpanjangan Fah, kan sudah bulan november sekarang, jadi yang habis kontrak kerja di bulan desember harus segera memberi tahu pihak manajemen biar segera di cari ganti." Kak Valen memberi penjelasan pada ku, sembari duduk disamping ku.


"Ohhh gitu." Aku mengangguk, tanda mengerti.


"Kamu jadi mau risegn?" Tanya kak Ana sambil merapikan tempat tidur ku.


"InsyaAllah kak." aku tersenyum.


"Afiifah, ah... Kami pasti jadi rindu." mereka kembali memelukku.


Tok tok...


"Asalamualaikum, Afiifah pak Hadi sudah menunggu di poliklinik." Kak Khusnul masuk dengan mendorong kursi roda untukku, "Owalah... Rame ternyata." Sambung kak Khusnul setelah melihat sahabat-sahabtku itu.


"Kita temenin ya Fah," Kak Ana menggenggam tangan ku, membantu memberikan kekuatan padaku, menuntun ku naik ke kursi roda.


"Gak usah bangunin Mas Haikal ya kak." perintahku pada mereka.


***


"Janin nya bagus, berkembang! detak jantung nya juga sudah terdengar, kapan HPHT nya mbak?" Dokter Hadi mulai memeriksa kandungan ku, tampak gambar bulat, seperti kantong dari dalam layar monitor.


"Hehe lupa saya dok, kalau gak salah 13 september kemaren, saya memang sudah telat dok." aku tersenyum malu, "Datang bulan saya memang tidak teratur Dok." Aku kembali melihat calon buah hati ku itu.


"Hmmm... Ini sih kalau perhitungan saya sudah jalan 8 minggu ini." Dokter Hadi masih memeriksaku sambil melihat layar USG di depan nya.


"Apa ada keluhan kamu sekarang?" tanya nya lagi.


"Gak bisa makan Dok, suka pusing, lemes dan sedikit mual." jawab ku.


"Kamu harus banyak istirahat yah, kandungan kamu lemah ini." dia memberi penjelasan pada ku, sambil memerintah asisten nya membersihkan perut ku dengan tissu.


"Baik dok" Aku menganggukkan kepala ku.


"Minum obat ini, ingat harus banyak istirahat, harus makan yang cukup dan jangan stress." Dokter Hadi memberikan aku sebuah kertas kecil yang berisi resep obat yang harus aku konsumsi dan print-an hasil USG tadi.


"Saya boleh pulang dok?" Tanya ku lagi.


"Iya kamu boleh pulang, ingat ya! Jangan stress dan banyak istirahat." ia menjawab Sambl tersenyum.


Kami pun kembali ke kamar dengan para dayang-dayang ku yang masih setia menemani ku.hehehe.


***


Di kamar...


"Tuh, dengar kata Dokter Fah, harus banyak istirahat, kamu gak usah kerja dulu seminggu ini, nanti jadwal kamu biar aku yang atur." Kak Valen membimbing ku kembali ke tempat tidur. "jangan ngeyel." sambungnya.


"Makasih y kak." senyumku diplomatis.


"Selamat Haikal, calon bayi kamu sehat." Kak Nada memberi ucapan selamat pada mas Haikal yang ternyata sudah bangun tidur.

__ADS_1


Ia melirik dengan sinis. "Cih... Aku gak butuh anak itu, ntah pun itu anak siapa, itu bukan hasil benih yang aku tanam." Mas Haikal mendegus dan menaikkan sedikit bibir kiri nya.


Dia pun berlalu meninggalkan kami tanpa permisi dan tanpa melihatku sedikit pun.


Sontak saja jawaban dan perilaku mas Haikal membuat teman-temanku kaget bukan main, pasalnya... memang selama ini mereka tidak pernah tau perihal rumah tangga yang dalam masalah.


Air mataku kembali mengalir, aku tidak bisa menahan beban ini, aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku. Sakit sekali rasa nya dia yang berselingkuh di belakangku malah memfitnahku berselingkuh.


"Afiifah... Jangan menangis." Kak Ana menggenggam tanganku, aku tau mereka pasti bingung dengan apa yang terjadi, tapi mereka tidak bertanya padaku apa yang telah terjadi. Mereka memang sahabat yang paling bisa mengerti.


Mereka memelukku dan tentu saja mereka ikut menangis. Aku sangat bersyukur memiliki mereka di sisiku yang sangat menyayangi aku, mereka sangat menjagaku, mereka selalu melindungi aku seperti adik mereka, karena memang umur ku tiga tahun di bawah mereka.


Aku tau... di wajah mereka tersimpan beribu tanya, aku masih terus menangis di pelukan kak Ana.


"Nangis aja Fah, gak papa." Kak Ana tersenyum menatapku dan mengusap punggungku pelan.


"Kak... Aku gak mau pulang kerumah kak." aku melepaskan pelukanku.


"Kita gak akan bertanya apa masalah kalian Fah, tapi kalau kamu ingin cerita, kita selalu ada untuk mendengarkan dan melindungi kamu." Gantian kak Nada yang memelukku. "kamu itu udah kayak adik bagi kita, jadi... Jangan pernah merasa sendiri."


"Kak, sebenar nya rumah tangga ku sudah tidak harmonis semenjak satu tahun ini, kami selalu bertengkar, bahkan dia sudah tidak pernah menyentuh lagi sudah dua bulan ini kak." aku memutuskan untuk bercerita masalah ku.


Kak Nada melepaskan pelukannya. "Jadi karena itu dia tidak mau mengakui anak ini?" kak Nada kembali menatapku iba.


Aku hanya mengangguk membenarkan ucapan kak Nada.


"Ya Allah Afiifah, kita fikir selama ini kamu sangat bahagia, terlepas kalian tidak pernah tampak bermasalah."


"Bagai mana dengan mertuamu?" kini kak Valen yang bertanya.


"Mereka baru kuceritakan kemaren kak, karena aku sudah tidak kuat menahan nya seorang diri, aku berharap nasihat mereka bisa menyadarkan mas Haikal, sebenarnya orang tua mas Haikal bukan benar-benar tidak tau, tapi mereka seakan tidak peduli." jawabku sedikit ragu.


"Ini pasti berat kan fah? Tapi kamu pasti kuat, kamu itu hebat." aku melihat kak Ana kembali tersenyum untuk memberiku kekuatan.


"Tapi ini sangat berat kak, mungkin aku akan pulang ke Jambi, ke tempat orang tuaku. " Aku menunduk, berat rasa nya harus berpisah dari mereka. " Aku sudah tidak mungkin tinggal disini lagi, aku butuh Bunda disamoingku."


AKU memang berasal dari provinsi Jambi, provinsi yang terletak di Pulau sumatra, aku pindah ke jakarta tidak lain memang ingin mengabdi pada suami ku, untuk ikut kemana dia membawaku dan anakku, aku tidak pernah berfikir dia kembali mengulang kesalahan yang sama seperti lima tahun lalu, diawal tahun pernikahan kami.


"Dia berselingkuh kak." Ucapku pelan, nada suara ku gemetar.


" AAAPPPAAAA? " teriak mereka berbarangan dan mereka saling menatap.


Aku meremas kedua tanganku. "Iya dia menjalin hubungan dengan seorang perempuan bernama Felli kak, walau pun dulu dia tidak mengakui nya tapi aku sering mendengar mereka bermesraan di telpon." air mata ku masih mengalir deras.


"Dan... Huhh, kemaren dia mengakui kalau dia memang memiliki hubungan spesial dengan wanita itu." Sambung ku, berkali-kali aku mengambil nafas dalam dan mengempaskan dengan kasar. Dadaku terasa sangat sesak, sakit. Bak tertusuk benda tajam.


"Kamu tau siapa dia?" kak Nada mengusap punggungku.


Aku mengangguk. "Mungkin dia mantan kekasih nya dulu kak, yang dulu juga pernah jadi selingkuhan dia."


"AAAPPPAAAA!" mereka lagi-lagi berteriak dan semakin kaget.


"Dulu? Pernah berselingkuh? Dengan wanita itu juga?" tanya kak Nada bingung.


Aku hanya mengangguk...


"Ma...ma-maksud kamu dulu pun ternyata Haikal pernah berselingkuh dari kamu fah? Lima tahun yang lalu? Itu arti nya saat kalian baru menikah?"


kak Nada bertanya dengan terbata-bata. Mereka sangat kaget, itu lah yang terlihat pada ekspresi mereka.


Aku menjawab dengan anggukan kepala.


"Brengsek benar tu laki... Pengen kuremas pulak otaknya, sukak-sukak pun nyakitin anak orang, hurang tutur ajar Ho." bataknya kak Valen meluncur lancar dari mulutnya.


FLASBACK.....


***


Lima bulan pernikahanku dan mas Haikal semua nya berjalan dengan sangat indah, sama seperti pasangan lain yang baru merajut rumah tangga, semua terasa membahagiakan.


Kami selalu pergi bersama-sama, apa lagi setelah tau kehamilan ku, mas haikal menjadi sangat memanjakan ku dan jadi super prosesif pada ku.


Aku hamil sangat cepat, dan aku sangat bersyukur segera di beri allah kepercayaan untuk segera memiliki momongan.


Kami memang merencanakan untuk segera memiliki momongan walau pun usia kami saat itu masih tergolong sangat muda, aku menikah di usia 22 tahun begitu juga dengan mas Haikal, kami di pertemukan oleh sahabat nya mas Haikal, yaitu tion dan sahabat ku Rajin.


Ralin teman satu kamarku di asrama, tapi usianya dua tahun di atasku. mereka yang awal nya berpacaran dan menjodohkan kami berdua.

__ADS_1


Kami berpacaran hampir satu tahun saat itu aku duduk di bangku kuliah semester 4, aku ambil jurusan D-III Keperawatan di sebuah universitas dijakarta,tapi saat itu dia sudah semester 6 di jurusan manajemen.


Aku memang memilih untuk kuliah di jakarta di sebuah universitas keperawatan di sana, karena aku berfikir aku harus punya pengalaman lebih banyak dengan keluar dari kota kelahiranku.


Setelah lulus kuliah kami memutuskan untuk segera menikah, tapi lucu nya malah kami yang menikah sedangkan orang yang mempertemukan kami, bang Tion dan Ralin malah tidak berjodoh, merek putus setelah beberapa bulan kami pacaran. Ahh... Jodoh memang ada ditangan Yang Maha Kuasa.


Kisah indah kami pun mulai rusak, pernikahan yang sakralpun mulai ternodai setelah pulang dari acara resepsi pernikahan sahabat nya, Mas Haikal bertemu mantan kekasih nya, yaitu Felli.


Itulah kenapa aku tidak suka ikut reunian, dari teman SD sampai teman kuliah, aku tidak pernah sekalipun ikut berkumpul bersama mereka lagi.


Awal perselingkuhan mereka mas Haikal masih baik padaku,tapi aku sudah mulai tau kalau dia mulai menjalin hubungan dengan Felli.


Aku tidak pernah mempermasalah hal itu, karna mungkin dia khilaf dan aku pun tidak pernah mencari tau sejauh mana hubungan mereka.


Sampai usia kandunganku 9 bulan dia mulai berubah, disaat aku benar-benar butuh sandaran dan semangat untuk melahirkan, dia malah memberi pukulan yang begitu pahit untukku.


Hari itu aku sedang belanja disebuah mall untk perlengkapan bayiku, aku di temani sama Bunda, selama aku hamil Bunda memang tinggal bersamaku di Jakarta.


Tak diduga, aku melihat ia sedang bermesraan dengan seorang Wanita, dia cantik dan modis jauh dari ku yang selalu berpakaian sederhana, bahkan aku tidak pernah memakai alis buatan, Eyeline dan sebagainya. Tapi aku selalu memakai lipbam atau lipstik.


Melihat pemandangan itu Bisa di bayangkan bagai mana perasaanku bukan. Hancur... Sangat hancur.


"Bunda... Afiifah kekamar mandi sebentar ya, Bunda tunggu di depan situ saja ya."


Aku menunjuk sebuah bangku panjang di depan pintu masuk mall.


Aku memutuskan untk menemui mas Haikal dan wanita itu.


"Mas... " Panggil ku, dengan suara bergetar sakit skali rasa nya melihat dia tersenyum begitu hangat dengan wanita selingkuh nya itu.


Ia menoleh. "Afiifah." Ia Sontak berdiri, jelas saja di kaget melihatku.


"Siapa dia mas?" aku menatap nya tajam.


Dia melihat wanita yang duduk di kursi, yang sekarang jarak mereka sedikit jauh karena mas Haikal sudah menghampiriku.


"Bukan siap-siap sayang." Mas Haikal mencoba menarik tanganku untuk segera pergi, segera aku menepis tangannya.


"Lalu kenapa kamu di sini mas? Bukan nya tadi kau bilang ada pekerjaan di kantor?" Aku tidak puas dengan jawaban nya barusan.


"Siapa nama kamu?" Aku berjalan mendekati teman wanita suamiku itu.


Tapi sial nya dia malah tersenyum tipis seakan-akan mengisyaratkan kalo dia lah pemenang nya. Sekuat hati aku menahan air mataku tidak tumpah.


"Saya Felli mbak Afiifah, perkenalkan." Ia masih masih tersenyum sambil mengeluarkan tangan nya mengajakku berjabat tangan.


Ku tatap Felli tajam. "kenapa kamu di sini bersama suami ku?" nada bicara ku mulai naik.


"Hmmm gak papa mbak, saya hanya mantan pacar nya." Ia menjawab dengan penuh percaya diri.


"Kamu tau kan kalau mas Haikal sudah menikah?"


"Ia... Aku tau." Bibirnya kerangka sebelah.


"Katakan yang sebenarnya." Aku masih belum puas dengan jawabannya, dari ekspresi nya saja aku tau kalau dia lebih dari sekedar mantan dan teman. "sejauh apa hubungan kalian."


"Iya... aku pacar nya Haikal, tapi benar dulu aku mantannya dan sekarang aku sudah menjadi kekasih nya lagi."


dia berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri mas Haikal sambil tersenyum pada.


Aku akui... senyum nya sangat mempesona, dia sungguh cantik, wajah yang oval, buku mata nan lentik hidung sedikit mancung dan bibir yang sedikit tipis, tinggi nya kira-kira 160 cm, tentu saja lebih tinggi dariku, wajah nya semakin cantik di dukung dengan pakaian brandet.


"Ayo katakan yang sebenarnya sayang, kalau kita dulu teman satu kampus dan dulu kita memiliki hubungan spesial, dan katakan pada nya apa hubungan kita saat ini." Dia memeluk lengan kekar mas Haikal tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Katakan kalau kamu masih mencintai aku sayang, aku cinta pertamamu, dan kalau kita sudah tidur bersama satu minggu yang lalu." Dengan penuh percaya diri dia menggenggam tangan mas Haikal.


Melihat mas Haikal hanya diam membuat aku semakin sakit. "Mas jelas kan, tolong katakan semua ini bohong." aku menatap mas Haikal dengan penuh amarah dan rasa kecewa.


Mas Haikal hanya terdiam tanpa Sepatah kata pun.


"Huhh selesaikan saja masalah kalian, oke... By." Felli pun meninggal kan kami


Seluruh tubuh ku terasa melayang di udara, dadaku terasa amat sesak, aku tertunduk. tangisku tak dapat aku tahan.


"Maaf kan mas sayang, mas khilaf." Mas Haikal merangkul pundakku spontan aku tepis.


Aku pun pergi meninggalkan nya mencari bunda, aku menghapus air mata yang jatuh berkali-kali. sebisa mungkin aku menahan air mataku untuk tidak tumpah lagi. aku tidak ingin bunda tau masalahku.

__ADS_1


Flasback of


__ADS_2