Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 29


__ADS_3

" Ha!" Aku segera menyambar handphoneku dari tangan Bu Siti. Ahhh, kenapa aku sampai lupa mengganti nama Yusuf dikontakku.


"Calon imam?" Ucap bunda lirih dengan wajah bingung.


"Makasih Bu." Aku masih memegang handphoneku dan belum menjawab telpon Yusuf, sampai akhirnya panggilan itupun terputus.


Alhamdulillah, aku mengusap dadaku dengan lega.


"Bukan siapa-siapa Bun, tadi temanku iseng mengganti nama kontak nya di handphoneku." Aku memberi tau bunda, sebelum bunda bertanya, seolah-olah aku bisa menebak apa yang akan bunda tanyakan.


Sialnya, Yusuf kembali menelponku.


"Jawab dulu, siapa tau penting." Perintah bunda, saat aku bingung harus kujawab panggilan Yusuf atau tidak.


"Ayoo, dijawab dulu, menjauh dari bunda kalau kamu malu." Kali ini bunda tersenyum, seolah-olah menggodaku.


Aku pun meninggalkan Bunda dan Kia untuk menjawab apnggilan Yusuf.


"Assalamualaikum Yusuf, ada apa?" Ahirnya aku benar-benar menjawab panggilan Yusuf.


"Waalaikumussalam, aku mau minta tolong, tolong nanti ambilkan pakaian gantikan dirumah ya, sekalian sama dalamanku." Yusuf berbicara padaku tanpa ragu.


"Haa! Maksud kamu dalaman kamu?" Aku sedikit ayok mendengar permintaan Yusuf.


"Iya, dalaman aku, tolong bawakan kerumah sakit, kamu bisa ambil dilemari pakaianku dirumah." Yusuf bicara dengan jelas, sehingga aku yakin dengan apa yang aku dengar.


"Hallo, Hallo... Afiifah! Kamu dengar aku?"


"I... iya, hmmm." Aku menyahuti panggilan Yusuf setelah sadar penuh dari rasa syokku.


"Kamu bisa gak anterin kesini? Atau kamu gak mau?" Ahh betapa bingung aku harus jawab apa.


"Hmmm." Aku masih berfikir, jujur saja aku ingin sekali menolak, gimana mungkin aku harus nyiapin pakaian dalam Yusuf, walaupun cuma pakaian, tapi rasanya aku malu dan itu jelas tidak pantas bagiku.


"Ya udah kalau kamu gak mau, biar nanti aku minta pulang saja dari sini, aku gak bisa tanpa ganti pakaian, apa lagi dalaman setelah seharian."


"Eeh, jangan! Kamu masih harus dirawat," aku menghentikan niat gila Yusuf, "Oke nanti habis sholat magrib aku akan kerumah sakit, berapa banyak baju yang kau butuhkan? Dan dalamanmu juga?" Aku berucap pelan saat menyebutkan dalaman pada Yusuf.


Aaah sudah lah, lagian aku gak tega kalau dia harus pulang paksa dari rumah sakit hanya gara-gara gak ganti baju dan dalaman nya.


" Bawa aja sebanyak mungkin!" Perintah Yusuf.


" Baiklah, ada yang lain lagi yang kamu butuhkan?" Tanyaku.


"Sekalian perlengkapan mandiku,yang ada di kamar mandi." Sambungnya.


"Lho, dirumah sekitar udah ada Suf!" Aku berusaha mengingatkan Yusuf, mungkin dia lupa, kalau dia dirawat diruangan VVIP yang fasilitasnya sudah pasti tersedia lengkap, begitu pula dengan sabun dll.


"Aku gak suka Fah," Jawab Yusuf, "Kamu mau bantu aku atau gak sih? kau bilang aku bisa katakan apa-pun yang aku butuhkan."


"Oke, nanti aku bawakan semuanya, bila perlu kasur, almari kamu pun aku bawa Rumah sakit, biar sekalian kamu pindah." Entah kenapa aku sedikit kesal dengan sifat Yusuf yang aneh menurutku.


"Gak papa, lagian ada kamu yang selalu siap bantuin aku," Jawab Yusuf, " kamu gak boleh nolak, karena kamu sudah janji akan bantu aku saat aku butuh."


"Oke lah, nanti aku kesana." Aku ingin Cepat-cepat mengakhiri percakapan kami.


Kamipun mengakhiri panggilan.


"Siapa yang telpon?" Tanya bunda padaku.


"Hmm, Yusuf bun, dia minta tolong untuk antar pakaian ganti kerumah sakit." Jawabku sembari duduk disamping bunda.


"Ohh, jadi Yusuf calon imam itu?" Aah, Bunda pasti sedang menggodaku, dengan satu alisnya terangkat sembari tersenyum simpul.


"Bu... bukan gitu bun, bunda salah paham, ckkk sudah lah, Afiifah jelaskan bunda juga akan tetap menggoda Afiifah lagi." Aku meyenderkan tubuhku disofa dengan merangkul kedua tanganku.


***

__ADS_1


Selesai sholat magrib, aku segera pamit untuk pergi kerumah Yusuf mengambil Barang-barang pesanan Yusuf.


Ning nong...


Aku menekan bell rumah Yusuf, sudah pasti hanya ada Bibi asisten rumah tangga, karena kedua orang tua Yusuf masih di Jakarta.


Crekkk...


"Non Afiifah, ada yang bisa Bibi ime bantu?" Bi Ime kaget dengan kedatangan ku.


"Assalamualaikum Bi, maaf bi Afiifah mengganggu, Afiifah diminta Yusuf untuk mengambil beberapa pakaiannya untuk dibawa kerumah sakit."


"Eeh, waalaikumussalam salam non, hehe bibi lupa ngucapin salam, kaget bibi lihat non Afiifah datang tiba-tiba," Bi ime tersenyum hingga menampakkan satu gigi ompongnya, "silahkan masuk Non, Bibi antar Non Afifah kekamar bang Yusuf." Bi ime berjalan didepanku menjadi penuntun jalan menuju kamar Yusuf.


"Masya allah... Kamar Yusuf begitu rapi, Barang-barangnya tertata dengan baik," Aku terperangah begitu memasuki kamar ruangan bernuansa biru itu, disisi kiri tembok terdapat fhoto keluarga Yusuf bersama orang tua angkat nya, yaitu keluarga Aniisa. Ada juga fhoto wisuda Yusuf.


Aku terdiam ketika memandangi sebuah fhoto anak laki-laki mungkin berumur 6 tahunan bersama seorang laki-laki dan wanita, "mungkin ini Yusuf kecil bersama kedua orangtua kandungnya." Aku menerka-nerka. Sungguh anak itu tampak begitu bahagia dalam gendongan seorang pria yang begitu gagah dan tampan.


"Astagfirullah... " Aku segera menyadarkan diriku akan tujuanku kesini.


Aku segera bergegas menuju almari yang cukup besar dan mengambil satu-persatu pakaian Yusuf, konsentrasiku buyar saat harus mengambil pakaian dalam Yusuf.


" Apa aku minta tolong bi Ime saja ya?" Aku berkata pada diriku sendiri, " bi Ime!" aku keluar kamar mencari bi Ime.


"Ada yang bisa saya bantu Non?" bi Ime segera menghampiriku.


"Bi, Saya minta tolong siapkan pakaian Yusuf ya!" perintahku.


"Baik Non."


"Hmmm, Bi... Hmmm, baju-bajunya udah, yang belum pakaian dalam Yusuf saja Bi." Aku menghentikan bi Ime ketika hendak menjangkau baju-bajunya Yusuf, aku sedikit ragu, "tolong ya Bi, saya gak nyaman Bi." aku melipat kedua tanganku, memohon.


"Maaf Non, apa ini gak masalah? Soalnya selama saya bekerja disini setau saya, kita semua asisten dirumah ini tidak pernah mengurus yang itu," Bi Ime menunjuk kearah tumpukan pakaian dalam Yusuf, " dia selalu mencuci dan merapikannya sendiri Non." Mendengar ucapan bi Ime aku makin bingung, jika asisten dirumahnya saja tidak pernah mengurus yang itu, Bisa-bisanya Yusuf malah memintaku.


"Saya tidak berani Non!" lanjut Bi Ime.


"Ohh tidak apa-apa Bi, maaf sudah mengganggu, silahkan Bibi kembali bekerja, biar saya bereskan sendiri." Senyumku sedikit terpaksa.


Setelah selesai, aku segera menuju Rumah sakit, aku memutuskan untuk membelikan makan malam untuk Yusuf.


Aku segera bergegas menuju kamar Yusuf, biar bisa cepat balik kerumah lagi.


Aku termanggu dibalik kaca kamar Yusuf, menyaksikan Yusuf dan Dokter Sila asik mengobrol, sesekali mereka tertawa dan tersenyum, mereka tampak begitu serasi, cantik dan tampan. Tapi, apa yang terjadi dengan hati ini? Aku merasa sedikit sesak melihat mereka tertawa bersama.


Untuk beberapa saat, aku putuskan untuk duduk menunggu diluar kamar Yusuf, tanpa ingin mengganggu waktu mereka berdua. Terkadang hatiku gelisah, ingin tau apa yang mereka lakukan didalam, berdua. Iya hanya berdua.


Aku duduk dengan gelisah, sesekali aku mengusap kedua pahaku.


"Ya Allah, lama sekali." Ucapku lirih, sambil melihat jam di tangan kiriku.


Cekreekkk


Spontan aku berdiri saat mendengar suara pintu.


"Assalamualaikum Dokter Sila." Aku menyapa Dokter Sila dengan sedikit membungkukkan kepalaku, jelas sambil tersenyum.


"Waalaikumussalam Afiifah! Sudah lama datang? Kenapa menunggu diluar? Maaf ya, aku gak tau kalau kamu diluar." Dokter Sila sedikit kaget melihatku.


Aku pun tersenyum, "Tidak apa-apa dokter, saya tidak mau mengganggu kalian, saya cuma anterin pakaian Yusuf saja," menunjuk koper disampingku, "hmmm, Dokter mau ikut saya masuk lagi?" tanyaku ragu.


"Tidak Fah, saya tadi cuma mampir mau lihat kondisi Yusuf, sekalian mau pamit pulang," Dokter Sila menepuk pundakku, "baiklah, saya duluan ya," Dokter Sila kembali menepuk pundakku, "Yusuf... Pujaan hati sudah datang." Dokter Sila memasukkan satu kepala kedalaman kamar, sembari mengedipkan satu mata pada Yusuf. Entah lah apa maksud mereka.


"Assalamualaikum," Aku mendekati Yusuf, "bagaimana keadaanmu? Apa ad keluhan."


" Waalaikumussalam," Yusuf melirikku sejenak, "cuma sedikit pusing." lanjutnya.


"Aku bawakan makan malam untukmu, kau pasti belum makan bukan!" Aku meletakkan koper disusut lemari kecil milik rumah sakit ini, "kau harus makan, biar cepat pulih." Aku meyodorkan makanan yang sudah kebuka pada Yusuf.

__ADS_1


"Terima kasih." Yusuf sedikit tersenyum, lalu mulai menyantap makanan nya.


Melihat Yusuf makan dengan lahap, aku yakin Yusuf akan baik-baik saja, semoga dia benar baik-baik saja.


"Kenapa gak langsung masuk, malah menunggu diluar?" Yusuf memandang kearahku dengan makanan didalam mulutnya.


"Gak papa, aku lihat kalian ngobrol terlalu asik, aku jadi takut mengganggu." Aku menoleh Yusuf, tapi entah kenapa ahir-ahir ini aku mulai tidak berani menatap wajah Yusuf, aku lebih banyak menundukkan pandanganku.


"Aku dan Sila hanya teman, Sila teman masa kecilku, tetanggaku didesa sebelum ikut papi dan mami pindah kekota." Yusuf menghentikan makannya sejenak, begitu pula denganku, yang tadi sibuk dengan sosial media dihandphoneku.


Aku menarik napas dalam, "Aku tidak bertanya sebatas apa hubungan kalian, jadi kamu ga perlu menjelaskan padaku, sungguh, aku hanya merasa tidak enak mengganggu kalian." Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja melihat mereka bersama, tapi aku gagal, ada sedikit rasa senang ketika Yusuf menjelaskan semua itu.


"Baiklah, aku juga tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin mengatakan nya saja." Kini Yusuf benar-benar menghentikan makannya. Aku segera membantu Yusuf mengambil kan minum dinakas, dia tampak kesulitan.


"Makasih," Ucap Yusuf setelah menerima air putih yang aku berikan.


Dret Dret...


"Assalamualaikum." Aku segera keluar dari ruangan Yusuf setelah mendapat panggilan dari Fariz dan segera menjawab panggilan Fariz.


"Waalaikumussalam," Jawab Fariz dari sekarang sana, "Kak, Maaf aku dan Nisa tidak bisa pulang malam ini kak, penerbangan kita dicancel karena cuaca disini tidak memungkinkan kak, kita juga dapat tiketnya udah malam." Fariz menjelaskan kenapa dia menelepon sebelum aku bertanya.


"Hmmm, gak papa sih," Sebenarnya aku sedikit kecewa, sebab siapa yang akan jaga Yusuf jika Fariz batal pulang? " Nanti kakak kasih tau Yusuf." Lanjutku.


"Bang Satria sudah tau kak, Anisa sudah memberi tau nya," Sambung Yusuf.


"Kak, bisa Anisa minta tolong untuk jaga bang Yusuf? Anisa sangat khawatir, bang Yusuf kalau demam suka mengigau panggil ibu dan ayahnya kak, Bang Yusuf sangat takut dirawat kak." Kini Anisa yang berbicara padaku.


Apa yang harus aku lakukan? Jika aku menjaga Yusuf, itu artinya aku dan Yusuf akan tinggal satu ruangan! Jika aku menolak, siapa yang akan menjaga Yusuf?, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Yusuf?.


"Kak, Hallo... Kakak dengar Nisa?" Aku tersentak mendengar panggilan Nisa.


" I-iya Nisa, kakak dengar." Jawabku teebata-bata.


"Jadi gimana?, kakak bisa tolong Nisa untuk jaga Bang Yusuf, please... " Anisa kembali memohon padaku.


" Baik lah, kakak akan jaga Yusuf." Ahirnya aku memutuskan menjaga Yusuf, semoga allah mengampuniku atas keputusaku ini.


"Makasih ya kak, maaf sudah merepotkan kakak." Walaupun tidak bersama Anisa, aku bisa merasakan kekhawatiran Nisa pada Yusuf.


"Iya, sama-sama Nis, Nisa gak perlu cemaskan Yusuf, kakak janji akan jaga dia sebaik mungkin, Fokus saja pada liburan kalian, semoga menyenangkan." Aku mencoba membuat Nisa tenang.


"Iya kak, sekali lagi makasih ya kak." Lanjut Nisa, dan kami pun memutuskan panggilan. Aku segera kembali kedalaman.


"Siapa yang telpon?" Tanya Yusuf setelah melihat aku sedikit gelisah.


"hmmm, itu Suf, hmmm Fariz dan Nisa gak jadi pulang, penerbangan mereka di canel." Jawabku.


"Aku sudah tau, mereka sudah memberi tauku soal ini," Yusuf memperbaiki posisi duduknya, "Kamu boleh pulang, aku bisa sendiri, lagian masih ada tangan satu nya yang berfungsi."


"Tak apa Suf, aku akan menemani kamu malam ini," Aku juga memperbaiki dudukku, "istirahatlah! Aku akan menunggumu diluar." aku pun segera berdiri, mungkin lebih baik aku menunggu diluar saja.


"Kenapa diluar?, didalam saja, lagian mustahil aku bisa berbuat macam-macam padamu." Yusuf menatapku sinis.


Ahh, suasana apa ini? malah jadi tegang!


"Tak apa Suf, aku tau kau tak mungkin berbuat tidak senonoh padaku, aku hanya takut jadi fitnah kalau hanya berdua didalam ruangan ini, tidak pantas rasanya, kita bukan mahrom." Aku mengutarakan perasaan canggungku.


"Kalau begitu jadilah mahromku!" Yusuf menatapku tajam.


Ucapan Yusuf membuatku malah tersenyum, geli rasanya, "sakit masih bisa saja menggoda, ya sudah aku menunggu diluar saja, Tidurlah!"


"Aku serius! Kau takperlu menegejekku dengan senyuman itu." Ucapan Yusuf mampu menghentikan langkahku sejenak, aku menarik napas dalam, membuang nya perlahan. Aku mencoba mengabaikan ucapan Yusuf dan beranjak keluar.


"Afiifah! Jika kau mauenungguku diluar, lebih baik kau pulang saja." Lagi-lagi ucapan Yusuf menghentikan langkahku.


"Yusuf, aku sungguh gak papa, aku sudah janji pada Nisa untuk jaga kamu, lagian aku sudah biasa Suf tidur dimana saja, kau lupa aku pernah bekerja dirumah sakit?" Aku memutar badanku menghadap Yusuf dan meyakinkan Yusuf, "istirahat lah, aku akan menunggu diluar, silahkan panggil aku jika butuh sesuatu." Kali ini aku sungguh akan mengabaikan segala ucapan Yusuf.

__ADS_1


Berkali-kali aku mengambil napas dalam, aku mencoba membuat hatiku tenang.


"Khoiratul Afiifah, dengar kan aku!" Kali ini intonasi suara Yusuf sedikit meninggi, "tetap didalam ruangan ini, dan...."


__ADS_2