
Selesai sholat asar, aku Yusuf dan seisi rumah mulai membuka satu persatu kado pernikahanku.
Terlalu banyak perabot rumah tangga, jadi bingung harus diletakkan dimana.
Jadi ingat pertanyaan Ayah, dimana aku dan Yusuf akan tinggal setelah ini.
"Banyak amat bang barangnya?au langsung abang bawa keapartemen?" Tanya Fariz sambil membantu memberesakan sampah bekas kado.
"Belum tau, terserah kakakmu saja...
"Kita belum putuskan untuk tinggal dimana." Yusuf juga membersihkan sampah yang masih tersisa.
"Yusuf udah beli apartemen juga?" Tanya Ayah.
"Iya, Yah. Alhamdulillah... Beberapa hari sebelum pernikahan kemarin, rencana itu akan jadi kado pernikahan Yusuf untuk Afi."
Aku terkejut saat Yusuf mengatakan sebagai kado pernikahanku. Afi? Aku suka panggilan itu.
Aku hanya menatap Yusuf penuh tanya.
"Gimana Afiifah, kamu sudah siap untuk pindah rumah lagi?" Tanya Ayah.
"Nanti Afiifah pikirkan, Yah." Aku sibuk memasukan sebagian barang kedalaman box.
"Tapi untuk sementara Afiifah mungkin tinggal dirumah Papi Mami dulu, tapi kalau Barang-barang ini bikin sumpek rumah... Mungkin kita bisa pindahkan keapartemen dulu." Entah dari mana jawaban itu berasal.
"Gak papa kan, Suf?" Aku minta persetujuan Yusuf.
"Iya itu juga bagus, Ayah sama Bunda tidak masalah kamu mau tinggal dimana, yang terpenting kalian nyaman." Ayah menyeruput teh hangat yang baru disajikan Bu Siti.
"Kalau Yusuf terserah Afiifah saja, Yah. Yusuf baik-baik saja tinggal dimanapun." Aku tersenyum ketika Yusuf menoleh kearahku.
"Jadi kakak gak tinggal sama kita disini?" Nisa yang sedari tadi hanya duduk sembari membuka amplop.
"Nisa kan udah tinggal disini, jadi kita tukaran, biar kakak dan bang Yusuf yang tinggal sama Papi Mami. Hehe."
"Lagian juga dekat dek, tinggal dimana pun bukan masalah, kita masih bisa ketemu kapan aja." Lanjutku.
"Kalau apartemen yang bang Yusuf beli dimana?"
"Entahlah, kakak juga belum tau, bahkan kakak baru tau kalo Bang Yusuf punya apartemen." aku mengamgkat kedua bahuku.
"Bang, apartemennya jauh dari sini gak?" Aku tersenyum tipis melihat reaksi Yusuf mendengar kupanggil Abang.
"Cie cie... Abang." Fariz tersenyum sembari menunjum-nunjuk Yusuf. ?
"Lumayan, hampir tiga puluh menit kalau menggunakan kendaraan pribadi, tapi lokasinya lebih dekat dengan kampus, karena mungkin kedepannya Yusuf akan lebih banyak berada dikampus, Yah." Kini pandangan Yusuf tertuju pada Ayah dan Bunda bergantian dan mengabaikan godaan Fariz.
"Sekarang Afiifah Yusuf rasa sudah lebih pintar mengelola Cafe, biar dia makin belajar management business."
"Tapi aku gak bisa Suf, bagian operasional yang sekarang aku pegangpun masih kelabakan akunya."
"Gak papa, kamu sudah bagus kok, nanti kalau kamu butuh tenaga lagi, aku dan Fariz akan merekrut karyawan baru, mungkin sebagai Sdm, pemasaran, dan operasional. Sepertinya Cafe semakin berkembang dan kalau kamu masih betah dicafe, kamu bisa menggantikan aku mengelola keseluruhan sementara."
"Nanti saja lah dibicarakan, aku mah gak ngerti, Suf." Aku mulai pusing mendengar omongan Yusuf, yang benar-benar tak bisa aku fahami.
"Iya. Abang mah tega. Baru juga sehari jadi istri udah abang suruh kerja, pasti hari-hari kak Afiifah kedepannya lebih melelahkan."
"Bukan gitu Nis, abang juga gak masalah kalau Afiifah dirumah saja, malah senang abang. Terserah Afiifah saja, abang akan ikut apa maunya."
"Beres!" Aku menepuk-nepuk kedua tanganku.
"Bu, nanti tolong dirapikan saja yah, diletakkan disini saja dulu,
"Hati-hati banyak barang pecah belah nya, Bu."
"Iya, kak." jawab Bu Siti.
"Udah jam lima." Aku melirik jam didinding ruang tamu.
"Aku mau kekamar dulu, kamu lanjutin aja ngobrolnya ya." aku meninggalkan Yusuf dan yang lain, yang masih menikmati obrolan mereka, sesekali mereka tertawa ria, entah apa yang membuat mereka begitu bahagia.
"Iya." Yusuf menghentikan tawanya sekilas, dan berganti menatapku, lalu kembali melanjutkan obrolan bersama Ayah dan Fariz.
Bunda dan Nisa juga segera meninggalkan ketiga laki-laki dalam rumah ini.
__ADS_1
Aku membawa ssbotol minum terbuat dari kaca kedalaman kamar. Aku selalu menyediakan ari putih didalam kamar. Dia segera menuju lantai dua.
"Huh..." Aku menghempaskan tubuh dirancang. Melepas sebentar rasa lelahku.
Aku meraih fhoto Kia yang terletak diatas lemari hiasku, "ibu rindu sayang." aku mengusap-usap wajah Kia yang sudah tak bisa ku sentuh lagi.
"Kia tau... Saat ini Ibu sudah menikah dengan Om Yusuf, Kia sudah bisa panggil Om Yusuf Ayah. Kia bahagia kan sayang?" Aku menyeka air mata yang mulai meluncur.
"Terima kasih, Nak. Sudah memberi celah dan jalan untuk Ibu dan Om Yusuf dekat. Doakan Ibu selalu bahagia ya sayang. Ibu dan Ayah Yusuf pasti akan selalu sayang sama Kia."
"Jangan khawatir sayang, Ayah akan selalu ngejaga Ibu selamanya, Ayah akan terus mencintai dan menyayangi Ibu." Aku mendongak. Aku tidak menyadari keberadaan Yusuf disampingku, merangkul pundakku. Satu kecupan dipuncak kepadaku mampu membuat aku tenang.
Aku hanya tersenyum sembari menyeka air mataku.
"Terima kasih." Aku memeluk Yusuf.
"Jangan sedih, Kia pasti juga bahagia sekarang. Aku janji! Akan selalu membuat kamu bahagia, dan melindungi kamu dengan nyawaku." Yusuf membelai kepalaku yang masih tertutup jilbab.
"Jangan berjanji, aku hanya butuh buktinya. Aku juga tidak mau kamu melindungi aku dengan nyawamu. Cukup disampingku. Menemani bahagiaku. Menemani langkahku."
"Iya, iya... Sudah mandi dulu." Yusuf menghapus sisa air mataku.
"Hm." Aku melepaskan dekapannya dan menyambar handuk fink dari lemari.
Berselang tiga puluh lima menit, Yusuf juga sudah selesai mandi. Melihat Yusuf keluar kamar mandi hanya bertelanjang dada dan hanya handuk biru yang melingkari bagian tubuh bawahnya, menampakkan sixpack membuat pikiran erotisku traveling menjelajahi tubuh Yusuf.
Astagfirullah...
Aku kembali memfokuskan pandanganku pada alquran yang tadi terhenti aku baca saat mendengar Yusuf keluar dari kamar mandi.
"Siap-siap magrib dulu sayang, sudah mau azan. Kita sholat dibawah sama yang lain ya." Yusuf sudah terlihat semakin ganteng dengan baju koko birunya.
Aku kembali mengangguk dan meletakkan alquran diatas nakas, kemudian menyusul Yusuf yang sudah didepan pintu.
"Kapan kita kerumah Papi Mami Bang?" Aku menyeimbangi langkahnya.
"Kamu panggil aku Abang?" Tampak kerutan didahinya.
"Mungkin aku harus belajar lebih sopan dan menghormati mu, atau kamu mau aku panggil Yusuf seperti biasa?" jawabku tanpa melihat Yusuf.
"Sayang? Itu bukan panggilan sopan namanya. "Jangan selalu ikut mau ku, kamu kan laki-laki jadi, harus punya ketegasan."
"Jangan malah buat aku keras kepala dengan mengikuti semua Mauku."
"Aku tidak mau kamu melakukan sesuatu karena terpaksa, atau hanya karena ingin membuat aku bahagia, sedangkan kamu sendiri tidak nyaman."
"Aku ingin kedepannya, kamu harus bisa mengekspresikan perasaan kamu." Aku melirik Yusuf disampingku yang sedang tersenyum pada Ayah dan Bunda.
"Yusuf! Imam!" Ayah mempersilahkan Yusuf dengan tangannya, untuk mengambil posisi didepan.
"Baik, Yah." Yusuf segera maju. Sekarang rasa gugupku mulai bisa aku kendalikan, lagian ini sudah kali keberapa aku mendengar suara merdu Yusuf saat melanjutkan bacaan dalam sholatnya.
Semoga saja Yusuf selalu istiqomah, terutama dalam ibadah sholatnya, karena memang kali ini aku mencari laki-laki yang mampu membimbing aku menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah. Karena aku yakin rumah tangga yang menghadirkan tuhan didalamnya, akan membuat lebih tenang dan bahagia.
Selesai sholat magrib, kita semua makan malam dan lanjut sholat isya.
Selesai sholat isya, Ayah, Fariz dan Yusuf kembali mengobrol diruang keluarga dilantai dua.
Aku, Bunda dan Nisa segera menuju kamar masing-masing. Aku kembali melanjutkan membaca alquran.
Sudah pukul sembilan malam. Seperti biasa, jam segini ngantuk akan menghampiriku. Sesekali aku menutup mulut efek menguap.
"Sodaqollahul'azim." Aku menutup alquran dan menciumnya sebelum kembali ku letakan dirak buku.
Kembali berwudu dan membersihkan diri, kali ini aku lebih dari sekedar memakai cream malam, aku ingin terlihat cantik dipandang Yusuf. Bukankah berhias untuk suami itu berbahaya?
Aku segera mengambil posisi dan merebahkan diri dirancang.
Yusuf sepertinya masih asik bersama Ayah dan Fariz.
Mataku sudah tak bersahabat, apa lagi rasa lelah dihari pernikahan kemarin masih kerasa. Sesekali aku memijat pungguku sebisa tanganku menjangkau, untuk meringankan sedikit pegal dipunggungku.
Satu kecupan dikeningku membuat aku terbangun, tapi aku menahan mataku untuk tidak terbuka. "selamat malam." Satu kecupan lembut kembali menyentuh bibirku.
"Selamat malam." Aku menggeser lebih mendekat ketubuh Yusuf.
__ADS_1
"Aku membangunkan mu?" Yusuf kaget saat aku berbaring ditangannya.
"Tidak." Pukul satu malam. "aku juga sudah tidur lumayan lama."
" Baru selesai ngobrol sama Ayah dan Fariz?" Aku mendongak, Yusuf mengangguk dengan mata terpejam.
"Sudah sholat isya?" Yusuf kembali mengangguk.
"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku saat ini." Yusuf membalik badanku menghadapinya.
"Aku merasa paling bahagia saat ini, pernah ragu saat meminta mu pada Ayah dan Bunda. Sempat takut untuk ditolak lagi. Tapi lebih takut untuk terlambat kedua kalinya, jadi aku mberanikan diri mengajak Papi Mami untuk mengkhitbah kamu." Yusuf mengutarakan isi hatinya.
"Saat kamu mengutarakan memintaku menjadi istri dulu, aku takut untuk kembali memulai pernikahan lagi, apa lagi saat kamu memutuskan lamaran kamu tanpa alasan, aku begitu sedih,
"Sampai Ketika Bunda bilang ada seorang laki-laki yang sedang mengkhitbahku, aku percaya pilihan Ayah dan Bunda adalah yang terbaik, jadi aku memutuskan untuk menerima lamaran itu, walau sebenarnya aku berharap pria itu adalah kamu,
"Berkali-kali aku mencari tau siapa pria itu, tapi semua mengarah bukan kamu orangnya.
"Eh... Kenapa saat malam kamu dan keluarga kamu datang malam itu, kamu bilang dijalan dari kantor? Kau tau? Aku sampai menelepon ke kantor memastikan kamu benaran dari kantor atau gak." Aku mendongak, merenggangkan dekapan Yusuf.
"Oh... Jadi waktu kamu telpon itu ingin memastikan kalau aku orang yang datang kerumah atau bukan?" Yusuf membuka mata dan menyungsikan senyum tipis.
"Ternyata kamu juga berharap sama aku, sejak kapan kamu mulia jatuh cinta padaku?" Yusuf mencoel hidungku.
"Aku jadi ingat saat kamu mengejar aku keparkiran di Cafe waktu itu, kamu bilang mau menikah. Sebenarnya aku bahagia melihat kamu sedih dan tampak jelas kekecewaan dibajak kamu, bahkan aku bisa melihat kamu menangis, hehehe."
"Jadi kamu sengaja melakukannya?" Aku mencubit pinggang Yusuf. "Hmm! Kamu sengaja ya?" Aku mencubit semakin keras.
"AU! Sakit yank." Yusuf meringis dan berusaha melepaskan tanganku.
"Rasain!" Aku memunggungi nya.
"Haha. Gimana? Apa aku sesuai dengan spekulasi kamu? Apa aku mirip dengan abang...
"Iya. Mirip!" Aku segera memotong ucapannya dan melongos menjangkau air minum disamping ranjang.
"Siapa namanya..." Yusuf berfikir sejenak, " Jepri! Iya Jepri, tapi Masa sih sama? Tapi aku gak berkumis dan aku pasti lebih ganteng dari si scurity itu!" Yusuf bersandar didinding ranjang.
"Sama nyebelinnya." Aku menyodorkan segelas air putih padanya.
"Hahaha. Tapi kamu sudah cinta kan sama aku?"
"Perasaan kamu saja mah." Aku kembali berbaring, "belum apa-apa kamu udah pintar bohong."
"Jadi kamu tidak mencintai aku? atau kamu menerima aku memang karena Ayah Bunda? Dan kau tidak bermaksud membohongimu, Bunda bilang ini pelajaran karena sudah pernah mengabaikan aku dulu."
"Aku mencintaimu." Yusuf kembali memelukku dari belakang. "aku sungguh mencintaimu," suara Yusuf terdengar melemah tepat disamping telingaku.
Bisikan Yusuf mampu membuat bulu-bulu ditubuhku merinding.
Aku mulai tak mampu bernafas santai, dadaku terasa sesak, jantungku berdebat kencang.
"Jika memang belum bisa menerima aku seutuhnya, tak apa, tapi tolong!... Belajarlah mencintai ku." Yusuf membalik tubuhku.
Aku melihat kekecewaan dalam mata Yusuf, "Aku juga mencintaimu, dan terima kasih sudah memilih aku yang tak sempurna ini sebagai istri kamu." Aku menangkup wajah Yusuf dengan kedua tanganku.
"Aku adalah wanita yang pernah hancur dimasa lalu, dan kini aku berharap kamu adalah lelaki bisa menghapus semua kenangan buruk dimasa laluku."
"Aku tidak peduli seburuk apa masa lalu kamu, dan sehancur apa kamu dulu, aku akan tetap menjadikan kamu masa depanku, aku akan menerima kamu dengan sepenuh hati, dengan segala kelebihan dak kekurangan kamu...
"Sekali lagi... Terima kasih sudah sudi menerima aku sebagai suami, kehadiran kamu memberi seribu makna yang tak mampu aku ucapkan, kadang aku merasa tak layak untuk kamu cintai...
"Saya sangat bersyukur, sebab Allah berikan aku hadiah istimewa, ialah kamu sebagai istri aku.
"walaupun aku sadar ini semua hanya lah pinjaman dari didunia, tapi aku ingin membawa cinta ini ke syurga, terima kasih sudah terima aku dan sayangkan aku." Yusuf kembali mencium keningku. Dekapan Yusuf mampu membuat aku benar-benar tenang.
"Kedepannya! Jangan pernah merasa sendiri, aku akan selalu ada disampingmu, yang akan selalu ngejaga kamu." aku mengangguk.
"Hmm." Aku menoleh wajah Yusuf yang berada dibahuku, "sholat dulu bang." Aku adalah wanita dewasa dan pernah menikah pula, aku tau kode yang Yusuf berikan adalah meminta haknya sebagai seorang suami.
Bukan bermaksud membandingkan! Dulu awal-awal menikah dengan mas Haikal ia juga menghargai aku seperti Yusuf saat ini.
"Kamu sudah siap melayani aku sebagai suami? Sudah bisa menerima aku sepenuh hati?"
Aku meng-angguk. Ah! Sepertinya akan menjadi malam yang panjang.
__ADS_1