
" aku titip kia sebentar ya suf ". Aku sedikit mencondongkan tubuh ku pada yusuf, di tempat ini sangat berisik.
" mau ke mana? ". Tanya yusuf.
" ke mushola sebentar " jawab ku tanpa menoleh.
Aku menyusuri lantai demi lantai untuk tiba di tempat yang tujuan.
Hati ini sungguh gelisah, aku hanya ingin bercerita sedikit beban ini, berharap tuhan mendatang kan sedikit kekuatan.
Selesai berwudu' aku segera sholat sunnah 2 rakaat.
Kemana lagi aku harus mengadu jika bukan pada pemilik hati ini?
Bukan kah doa adalah obat terbaik bagi jiwa yang hampa, fikiran yang bimbang dan hati yang gelisah?
Iya.. Aku butuh doa untuk obat dari semua permasalahan hati ini.
Selesai sholat aku kembali ke tempat yusuf dan kia.
Betapa terkejut nya aku, saat melihat yusuf sudah bermain stroller bersama kia,mereka sangat gembira bahkan yusuf tertawa begitu lepas.
Seketika hati ku menjadi hangat melihat kebersamaan mereka.
Berkali-kali hati ku mengucap syukur di pertemukan dengan yusuf sebagai penghalau rindu kia pada sosok seorang ayah.
Tapi jujur saja, hati ini terlalu takut untuk banyak berharap, aku tau dan sadar diri, siapa aku. Mana mungkin aku pantas berharap lebih pada yusuf.
***
Setelah hampir seharian bermain, kami pun pulang ke rumah.
" makasih yusuf, untuk semua yang kau lakukan hari ini untuk kia ". Aku menatap yusuf setelah sesaat sampai di depan gerbang rumah.
" jangan lupa terus berdoa afiifah, ridho lah dengan segala keputusan allah, ini adalah ujian, yang insya allah akan mendewasakan mu dan lebih melembutkan hati mu ".
Hari ini yusuf yang dingin dan acuh berubah menjadi yusuf yang penuh kebijakan dalam berbicara, aku menemukan yusuf yang lain di hari ini.
Seketika pula timbul rasa nyaman di hati ini, astagfirullah.. Betapa mudah hati ini goyah hanya karena sikap lembut yang yusuf lakukan sesaat.
Betapa mudah allah bolak balikan rasa di hati ini.
" insya allah yusuf, aku bukan tidak bisa hanya butuh waktu yang sedikit lebih lama, aku bukan ingin berharap dia kembali atau pun meminta allah kembalikan dia dalam hidup ku, bagai mana pun dia yang menjadi teman hidup ku selama 6 tahun ini, dengan nya aku merasakan jungkir balik kehidupan ".
Aku dan yusuf berjalan berdampingan dengan kia di antara kami.
" jangan takut untuk melepaskan masa lalu kamu, jangan takut untuk memulai kehidupan yang baru, suatu saat kamu akan bersyukur dengan masa lalu kamu, percaya lah ".
Yusuf kembali tersenyum melihat ku. Begitu pula dengan ku.
" sudah pulang kalian bang? ". Fariz muncul di hadapan kami.
" aku cari abang dari tadi, aku kira di Cafe gak ada ternyata lagi jalan-jalan ". Fariz ikut masuk bersama kami.
" kenapa? " tanya fariz.
" nanti aku cerita bang, abang sholat magrib dan makan malam di sini saja ". Sambung fariz.
Seperti nya ada masalah dengan Cafe, tampak kecemasan di wajah fariz.
" abang pulang saja dulu, nanti habis beraih-bersih ke sini lagi, gerah abang ".
" mandi di sini saja bang, tenang saja pakai an ku banyak yang baru, horang kaya bro ". Fariz memukul bahu yusuf dengan tinju.
" gak enak abang ". Sambung yusuf.
" gak papa, mandi sana, trus kita sholat magrib berjama'ah, habis itu kita makan malam sama-sama, bunda sudah masak banyak ". Bunda muncul dari dapur.
" aku naik dulu ya. " pamit ku pada yusuf. Yusuf mengangguk.
Aku dan kia pun segera menuju kamar, kami segera mandi setelah itu bersiap menuju tempat sholat.
Lagi-lagi aku terpukau kala melihat yusuf dengan kopiah di kepala nya, di tambah dengan memakai baju koko dan sarung yang menambah sempurna penampilan yusuf. membuat yusuf benar-benar terlihat gagah dan tampan.
Aku segera membuang pandangan ku. Aku takut semakin terpesona melihat yusuf.
" yusuf imam ". Perintah ayah.
" ayah saja yah, yusuf gak bisa, ayah lebih pantas ". Yusuf memeprsilahkan ayah untuk mengambil posisi imam.
" kamu saja, ayah mau lihat, ayah mau lihat kamu jadi imam. "
" ayo lah bang, biasa nya juga mau-mau aja ". Sambung fariz.
" kamu saja fariz, aku lagi gak fokus ". Yusuf masih menolak sambil melirik ke arah ku di belakang nya.
Fariz tersenyum melihat wajah yusuf yang memelas.
__ADS_1
" ayah saja yah, dari pada nanti dia salah-salah " kini fariz membantu menyelamatkan yusuf.
" makasih ". Yusuf berkata setengah berbisik.
" belajar jadi imam, kalau mau di restuin ayah ". Fariz berkata sambil berbisik.
" udah ngomong nya?, bisa kita mulai? ". Ayah melihat ke arah yusuf dia fariz.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Kalau lagi bersama fariz, yusuf seolah-olah hanya anak remaja yang suka bercanda, tidak pernah terlihat raut serius apa lagi galak seperti sikap nya pada ku.
Selesai sholat kami menuju ruang makan keluarga.
" kia mau makan apa? " tanya ku pada kia.
" ayam goreng " jawab kia.
Aku memberi kia ayam goreng kesukaan nya.
" kenapa kau mencari ku tadi? ". Yusuf membuka pembicaraan mereka.
" bang.. Seperti nya si maya gak bisa nunggu sampai kita dapat pengganti dia bang, aku jadi kasian melihat dia ".
Jawab fariz sambil memasukan makanan ke sendok nya sebelum di makan.
" nanti saja ngomongin pekerjaan nya, makan aja dulu, nanti malah gak nafsu makan gara-gara mikir pekerjaan ". Bunda menyela pembicaraan yusuf dan fariz.
Mendengar ucapan bunda kami pun makan hampir tanpa suara, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Selesai makan, aku membantu bunda mencuci piring karena bu siti sudah ku suruh istirahat lebih awal.
Selesai mencuci piring,aku menemui kia yang sedang berkumpul bersama ayah, fariz dan yusuf. aku hendak mengantar kia ke kamar, seperti nya kia kelelahan karena bermain seharian.
" ibu, ". Kia menahan tangan ku ketika hendak ku ajak ke kamar.
" kenapa sayang ". Aku pun kembali duduk di samping kia.
" kia rindu abi, ibu bilang kia harus jadi anak baik, biar abi bisa sayang lagi sama kia ". Tiba-tiba tubuh ku gemetar mendengar ucapan kia. Semua orang pun menatap kia dengan penuh rasa iba.
Apa yang harus aku katakan?.
Melihat kia yang mulai berkaca-kaca membuat hati ku hancur berkeping-keping.
Aku berusaha menahan tangis ku.
Aku ingin memberi kia kekuatan.
Aku memeluk kia, sembari mengusap kepala nya penuh kelembutan dan kasih sayang.
" kita bobok dulu ya nak, kita berdoa lagi sama allah, biar nanti abi bisa sayang lagi sama kia ". Aku mencoba membuat kia tenang.
Air mata kia mulai jatuh. Semakin hancur rasa nya hati ku.
" jangan menangis sayang, kia sudah janji sama ibu, kalau kia gak boleh rindu sama abi, di sini banyak yang sayang kia nak, ada atok, nenek om fariz juga om yusuf trus juga ada kak nisa ".
Aku mengusap air mata di pipi kia.
'Kuatkan aku ya allah.' batin ku.
" benar kia, kita semua sayang sama kia ". Fariz memeluk kia penuh cinta.
" tapi kia rindu bu, kia ingin tidur sama abi lagi, om yusuf, om yusuf, bisa kah om yusuf temenin kia tidur?, kia janji, kia akan jadi anak baik, biar om yusuf bisa sayang sama kia dan gak ninggalin kia lagi ".
Kia melepaskan pelukan fariz dan menatap mengalihkan pandangan nya pada yusuf. Mendengar ucapan kia tentu saja membuat aku sangat terkejut.
Hati ku semakin hancur mendengar ungkapan hati kia.
Ini yang aku Takut kan melihat kia begitu dekat dengan yusuf.
Mendengar pertanyaan kia, yusuf melihat ke arah ayah dan bunda, seolah-olah meminta izin pada mereka.
Ayah dan bunda hanya tersenyum melihat yusuf.
Melihat ayah dan bunda tersenyum yusuf pun memeluk kia.
" hmmm emang nya sekarang kia udah ngantuk? ". Yusuf masih memeluk kia.
" belum om ". Jawab kia.
" kalu gitu, kia duduk dulu sama om yusuf di sini, nanti kalau sudah ngantuk om yusuf akan temenin kia bobok, gimana?". Yusuf melepas pelukan nya dari kia, lalu tersenyum melihat kia.
" baik lah, kia janji, kia akan jadi anak yang baik om ". Seperti nya kia benar-benar takut untuk kehilangan yusuf, bukan hanya yusuf, tapi mungkin juga semua orang yang ada di dekat nya saat ini.
Aku takut kia tidak bisa melakukan apa yang dia suka, aku takut rasa khawatir kia di tinggalkan membuat tumbuh kembang kia terganggu.
Aku takut kia akan menahan keinginan dan rasa sakit nya, untuk tetap terlihat baik demi orang - orang sekitar nya tetap di samping nya.
Ya tuhan.. Tolong lindungi kia.
__ADS_1
" tidak apa sayang, kia tidak perlu selalu menjadi anak baik, om janji bagai mana pun kia, om yusuf akan selalu sayang sama kia, om yusuf tidak akan meninggalkan kia ". Yusuf mencium pipi kiri kia.
" iya.. Kita semua sayang sama kia, kita semua janji tidak akan pernah meninggalkan kia " sambung ayah.
Tanpa aku sadari kini kia yang dulu tidak bisa diam dan super aktif telah berubah menjadi kia yang lebih banyak diam.
Begitu besar guncang yang terjadi pada jiwa kia karena perpisahan aku dan mas haikal.
Kenapa aku tidak bisa lebih sabar? Seandainya dulu aku lebih sabar menerima mas haikal kia. tidak akan kehilangan sosok seorang ayah bagi nya.
Maaf kan ibu kia, semua ini karena kesalahan ibu dan ke egoisan ibu.
Aku terlalu sibuk bermain dengan fikiran ku sendiri dan penyesalan ku, aku sudah tidak fokus mendengar topik apa yang menjadi pembicara mereka.
Tatapan ku fokus pada kia yang kini duduk berpangku di kedua paha yusuf sambil menonton youtube di handphone ku.
" kak, gimana kakak bisa? ".
" auu.. Sakit dek ". Aku terkejut saat fariz menepuk pipi ku sedikit keras.
" bengong aja sih ". Kata fariz.
" kakak mau tidak? ". Fariz kembali bertanya pada ku.
" mau apa dek? " aku bingung, karena memang aku tidak mendengar kan obrolan mereka.
" jangan bilang kakak gak dengarin obrolan kita dari tadi ". Fariz menunjuk ke arah ku. Aku hanya menyengir, karena aku memang tidak mendengar kan mereka. Aku menggeleng kan kepala ku.
" astaga... " fariz menepuk jidat nya.
" harus ya kita ulang lagi obrolan kita ". Lanjut fariz.
" kamu masih ada rencana untuk kerja di rumah sakit lagi? ". Kini yusuf yang bertanya pada ku. Mungkin terlalu lama menunggu fariz yang menjelaskan apa yang menjadi pembahasan mereka tadi.
" untuk saat ini belum ada, aku ingin fokus ngurus kia, kalau di rumah sakit kasian kia kalau pas aku dinas malam ". Aku berkata jujur pada mereka.
" kamu mau bantu-bantu aku di Cafe?, karena sekretaris aku mengundurkan diri, orang tua nya sakit, kita sudah mencoba mencari pengganti dia beberapa hari ini, tapi belum dapat ". Jelas yusuf.
Sekarang aku mengerti permasalahan fariz dan yusuf, yang membuat fariz tadi stress.
" coba aja dulu nak, hitung-hitung biar kamu gak stress di rumah terus ". Ayah ikut bicara.
" iya di coba saja dulu, siapa tau dengan ada kegiatan kamu bisa melupakan masalah kamu " bunda oun ikut bicara.
Ya allah.. Sebenarnya sebelum mereka meminta aku memang pernah berniat untuk bekerja di Cafe itu, tapi aku jadi ragu ketika tau bahwa yusuf adalah pemilik Cafe itu juga.
Apa lagi mendengar ucapan kia tadi, aku semakin takut kia jadi tambah dekat dengan yusuf dan membuat kia tidak bisa jauh dari yusuf.
" gimana kak? ". Fariz lagi-lagi membuyar kan Lamunan ku.
" tapi kakak takut gak bisa dek, kamu tau sendiri kakak gak ada pengalaman bekerja selain dari nyuntik orang ".
" nanti pelan-pelan kamu bisa belajar afiifah ". Sambung yusuf.
" tolong ya kak, kasian bang yusuf, kerjaan nya banyak, aku juga banyak pekerjaan mana lagi sibuk ngurus lamaran dan pernikahan aku, bang yusuf juga sudah mulai ngajar habis lamaran ku nanti, please kak ". Fariz memohon pada ku.
" kakak fikir dulu ya, nanti kakak kasih jawaban nya ". Sebenarnya aku merasa tidak enak hati untuk menolak.
" om yusuf, kia mengantuk, bisa antar kia bobok di kamar? ". Kia mengoyang lengan yusuf.
Yusuf kembali melihat ayah dan bunda.
" gak papa suf, kamu temenin saja sampai kia tidur, afiifah.. Temenin mereka ke kamar". Kata ayah.
"ayo.. Om temenin putri cantik ini bobok ". Yusuf menggendong kia.
Ya tuhan.. Aku sungguh tidak nyaman dengan ke adaan ini, bagaimana mungkin aku berada satu kamar dengan yusuf, apa pun alasan nya aku merasa berat.
" sekarang bobok yah ". Yusuf membaringkan kia di tempat tidur tapi kenapa dia juga ikut tiduran?. Ahh bisa gila aku.
Setelah beberapa saat akhirnya kia pun tertidur.
" maaf yusuf, lagi-lagi aku harus merepotkan kamu ". Aku menatap yusuf yang mengelus pipi kia.
" afiifah, aku tau kau pasti merasa bersalah pada kia ". Aku menunduk mendengar ucapan yusuf.
" jangan menangis, kamu harus memberi kia kekuatan, jangan merasa kasian pada kia, kehilangan kasih sayang dari mantan suami mu tidak berarti kia sudah tidak memiliki cinta dari orang lain ".
Kini aku sudah tidak bisa menahan air mata ku.
" makasih yusuf, sudah memberikan kasih sayang untuk kia ". Aku terisak dalam tangis ku.
" aku tau sakit nya kehilangan orang yang kita cinta fah, karena aku pun pernah merasakan nya, kamu gak perlu menghapus kenangan kamu bersama haikal, kamu hanya perlu menjadikan dia pelajaran untuk hidup mu esok hari ".
" aku masih belajar untuk membuang semua rasa ku suf, aku percaya perihal luka ini, aku hanya butuh waktu untuk sembuh ". Kini aku memandang wajah yusuf.
" jadi lah kuat fah, kamu akan mendapat kan cinta dari orang yang tulus, jadi.. Kamu hanya perlu membuka hati, membiarkan hati yang lain masuk kedalaman hati mu, jangan takut untuk kembali jatuh cinta, bisa jadi cinta yang ke dua membuat kamu bersyukur dan menjadi berharga ".
__ADS_1
" istirahat lah, jangan lupa sholat isya dulu, aku pamit pulang, jaga lah kia untuk ku juga, karena aku ingin menjaga kia bukan karena rasa kasihan tapi karena aku betul-betul mencintai nya dan menyayangi nya fah.".
" insya allah yusuf, sekali lagi terima kasih ". Aku mengantar yusuf keluar dari kamar ku.