
"Astagfirullah..."
"Ada apa Afiifah?" Bunda, Yusuf dan mang Ujung serentak menoleh kearahku.
"Mang Ujang bisa putar balik kerumah sakit gak? Ada barang Afiifah yang ketinggalan." Aku mengabaikan pertanyaan Bunda, dan segera meminta Mang Ujang putar balik, untung saja belum terlalu jauh.
"Ada apa Afiifah?" Kini Yusuf mengulang pertanyaan Bunda.
"Ada yang ketinggalan, tunggu sebentar ya." Aku segera membanting pintu mobil dan mengabaikan pertanyaan Yusuf. Dengan sedikit tergesa aku menuju kamar perawatan Yusuf yang beberapa waktu lalu kami tinggalkan.
Aku mencari keseluruhan isi ruangan. Tapi tak menemukan barang yang aku cari, kemudian aku menuju nurse station.
"Sus, maaf... Apa ada yang melihat barang ketinggalan dikamar VVIP 04 yang tadi ditempati pasien atas nama Yusuf." Aku bertanya pada perawat.
"Sebentar ya Bu," Perawat tersebut keluar meja seperti mencari sesuatu atau mencari seseorang, celingak-celinguk, "Bu Esi, bisa kesni sebentar!" Perawat tersebut memanggil seorang cleaning servis.
"Ada apa bu?" Ibu yang tadi di panggil Bu Esi oleh perawat tersebut sudah berada dihadapan kami.
"Ibu ini ketinggalan sesuatu dikar 04, apa Bu Esi menemukan sesuatu?" Tanya perawat tersebut pada petugas cleaning servis.
"Saya mencari Al-Quran kecil segini," Aku mengukur dengan tanganku. "berwarna Silver, apa Ibu melihatnya?" Aku mengatakan apa yang aku cari.
"Hmmm, saya tidak melihat atau pun menemukan nya Bu." Jawab petugas cleaning servis itu.
"Kita juga tidak menemukan apapun didalam Bu." Perawat didepanku juga tidak melihatnya.
"Baiklah, terimakasih, maaf sudah mengganggu pekerjaan Ibu-Ibu." Akupun undur diri.
Ya sudahlah, entah dimana aku meninggalkan Al-Quran tersebut, ada rasa sedih dihatiku, pasalnya Al-Quran tersebut sudah menemaniku beetahun-tahun, sejak aku duduk dibangku kelas 3 Aliyah, Itu pun pemberian seseorang yang dulu pernah spesial dihatiku, Ustad yang sudah kuanggap seperti saudara. Ahh tapi persaudaraan kami tidak berjalan mulus, disebabkan perasaan yang di sebut cinta diantar kami, dan aku kecewa dengan sikapnya.
"Dimana aku meninggalkan nya." Aku bermonolog sembari menyusuri jalan menuju keparkiran tempat mobil tadi menungguku.
Aku berusaha mengingat-ingat, " Astagfirullah... Ya Allah, sepertinya aku meninggalkannya ketika menolong Bu Hani tadi, diruang UGD." Aku baru ingat, kemungkinan besar disana lah aku meninggalkan Al-Quran penuh kenangan itu.
Aku segera menuju UGD dengan langkah panjang.
"Assalamualaikum, maaf Pak, saya mau tanya apa Bapak melihat Al-Quran berukuran kecil berwarna Silver tadi pagi ketinggalan di ruangan observasi Obgyn itu." Aku bertanya pada seorang perawat laki-laki yang bertugas Sembari menunjuk ke arah bad dimana Bu Hani tadi ditangani.
"Kapan ketinggalannya Bu?" Tanya perawat tersebut.
"Tadi pagi Pak." Jawabku.
Perawat tersebut pun membantu saya mencari tapi tidak menemukan, aku tau perawat tersebut pasti tidak mengetahui, karena mereka pasti sudah ganti shiff dinas.
"Bisa tolong kasih tau saya, dimana Pasien tersebut dirawat pak?" Aku putuskan untuk bertanya pada Bu Hani atau keluarganya, barangkali mereka menemukannya dan membawanya.
"Pasien nya atas nama Hani pak, tapi saya tidak tau identitas aslinya, tapi beliau pasien Obgyn pak." Aku berkata disamping perawat yang sedang mencari data pasien dari komputer.
"Hallo, dengan UGD kak, Apa ada pasien disana atas nama isyatul hani'ah kak." Perawat tersebut menelepon setelah menumukan satu nama yang hampir mirip seperti yang aku sebutkan.
"Ohh baiklah kak, terimakasih." Perawat tersebut menutup panggilan.
"Silahkan Ibu naik kelantai tiga, kamar nomor 04, mungkin disana ada keluarga pasien yang Ibu cari!" Perawat tersebut menjelaskan padaku dimana orang yang kucari dirawat.
"Terimakasih Pak." Aku meng-anggukan kepala, lalu undur diri, dan segera bergegas menuju tempat yang katakan perawat tadi.
"Ya Allah... Semoga saja masih menjadi rejeki saya." Aku berdoa dalam perjalananku.
Untuk pertama kalinya aku memasuki gedung rumah sakit ini sampai kelantai tiga. Gedung ini masih tergolong baru. Cat-cat nya masih sangat baik.
Aku memilih jalur evakuasi kurasa lebih cepat untuk sampai dilanti tiga, dibandingkan menunggu giliran menggunakan lif.
"Assalamualaikum, Sus saya mencari seorang pasien atas nama Hani, hmmm mungkin nama lengkap nya Isyatul Hani'ah." Dengan nafas tersengal-sengal kau menghampiri nurse station.
"Ooo, Ibu yang tadi menlpomrdari UGD?" Tanya perawat tersebut.
__ADS_1
"Betul Sus," Aku sedikit tersenyum berharap pencarianku tidak sia-sia, "apa saya bisa bertemu dengan pasien atau keluarganya? Saya ketinggalan sesuatu ketika tadi menolong pasien tersebut." Aku menjelaskan alasanku.
"Pasiennya baru saja di bawa ke Rumah Sakit Islam Ibu dan Anak Bu, mungkin sekitar 5 menit yang lalu," Perawat tersebut melihat kearah ruangan pasien yang sedang kami bicarakan.
"Maaf Sus, kalau boleh tau kenapa beliau dipindahkan?" Tanyaku.
"Mohon maaf Bu, kita tidak bisa memberi tau kondisi pasien, kecuali atas izin keluarganya." Jelas perawat tersebut.
"Ohh, baik lah, terimakasih Sus."
"Sama-sama Bu, coba Ibu lihat diruangan 04 itu, siapa tau masih ada keluarganya Bu." Perawat tersebut menunjuk ke kamar 04.
"Terimakasih Sus." Aku pun segera menuju ruangan yang dimaksud.
Dan Aku melihat seorang wanita yang mungkin berumur 40-an keluar ruangan tersebut, bersama seorang anak perempuan berumur kurang-lebih 6 tahun-an.
"Alhamdulillah... " Aku tersenyum, sepertinya aku masih mempunyai harapan.
" Assalamualaikum, Maaf Bu hmmm, boleh saya mengganggu sebentar." Aku merasa tidak enak hati, karena aku tau Ibu ini pasti buru-buru.
"Waalaikumussalam iya, anak ini siapa ya? Apa ada yang bisa saya bantu." Ibu tersebut melihat kearahku sambil terus berjalan, dengan mengandeng anak kecil disampingnya.
"Saya Afiifah Bu, Ibu betul keluarganya Ibu Hani?" Pertanyaanku mampu menghentikan langkah Ibu itu.
"Iya, saya Ibu nya, kamu siapa nak?" Ibu itu mantapku dari atas sampai kebawah.
"Hmm, gini Bu, tadi saya sempat bertemu Ibu Hani mushola, lalu saya membawa beliau keruangan UGD, dan saya kehilangan sesuatu," Aku mulai menjelaskan dari awal pertemuanrdemah Bu Hani, biar lebih jelas, "saya kehilangan Al-Quran, hmmm saya fikir mungkin saya meninggalkan nya ditempat Bu Hani, sebelum saya menelepon suami Beliau tadi." Aku lebih memperjelas barang yang aku cari.
"Ohhh, jadi ini Anak Afiifah yang tadi sudah menolong anak saya? Ya Allah... Terimakasih banyak nak."
Ternyata ini orangtua nya Ibu Hani.
"Tidak Bu, saya hanya kebetulan berada disana, Tetap saja Allah yang sudah menolong beliau lewat tangan saya." Aku sedikit menundukkan badanku penuh hormat.
"Iya iya... Tapi saya tidak melihat ada Al-Quran yang nak Afiifah sebutkan." Ibu itu menatapku dengan ekspresi mengingat sesuatu.
"Tapi, kalau saya boleh tau! Kenapa Beliau dipindahkan Rumah Sakit Bu?" Aku memberanikan diri bertanya.
Kini kami kembali melanjutkan perjalanan sambil mengobrol.
"Hani harus segera dioperasi, usia kandungan nya baru memasuki 9 bulan, sebelum nya kita sudah mengetahui jika Hani mengalami plasenta previa, tapi kita baru mengetahui jika Hani ternyata memiliki penyakit jantung," Ibu itu berhenti sejenak membuang nafasnya berat, "Jadi disarankan untuk operasi di Rumah Sakit Islam Ibu dan Anak, disana Dokter dan peralatan untuk Bayi nya nanti lebih lengkap."
"Innalillahi... Ya Allah, Subhanallah, semoga Ibu Hani dan Bayinya selamat dan sehat ya Bu!" Aku merangkul kedua bahu Orangtua Hani itu. Aku bisa melihat kesedihan dimata Ibu itu.
"Terimakasih nak," Kini kami sudah sampai di baseman Rumah sakit.
"Titip salam untuk Bu Hani ya Bu, saya doakan Beliau selalu sehat, selamat dan semoga anaknya menjadi anak yang sholeh/sholihah nantinya." Aku tersenyum padanya.
"Sekali lagi terimakasih nak."
Aku mengulurkan tanganku untuk memberi salam pada Ibu itu, lalu mencium punggung tangannya. Dan aku tersenyum pada gadis kecil yang berdiri didepanku, sambil kausar lembut kepalanya yang tertutup kerudung. Kemudian kami berpelukan sebelum akhirnya kami berpisah. Semoga saja suatu hari nanti bisa bertemu kembali.
Aku melihat Ibu itu menghilang bersamaan dengan mobil putih yang dikendarai nya. Aku juga segera berlalu menuju tempat dimana, Bunda, Yusuf dan mang Ujung menungguku. Rasa kecewa masih menyelimutiku setelah akhirnya aku benar-benar kehilangan Barang kesayanganku tersebut.
"Lama ya?" Aku tersenyum pada penghuni mobil sesaat setelah aku membenarkan dudukku didalam mobil.
"Kamu cari apa sih? Dari tadi ditanyain gak dijawab, segitu pentingnya? Harus buru-buru sampai-sampai gak sempat jawab pertanyaan kita." Bunda menatapku.
"Ya Allah Bunda maaf," Aku memeluk tubuh bunda dari samping. "Iya Afiifah buru-buru mencari Al-Quran Afiifah Bu, yang entah ketinggalan dimana." Aku menjelaskan pada bunda.
"Jalan Mang!" Perintah Yusuf.
Mobil kami pun mulai meninggalkan Rumah Sakit untuk tang kedua kalinya.
"Al-Quran apa?" Tanya bunda.
__ADS_1
"Al-Quran Afiifah tayang kecil itu Bun, yang selalu Afiifah bawa."
"Kok bisa?" Tanya bunda lagi.
"Tadi pagi waktu Afiifah sholat dhuha kemushola Afiifah bawa, terus ketemu sama Mbak Hani itu, waktu menghubungi Suaminya sepertinya Afiifah meletakkan Al-Quran itu di atas nakas UGD, Afiifah Cari-cari gak ketemu lagi Bun." Ceritaku dengan nada kecewa.
"Ya udah lah, gak papa, udah bukan rejeki lagi, lagian katanya gak suka orangnya, tapi Al-Quran nya selalu dibawa-bawa, sampai jadi barang kesayangan gitu." Bunda melirikku. Mendengar ucapan Bunda sontak saja Yusuf menoleh kecelakaan, dimana aku dan bunda duduk.
"Bunda apaan sih! Afiifah suka bawa karena memang menurut Afiifah enteng dibawa kemana-mana." Aku membela diri.
"Kan kamu bisa beli aja yang baru kalau emang gak suka," Bunda juga berusaha membela ucapannya, "iya kan Suf?" Bunda minta pembelaan Yusuf.
Yusuf kembali menoleh kearahku dan bunda, dengan sedikit tersenyum. Yusuf mantapku seakan bertanya siapa orang yang aku dan bunda bicarakan.
"Kok Kia gak ada suaranya Suf?" Aku mengintip Kia yang duduk dipangkuan Yusuf. Ya Allah... Ternyata dia sudah tertidur.
"Ohh, sudah tidur dia!" Aku memberi jawaban dari pertanyaanku sendiri, setelah Yusuf tetap bungkam.
"Kamu sih lama, Kia sampai bosan nungguin kamu." Yusuf ikut protes.
"Iya maaf," Hanya itu yang bisa aku katakan. "Bun, Mbak Hani yang tadi Afiifah ceritakan, dia dibawa Pindahkan ke Rumah Sakit lain, karena harus segera dioperasi." Aku mengubah topik pembicaraan.
"Memang nya kenapa?" Tanya bunda, tanpa menatapku.
"Kata ibunya sih, ada masalah dengan kandungan nya, plasenta previa namanya dan ada masalah sama jantungnya juga." Jawabku, yang juga mengikuti pandangan bunda kedepan.
"apa plasenta previa itu?" Kini bunda melirikku.
"Plasenta bayinya berada dibawah bun, efeknya biasanya pendarahan, kasian ya bun." Aku juga melirik bunda.
"Doakan saja semoga Ibu dan Bayi nya selamat dan sehat."
"Aamiin Ya Allah." Aku meng-aamiin kan doa bunda.
"Masih muda dia?" Tanya bunda lagi.
"Hmmm, kurang tau Afiifah Bun, gak liat wajah nya, dia pakai cadar. Suaminya pun Afiifah gak ketemu." Jawabku.
Seketika suasana berubah hening. Sunyi, tapi terasa sangat damai dan tenang. Hanya terdengar suara lirih lantunan ayat suci Al-Quran yang begitu merdu dari handphone Yusuf yang diletakkan disampingnya. Sedikit lebih dekat dengan pendengaran Kia.
Sungguh, tanpa Kusadari aku sudah mengagumi pribadi Yusuf. Lagi-lagi permintaan Yusuf menari-nari dalam ingatanku. Membuat perasaanku kembali bergetar.
Setelah sekian lama diperjalanan, akhirnya kami sampai dirumah orangtuaku, anggap saja ini juga rumahku sendiri.
Aku segera turun dari mobil dan mengambil alih Kia dari pangkuan Yusuf, karena posisi Yusuf dan Kia masih didalam mobil, dan tangan kanan Yusuf tidak mampu meng-angkat tubuh Kia yang semakin berat, terpaksa setengah badan dan seluruh kepalaku masuk kedalam mobil.
Tak sengaja tanganku menyentuh, bahkan sedikit menggenggam tangan Yusuf. Sontak aku mendongak melihat kearahku Yusuf. Ya Allah... Hatiku berdesir. Degupnya mulai tak terkendali. Wajah Yusuf hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Aku berusaha mengatur napasku, seakan mendorong beban berat yang menghimpit dadaku.
Astagfirullah... Ampuni hamba yang khilaf ini Ya Allah. Aku pun segera menarik tubuhku keluar mobil. Plak. "Auuu Sttt Ya Allah." Aku mengusap kepalaku yang menghantam bagian atas mobil.
"Ada apa Fah?" Bunda yang melangkah jauh dari mobil mendengar teriakan ku. Tanpa aku gubris, bunda pun berlalu masuk kedalam rumah.
"Makanya Hati-hati." Kini tangan kiri Yusuf ikut mengusap kepalaku. Dan aku hanya diam saja. Bukan menikmati, aku terkejut dengan sikap Yusuf, mungkin juga terkesan dengan responnya. Setelah kesadaranku pulih, aku segera menepis tangan Yusuf dan mundur beberapa langkah dari mobil.
"Ya Allah malah bengong, Afiifah... Hei." Yusuf menjetikan jemari kirinya didepanku.
"I... Iya." Jawabku terbata-bata.
"Ya Allah, Khoiratul Afiifah binti Muhammad Zain, ambil dulu Kia, jangan malah bengong." Lagi-lagi Yusuf membuat aku kelabakan.
Tanpa membalas ucapan Yusuf, aku segera mengambil tubuh Kia dari pangkuan Yusuf, kali ini aku lebih berhati-hati, tapi tetap saja aku masih menyentuh sedikit tangan Yusuf.
Aku segera menggendong Kia menuju kamar. Dan meninggalkan Yusuf di belakangku.
Berkali-kali aku mengucap istighfar dan memohon ampun atas diriku yang tak bisa aku kendalikan.
__ADS_1
Sesampai dikamar aku segera meletakkan Kia diatas kasur, aku pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk beristirahat. Biarkan saja Yusuf mang Ujang yang mengurus. Malu rasanya untuk bertemu Yusuf saat ini.