Perjalanan Istimewa

Perjalanan Istimewa
Episode 60


__ADS_3

"Kita dimana Bang?"


"Udah bangun?"


"Kita istirahat disini saja, kayaknya kamu udah capek banget, dari tadi tidurnya gelisah gitu." Aku membuka mata perlahan, mengumpulkan segala kesadadanku.


"He'eh... Udah panas rasanya duduk disini, Abang bawa mobilnya tumben pelan?" Aku melirik arloji ditanganku, ternyata baru enam jam perjalanan.


"Sengaja, kita santai saja. Lagian kenapa harus buru-buru! Kita punya waktu lima hari disini."


"Ayo turun! Ini penginapan yang lumayan nyaman, nanti ba'da asar Abang ajak kamu ke ancolnya kota B ini."


"Sekarang istirahat dulu, dan bersih-bersih."


Dari luar memang sih penginapan ini sedikit nyaman, besar dan bersih. Ada lumayan banyak kendaraan pribadi yang terparkir.


"Kita nginep disini malam ini Bang?" Aku hanya melihat saat Bang Yusuf mengeluarkan satu persatu koper dari bagasi.


"Iya, besok ba'da subuh kita lanjutkan perjalanan, kalau tidak ada hambatan insyaAllah... Dua tiga jam lagi sampai kedesa." Jawab Bang Yusuf masih dengan senyuman nya.


Aku mengekor saat Bang Yusuf dengan santai memasuki penginapan.


"Bang! Ada masalah?" Tanyaku sedikit khawatir saat Bang Yusuf menghampiri ku disofa.


"Hm... Mbak resepsionisnya bilang kita harus ada bukti menikah baru bisa satu kamar." Jawab Bang Yusuf ragu-ragu.


"Kita kan gak bawa buku nikah yang! Masak kita harus tidur kepisah sih?"


"Ya Allah... Mukanya gak perlu ditekuk gitu." Aku berjalan menghampiri meja resepsionis sembari tersenyum.


"Maaf Mbak, ini bukti pernikahan kita. Kita gak bawa surat nikah, tapi ini foto pernikahan kita dan foto surat nikah kita." Aku melirik Yusuf dibelakang dengan sedikit tersenyum. Gak disangka laki-laki pintar seperti bang Yusuf bisa sepanik itu hanya karena hal sepele.


"Oh... Baik, Bu! Silahkan pilih kamarnya." Sesaat setelah Mbak Sifa, itu nama yang tertera di name tagnya.


"Saya ambil kamar yang tadi dipesan suami saya."


"Oh, baik Bu!"


"Satu hari ya, Bu?" Aku mengangguk.


"980.000 ribu, Bu."


"Mau tunai atau...


"Pakai Credit card!" Bang Yusuf memberikan kartu kreditnya dan diberikan pada petugas resepsionis dengan penuh percaya diri.


"Silahkan! Jika perlu sesuatu silahkan menghubungi nomor yang tertera telpon." sesaat setelah petugas room servis mengantar kita kekamar.


"Alhamdulillah..." Bang Yusuf segera merebahkan diri.


"Mandi dulu Bang! Waktu asar sudah mau masuk." Aku mengeluarkan pakaian Bang Yusuf dari koper. "alhamdulillah ya Bang, dizaman sekarang masih ada penginapan yang bernuansa islami. Masih memikirkan kebenaran."


"Hm... Maksudnya?" Bang Yusuf menopang kepala dengan tangannya.


"Iya... Maksudnya penginapan ini, tidak mengizinkan pengunjung yang bukan muhrim tidur bersama. Itu artinya penginapan ini masih menjaga kebaikan."


"Zaman sekarang banyak penginapan dijadikan tempat yang kurang baik, bahkan dijadikan ladang rejeki yang kurang baik."


"Oh...! Iya, alhamdulillah. Kita berdoa saja semoga penginapan ini selalu menjunjung kebenaran dan benar-benar untuk tujuan yang baik, untuk kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, seperti kita ini."


"Untung... Saja kamu punya poto pernikahan kita, kalau gak bisa-bisa tidur diluar kita."


"Hehe! Kalau harus tidur diluar mendingan kita lanjutin aja perjalanan nya."


"Buruan mandi!"


"Mandi bareng ya! Biar lebih semangat." Bang Yusuf menarik tubuhku ke atas sofa.


"Abang gak mau mandi kalau gak bareng kamu."


"Lepasin atuh. Sakit perutnya keimpit kaki Abang."


"Nih... Paha gede gini, berat tau."


"Baru juga sebulan nikah ama kamu, Abang makin Makmur aja rasanya. Makin gede badan Abang."


"Masak sih? Perasaan Abang aja mah, tapi gak papa sih. Aku suka lihat Abang gini, makin kelihatan maco. Hehehe."


"Buruan mandi." Aku mencoba mendorong tubuh Bang Yusuf, tapi dekapannya malah semakin erat.


"Hm... Berdua."


"Sendiri aja. Biar nanti kita bisa jalan-jalan habis sholat."


"Berdua! Jalan-jalannya habis magrib saja. Habis asar kita muroja'ah lagi."


"Tuh udah azan! Ayo buruan mandi. Atau kita sholat dulu baru mandi?"


"Ya udah sholat aja dulu, habis itu mandi, Tapi mandinya berdua ya?"


"Cuma mandi doang kan?"


"Hm...


"Ck! Udah gak enak senyum Abang mah.


"Buruan sholat."


"Habis sholat ngapain?"


"Miroja'ah!"

__ADS_1


"Gak baik sama suami ngelotot gitu."


"Habis Miroja'ah?"


"Yank... Habis Miroja'ah ngapain?"


"Jalan-jalan." Aku sedikit berteriak dari kamar mandi.


"Gak jadi mandi?" Bang Yusuf ikut masuk kelakar mandi.


"Gak! Keburu dingin."


"Udah ah, buruan sholat, nanti malam aja gulatnya."


"Alhamdulillah... Kok tau Bang ngajak gulat?"


"Abang ih... Batalkan. Gak usah cium-cium dulu. Gak dikasih jatah nanti malam, mau?"


"Hehe... Becanda Abang mah." Tanpa menghiraukan ucapan Bang Yusuf, aku bergegas keluar kamar mandi dan menyiapkan tempat sholat. Kalau diladeni bisa-bisa satu jam lagi sholat asar, olahraga dulu dikamar mandi.


Makin kesini Bang Yusuf rasanya makin gak bisa jauh dari aku, makin lengket kayak prangko. Sebenarnya aku juga sama, MasyaAllah... Kerasa banget nikmatnya menikah.


Tapi, tidak jarang pula aku masih ngerasa takut kejadian dimasa lalu terulang lagi, apa lagi aku tau kalau Mbak Sarah juga selalu mengganggu Bang Yusuf, selalu berusaha menghubungi Bang Yusuf.


Selesai sholat magrib, aku dan bang Yusuf memanfaatkan liburan- kita anggap saja ini liburan, plus honey moon, -ini sebaik mungkin.


Setidaknya melepas penat dan lelah, juga mencari ketenangan dari hiruk piruk suasana ibukota.


"Gimana? Suka?" Bang Yusuf masih merangkul bahuku, sembari meyeruput jus mangga kesukaanku. Hehehe, bang Yusuf mah suka nyamain apa pun sekarang hampir semua yang aku suka, termasuk jus mangga ini.


"Hm. Lumayan, cukup ramai ya Bang! Padahal kalau dilihat-lihat tidak cukup ramai penduduk disini." pandanganku hilir mudik, remang-remang tampak memang cukup ramai, lebih dominan ke anak-anak remaja sampai dewasa.


"Tapi sayang... Airnya sedikit bauk, agak amis-amis gitu."


"Iya, masyarakat sini gak bisa menjaga kebersihan airnya, sampah dimana-mana, sayang sekali."


"Coba aja... Ini dikelola dengan benar-benar, pasti lebih cantik dan nyaman, insyaAllah makin rame deh kayaknya."


"Sebenarnya penduduk sini juga lumayan ramai, tapi karena kita datangnya udah kesorean jadi gak terlalu tampak."


"Di Kabupaten ini, wisata ini tempat paling banyak digemari dan dikunjungi waktu malam, kita mah suka bilang ini ancol, hehehe tuh... Lebih tepatnya anak-anak remaja, usia 19-24 tahunan, masih pada labil." Yusuf menunjuk sekelompok anak-anak yang bercampur laki-laki dan perempuan, cukup ramai, yang asik tertawa dan bersenda gurau.


"Oh! Ancol! Jadi Abang sering kesini ya?"


"Gak sering, ada beberapa kali, kalau mau pulang ke kampung, kalau kecapean biasanya kita nginep disini juga."


"Oh gitu,


"Hm... Kita pulang saja kepenginapan ya Bang. Aku agak lelah. Lagian juga sudah azan isya, besok subuh kita harus jalan lagi, aku udah gak sabar pengen cepat sampai." Sedikit mendongak menyusuri wajah tampan bang Yusuf.


"Benaran ngajak pulang ke kamar?"


"Iya, pegel-pegel rasanya."


"Benaran?"


"Iya!"


"Benaran ya, jangan bohong! Dosa! Awas aja kalau bohong."


"Iya, benar.


"Gak percaya amat sih ama laki."


"Tapi gratis kan?"


"Hm...


"Gak usah! Pasti Abang minta imbalan, gak ikhlas Abang mah."


"Su'uzon. Abang gak minta imbalan kok, Abang kan suami idaman."


"Benar? Gak bohong! Hehehe... Tapi makasih udah mau minjitin."


"Gak minta bayaran sih, kamu tuh pegel karena kurang olahraga."


"Kurang Abang bilang? Ya Allah... Hampir tiap hari lho aku nya olahraga, hampir tiap pagi lari malamnya juga sering workout dirumah."


"Bukan olahraga itu maksud Abang, olahraga sama Abang maksudnya." terasa geli hembusan nafas bang Yusuf ditelingaku.


"Ih... Abang mah, gak malu orang-orang?"


"Au! Astagfirullah... Sakit sayang." Sekarang mencubit Bang Yusuf malah jadi hobi baru bagiku.


"Syukurin, ayo ah! Udah ngantuk aku nya," Aku menarik tangan Bang Yusuf untuk segera meninggalkan tempat ini.


***


"MasyaAllah... Indah sekali ya, Bang! Udara pagi didesa ini benar-benar terasa segar, dan pemandangan pagi yang sangat indah."


"Hm... Segar!" Berkali-kali aku, menikmati udara pagi ini.


"Sejuk sekali, dingin disini." Aku merapatakan sweterku.


"Iya, mungkin karena masih banyak pepohonan disini, jadi udadanya masih segar dan sejuk disini."


"Tadi mah kita juga terlambat, matahari nya udah keburu nongol. Lebih cantik kalau liat matahari mulai malu-malu menampakkan diri dari atas sana." Bang Yusuf menunjuk sebuah tempat yang memang lumayan tinggi. Sepertinya memang tempat terbaik menikmati sunset.


"Pengen punya tempat tinggal disini rasanya! Jadi kalau liburan cukup balik kedesa saja. Lebih sehat." Dengan raut wajah penuh semangat aku mendekap dan merangkul tangan kekar pria disamping ku.


"Suka tinggal disini?"

__ADS_1


"Suka!" Aku tersenyum puas menikmati suasana pagi ini.


"Udah gak capek lagi?" Bang Yusuf mencubit hidungku.


"Ck! Remuk rasanya. Katanya mau mijitin, malah tambah dibikin remuk rasanya." Aku melepaskan rangkulanku.


"Hahahah...." Tubuhku kembali hilang dalam pelukan Bang Yusuf, "tapi insyaallah... Akan dicatat malaikat sebagai amal kebaikan kamu sayang, iklas kan?"


"Aamiin. Iya ikhlas! Lagian rugi kalau gak iklas, udah capek malah jadi dosa."


"Eh, kita udah sampai?"


"Sudah. Sebentar lagi kita sampai rumah, tadi Abang sudah ngabarin Bu Asih kalau kita sudah sampai. Paling lima menit dari sini sampai rumah."


"Jadi dulu Abang tinggal disini! Pasti suka banget ya Bang? Aku sering ngajakin Ayah sama Bunda balik kampung, tapi Ayah jarang punya waktu."


"Iya, tapi tetap aja Abang banyak gak ingat. Abang masih terlalu kecil. Tapi ada satu tempat yang rasanya melekat dalam ingatan Abang."


"Tempat? Tempat gimana?" Aku penasaran.


"Pohon tepi sungai, nanti atau besok Abang kasih tau."


"Kita lanjut jalan lagi?"


"Ayo," Aku mengekor masuk kedalam mobil.


"Jadi deg-degkan." Aku menghembuskan napas berat.


"Deg-degkan kenapa?" Bang Yusuf menoleh kearahku, dan mobil kembali melaju pelan, menyusuri jalan setapak yang terbilang cukup kecil.


"Entahlah. Kayak mau ketemu calon mertua rasanya."


"Hahah... Kamu ada-ada saja."


"Ih... Benaran Bang. Nih rasain jantung aku berdegup gak karuan." Aku spontan menarik tangan Bang Yusuf kearah dadaku.


"Mana? Ini? Hm... Gak ah! Biasa saja."


"Malah jantung Abang sekarang yang berpacu dalam melodi."


"Ih... Abang mah mesum mulu." Aku menepis tangan Bang Yusuf yang malah nyasar kedada lainnya.


"Hahah... Gak papa donk, lagian mesum sama istri sendiri, lain kalau sama orang lain."


"Maksudnya kamu mau mesum-mesum sama orang lain?"


"Iya... Kalau boleh kenapa gak?"


"Hehe... Kalau boleh, mumpung ada kesempatan, lagian gak ada salahnya kan punya istri lebih dari satu."


"Dasar! Gak salah memang. Jadi abang mau punya istri dua?"


"Kalau dikasih izin, kenapa gak? Hehe."


"Oh! Gak papa. Asal Abang bahagia." Aku membuang pandangan ke luar. Entah kenapa ucapan Bang Yusuf malah mengubah mood ku jadi jelek. Terselip rasa takut dihati ini, walau aku tau Bang Yusuf pasti hanya menggoda ku saja.


"Hei! Abang cuma bercanda sayang." Bang Yusuf membalik wajahku, membuat aku semakin menahan air mataku.


"Ya Allah... Sumpah demi Allah, Abang cuma becanda, jangan nangis ah." Bang Yusuf menghentikan laju mobilnya.


Ya Allah... Bisa-bisanya pula aku malah makin menangis tersedu-sedu.


"Oke lah, Abang minta maaf." Bang Yusuf segera memelukku, "Abang minta maaf sayang. Lagian gak mungkinlah abang gitu, percaya kan sama Abang?"


" Abang udah mentok ke Afi. Gak ad ayang lain."


Aku hanya mengangguk dan air mata ku malah gak bisa berhenti.


"Udah donk nangisnya. Abang minta maaf sayang." Bang Yusuf kembali menghujaniku dengan ciuman. "udah jangan nangis lagi, tu rumahnya udah kelihatan, nanti dikira Bu Asih abang jahatin kamu lagi."


"Memang jahat." Aku melepas dekapan Bang Yusuf dan menyeka air mataku.


"Oke, Abang salah Abang minta maaf, Abang tadi cuma bercanda aja. Sumpah." Bang Yusuf ikut menyeka air mataku.


"Tau ah!" kali ini entah kenapa aku malah gak bisa meyembunyikan perasaan dari Bang Yusuf.


"Becandanya gak lucu."


"Oke... Iya! Abang sekali lagi minta maaf, Abang salah. Becandanya kelewatan gak lucu lagi, tadi sebenarnya udah Abang kasih kode jangan kelewatan, tapi sibecandanya gak peka, jadi makin kelewatan deh."


"Abang... Ih! Malas ah."


"Hahahaha... Makanya udah dong, kalau gak berhenti kita gak jalan-jalan nih, disini aja sampai kamu berhenti."


"Iya, nih udah berhenti." Aku kembali menghapus sisa air mataku.


"Ayo buruan jalan."


"Nanti dikira maling lagi pagi-pagi udah parkir gak jelas disini."


"Kan gak lucu kalau digiring kekantor lurah."


"Hahah.


"Oke. Oke. Itu rumahnya udah kelihatan."


Bang Yusuf kembali melakukan mobil perlahan. Tapi benar saja, Detak jantungku makin gak karuan, walaupun aku tau Bu Asih hanyalah orang kepercayaan Bang Yusuf untuk menjaga rumahnya selama ini.


Mungkin karena aku belum pernah bertemu mereka sebelumnya dan... Aku merasa takut jika Bang Yusuf merasa sedih mengingat masa lalunya bersama orang tuanya.


"Ayo turun. Gak papa, santai saja. Bu Asih dan suaminya insyaAllah... Orng baik, jadi jangan takut."

__ADS_1


"Iya! Mungkin deg-degan karena mungkin belum pernah bertemu mereka sebelumnya, aku juga yakin, insyaAllah mereka orang baik." Aku mulai membuka seatbelt dan mengikuti Bang Yusuf menuju rumah masa kecilnya itu. Rumahnya cukup besar dan memang khas bangunan orang-orang didesa. Dari sepanjang perjalanan didesa ini, bentuk rumahnya hampir semuanya sama


__ADS_2